Pratiwi Ibnu Tadji
Thu, 15 May 2008 01:36:42 -0700
Salam, Sumber dasar manusia menentukan sumber daya alam akan digunakan untuk apa: kebaikan atau keburukan.
Perlu juga direnungkan untuk menjadi SDM yang unggul: 1. Apakah kita selalu berdisiplin diri dalam menunaikan tugas kita untuk memberikan yang terbaik sesuai kemampuan kita atau bahkan melebihi kemampuan kita? 2. Apakah perbuatan kita hari ini selalu lebih baik dari hari yang telah lalu? Selalu belajar dari segala ilmu yang bisa dicerna dan mengambil intisari yang baik-baik dan meneruskannya untuk kebaikan...dan meninggalkan yang tidak baik. 3. Apakah kalau menjadi orang 'besar' akan kuat mental bila ada pihak yang datang dengan vested interest dan memberikan suapan tunai Rp1, 2 atau 3 milyar...bertubi-tubi dan dibawah meja, sementara tidak ada orang lain yang tahu? 4. Jujurkah kita dengan diri sendiri? dengan orang terdekat kita? dengan orang lain? 5. Dalam keadaan euphoria atau emosional, apakah pendapat atau keputusan yang kita ambil atau sampaikan sudah diendapkan dan dipikirkan baik buruknya? Menjadi SDM yang unggul bukan hanya dari seberapa tinggi ilmu dan keterampilan kita, namun, lebih baik kita menjadi SDM yang unggul karena kearifan kita semua dalam mengembangkan dan menggunakan SDA yang ada, diiringi kemauan untuk selalu memilih jalan yang benar (meski yang buruk terlihat begitu indah). Adapun kenaikan harga SDA bernama "BBM" diakibatkan oleh SDM yang kelihatannya unggul, namun perilakunya jauh terbelakang dari sifat-sifat unggul, sebuah kumpulan SDM dari berbagai bangsa, yang akhirnya mengakibatkan kesulitan bagi hampir mayoritas masyarakat di dunia. Wassalam, pratiwi ibnu tadji --- On Wed, 5/14/08, A. Mubarik Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: A. Mubarik Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Suatu Bangsa Unggul karena SDM, Bukan SDA To: Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com Date: Wednesday, May 14, 2008, 11:37 AM Pak HS yb, "kalau bisa dibikin susah kenapa digampangin" , itulah mental SDM kita. Atau, "Yang Muda Gak Boleh Bicara". Persis iklan2 dijalan2 dan di TV (dulu). Salam, Mubarik