sudarma
Tue, 09 Mar 2010 18:43:20 -0800
Hari Raya Nyepi
(Kajian Upācāra & Implementasi Pada Kehidupan)
Oleh : I Wayan
Sudarma (Shri Danu Dharma P)
Oṁ Swastyastu
Pendahuluan
”Pada awalnya adalah kegelapan yang sangat pekat. Semua yang ada ini tidak
terbatas dan
tidak dapat dibedakan. Yang ada saat itu adalah kekosongan dan tanpa bentuk.
Dengan tenaga panas yang sangat dahsyat,terciptalah kesatuan yang kosong”
(Ṛgveda X.129.3).
Kapanpun dan di manapun pelaksanaan
Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan Dharma merajalela, pada waktu
itulah
Aku Sendiri menjelma, wahai putra
keluarga Bhārata
(Bhagavadgītā 4.7).
Hari suci keagamaan
selalu menempati posisi tersendiri dalam kehidupan manusia dan memiliki makna
kesucian yang diorientasikan pada kesempurnaan dengan ajaran-ajaran kerohanian
yang berasal dari wahyu Tuhan. Karena orientasi tersebut dimensi hari raya
agama tersebut bersifat vertikal. Agama apapun mengajarkan satu kesunyataan
yakni Kebenaran. Demikian halnya dengan agama Hindu yang memiliki hari raya
keagamaan yang dikelompokkan berdasarkan sasih/bulan dan pawukon/wuku ke dalam
dua kelompok besar, diantaranyaadalah Nyepi, Galungan dan
Kuningan, dan yang lainnya.
Hari Suci Nyepi
Hari Nyepi merupakan
tonggak kebangkitan kerohanian Hindu yang ditandai dengan Toleransi dan
Kerukunan.
Bermula dari persaingan dan pertikaian bangsa-bangsa di kawasan Asia (sekarang
antara:
Tibet, Asia Tengah, Persia, Sungai Sindhu, Afganistan, Pakistan, Kashmir, Iran
dan India Barat laut) antara bangsa Saka (Scythia) – Pahlava (Parthia)– Yueh-ci
(Cina) – Yavana (Yunani) – Malava (India). Mereka sangat berambisi salin
menaklukkan satu sama lain sebagai musuh-musuhnya. Selama berabad-abad
bangsa-bangsa tadi silih berganti saling menguasai wilayah lawan-lawannya
(semacam penguasaan/ penjajahan) memperebutkan daerah yang sangat subur.
Akhirnya pada awal tahun 248 SM di India bangsa Pahlava unggul dalam peperangan
melawan bangsa Yavana dan Saka serta menguasai wilayah yang sangat luas.
Bangsa Saka yang
kalah perang mengembara dan mampu secara cepat menyesuaikan diri dan tersebar
di seluruh kawasan, namun membawa satu misi kooperatif perdamaian dengan
mengedepankan
aspek budaya dan humanisme. Bangsa Saka dengan seni budaya dan kombinasi ketata
negaraan yang terbuka (ala demokrasi sekarang) mampu menyentuh penguasa yakni
Bangsa Pahlava. Artinya bangsa Pahlava mengakui keunggulan bangsa Saka yang
mengalihkan perjuangan politiknya dari mengangkat senjata (peperangan) menjadi
arah politik : ideology, social-budaya yang bercirikan keharmonisan –
perdamaian dengan mengangkat kesejahteraan sebagai issueglobal. Pergerakan
humanisme sejak tahun 138 – 12 SM terjadi akulturasi dan
sinkretisme antara bangsa-bangsa yang tadinya bermusuhan dan berakhir pada
peperangan menuju perdamaian.
Akibat gerakan
kemanusiaan membuat sikap politik bangsa-bangsa tadi berubah menjadi gerakan
Lokasamgraha
(dunia ini rumah kita, persaudaraan semesta, Torang samua basudara). Terdapat
tokoh raja Kaniska I, II dan III (tidak semuanya berasal dari bangsa Saka tapi
mereka mengadopsi perjuangan bangsa Saka) dalam percaturan politik yang meraih
simpati rakyat dengan gerakan kesejahteraan dan kemanusiaan tadi. Salah satu
yang terkenal kemudian adalah raja Kaniska II yang pada tahun 78 Masehi
menetapkan
tahun baru sebagai pencerahan bangsa-bangsa yang berdamai dengan memberikan
penghargaan kepada bangsa Saka yang memelopori pergerakan tadi menjadi Tahun
Baru Saka yang diperingati secara serentak oleh seluruh negeri. Tahun itu
dikemudian hari menjadi tahun pencerahan dan dirayakan dengan khidmat melalui
tapa – brata – samadhi.
Rangkaian Hari Raya
Nyepi.
Perayaan Hari suci
Nyepi dan Tahun Baru Saka 1932tahun 2010di daerah secara otonom dilaksanakan
dari tingkat Provinsi sampai
tingkat Desa dan perorangan di rumah masing-masing dengan rangkaian sebagai
berikut :
1. Melasti/Makiyis: adalah prosesi
spiritual keagamaan sebagai upaya penyucian alam semesta dari segala kekotoran
dan kejahatan akibat dari perputaran karma selama 1 tahun yang penuh dengan
intrik, gejolak, nafsu, dan berbagai sisi negative terhadap kemanusiaan.
Penyucian ini tidak berhenti pada tataran alam semesta, tetapi juga pada diri
setiap manusia Hindu, harus menyucikan diri dan lingkungannya. Arah prosesi
penyucian itu ditujukan kea rah laut/segara, karena diyakini air bersumber di
laut dan air merupakan sumber dari kehidupan. 80 % tubuh kita ini terdiri dari
air. Pelaksanaan prosesi ini dilaksanakan sejak seminggu sebelum hari raya
nyepi atau maksimal 2 hari sebelum Nyepi.Di
dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan: angayutaken laraning jagat,
paklesa letuhing bhuvana, yang
terjemahannya: untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dan kotoran dunia (
alam ), sedangkan di dalam lontar Sundarigama dinyataan : amet sarining amrtha
kamandalu
ritelenging samudra, yang terjemahannya : Untuk memperoleh air
suci kehidupan di tengah – tengah lautan. Laut sebagai sumber amerta karena
laut/segara dipercaya dan diyakini mampu melebur segala kekotoran yang
diakibatkan oleh api nafsu manusia yang berupa tindakan kotor/jahat dll.
2. Tawur Kesanga: adalah upacara
Bhuta Yajna, artinya korban suci yang ditujukan kepada penguasa kekuatan yang
memberi kemanfaatan bagi seisi alam raya ini berupa Caru. Caru adalah kata
bahasa Sanskerta yang berarti mempercantik, menetralisir, memiliki makna
spiritual somya yakni membuat semuanya menjadi harmonis. Caru ini berupa
sesajen yang dibuat sedemikian rupa dalam rangkaian yang memiliki perhitungan
magis, oleh Pendeta dijadikan sebagai sarana untuk menjadikan situasi
krodit/disharmoni menjadi normal/harmonis kembali. Tawur kesanga dilaksanakan
sehari sebelum Nyepi tepatnya pada bulan Mati/Tilem sasih Kesanga yang jatuh
pada tanggal 15Maret 2010.
3. Nyepi – Brata Penyepian: pada
tanggal 16Maret 2010 adalah hari raya Nyepi yang dilaksanakan
perayaannya dengan berpuasa dan berpantang/brata. Dimulai pagi hari jam
06.00.Di antara berbagai bentuk Tapa, Brata, Yoga, Samadi itu, Maunabrata
(Monabrata) adalah yang tertinggi, tujuannya adalah amatitis kasunyatan, menuju
keheningan sejatai seperti pula disebutkan di
dalam lontar Sundarigama (salah satu lontar yang menjelaskan tentang hari-hari
raya Hindu di Indonesia) secara tegas menyatakan:"..................Nyepi
amatigni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, agnigni saparanya tan
wenang, kalinganya wenang sang weruh ring tattwa angelaraken samadhi. tapa,
yoga amatitis kasunyatan"- Hari Nyepi, tidak benar semua orang melakukan
pekerjaan, berapi - api,
karena mereka yang tahu hakekat agama melaksanakan samadhi,tapa,yoga memusatkan
pikiran menuju kesunyataan/keheningan sejati". Brata Penyepian,
dengan amati : gni, karya, lelungan,
lelangunan, membuat hidup ini terintrospeksi secara sadar atas apa dan
siapa diri ini untuk menuju arah yang ditentukan oleh ajaran agama. Selama 1
hari penuh (24 jam) aktivitas direorientasi guna memberikan pembaharuan
(Reneweble) alam semesta sehingga
segenap potensinya kembali berfungsi secara maksimal. Bayangkan kota Jakarta
jika selama 1 hari tidak ditebari polutan asap kendaraan (polusi udara) dan
listrik dipadamkan, aktivitas diliburkan sehari itu saja dalam setahun, berapa
besar penghematan yang telah dilakukan oleh Negara, betapa bersihnya udara
Jakarta dan kelesuan dapat dipulihkan.
4. Ngembak Gni: melakukan
aktivitas kembali seperti semula atau membuka api kehidupan normal. Pada hari
ini tgl 17Maret 2010menjadi
lembaran baru bagi kehidupan yang cerah penuh pencerahan rohani. Ngembak Gni
mengisyaratkan kepada manusia yang "Multikultural" untuk
bersatu padu, menghargai perbedaan sebagai kebenaran illahi, memaafkan adalah
perbuatan
mulia yang akan membuat hidup kita terasa lebih damai. Melayani mereka yang
lemah, membantu mereka yang menderita adalah karma utama saat ini, karena
sesungguhnya melayani semua mahluk dengan cinta kasih, dan kasih sayang adalah
bentuk pemujaan kepada Tuhan (serve to all man kind is serve to the God).
Makna Penjelmaan
Menjelma
sebagai manusia menurut ajaran Hindu adalah kesempatan yang paling dan sangat
baik, karena hanya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dengan jalan
berbuat baik. Untuk berbuat baik dan benar nampaknya sangat sulit dilakukan
oleh karena berbagai tantangan yang dihadapi oleh setiap orang. Tantangan mulai
ketika bayi lahir dari kandungan ibunya. Demikian lahir langsung menangis
karena ia berhadapan dengan kejamnya alam, udara yang dingin atau kilauannya
sinar matahari dan lain-lain. Bayi akan tumbuh menjadi manusia dewasa bila ia
mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Tantangan
yang paling berat yang dihadapi oleh umat manusia adalah tantangan yang datang
dalam dirinya sendiri, yakni sifat-sifat atau kecenderungan jahat yang
merupakan sifat-sifat keraksasaan, kebalikan dariDaivisampad yang
disebutAsurisampad (sifat-sifat Asura atau raksasa). Pertarungan
antara sifat-sifat kedewataan dengan keraksasaaan inilah yang terus berlangsung
dalam diri umat manusia yang sering mengejawantah dalam sikap dan prilaku
sehari-hari. Pertarungan ini berlangsung terus tiada hentinya. Siapa yang
berhasil memenangkan pertarungan dengan berpihak pada kebajikan atau (Dharma)
ialah yang sesungguhnya berhasil menegakkan Dharma.Hanya dengan berpihak kepada
Dharma seseorang akan memperoleh
keselamatan, kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Sebagai diamanatkan
dalam terjemahan sloka Māhanārayana Upaniad XXII.1, berikut:
“Dharmo viśvasya
jagataḥ pratiṣṭhā, loke dharmiṣṭhaṁ prajā upasarpanti,Dharmeṇa pāpam apanudanti
dharme sarvaṁ, pratiṣṭhaṁ tasmad dharmaṁ
paramaṁ vadanti” - “Dharma adalah prinsip dasar dari
segala sesuatu yang bergerak dan yang tidak bergerak di alam semesta ini.
Seluruh dunia
dansegenap umat manusia hendaknya selalu bergairah mengikutiajaran
Dharma. Yang mengikuti ajaran Dharma terbebas dari segala dosa.
Segala sesuatunya akan berjalan mantap bila di jalan
Dharma. Untuk itu patutlah Dharma itu disebut ajaran yang tertinggi”
“Dharma eva hato
hanti dharmo rakṣati rakṣitaḥ, tasmād
dharmo na hantavyo mābo dharmo hato’vadhīt” - “Dharma yang dilanggar
menghancurkan pelanggarnya.Dharma
yang dilaksanakan melindungi pelaksananya, oleh karena itu janganlah melanggar
Dharma, sebabbagi yang melanggar Dharma akan menghancurkan dirinya sendiri”
(Manavadharmaśāstra
VIII.15).
Implementasi Dalam Kehidupan
Bagaimana
kita dapat memenangkan Dharma dalam era globalisasi? Globalisasi adalah proses
atau trend kemajuan dunia melalui Ilmu Pengetatuhan dan Teknologi dengan
ditandai oleh derasnya arus informasi, terutama dari masyarakat maju menuju
masyarakat yang sedang berkembang. Dalam era globalisasi ini seakan-akan tidak
ada batas-batas antar negara atau bangsa-bangsa (Boderless nations and states)
di dunia ini. Kita maklumi bersama
bahwa Globalisasi tidaklah selalu berpangaruh dan berdampak negatif, banyak
hal-hal positif yang dapat dipetik dalam era globalisasi ini, namun demikian
pengaruh dan dampak negatifnya nampaknya cenderung lebih deras terutama
menyangkut segi-segi moral, etika dan spiritual yang bersumber pada nilai-nilai
agama dan budaya bangsa.
Dalam
Hindu, dinyatakan bahwa bila orientasi manusia hanya material dan kesenangan
belaka, maka orang itu dinyatakan hanya memuaskan Kama (nafsu duniawi). Kama
manusia tidak akan pernah merasa puas, walaupun usaha memuaskan itu dilakukan
terus-menerus dengan berbagai pengorbanan. Memuaskan Kama dinyatakan sebagai
menyiram api yang berkobar besar, tidak
dengan air, melainkan dengan minyak tanah, maka api tersebut akan menghancurkan
hidup manusia.Di dalam kitab suci Bhagavadgītā dinyatakan bahwaKama, di samping
jugaLobha danKrodha adalah tiga pintu gerbang yang mengantarkan Ātma (roh)
menuju jurang neraka dan
kehancuran. Untuk itu, Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan agar umat manusia
memilki kesadaran yang tinggi untuk menghindarkan diri dari ketiga belenggu
tersebut.
Bagaimana
caranya kita dapat menghindarkan diri tiga pintu gerbang neraf berupa Kama,
Lobha dan Krodha yang merupakan perwujudan dari perbuatan atau perilaku
Adharma ? Jawabannya adalah sederhana, yaitu kita mesti kembali kepada ajaran
agama. Peganglah ajaran agama sebaik-baiknya. Biasakanlah berbuat baik dan
benar atau berdasarkan Dharma, yang di dalam kitab Taittiriya Upaniṣad I.1.11:
Satyaṁ vada Dharmācara svadhyaya mā pramadaḥ - Berbicaralah jujur/benar,
ikutilah ajaran Dharma, kembangkan keingan
belajar dan memuja Tuhan Yang Maha Esa dan janganlah lalai/sampai lupa.
Memang
bila kita berbicara atau hanya membaca ajaran agama, nampaknya segala
sesuatunya gampang dilaksanakan, namun dalam prakteknya sungguh berat. Untuk
itu hendaknya ada tekad atau pemaksanaan untuk berbuat baik. Pemaksaan diri
untuk selalu berbuat baik disebut Pratipaksa.
Untuk kebaikan, paksakanlah, lakukankan, korbankanlah, tekunilah dan doronglah
supaya perbuatan benar dan baik itu menjadi identitas kehidupan ini. Identitas
atau integritas seseorang dapat dilihat dari kualitas pikiran, ucapan dan
tingkah laku seseorang. Untuk selalu dapat berbuat baik, maka diajarkan bahwa
setiap orang hendaknya melakukan 4 hal, yaitu:
1) Abhyasayang artinya untuk perbuatan baik lakukanlah dan
biasakanlah hal itu.
2) Tyāgaatau Vairagya yang artinya
kendalikanlah atau tinggalkanlah perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan hidup
kita.
3) Santosayang artinya beryukurlah terhadap karunia Tuhan Yang Maha
Esa, memberikan kita kesempatan menjelma sebagai manusia untuk biasa memperbaiki
diri dan kesadaran untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan kita untuk
mencapai Jagadhita (kesejahtraan
jasmaniah) dan Moksa (kebahagiaan
sejati).
4) Sthitaprajñayang artinya hidup berkeseimbangan lahir dan batin, tidak
terlalu bergembira bila memperoleh
keberuntungan dan tidak putus asa bila menghadapi kemalangan atau kedukaan.
Hari-hari
raya keagamaan akan berlalu begitu saja bila kita tidak menyingkapi makna atau
nilai-nilai yang terkandung dalam hari-hari raya itu. Selanjutnya dengan
pemahaman
terhadap makna atau nilai-nilai itu, seseorang hendaknya dapat mengamalkan atau
melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Nyepi adalah hari perjuangan menuju
kesadaran
terhadap ajaran Dharma. Hanya dengan Dharma umat manusia akan selamat di dunia
ini. Bagaimana mengaktulisasikan ajaran Dharma ini ? Secara sederhana adalah
dengan merealisasikan 7 macam perbuatan yang disebut Dharma seperti disebutkan
dalam kitab Vṛhaspatitattva, yaitu:
1) Sila, yakni senantiasa berbuat baik dan benar.
2) Yajña, yakni ikhlas berkorban. Yajna tidaklah hanya terbatas
pada pengertian upakara dan upācara saja, melainkan mengembangkan kasih sayang
dan keikhlasan.
3) Tapa, pengekangan dan pengendalian diri.
4) Dana, memberikan pertolongan atau bantuan kepada yang miskin
dan yang memerlukan bantuan. Dalam Hindu dinyatakan menolong orang-orang miskin
disebutkan sebagai menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang ber-abhiseka (disebut
dengan nama) Daridra
Nārayana.
5) Pravrijya, berusaha menambah ilmu pengetahuan atau kerohanian (spiritual).
6) Dikṣa, penyucian diri dan
7) Yoga, senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha
Esa.
Penutup
Dengan
melaksanakan butir-butir perbuatan tersebut di atas sesungguhnya kita sudah
dapat mengamalkan ajaran agama. Aktualisasi dari ajaran ini dikaitkan dengan
masalah-masalah kekinian, misalnya dengan meningkatkan solidaritas sosial
(kesetiakawanan sosial), membantu program pemerintah mengentaskan kemiskinan,
mengembangkan moralitas dan mentalitas yang baik dan positif serta senantiasa
aktif membangun masyarakat lingkungan di sekitar kita.
Berterima
kasihlah kepada orang yang telah memberikan kesempatan berbuat baik, berbuat
lebih baik dari tidak berbuat apa lagi berbuat yang tidak baik pasti
menghasilkan ke-tidak-baik-an, sementara kita ingin mendapat perlakuan yang
baik dari orang lain tetapi kita melupakan harus berbuat baik kepada orang
lain. Kebaikan tidak pernah datang dengan sendirinya.
Lakukan
kebenaran dengan cara menyenangkan, tapi jangan melakukan
ketidakbenaran walau itu menyenangkanmu
Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ
"Om Namame smaranam Om Padame sharanam"
=======
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo!
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
"Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"