forum-pembaca-kompas  

RE: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Manusia Belum Pernah Mendarat di Bulan

Jovin Rudy Atmanto
Sun, 12 Jul 2009 18:15:12 -0700

Isyu bahwa pendaratan di bulan adalah tidak benar adalah isyu basi yang
sudah dibantah secara ilmiah beberapa tahun lalu. Rasanya basi sekali kalau
conspiracy theory seperti ini dibahas lagi di sini, sudah hamper satu dekade
lalu di-settled.

Yang aneh, tulisan Sdr Sukarjaputra ini membuat bagi yang belum pernah
mendengar tentang teori pendaratan di bulan adalah tipuan menjadi
seolah-olah berita yang baru yang saat ini sedang memanas. Sayangnya sekali
lagi, ini adalah isyu basi. Isyu ini pertama kali mencuat tahun 2001 lewat
siaran Fox TV, bantahan paling mutakhir dimuat tahun 2002 ketika Astronot
John Young yang memimpin misi Apollo 18 yang terakhir mendarat di bulan
mengatakan bahwa timnya meletakkan cermin laser di bulan. Para skeptic hanya
perlu menembakkan laser ke bulan ke arah cermin dan mengukur pantulan yang
terjadi. 

Mengingat bahwa isyu tersebut sudah dibereskan hampir satu dekade lalu, saya
rasa kesimpulan penulis bahwa "Boleh jadi, hal itu pula yang membuat mantan
Presiden AS George W Bush memutuskan untuk menghapuskan penerbangan pesawat
ulang alik pada 2010 setelah musibah pesawat ulang alik Columbia pada 2003"
menjadi sangat menggelikan. Tidak ada hubungan antara misi ulang alik dengan
pendaratan di bulan karena memang pesawat ulang alik tidak pernah dirancang
untuk pergi ke bulan. Selain itu teknologi ulang alik yang pertama kali
diterbangkan tahun 1981 dengan Columbia adalah teknologi yang hampir berumur
30 tahun. Prototypenya sendiri Enterprise bahkan sudah dibuat sejak 1974.
Terlalu tua untuk sebuah teknologi sehingga wajar jika sudah saatnya
dihapuskan dan diganti dengan yang baru.

 

Salam

 

Jovin

 

From: Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com
[mailto:forum-pembaca-kom...@yahoogroups.com] On Behalf Of Agus Hamonangan
Sent: 13 Juli 2009 6:52
To: Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Manusia Belum Pernah Mendarat di Bulan

 






Oleh Rakaryan Sukarjaputra

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/13/03510692/manusia.belum.pernah.me
ndarat.di.bulan

Empat puluh tahun telah berlalu sejak dunia dikejutkan oleh kabar
keberhasilan pendaratan Apollo 11 di Bulan. Benarkah astronot Neil Armstrong
telah menjejakkan kakinya di satelit Bumi tersebut?

Pertanyaan menggelitik itu memang terus menyertai kisah misi Apollo 11 dan
pendaratannya di permukaan Bulan pada 21 Juli 1969.

Kemudian astronot Neil Armstrong dan Edwin "Buzz" Aldrin berjalan di
permukaan Bulan. Cuplikan video menggambarkan Armstrong mengibarkan bendera
Amerika Serikat dan melompat-lompat. Aksi ini menegaskan keberhasilan
pendaratan manusia di Bulan.

Sejumlah pihak menyangsikan pendaratan itu. Cuplikan video tersebut penuh
dengan keganjilan. Ada yang menganggap video itu tidak dibuat di Bulan,
tetapi di sebuah tempat khusus di sekitar Negara Bagian Arizona, AS.

Astronom Phil Plait termasuk yang sangsi. Dia memberikan penjelasan pada
sebuah program radio "Are We Alone" yang dikelola SETI Institute. Ini adalah
lembaga nirlaba di California, AS, yang fokus pada penjelasan keberadaan
makhluk pintar lain di jagat raya.

Plait mengatakan, ada pihak yang skeptis dengan mempertanyakan foto-foto
Armstrong dan Aldrin yang memperlihatkan langit tanpa bintang. "Tidak ada
atmosfer di Bulan sehingga bintang-bintang seharusnya terlihat lebih
terang."

Pihak yang skeptis juga mempersoalkan bendera AS dalam cuplikan video yang
tampak berkibar, padahal di Bulan tidak ada udara.

Mereka juga mengajukan teori bahwa para astronot mungkin sudah terpanggang
radiasi ketika menembus sabuk Van Allen dalam perjalanan ke Bulan.

Kepercayaan melemah

Sebenarnya kepercayaan soal pendaratan di Bulan itu sudah semakin lemah
dalam beberapa tahun terakhir. Isu ini mencuat kembali ketika TV Fox pada
2001 menyiarkan sebuah program yang diberi judul "Conspiracy Theory: Did We
Land on the Moon?"

Acara TV Fox itu, kata Dr Tony Philips pada situs scie...@nasa,
menggambarkan betapa Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) tidak lebih
dari sekadar "produser film yang tolol".

Semua kesangsian itu telah sering dijawab langsung Armstrong, komandan misi
Apollo 11. Tokoh kelahiran Wapakoneta, Ohio, 5 Agustus 1930, itu bersama
astronot Buzz Aldrin mengaku telah menikmati permukaan Bulan selama 2,5 jam.

Di Bulan, mereka berdua menancapkan bendera AS dan sebuah spanduk
bertuliskan "Di sini manusia dari planet Bumi menginjakkan kakinya pertama
kali. Kami datang dengan damai untuk seluruh umat manusia".

Mengapa awalnya banyak yang percaya? Bagi AS, pendaratan di Bulan adalah
sebuah pencapaian besar yang membuat AS seolah-olah unggul dari pesaing
utama ketika itu, Uni Soviet, dalam program luar angkasa.

Bagi salah satu pesaing AS saat ini, Rusia, teori konspirasi mengenai
kebohongan pendaratan di Bulan tahun 1969 itu menjadi semakin populer. Rusia
membuat sejumlah situs bahkan film-film dokumenter di televisi untuk
menyampaikan kebohongan besar pendaratan di Bulan itu.

Konstelasi

Boleh jadi, hal itu pula yang membuat mantan Presiden AS George W Bush
memutuskan untuk menghapuskan penerbangan pesawat ulang alik pada 2010
setelah musibah pesawat ulang alik Columbia pada 2003.

Sebagai gantinya, Bush pada 2004 meluncurkan program lebih ambisius,
Constellation (Konstelasi), yang bertujuan membawa warga AS kembali ke Bulan
pada 2020, dan menggunakan Bulan sebagai tempat peluncuran pesawat luar
angkasa berawak manusia menuju Mars.

Michael Griffin, mantan pemimpin NASA yang mendorong program Constellation,
menjelaskan, pesawat ulang alik membuat AS bertahan terlalu lama pada
penerbangan luar angkasa di orbit rendah, padahal kini muncul pesaing baru
dalam program luar angkasa, antara lain China. "Kita (AS) harus kembali ke
bulan karena itu adalah langkah berikutnya. Bulan hanya beberapa hari dari
rumah. Mars hanya beberapa bulan dari Bumi," papar Griffin.

Sayangnya, anggaran NASA tidak cukup untuk membiayai pembuatan kapsul Orion
Constellations, kapsul yang lebih maju dan lebih besar ketimbang versi
kapsul Apollo. NASA juga kekurangan biaya untuk menyiapkan roket peluncur
Ares I dan Ares V yang diperlukan untuk mengirim kapsul itu ke orbit.

Biaya keseluruhan Constellation itu diperkirakan 150 miliar dollar AS.
Anggaran eksplorasi luar angkasa AS pada 2009 hanya 6 miliar dollar AS.

Wajar apabila Senator Bill Nelson (Florida) menegaskan, NASA tidak akan bisa
melakukan tugas yang diberikan kepadanya, yaitu berada di Bulan pada 2020.
Senator yang mantan astronot itu bahkan mengkhawatirkan, saat program
pesawat ulang alik berakhir, AS tak akan bisa mengirimkan astronotnya ke
stasiun luar angkasa ISS, kecuali menumpang Soyuz milik Rusia.

Hal itu tentu menjadi kabar buruk bagi NASA dan khususnya Armstrong yang
tentu tidak ingin pendaratannya di Bulan menjadi bahan olok-olokan. Meski
demikian, ada cara pembuktian lebih sederhana, yaitu menemukan kembali
bendera dan spanduk yang ditancapkan Armstrong itu dengan teleskop dari
Bumi. Tentu dengan harapan bendera itu masih tertancap di tempatnya. (AFP)





[Non-text portions of this message have been removed]