wirajhana eka
Sun, 25 Jan 2009 07:57:41 -0800
Ramalan Sabdo Palon
RAMALAN SABDA PALON NAYA GENGGONG
Terjemahan bebas bahasa Indonesia
1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang
negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan
Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya
Genggong.
2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya:
"Sabda-Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik
ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik."
3. Sabda Palon menjawab kasar: "Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu,
sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang
membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus
berpisah.
4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang
Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama
Buda lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.
5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi
makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belu saya
hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini.
Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
6. Lahar tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah
pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda. Kelak Merapi
akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus
bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.
7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon
Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di
tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia
sehingga banyak yang meninggal dunia.
8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah
kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya.
Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang
bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya.
Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang
tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun
banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan.
Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang
hari banyak begal.
11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka
tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut.
Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa.
Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah
meninggal dunia.
12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan
tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh
semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri.
Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke
laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.
14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta
ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal
sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang
tertinggal sedikitpun.
15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia.
Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah.
Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun
rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.
16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segea menghilang sebentar tidak
tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama
sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun
bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya
lagi.
SERAT DARMOGANDUL
Pada suatu hari, Darmogandul bertanya kepada Ki Kalamwadi tentang asal mula
orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berganti agama Islam.
Lantas, Ki Kalamwadi pun menjawab, "Aku tidak mengerti. Tetapi guru yang dapat
dipercaya menceritakan asal-usul orang Jawa meninggalkan agama Budha dan
berganti memeluk agama Islam. Ini memang perlu dikatakan, agar orang yang belum
tahu menjadi tahu."
Putri Campa Pada zaman dulu Majapahit bernama Majalengka. Majapahit hanyalah
kiasan. Bagi yang belum tahu ceritanya, Majapahit dianggap sebagai nama
kerajaan.
Prabu Brawijaya adalah raja terakhir yang berkuasa. Ia menikah dengan Putri
Campa yang beragama Islam. Putri inilah yang membuat Brawijaya tertarik Islam.
Ketika sedang beradu asmara, sang putri selalu membeberkan keutamaan agama itu.
Setiap dekat sang prabu, tiada kata lain yang terucap dari Putri Campa kecuali
kemuliaan agama Islam.
Tak lama kemudian datanglah kemenakan Putri Campa bernama Sayid Rahmad. Ia
mohon izin menyebarkan ajaran Islam di Majalengka. Sang Prabu mengabulkan.
Sayid Rahmad tinggal di desa Ngampeldento- Surabaya.
Banyak ulama dari seberang datang ke Majalengka. Menghadap sang prabu mohon
izin tinggal di wilayah pesisir. Permohonan itu dikabulkan. Akhirnya berkembang
dan banyak orang Jawa memeluk agama Islam.
Perkembangan itu menempatkan seorang guru agama Islam tinggal di daerah Bonang,
termasuk wilayah Tuban. Sayid Kramat namanya. Ia maulana Arab keturunan Nabi
Mohammad Rasulullah.
Orang-orang Jawa banyak yang tertarik kepadanya. Penduduk Jawa yang tinggal di
pesisir Barat sampai Timur meninggalkan agama Budha dan memeluk agama Islam. Di
wilayah Blambangan sampai ke arah Barat menuju Banten pun banyak yang mengikuti
ajaran Islam.
Agama Buddha telah mengakar di tanah Jawa lebih 1.000 tahun. Menyembah kepada
Budi Hawa. Budi adalah Dzat Tuhan. Sedangkan Hawa adalah minat hati.
Manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat melaksanakan. Sedang yang
menggerakkan semua ialah budi.
Raden Patah Sang Prabu mempunyai seorang putra bernama Raden Patah. Ia lahir di
Palembang dari rahim seorang Putri Cina. Ketika Raden Patah dewasa, ia
menghadap kepada ayahnya bersama saudara lain ayah tetapi masih sekandung,
bernama Raden Kusen ( Husein ).
Sang Prabu bingung memberi nama putranya. Diberi nama dari jalur ayah, beragama
Buddha, keturunan raja yang lahir di pengunungan. Dari jalur ibu disebut
Kaotiang. Sedangkan menurut orang Arab, ia harus dinamakan Sayid atau Sarib.
Sang Prabu memanggil patih dan abdi lain untuk dimintai pertimbangan. Sang
patih pun berpendapat, bila mengikuti leluhur kuno, putra sang Prabu itu
dinamakan Bambang. Tetapi karena ibunya orang Cina, lebih baik dinamakan Babah,
yang artinya lahir di tempat lain. Pendapat patih ini disetujui abdi yang lain.
Sang Prabu pun berkata kepada seluruh pasukan bahwa putranya diberi nama Babah
Patah. Sampai saat ini, keturunan pembauran antara Cian dan Jawa disebut Babah.
Meski tidak menyukai nama pemberian ayahnya itu, Raden Patah takut untuk
menentangnya.
Babah Patah kemudian diangkat menjadi Bupati di Demak. Ia memimpin para bupati
di sepanjang pantai Demak ke Barat. Ia dinikahkan dengan cucu Kyai Ageng
Ngampel.
Babah Patah tinggal di desa Bintara, Demak. Babah Patah telah beragama Islam
sejak di Palembang. Di Demak ia diminta untuk menyebarkan agama Islam. Raden
Kusen diangkat menjadi Adipati di Terung, dengan nama baru Raden Arya
Pecattanda.
Ajaran Islam makin berkembang. Banyak ulama berpangkat mendapat gelar Sunan.
Sunan artinya budi. Sumber pengetahuan tentang baik dan buruk.
Orang yang berbudi baik patut dimintai ajarannya tentang ilmu lahir batin. Pada
waktu itu para ulama baik budinya. Belum memiliki kehendak yang jelek. Banyak
yang mengurangi makan dan tidur.
Sang Prabu Brawijaya berpikir, para ulama bersarak Budha itu mengapa disebut
Sunan. Mengapa juga masih mengurangi makan dan tidur.
Sunan Bonang Pada waktu itu sunan Bonang akan pergi ke Kediri, diantar dua
sahabatnya. Di utara Kediri, yakni di daerah Kertosono, rombongan terhalang air
sungai Brantas yang meluap.
Sunan Bonang dan dua sahabatnya menyeberang. Tiba di timur sungai, Sunan Bonang
menyelidiki agama penduduk setempat. Sudah Islam atau masih beragama Budha.
Ternyata, kata Ki Bandar, masyarakat daerah itu beragama Kalang, memuliakan
Bandung Bondowoso. Menganggap Bandung Bondowoso sebagai nabi mereka. Hari Jumat
Wage wuku wuye, adalah hari raya mereka. Setiap hari itu, mereka bersama-sama
makan enak dan bergembira ria.
Kata Sunan Bonang, " Kalau begitu, orang disini semua beragama Gedhah. Artinya,
tidak hitam, putih pun tidak. Untuk itu tempat ini kusebut Kota Gedhah." Sejak
itu, daerah di sebelah utara Kediri ini bernama Kota Gedhah.
Perawan Tua Hari terik. Waktu sholat dhuhur tiba. Sunan Bonang ingin mengambil
air wudlu. Namun karena sungai banjir dan airnya keruh, maka Sunan Bonang
meminta salah satu sahabatnya untuk mencari air simpanan penduduk. Salah satu
sahabatnya pergi ke desa untuk mencari air yang dimaksud.
Sesampai di desa Patuk ada sebuah rumah. Tak terlihat laki-laki di sini. Hanya
ada seorang gadis berajak dewasa sedang menenun. " Hai Gadis, aku minta air
simpanan yang jernih dan bersih," kata sahabat itu.
Perawan itu terkejut. Ia menoleh. Dilihatnya seorang laki-laki. Ia salah
paham. Menyangka lelaki itu bermaksud menggodanya.
Ia menjawab kasar : " Kamu baru saja lewat sungai. Mengapa minta air simpanan.
Di sini tidak ada orang yang menyimpan air kecuali air seniku ini sebagai
simpanan yang jernih bila kamu mau meminumnya."
Mendengar kata-kata kasar itu, sahabat itu langsung pergi tampa pamit.
Mempercepat langkah sambil mengeluh sepanjang perjalanan. Tiba di hadapan Sunan
Bonang, peristiwa tak menyenangkan itu disampaikan.
Mendengar penuturan itu Sunan Bonang naik pitam. Keluarlah kata-kata keras.
Sunan menyabda tempat itu akan sulit air. Gadis-gadisnya tidak akan mendapat
jodoh sebelum usianya tua. Begitu juga dengan kaum jejakanya.
Tidak akan kimpoi sebelum menjadi jejaka tua. Terkena ucapan Sunan Bonang,
aliran sungai Brantas menyusut. Aliran sungai berbelok arah. Membanjiri
desa-desa, hutan, sawah, dan kebun.
Prahara datang diterjang arus sungai yang menyimpang. Dan setelah itu kering
seketika. Sampai kini daerah Gedhah sulit air. Perempuan-perempuan nya menjadi
perawan tua. Begitu juga kaum laki-lakinya. Mereka terlambat berumah tangga.
Demit Kemudian, Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya ke Kediri. Di daerah ini
ada demit (mahluk halus) bernama Nyai Plencing. Menempati sumur Tanjungtani
yang sedang dikerumuni anak cucunya.
Mereka lapor, bahwa ada orang bernama Sunan Bonang suka mengganggu kaum mahluk
halus dan menonjolkan kesaktian. Anak cucu Nyai Plencing mengajak Nyai Plencing
membalas Sunan Bonang. Caranya dengan meneluh dan menyiksanya sampai mati agar
tidak suka mengganggu lagi.
Mendengar usul itu Nyai Plencing langsung menyiapkan pasukan, dan berangkat
menemui Sunan Bonang. Tetapi anehnya, para setan itu tidak bisa mendekati Sunan
Bonang. Badannya terasa panas seperti dibakar.
Setan-setan itu berhamburan. Lari tunggang langgang. Mereka lapor ke Kediri
menemui rajanya. Raja mereka bernama Buta Locaya, tinggal di Selabale, di kaki
Gunung Wilis. Buto Locaya semula adalah patih raja Sri Jayabaya, bernama Kyai
Daha. Ia dikenal sebagai cikal bakal Kediri. Ketika Raja Jayabaya memerintah
daerah ini, namanya diminta untuk nama negara.
Ia diberi nama Buta Locaya dan diangkat patih Prabu Jayabaya. Buta sendiri
artinya bodoh. Lo bermakna kamu. Dan Caya dapat dipercaya. Bila disambung, maka
Buta Locaya mempunyai makna orang bodoh yang dapat dipercaya.
Sebutan itu hampri menyerupai sebutan kyai, yang bermula dari Kyai Daha dan
Kyai Daka. Kyai artinya melaksanakan tugas anak cucu dan orang di sekitarnya.
Kisah soal kyai ini bermula saat Sang Raja ke rumah Kyai Daka.
Sang Prabu dijamu Kyai Daka. Sang Prabu suka dengan keramahan itu. Nama Kyai
Daka pun diminta untuk desa yang kemudian berganti Tunggulwulung. Seterusnya ia
diangkat menjadi panglima perang.
Ketika Prabu Jayabaya muksa ( mati bersama raganya hilang ) bersama Ni Mas Ratu
Pagedongan, Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga ikut muksa. Ni Mas kemudian
menjadi ratu setan di Jawa. Tinggal di laut Selatan dan bergelar Ni Mas Ratu
Angin-Angin. Semua mahluk halus yang ada di laut selatan tunduk dan berbakti
kepada Ni Mas Ratu Angin-Angin. Buta Locaya menempati Selabale. Sedangkan Kyai
Tunggulwulung tinggal di Gunung Kelud menjaga kawah dan lahar agar tidak
merusak desa sekitar.
Ketika Nyai Plencing datang, Buta Locaya sedang duduk di kursi emas beralas
kasur babut dihias bulu merak. Ia sedang ditemani patihnya, Megamendung dan
anaknya, Paji Sektidiguna dan Panji Sarilaut. Ia amat terkejut melihat Nyai
Plencing yang datang sambil menangis.
Ia melaporkan kerusakan-kerusakan di daerah utara Kediri yang disebabkan ulah
orang dari Tuban bernama Sunan Bonang. Nyai Plencing juga memaparkan kesedihan
para setan dan penduduk daerah itu.
Mendengar laporan Nyai Plencing Buta Locaya murga. Tubuhnya bagaikan api. Ia
memanggil anak cucu dan para jin untuk melawan Sunan Bonang. Para setan dan jin
itu bersiap berangkat. Lengkap dengan peralatan perang.
Mengikuti arus angin, mereka pun sampai di desa Kukum. Di tempat ini Buta
Locaya menjelma menjadi manusia, berganti nama Kyai Sumbre. Sementara setan dan
jin yang beribu-ribu jumlahnya tidak menampakkan diri.
Kyai Sumbre berdiri di bawah pohon. Menghadang perjalanan Sunan Bonang yang
datang dari utara. Sebagai orang sakti, Sunan Bonang tahu ada raja setan dan
jin sedang menghadang perjalanannya. Tubuh Sunan yang panas menjelma bagai bara
api. Para setan dan jin yang beribu-ribu itu menjauh. Tidak tahan menghadapi
wibawa Sunan Bonang.
Namun tatkala berhadapan dengan Kyai Sumbre, Sunan Bonang juga merasakan hawa
panas. Dua sahabatnya pingsan dan demam.
Debat Soal Tuhan dan Kebenaran
Source : Posmo No. 2 - 25 Maret 1999
Debat sengit antara Sunan Bonang dengan Buta Locaya makin seru. Sunan Bonang
dengan tegas menyatakan bahwa, daerah tersebut dikatakan Gedah karena tidak
jelas agamanya. " Kusabdakan sulit air karena ketika aku minta air tidak
diberi. Sungai ini kupindah alirannya agar kesulitan mendapatkan air. Sedangkan
jejaka dan perawan kusabdakan sulit mendapat jodoh karena yang kuminai air itu
perawan desa."
Buta Locaya menjawab, bahwa itu tidak seimbang. Salah yang tak seberapa,
apalagi hanya dilakukan oleh seseorang, tetapi penderitaannya dirasakan oleh
banyak orang. Bila dilaporkan kepada penguasa, tentu akan mendapatkan hukuman
berat karena merusak daerah.
Sunan Bonang menjawab, ia pun tak takut dilaporkan Raja Majalengka. Debat Soal
Kebenaran Ketika Buta Locaya mendengar kata-kata itu, ia pun marah. Buta Locaya
berkata masygul : " Ucapan tuan bukan ucapan yang paham aturan negara. Itu
pantas diucapkan oleh orang yang tinggal di rumah madat, mengandalkan kesaktian.
Janganlah sombong. Mentang-mentang dikasihi tuan berkawan dengan malaikat, lalu
berbuat sekehendak hati. Tidak melihat kesalahan, menganiaya orang lain tanpa
sebab. Meskipun di Jawa ini akan ada orang yang lebih kuat dari pada tuan,
tapi mereka baik budi dan takut kepada laknat dewa. Tuan akan dijauhi
orang-orang baik budi bila tetap berbuat demikian.
Apakah tuan termasuk orang seperti Aji Saka murid Ijajil ? Aji Saka menjadi
raja di Jawa hanya tiga tahun, lalu pergi sambil membawa seluruh sumber air di
Medang. Ia Hindu.Suka membuat sulit air.
Tuan mengaku sunan seharusnya berbudi baik, menyelamatkan orang banyak, tetapi
ternyata tidak demikian. Tuan layak seperti setan yang menampakkan diri, tidak
tahan digoda anak kecil. Lekas naik darah. Sunan apakah itu ?
Jika memang sebagai Sunan manusia sesungguhnya, tentu suka berbuat kebajikan.
Tuan menyiksa orang tanpa dosa. Itulah jalan celaka, tanda bahwa tuan telah
menciptakan neraka jahanam. Bila telah jadi lalu tuan tempati sendiri, mandi di
dalam air mendidih."
Hamba ini bangsa mahluk halus, tidak selam dengan manusia, tetapi hamba masih
memperhatikan nasib manusia. Marilah semuanya yang rusak itu tuan kembalikan
kepada keadaan semula. Sungai yang kering dan daerah yang terlanda banjir hamba
mohon untuk mengembalikan. Semua orang Jawa yang beragama Islam akan hamba
teluh supaya mati. Hamba akan meminta bantuan Kangjeng Ratu Angin-Angin di laut
Selatan."
Begitu mendengar kemarahan Buta Locaya, Sunan Bonang menyadari kesalahannya. Ia
berkata, " Buta Locaya, aku Sunan tidak diperkenankan meralat ucapanku. Aku
hanya bisa membatasi saja. Kelak, bila telah berlangsung 500 tahun, sungai ini
dapat kembali seperti semula."
Buta Locaya mendengar kesediaan Sunan Bonang, bertambahlah kemarahannya. "
Kembalikan sekarang juga. Bila tidak, tuan akan hamba ikat."
" Sudah, jangan berbantah lagi. Aku mohon diri akan berjalan ke timur. Buah
Sambi ini kunamakan cacil karena keadaan ini seperti anak kecil yang sedang
berkelahi. Setan dan manusia saling berebut kebenaran tentang kerusakan yang
ada di daerah dan kesedihan manusia dengan setan.
Ku mohonkan kepada Tuhan, buah sambi menjadi dua macam, daging buahnya menjadi
asam. Bijinya mengeluarkan minyak sebagai lambang muka yang masam. Tempat
perjumpaan ini kuberi nama Singkal di sebelah utara dan di sini bernama Desa
Sumbre. Sedangkan tempat kawan-kawanmu di selatan kuberi nama Kawanguran."
Debat Soal Tuhan Setelah berkata demikian, Sunan Bonang meloncat ke arah Timur
sungai. Terkenal sampai kini di Kota Gedah ada desa yang bernama Singkal,
Sumbre dan Kawanguran. Kawanguran artinya pengetahuan, Singkal artinya susah
kemudian menemukan akal.
Buta Locaya memburu kepergian Sunan Bonang, yang menyaksikan arca Kuda yang
berkepala dua di bawah pohon Trenggulun. Banyak buah trenggulun yang
berserakan. Sunan Bonang kemudian memegang parang dan kepala arca Kuda itu
dipenggalnya.
Ketika Buta Locaya melihat Sunan Bonang memenggal kepala arca itu, semakin
bertambahlah kemarahannya.
" Arca itu buatan sang Prabu Jayabaya sebagai lambang tekad wanita. Kelak di
zaman Nusa Srenggi, barang siapa yang melihat arca itu, akan mengetahui tekat
para wanita Jawa.
Sunan Bonang pun berkata, " Kau ini bangsa hantu. Jadi kalau berani berdebat
dengan manusia, namanya hantu yang sombong. " Apa bedanya. Tuan Sunan, saya
ratu Hantu," kata Buta Locaya
Sunan Bonang berkata, Trenggulun ini kuberinama Kentos sebagai peringatan
kelak, bahwa aku berdua debat dengan hantu yang sombong tentang kerusakan arca.
Ki Kalamwadi berkata : " Terkenal sampai kini, buah trenggulun bernama kentios
karena ucapan Sunan Bonang. Semua itu menurut cerita guruku menurut cerita
guruku bernama Raden Budi.
Sunan Bonang kemudian berjalan ke utara. Ketika menjelang salat asar, beliau
akan bersiap salat. Di luar desa ada sumur tetapi tiada timba.
Sumur itu kemudian digulingkan. Dengan begitu Sunan Bonang dapat bersuci untuk
bersalat. Terkenal sampai sekarang, sumur itu bernama sumur gumuling." Setelah
salat, Sunan melanjutkan perjalanan. Sesampai di desa Nyahen, ada patung
raksasa perempuan berada di bawah pohon dadap yang berbunga. Sangat banyak dan
berguguran di sekitarnya. Patung raksasa itu kelihatan merah menyala, marak
oleh bunga yang berjatuhan.
Melihat patung itu, Sunan Bonang keheranan. Patung itu berukuran sangat besar.
Arca itu tampak duduk ke arah Barat setinggi 16 kaki. Lingkar pinggulnya 10
kaki. Jika dipindahkan tidak akan terangkat oleh 800 orang kecuali dengan alat.
Bahu kanannya dipatahkan, dan dahinya diludahi.
Buta Locaya marah lagi. " Tuan ternyata orang jahil, patung yang masih baik
dirusak tanpa alasan. Kini menjadi jelek. Padahal patung itu karya Sang Prabu
Jayabaya. Apakah hasilnya bila tuan merusak patung itu ?"
" Patung itu kurusak agar tidak disembah banyak orang, agar tidak diberi sesaji
dan diberi kemenyan. Orang yang memuja berhala itu kafir, rusak lahir batin."
Kata Buta Locaya, " Orang Jawa kan sudah tahu bahwa itu patung dari batu yang
tidak berdaya dan berkuasa. Bukan Tuhan, maka mereka layani. Diberi nyala
kemenyan, diberi sesaji, agar para hantu tidak menempati tanah dan kayu yang
dapat menghasilkan untuk manusia.
Para hantu mereka tempatkan di patung itu, lalu tuan usir ke mana ? Telah lazim
setan tinggal di gua, arca, dan makan bau-bauan harum. Bila menyantap bebauan
harum, hantu akan merasa nyaman.
Lebih senang lagi bila tinggal di patung yang utuh. Di tempat sepi dan rindang
atau di bawah pohon besar. Mereka menyadari bahwa alam halus berbeda dengan
alam manusia."
Sunan Bonang Khilaf Buta Locaya berkata, " Nabi itu kan manusia kekasih Tuhan ?
Mendapat wahyu agar pandai. Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum
terjadi. Sedangkan yang membuat arca Batu adalah Prabu Jaya Baya, kekasih Tuhan
pula, mendapatkan wahyu mulia. Dia pun pandai dan kaya ilmu. Awas
penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi.
Tuan perpedoman kitab, orang Jawa pun berpedoman petuah dari para leluhurnya.
Sama-sama menghargai kabar, lebih baik menghargai kabar dari leluhur sendiri
dengan peninggalan masih bisa disaksikan.
Pulau Jawa ini tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup. Tanah berpasir
murah air. Apa saja ditanam dapat tumbuh.
Pria tampak tampan, wanita kelihatan cantik, serba luwes tutur katanya. Bila
tuan ingin melihat pusat dunia, yang hamba duduki inilah adanya. Silakan tuan
ukur. Seandainya tidak benar, pukullah.
Yang membuat arca itu adalah tuanku Prabu Jayabaya. Dapatkah tuan menebak
sesuatu yang belum terjadi ? Sudahlah, hamba persilakan tuan pergi dari sini.
Bila menolak akan hamba panggilkan adik hamba dari Gunung Kelud. Tuan akan kami
keroyok. Dapatkah tuan menang ?
Lalu akan hamba bawa ke dalam kawah gunung Kelud, apakah tuan tidak susah ?
Inginkah tuan tinggal di Batu seperti hamba? Mari ke Selabale menjadi murid
hamba."
Sunan Bonang : " Tak sudi mengikuti kata-katamu. Kau hantu brekasaan."
Buta Locaya berkata, " Meskipun hamba hantu, tetapi hamba raja. Abadi
selamanya. Tuan belum tentu seperti hamba.
Tekat tuan kotor, suka mengganggu dan menganiaya. Tampak di sini masih sering
melakukan kesalahan menentang adat, menentang agama, merusak kebaikan,
mengganggu agama leluhur. Tuan dapat disiksa dan dibuang ke Menado."
Sunan Bonang tak menggubris. Ia berkata : " Dadap ini bunganya kunamai celung,
buahnya bernama kledung, karena aku kecelung ( sesat ) pemikiran dan salah
bicara. Jadi saksi ketika aku berdebat dengan hantu, kalah pengetahuan dan
pemikiran. [Sampai kini buah dadap bernama kledung, bunganya bernama celung]
Sudah, aku akan pulang ke Bonang."
Buta Locaya berkata, " Ya sudah, silakan tuan pergi. Di sini tak ayal akan
membikin panas. Bila terlalu lama di sini akan menimbulkan kesusahan,
menyebabkan mahal air, dan mengurangi air."
Tak Setuju Serbu Majapahit, Syech Siti Jenar Dibunuh
Source : Posmo No. 3 - 1 April 1999
Prabu Brawijaya amat murka ketika mendapat laporan sang Patih tentang adanya
surat dari Tumenggung di Kertosono, yang memberitahukan bahwa telah terjadi
kerusakan di wilaya itu akibat ulah Sunan Bonang. Segera ia mengutus Patih ke
Kertosono, meneliti keadaan sebenarnya.
Setelah tiba, Sang Patih melaporkan semua yang telah terjadi. Namun, ia tak
bisa menemukan Sunan Bonang, karena telah mengembara tak tahu kemana. Berikut
babak lanjutan dari Serat Darmogandhul.
Saking murkanya, Prabu Brawijaya mengharuskan semua ulama Arab yang ada di
Pulau Jawa pergi. Hanya di Demak dan Ngampelgading saja yang diperbolehkan
tinggal dan meyebarkan agama Islam. Apabila menolak akan dibunuh.
Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Patihnya, karena ulama Giripura telah
tiga tahun tidak menghadap untuk menyampaikan upeti, bahkan mendirikan kerajaan
sendiri. Sedang ulama santri Giri punya gelar yang melebihi sang Prabu. Maka,
diseranglah Giri hingga kocar-kacir.
Menyadari kekeliruannya karena tidak menghadap Majalengka, Sunan Bonang
mengajak Sunan Giri ke Demak. Di sana, mereka menyatu dengan pasukan Adipati
Demak dan mengajak menyerbu ke Majalengka.
Kata Sunan Bonang, " Ketahuilah, kini saatnya kehancuran kerajaan Majalengka
yang telah berumur 103 tahun. Menurut pertimbanganku, kamulah yang berhak
menjadi Raja. Rusaklah Kraton Majalengka dengan cara halus.
Jangan sampai ketahuan. Menghadaplah ke Ayahandamu pada acara Grebeg Maulud
dengan senjata perang. Ajaklah seluruh Bupati dan para Sunan beserta bala
tentaranya." Provokasi Adipati Demak yang memang putra Prabu Brawijaya semula
tidak mau mengikuti saran Sunan Bonang.
" Saya takut merusak negeri Majalengka. Melawan ayah, apalagi melawan seorang
raja yang telah memberikan kebahagian dan kebaikan di dunia. Kata Kakek saya di
Ampelgading, saya tidak boleh melawan ayahanda meski beragama Budha atau pun
kafir."
Mendengan jawaban demikian, Sunan Bonang berkata, " Meskipun melawan ayah dan
raja, tidak ada jeleknya kerena dia kafir. Merusak kafir tua kamu akan masuk
surga.
Kakekmu itu santri yang iri, gundul dan bodoh tak bernalar. Seberapakah
pengetahuan santri Ngampelgading. Anak kelahiran Campa tak mungkin menyamaiku
Sayid Kramat, Sunan Bonang yang dipujikan manusia sedunia, keturunan rasul
anutan semua umat Islam.
Meski kamu dosa, toh hanya kepada satu orang. Tetapi, semua manusia se Jawa
masuk Islam. Hal demikian, alangkah banyaknya pahala yang kau terima.
Tuhan masih cinta kepadamu. Sesungguhnya, orang tuamu itu menyia-nyiakan
dirimu. Buktinya, kamu diberi nama Babah. Babah itu artinya tidak baik. Hidup
hanya untuk mati. Benih Jawa yang dibawa Putri Cina.
Maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, orang keturunan
raksasa. Itu memutus cinta namanya. Ayahmu tetap berhati tidak baik.
Karena itu, balaslah dengan halus. Pokoknya jangan kelihatan. Dalam hati,
isaplah darahnya, kunyahlah tulangnya." Kemudian, Sunan Giri menyambung," Aku
tidak berdosa, dicari ayahmu didakwa mendirikan kerajaan karena aku tidak
menghadap ke Majalengka. Katanya, bila aku tertangkap akan diikat rambutku dan
disuruh memandikan anjing.
Banyak orang Cina yang datang ke Jawa. Di Giri banyak yang ku-Islamkan. Sebab,
menurut Qur-an, bila meng-Islamkan orang kafir, kelak mendapatkan surga.
Kedatanganku ke sini untuk minta perlindunganmu. Aku takut kepada patih dan
ayahmu yang sangat benci kepada santri yang suka berzikir. Katanya, sakit ayan
pagi dan sore. Bila kamu tidak membela, rusaklah agama Islam ini."
Jawab sang Adipati Demak, " Ayahanda memburu tuan itu betul. Karena tuan Sunan
mendirikan kraton. Tidak menyadari bahwa hal itu harus tunduk perintah raja
yang lebih berkuasa. Maka, sudah sewajarnya bila diburu, dihukum mati, karena
Sunan tidak meyadari makan minum di Pulau Jawa."
Namun, Sunan Bonang berkata lagi, "Jika tidak kau rebut sekarang, kau akan
rugi. Setelah ayahmu turun, tahta itu tentu bukan untukmu melainkan diserahkan
kepada Adipati Pranaraga karena dia putra paling tua. Atau kepada menantunya,
Ki Andayanigrat di Pengging.
Kamu anak muda, tidak berhak menjadi raja. Mati melawan kafir mati sabilillah,
mati menerima surga. Sudah biasa bagi orang Islam dalam melawan orang kafir.
Aku sudah tua, ingin menyaksikan dirimu menjadi raka, merestui kedudukanmu
sebagai raja di Jawa, memimpin rakyat Jawa, memulai agama suci, dan
menghilangkan agama Budha."
Panjang lebar nasihat Sunan Bonang agar Adipati Demak bangkit amarahnya, dan
mau merusak Majalengka. Bahkan, diberi contoh kisah-kisah nabi yang mau melawan
orang tuanya karena kafir.
Syech Siti Jenar Dibunuh
Singkat cerita, tak lama kemudian para sunan dan bupati di pesisir utara
datang semua ke Demak. Berkumpul untuk mendirikan masjid. Kemudian sembahyang
bersama di masjid yang beru didirikan. Usai sembahyang pintu masjid ditutup.
Sunan Bonang berkata kepada semua yang hadir di situ, bahwa Bupati Demak akan
dinobatkan sebagai raja dan akan menggempur Majapahit. Bila semua setuju akan
segera dimulai. Semua sunan dan bupati setuju. Hanya Syech Siti Jenar yang
tidak. Maka, Sunan Bonang marah dan menghukum mati Syech Siti Jenar. Yang
disuruh membunuh adalah Sunan Giri. Setelah sepakat, Adipati Demak diangkat
menjadi raja menguasai tanah Jawa bergelar Senapai Jimbuningrat dengan patih
dari atas angin bernama Patih Mangkurat.
Esok harinya, Senopati Jimbuningrat bergegas dengan perangkat senjata perang
berangkat menuju Majapahit diiringkan para sunan dan bupati. Berjalan berarakan
seprti Grebeg Maulud. Semua pasukan tak ada yang mengetahui tujuan itu selain
para tumenggung, para sunan dan para ulama.
Sunan Bonang dan Sunan Giri tidak ikut dengan alasan telah lanjut usia.
Keduanya hanya akan salat di dalam masjid dan merestui perjalanan. Bagaimana
cerita di perjalanan tidak dijelaskan panjang lebar.
Terjadi Peperangan
Alkisah, sepulang dari Giri sang Patih melaporkan hasil penaklukan terhadap
Giri yang dipimpin oleh orang Cina beragama Islam bernama Setyasena. Ia membawa
senjata pedang bertangkai panjang. Pasukannya berjumlah tiga ratus yang pandai
bersilat dengan kumis panjang berkepala gundul, berpakaian serba seperti haji.
Dalam berperang mereka lincah seperti belalang. Sementara pasukan Majapahit
menembaki. Akibatnya, pasukan Giri tampak jatuh berjumpalitan tidak mampu
menerima peluru. Senapati Setyasena menemui ajal.
Pasukan Giri melarikan diri ke hutan dan gunung. Sebagian juga berlayar dan
lari ke Bonang dan terus diburu oleh pasukan Majapahit. Sunan Giri dan Sunan
Bonang yang ikut dalam perahu itu dikira melarikan diri ke Arab dan tidak
kembali ke Majapahit.
Maka Sang Prabu memerintahkan patih untuk mengutus ke Demak lagi, memburu Sunan
Giri dan Sunan Bonang karena Sunan Bonang telah merusak tanah Kertosono.
Sedangkan Sunan Giri telah memberontak, tidak mau menghadap raja, bertekat
melawan dengan perang.
Sang Patih keluar dari hadapan Raja untuk kemudian memanggil duta yang akan
dikirim ke Demak. Tetapi, tiba-tiba datang utusan dari Bupati Pati menyerahkan
surat terkenal dengan Menak Tanjangpura mengabarkan bahwa Adipati Demak Babah
Patah telah menobatkan diri sebagai Raja Demak.
Sedangkan yang mendorong penobatan itu adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri. Para
Bupati di Pesisir Utara dan semua kawan yang sudah masuk Islam mendukung. Raja
baru itu bergelar Prabu Jimbuningrat atau Sultan Syah Alam Akbar
Khalifaturrasul Amirilmukminin Tajudil Abdulhamid Khak, atau Sultan Adi Surya
Alam di Bintoro.
Pasukannya berjumlah tiga puluh ribu lengkap dengan senjata perang, terserah
kepada Patih cara menghadap kepada raja. Surat dari Pati itu bertanggal 3
Maulud tahun Jimakir 1303 masa kesembilan wuku Prabangkat. Kyai Patih sedih
sekali, menggeram sambil mengatupkan giginya.
Sangat heran kepada orang Islam yang tidak menyadari kebaikan sang raja.
Selanjutnya, kyai patih melapor kapada raja untuk menyampaikan isi surat itu.
Mendengan laporan patih, Sang Prabu sangat terkejut. Diam membisu, lama tak
berkata. Dalam hatinya sangat heran kepada putranya dan para Sunan yang
memiliki kemauan seperti itu Mereka diberi kedudukan akhirnya malah memberontak
dan merusak Majapahit.
Sang raja tak habis pikir, alasan apa yang mendasari perbuatan mereka.
Dicarinya penalaran-penalaran tetapi tidak tercapai lahir batin. Tidak masuk
akal akan perbuatan jelek mereka itu. Pikiran sang raja sangat gelap. Kesedihan
itu dikiaskan bagaikan hati kerbau yang habis dimakan kutu babi
hutan.
Sang Prabu juga bertanya kepada sang Patih, apa alasan Adipati Demak dan para
ulama serta bupati tega melawan Majapahit. Patih pun menjawab tak mengerti. Ki
Patih juga heren, pemikiran orang Islam ternyata tidak baik, diberi kebaikan
membalas dengan kejahatan.
Kemudian, Sang Prabu berkata bahwa, kejadian itu akibat kesalahannya sendiri.
Yang meremehkan agama yang telah berlaku turun-temurun dan begitu mudah
terpikat kata-kata Putri Campa, sehingga mengizinkan para ulama menyeberkan
agama Islam. Dari kebingungan hatinya, ia menyumpahi orang-orang Islam.
" Kumohonkan kepada Dewa yang Agung, balaslah kesedihan hamba. Orang-orang
Islam kelak terbaliklah agamanya, menjelma menjadi orang-orang kucir, karena
tak tahu kebaikan. Kuberi kebaikan membalas dengan kejahatan."
Sabda sang raja yang berada dalam kesedihan itu disaksikan oleh jagad. Terbukti
dengan adanya suara menggeletar membelah bumi. Terkenal sampai sekarang, ulama
terbaik namanya, tengkuknya dikucir putih.
Tentang kedatangan musuh, yaitu santri yang akan merebut kekuasaan, Sang Prabu
meminta pertimbangan dari Patih. Sang Prabu kecewa, mengapa hanya untuk
menguasai Majapahit harus dengan cara peperangan. Seumpama diminta dengan cara
baik-baik pun tentu akan diberikan karena Raja telah lanjut usia.
Patih menjawab, lebih baik menyongsong musuh dengan pasukan secukupnya saja.
Jangan sampai merusak bala pasukan. Patih diminta memanggil Adipati Pengging
dan Adipati Pranaraga karena putra yang ada di Majapahit belum saatnya maju
berperang. Setelah memerintahkan demikian, sang prabu meloloskan diri pergi ke
Bali diikuti Sabdopalon dan Nayagenggong. Ketika memberi perintah itu, Pasukan
Demak telah mengepung istana. Maka Sang Raja segera pergi dengan terburu-buru.
_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/