hindu-dharma  

[hindu] Gerakan Renaissance Jawa 2 [lanj Post Ramalan Sabda Palon & Darmogandul]

wirajhana eka
Sun, 25 Jan 2009 08:12:15 -0800

Wong Jawa Masa Kini
  Stigma panjang yang sudah berlaku di tengah masya-rakat Indonesia adalah 
anggapan bahwa Jawa menjajah unsur-unsur Indonesia yang lain.  Wacana yang 
demikian ini menjadikan banyak orang Jawa menjadi ragu-ragu untuk eksis dengan 
kepribadian Jawa.  Maka akibatnya menghambat aliran persembahan nilai-nilai 
kebaikan Jawa untuk membangun Indonesia.  Bahkan banyak pihak yang kemudian 
beranggapan bahwa Jawa merupakan penyebab ketertinggalan Indonesia dalam kancah 
dunia.  
  Selanjutnya, Jawa diindentikkan dengan keprimitifan yang penuh klenik, 
tahayul dan gugon tuhon.  Akibat seriusnya adalah Jawa merasa “under estimated” 
sehingga tidak mampu memberikan suatu persembahan “tata peradaban” nya kepada 
Indonesia.  
   
  Sikap Jawa menjadi enggan ikut berperanan membangun Indonesia.  Kemudian yang 
terjadi, menyerahkan bangunan Indonesia kepada sistim multi kultur dan 
peradaban yang tidak memiliki kultur/peradaban “pemomong”.  Maka terbentuklah 
komunitas-komunitas unsur Indonesia yang secara ideologis berafiliasi kepada 
kultur/peradaban asing. Padahal kultur/peradaban asing yang “diturun” tersebut 
di tempat asalnya saling berbenturan dalam konflik panjang yang tidak jelas 
penyebab konfliknya itu sendiri.  Barangkali, mungkin, bahwa penyebab utama 
konflik panjang tersebut berpangkal tolak pada karakter bangsa-bangsa dimana 
peradaban asing tersebut lahir adalah karakter “bar-bar”.  Menyerang bangsa 
lain, mengalahkan dan menjajah kemudian menjadikan bangsa yang dikalahkan dan 
dijajah menjadi budak (laki-laki) dan pemuas nafsu seks (perempuan).
  
Kita semua merdeka untuk memikirkan kemudian menarik kesimpulan bagaimana 
karakter bangsa-bangsa yang merasa “beradab” : Eropa, Semit (Yahudi, Arab), 
Persia, India (Arya), Mongolia, Cina dan Jepang.  Mereka adalah kaum 
ekspansionis, penjarah dan penjajah.  Silahkan menelisik bagai-mana sepak 
terjang bangsa-bangsa tersebut ketika berekspansi ke wilayah lain di dunia.
   
  Semenjak runtuhnya Majapahit, maka Nusantara termasuk Jawa merupakan wilayah 
yang diincar oleh bangsa-bangsa berkarakter “bar-bar” tersebut.  Mereka 
berusaha menguasai Nusantara dengan segala cara.  Secara intensif menggarap 
Nusantara untuk mereka jadikan protektorat.  Adalah garapan “mental-ideologi” 
yang kemudian berdampak besar kepada karakter bangsa Nusantara.  Sedemikian 
rupa hebat hasil garapan tersebut hingga ada pujangga Jawa (menyamarkan diri 
dengan nama Ki Kalamwadi, abad 19) menyebut orang Jawa masa kini (setelah 
digarap mental ideologinya) sebagai “Jawan rab Iriban”.  Artinya, orang Jawa 
yang berkeinginan menjadi orang Arab dan hasilnya cuma mirip.  Jawa yang sudah 
tidak memiliki kedaulatan spirituil.  Jawa yang lebih bangga seandainya 
dianggap Arab, bahkan senang meskipun sekedar menjadi budaknya Arab.  
   
  Wacana ini bukan saya maksudkan untuk menggugat Islam sebagai agama yang 
dipeluk mayoritas wong Jawa.  Namun lebih saya tujukan kepada wong Jawa muslim 
yang oleh kepatuhannya terhadap agama Islam menjadi tanpa sadar “membudakkan 
diri” kepada bangsa Arab.  Sedemikian rupa membudakkan dirinya sampai 
kehilangan “kedaulatan spirituil” hingga lupa akan jatidiri bangsanya yang 
lebih beradab.  
   
  Peringatan akan kehilangan kedaulatan spirituil bagi wong Jawa tersebut sudah 
diwacanakan oleh Ki Kalamwadi dalam “Serat Darmagandhul” di abad 19 Masehi.  
Sedemikian tertekannya Ki Pujangga tersebut memikirkan Jawa yang pelan-pelan 
terbudakkan secara spirituil kepada bangsa Arab, hingga menulis kitab yang 
sangat “keras” dan melanggar etika Jawa sendiri.  Dalam kitab tulisannya, Ki 
Kalamwadi memposisikan Prabu Brawijaya sebagai penyebab awal keterpurukan Jawa. 
 Inilah yang saya nilai sebagai keberanian yang luar biasa dari Ki Kalamwadi 
tersebut.  Menjustifikasi raja penyebab kehancuran “tata peradaban” masih 
dianggap tabu dalam jaman “feodalisme Jawa”.  Meskipun kemungkinan analisa Ki 
Kalamwadi itu benar adanya, namun dianggap melanggar kesantunan Jawa yang 
berlaku di masa itu.  Oleh karena itu, wacana Ki Kalamwadi dianggap 
pemberontakan terhadap kekuasaan raja.  Dan bukunya dilarang beredar di tengah 
masyarakat.  Kalau kemudian ada salinan yang beredar, maka hanya
 terbatas sebarannya. 
  
Meskipun kita boleh meragukan kebenaran tulisan Ki Kalamwadi dalam Serat 
Darmagandhul, namun ada statemen beliau yang menarik untuk dikaji.  Statemen Ki 
Pujangga tersebut oleh banyak kalangan “Kejawen” dianggap sebagai ramalan.  
Untuk itu saya kutipkan sebagai berikut :
  a.    Tan wis yen sira wuwusa, balik mangke sira kang ingsun tari, kang dadi 
kekencenganmu, miwah beneranira, rehning uwis kebanjur ngandikaningsun, sun 
masuk agama Islam, sineksenan lan si Sahid.
  b.    Tan kena mangsuli sabda, ingsun wirang ginuyu bumi langit, Ki 
Sabdapalon umatur, paduka lampahana, kula pamit kesah ing sapurug-purug, Sri 
Narendra angandika, sira lunga maring ngendi.
  c.    Sabdapalon aturira, datan kesah amanggen wonten ngriki, mung netepi 
nami ulun, nami Ki Lurah Semar, kula nglimput saliring samar kang wujud, 
anglela ampungan padhang, den enget Sang Nata benjing.
  d.   Yen wonten manusa Jawa, Jawi angangge mata siji, nami sepuh gaman 
kawruh, niku momongan-kula, tiyang Jawan sun-wruhke bener lan luput, sigra 
tedhak Sri Narendra, arsa ngrangkul den inggati.
  e.    Palonsabda Genggongnaya, samya musna kadhung Sri Narapati, kalangkung 
pangungunipun, njethung anenggak waspa, angandika he Sahid kawruhanamu, ing 
besuk nagri Blambangan, aran nagri Banyuwangi.
  f.     Ya iku tengeranira, Nayagenggong bali mring tanah Jawi, anggawa 
momonganipun, mata siji kang wignya, wani lungguh anjajari maring ingsun, tan 
wruh asal sobat kenal, yen nakal binuwang tebih.
  g.   Tyasira angkara murka, kumet loma krenah pitenah dadi, dana kawruh dana 
laku, mrih arja tanah Jawa, Sabdapalon isih ana sabrang nglimput, tengerane iki 
sendhang, banyune yen mari wangi.
  h.   Wong Jawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam benjing, aganti agama 
kawruh, Sunan Kali turira, yen makaten utaminira Sang Prabu, kula prayogi 
mbekta, toya wangi sendhang niki.
  i.     
  Kutipan tersebut termuat dalam pupuh Pangkur (pada 55 – 62), menceriterakan 
Kaki Sabdapalon (Nayagenggong) memilih pisah dengan momongannya, Prabu 
Brawijaya.  Secara ringkas bisa saya terjemahkan:
  
Prabu Brawijaya sudah menyatakan diri masuk agama Islam hingga disesalkan oleh 
pamomongnya, Ki Sabdapalon Nayagenggong.   Dalam pada (bait) sebelumnya, Ki 
Sabda-palon “nguman-uman” (menyalahkan dengan kata-kata) keputusan momongannya 
berganti agama tersebut.  Maka sang raja merasa risih dan memutus 
penguman-umannya Sabdapalon (tan wis yen sira wuwus).  Kemudian balik bertanya 
akan kesetiaan abdinya itu untuk mengikuti jejaknya.  
   
  Sabdapalon menjawab bahwa tidak bersedia masuk Islam dan pamit untuk 
berpisah. Ditanya mau pergi kemana ? Jawab Sabdapalon tidak kemana-mana tetap 
berada di tempat ini (Jawa), memenuhi tugasnya sebagai Semar yang melingkupi 
semua kegaiban dari semua wujud, berada di balik terang.  Sabdapalon memberi 
pesan kepada Brawijaya : 
   
  “kalau suatu saat di kemudian hari akan ada orang Jawa, Jawi bermata satu 
(tercerahkan batinnya) memakai nama tua bersenjatakan kawruh (ilmu pengetahuan) 
itu adalah momongan Ki Sabdapalon, dan melalui orang-orang (Jawa-Jawi, jamak) 
tersebut Ki Sabdapalon akan mengajarkan dan menunjukkan benar dan salah kepada 
orang-orang Jawa yang sudah kehilangan kedaulatan spirituilnya (Jawan)”.  
   
  Seketika Prabu Brawijaya mendekati Ki Sabdapalon untuk dipeluk.  Namun Ki 
Sabdapalon menghindar dan musna (hilang dari penglihatan, menjadi gaib).  Prabu 
Brawijaya keheranan dan tercenung sedih menahan tangis.  Dan kemudian berucap 
kepada Sahid (Sunan Kalijaga) : 
   
  “He Sahid ! Besuk negeri Blambangan akan bernama Banyuwangi, jika air sendang 
ini sudah hilang bau wanginya, maka sebagai pertanda kedatangan kembali 
Nayagenggong dan diamat-amati Sabdapalon dari luar (manca) ke Jawa membawa 
momongannya yang tercerahkan batinnya, mumpuni pengetahuannya (wignya), berani 
duduk setara denganku, tidak mempersoalkan asal sahabat yang dikenal, kalau 
nakal dibuang (disingkiri), wataknya : keras angkara murka, kikir (perhitungan) 
juga dermawan, semua perbuatan dilakoni termasuk memfitnah.  Mendanakan ilmu 
dan laku untuk membuat tanah Jawa raharja (tenteram). Di saat itu nanti banyak 
orang Jawa meninggalkan agama Islam pindah ke “agama kawruh” (agama yang 
rasional, mungkin Kawruh Kasampurnan Jawa).”
   
  Sunan Kalijaga menjawab : 
   
  “kalau begitu kebenarannya, maka sebaiknya saya mengambil air sendang ini dan 
saya bawa.“
  
Nukilan kisah yang diwacanakan Ki Kalamwadi ter-sebut kiranya bisa ditafsirkan 
macam-macam.  Termasuk menganggapnya sebagai ramalan.  Saya lebih cenderung 
untuk menganggap sebagai analisa mendalamnya Ki Kalamwadi akan 
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada orang Jawa yang beliau pesankan 
dengan cara memasukkan sebagai “ucapan” Sabdapalon ketika memilih berpisah 
dengan Brawijaya yang pindah agama.  Pesan itu berbunyi : “Bahwa sesungguhnya, 
nanti akan banyak orang Jawa yang tercerahkan batinnya dan berani melakukan 
upaya-upaya untuk bangkit kembali”. 
  
Bahwa kemudian pesan Ki Kalamwadi (seorang pujangga mbalela) tersebut diyakini 
sebagai ramalan justru positif maknanya.  Setidaknya dengan tersebarnya ramalan 
akan terjadinya “kebangkitan kembali Jawa” telah memelihara pertahanan 
spirituil orang Jawa untuk tidak mau begitu saja dicuci otaknya. Kalau toh 
kemudian penjaga “pesan” tersebut lebih banyak pada para penekun Kejawen 
(Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa) memang menjadi keharusan 
sejarah.  Posisinya mirip kaum muslimin Syiah yang mempercayai ramalan akan 
turunnya “Imam Mahdi” yang keturunan Nabi Muhammad.
  
Kesimpulannya, bahwa wong Jawa saat ini rata-rata sudah kehilangan “kedaulatan 
spirituil”.  Bahkan untuk “men-jejaki” kejatidiriannya sendiri sudah tidak 
mampu.  Namun ada sebagian diantara yang seperti itu masih memelihara “harapan” 
untuk kembali menemukan kembali kejatidirian Jawa.  
  
Relevansi Renaissance Jawa untuk Indonesia
  Banyak para sejawat yang mempertanyakan relevansi gerakan kebangkitan 
peradaban Jawa dengan kepentingan kebangsaan Indonesia.  Sebuah pertanyaan yang 
menantang bagi lajer Jawa yang sekaligus sebagai warga bangsa Indonesia. 
Permasalahan munculnya pertanyaan tersebut ada pada kekawatiran terhadap 
kemungkinan memperkuat stigma bahwa Jawa menjajah unsur-unsur Indonesia yang 
lain.
  
Munculnya pendapat yang menyatakan bahwa Jawa menjajah (mengkooptasi) unsur 
Indonesia yang lain adalah kegagalan kita, bangsa Indonesia, 
mengimplementasikan cita-cita luhur diberdirikannya Indonesia.  Kegagalan 
tersebut menunjukkan bahwa kurang disosialisaikannya “Wawasan Kebangsaan 
Indonesia” dan internalisasi nilai-nilai Pancasila.  Dengan kata lain, bahwa 
wacana kemerdekaan lebih berat fokusnya untuk berebut “kue”-nya, bukan upaya 
mengisi kemerdekaan itu sendiri.  Maka makna menjadi Indonesia seba-gai 
“peleburan” masih pada aras “penggabungan” unsur-unsur. Artinya masih butuh 
waktu untuk mewujudkan cita-cita luhur diberdirikannya Indonesia.
   
  Stigma “Jawa menjajah unsur Indonesia yang lain” menjadikan tersendatnya 
kontribusi Jawa kepada Indonesia.  Padahal nilai-nilai budi luhur Jawa 
sesungguhnya dibutuhkan untuk membangun karakter bangsa Indonesia.  Kondisinya 
diperparah dengan “aktivitas politik agama” yang menjadikan Budaya Jawa sebagai 
“rival” agama.  
   
  Menjadikan Budaya Jawa sebagai rival agama mengaki-batkan semakin 
terpinggirkannya nilai-nilai budi luhur Jawa. Maka nilai-nilai luhur Paancasila 
yang dianggap pengeja-wantahan Falsafah Hidup Jawa ikut terpinggirkan.  Maka 
menjadi semu dan rapuh persatuan Indonesia yang dibangun dengan aras ajaran 
agama. Masalahnya, bahwa fanatisme agama telah menjadikan umat agama menjadi 
pasukan perang yang bisa digerakkan untuk berebut kekuasaan.  
   
  Renaissance Jawa pada dasarnya adalah merupakan upaya menggugah kesadaran 
Jawa akan nilai-nilai budi luhurnya yang bisa dipersembahkan kepada Indonesia.  
Persembahan Jawa tersebut akan sangat besar pengaruhnya untuk “ndandani” 
keadaan yang amburadul sekarang ini.
   
  Eksistensi sebuah bangsa yang dibangun dari multi-kultur pada kenyataannya 
lebih ditentukan oleh pilihan ideologi yang mampu mengakomodir perbedaan kultur 
dan  peradaban masing-masing unsur yang membangun bangsa itu sendiri.  Semakin 
universal ideologi yang dipilih dan diberlakukan seba-gai dasar kehidupan 
berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, maka akan semakin ulet ketahanan bangsa 
tersebut dalam menerima arus besar “Benturan antar Peradaban” yang terjadi 
setelah era Perang Dingin selesai.
  
Ideologi Neo-Liberalisme saat ini mendominasi dunia.  Kiranya tidak ada negara 
atau bangsa di dunia ini yang mampu menahan gempuran ideologi neo-liberalisme 
tersebut.  Karena pijakan ideologi tersebut adalah sekularisme dan kebebasan 
umat manusia untuk eksis di dunia.  Sebuah pijakan mendasar yang lintas ruang 
dan waktu.  Ujung tombak ideologi ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi 
serta sistim demokrasi.  Maka tanpa direkayasa pun akan menyebar dengan 
sendirinya ke seluruh dunia.  Bahwa kemudian neo-liberalisme dijadikan 
kendaraan kepentingan politik dan ekonomi negara-negara kuat (kapitalis dan 
imperialis) untuk menguasai negara-negara lain adalah persoalan yang berbeda.  
   
  Atas pengaruh paham sekularisme, demokrasi dan kemerdekaan untuk eksis, maka 
kemudian mendorong umat manusia untuk lebih mengoperasionalkan “daya 
kemanusia-annya”.  Salah satu “daya kemanusiaan” itu adalah berpikir.  “No 
limit” untuk kemampuan berpikir manusia, begitulah semboyan sekularisme dan 
liberalisme.  Ide ini berseberangan dengan doktrin agama yang mengajarkan 
“manusia terbatas akalnya”.  Maka terjadi perbenturan antara doktrin agama 
dengan paham sekularisme dan neo-loberalisme tersebut.    
   
  Pada aras kemerdekaan berpikir manusia, maka semua doktrin (ajaran) agama 
dituntut untuk rasionil hingga “manusia berpikir” bisa mengerti dan mau tunduk 
menjalankan ajaran agama tersebut.  Manakala proses pencerdasan bangsa telah 
berjalan dengan baik, maka rakyat “berpikir” akan menjadi mayoritas.  Dan 
gugatan terhadap “kemapanan” yang tidak adil dan tidak masuk akal akan marak.  
Termasuk gugatan terhadap kemapanan doktrin-doktrin agama yang dianggap tidak 
rasionil.  Begitulah yang terjadi di semua bangsa yang ada di dunia ini.  
   
  Pengaruh neo-liberalisme pada seluruh umat manusia di dunia sedemikian rupa 
intensif merasuki batin manusia.  Akibatnya terjadi keguncangan peradaban di 
semua tatanan yang sudah mapan sebelumnya.  Pada tahapan inilah sebe-narnya 
manusia banyak yang mengalami gegar budaya.  Di satu pihak dituntut untuk 
menyesuaikan diri dengan perubahan peradaban, di pihak lain masih terikat oleh 
tata peradaban aslinya.  
   
  Kita ketahui bahwa banyak kelompok komunitas atas dasar agama melakukan 
perlawanan terhadap arus sekularisme dan neo-liberalisme tersebut.  Ada yang 
dengan cara melaku-kan penyesuaian-penyesuaian, namun ada pula yang kemudian 
mengambil jalan kekerasan dengan teror bom yang lebih memperparah peradaban 
manusia.   Maksudnya menunjukkan patriotisme perlawanan terhadap dominasi 
neo-liberalisme, tetapi yang terjadi justru pengungkapan kesekaratan paham 
(ideologi) yang dimiliki.  



  Eksistensi nilai-nilai paham keagamaan yang semes-tinya penuh kedamaian telah 
dihancurkan sendiri oleh kepen-tingan politik kekuasaan sebagian umatnya.  
Melawan dengan kekerasan atas pengaruh liberalisme adalah resiko yang harus 
dilakukan para pihak yang menggunakan agama sebagai kendaraan politiknya.  
Sebabnya, dengan arus liberalisme yang merasuki batin umat dengan sendirinya 
akan mengeroposkan legitimasi elite agama yang bersangkutan.  Kepentingan 
mempertahankan kekuasaan yang selama ini dinikmati dengan nyaman oleh para 
elite agama yang kemudian melahirkan ajakan melawan arus liberalisme dengan 
kekerasan tersebut.  Umat agama yang lugu-lugu diberdayakan sebagai kekuatan 
pendukung aliran politik para elit tersebut.  Strateginya memanfaatkan 
fanatisme umat dalam membela agamanya. Umat yang lugu telah dijadikan pasukan 
berani mati membela “agama”.  Oleh karena itu, perlawanan terhadap sekularisme 
dan liberalisme menjadi bias menuju perbenturan (konflik) antar umat agama.
  Bahkan kemudian antar umat dalam satu agama itu sendiri.  Memelas !
   
  Sekularisme dan liberalisme merupakan paham yang mengintervensi batin dan 
pemikiran umat manusia.  Menjadi liar ganas ketika kemudian dijadikan paham 
oleh manusia-manusia yang tidak memiliki kesadaran religius, kesemestaan dan 
keberadabaan umat manusia.  Kesadaran religius dalam hal ini tidak cukup untuk 
sekedar diwakili dengan memeluk agama.  Namun lebih tepat sebagai kesadaran 
berke-Tuhan-an yang mendalam dan luas.  Kesadaran kesemestaan dimaksudkan 
kesadaran akan ke-mahluk-an yang posisi tempatnya sangatlah kecil di Jagad Raya 
ini.  Sedangkan kesadaran keberadaban umat manusia adalah kesadaran sebagai 
mahluk hidup yang memiliki kemampuan berpikir membedakan benar-salah, 
baik-buruk, budi luhur-budi asor. 
   
  Pada umat manusia yang memiliki kesadaran religius, kesemestaan dan 
keberadaban umat manusia, sekularisme dan liberalisme akan menjadi jinak dan 
akan menjadi sumberdaya yang hebat untuk membangun peradaban luhur manusia yang 
tujuannya adalah kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia.  Kiranya wacana 
keluhuran peradaban yang mensejahterakan umat manusia di dunia adalah cita-cita 
universal umat manusia sendiri.  
  
Indonesia yang mengklaim diri sebagai bangsa yang religius akan mengalami 
situasi “genting” ketika mulai marak gugatan-gugatan atas “kemapanan semu” yang 
ada.  Baik itu kemapanan semu pemerintahan dan aturan kemasyarakatan.  Semua 
dituntut untuk adil dan rasionil. Dan aras religius sebagai karakter dasar 
bangsa Indonesia akan menuntut universalnya semua ajaran agama secara obyektif. 
 Kemapanan para elite agama yang jumud akan tergugat dengan sendirinya. 
   
  Saat ini Indonesia sedang berusaha bangkit dari keter-purukan.  Namun 
terkendala banyak masalah pada warga bangsanya sendiri.  Persatuan Bangsa telah 
terkoyak oleh berbagai konflik SARA.  Demikian pula moral bangsa menurun hingga 
ke titik nadir oleh maraknya KKN hingga ke tingkat akar rumput.  Pragmatisme 
“Pokoke Kantong Isi” telah merasuki pikiran hampir merata di seluruh warga 
bangsa Indonesia sendiri.  Etika moral yang berpijak pada aras budi luhur sudah 
dilupakan.
   
  Kondisi Indonesia yang memprihatinkan tersebut mau tidak mau mengusik nurani 
sebagian warga bangsa yang masih memiliki rasa cinta kepada negara dan 
bangsanya.  Maka kemudian bermunculan statemen-statemen dari banyak kalangan 
untuk mengajak memperbaiki keadaan.  Namun kenyataannya bisa kita saksikan pula 
bahwa belum ada tindakan nyata untuk melaksanakan statemen dan gagasan-gagasan 
tersebut.
   
  Barangkali ada keseriusan pemerintah melakukan penertiban di segala bidang 
dan memberantas tindak pidana korupsi.  Namun kiranya belum cukup memadai kalau 
tidak didukung adanya gerakan di tengah masyarakat untuk membangun kembali 
perilaku budi luhur.
   
  Dalam rangka ikut serta menggerakkan masyarakat membangun perilaku budi luhur 
tersebut maka membangkitkan peradaban Jawa menjadi relevan.  Alasannya, bahwa 
per-adaban, tata peradaban dan kebudayaan Jawa sarat dengan nilai-nilai budi 
luhur yang dibutuhkan.
   
  Bukan untuk menafikan peradaban dan kebudayaan unsur Indonesia yang lain 
kalau fokus utama gerakan Sekar Jagad pada kebangkitan peradaban Jawa.  Masalah 
utama adalah belum terbangunnya peradaban Indonesia secara nyata meskipun sudah 
diwasiatkan pada Pembukaan UUD 1945.  Sejauh ini, bangunan peradaban Indonesia 
masih merupakan himpunan berbagai peradaban unsur bangsa.  Upaya menya-tukan 
dengan nilai-nilai Pancasila masih belum berjalan mulus.  
   
  Untuk membangun masyarakat Pancasilais, maka tata peradaban Jawa dan 
kebudayaannya sangat diperlukan.  Teruta-ma untuk memelihara norma-norma yang 
penuh toleransi dari banyak perbedaan yang ada.  Pengalaman panjang Jawa dalam 
mensinergikan berbagai peradaban menjadi modal yang bisa dipersembahkan kepada 
Indonesia.
   
  Sebagaimana Bung Karno menyebutkan bahwa ring-kasan Pancasila menjadi Ekasila 
adalah “gotongroyong”, sedangkan kata “gotongroyong” itu sendiri adalah kata 
bahasa Jawa.  Maka sudah dengan sendirinya yang mengerti makna dan mampu 
mendiskripsikan “gotongroyong” dengan lengkap dan mendalam adalah “Jawa”.  
Yaitu : hidup bersama dengan nyaman, tenteram dan damai “tata tentrem kerta 
raharja”.  Kiranya mudah dipahami, bahwa sesungguhnya manusia dalam hidup 
bersama di dunia ini adalah untuk kesejahteraan bersama. 
              
Gerakan Memulihkan Kehayuan 
  Menurut pandangan Jawa, maka keterpurukan Indonesia saat ini merupakan tanda 
bahwa ke-hayu-an semesta sedang mengalami gangguan.  Hubungan semua unsur 
semesta terganggu keharmonisannya.  Makia dibutuhkaan upaya-upaya mengembalikan 
keharmonisan semesta tersebut.  Peradaban dan budaya Jawa banyak ditemukan 
cara-cara atau upaya memulihkan keselerasan semesta tersebut. 
   
  Sebagai contoh gangguan keselarasan tersebut ketika pada suatu lingkup kecil 
pemukiman ada anak (bayi) yang menangis pada malam hari.  Keharmonisan malam 
menjadi terganggu oleh tangis bayi tersebut.  Maka pada peradaban dan budaya 
Jawa, untuk mengatasi hal tersebut, ditembangkan “Kidung Sontreng” Kinanthi 
Cengkok Mangu.  Maka pelan-pelan tangis bayi akan mereda dan suasana kembali 
selaras hayu lagi.  “Kidung Sontreng” tersebut adalah “Sastra Gendhing” atau 
“Mantra Swara” gubahan genius Jawa di jaman Pajajaran yang kemudian diberi 
warna Islam di jaman Demak.
  
Di Indonesia banyak didapati budaya asli daerah yang bisa disebut sebagai 
“mantra swara” tersebut.  Maka perlu digerakkan laku budaya yang berhubungan 
dengan upaya mengembalikan (memulihkan) keselarasan alam tersebut.  Pada 
masyarakat Jawa perlu digerakkan berdirinya banyak pagu-yuban yang kemudian 
diarahkan untuk bisa melaksanakan “mantra swara Jawa”.  Mantra Swara dalam 
bentuk tembang berupa “Serat Kidungan”, sedang pada “Ritual Gamelan” berupa 
“Gendhing Gadhung Mlathi”.
   
  Mengumandangkan “mantra swara” yang terus menerus akan menjadikan unsur-unsur 
semesta terpengaruh untuk kembali kepada “susunan” yang hayu secara mistis.  
Maka nuansanya akan mempengaruhi jiwa-jiwa manusia untuk secara “inner” kembali 
kepada jatidirinya yang beradab.  Namun, dikarenakan wacana ini berada di 
wilayah spirituil, maka kepada seluruh sejawat Sekar Jagad dimohon untuk 
mendalami lebih jauh.  Atas dasar pijakan ingin mengadakan gerakan “mantra 
swara” inilah paket Sekar Jagad kami lampiri contoh nembang macapat.
   
  Bahwa wacana ini pada aras spirituil, maka di dalam jiwa setiap warga bangsa 
Indonesia sesungguhnyaa telah tertanam wiji (benih) Spirituil Kebangsaan 
Indonesia secara alami.  Benih spirituil tersebut dalam keadaan bersifat 
defensif.  Dengan “mantra swara” yang tepat, maka benih spirituil yang 
bersemayam tersebut bisa digugah untuk menggelora sebagai-mana kekuatan 
“kundalini” yang terbangunkan.  Geloranya sedemikian besar sehingga, 
kadang-kadang, membuat yang disemayami terguncang seperti “kesurupan”.  Maka 
dengan diberi aras ke-hayu-an semesta hasil laku budaya “mantra swara” akan 
memberikan ruang untuk bergeloranya benih spirituil kebangsaan Indonesia 
tersebut.  Bergelora kemudian beresonansi dengan benih spirituil yang ada 
dijiwa seluruh rakyat Indonesia.  Maka ke-hayu-aan Indonesia dengan sendirinya 
akan tercapai dan mengahantarkan pada kejayaan.
  
Demikian semoga bermanfaat.  Swuhn. 

       
_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
  • [hindu] Gerakan Renaissance Jawa 2 [lanj Post Ramalan Sabda Palon & Darmogandul] wirajhana eka