hindu-dharma  

[hindu] MABOK: Kepedihan

Ngestoe Rahardjo
Fri, 12 Mar 2010 01:33:27 -0800

 Kepedihan.

Seseorang melihat sebatang tongkat yang berukir indah hanyut di sungai. Ia
serta-merta tertarik pada penampakannya dan ingin memilikinya. Iapun
melompat ke sungai, dan berrenang mengejar tongkat yang mengambang itu, dan
segera setelah menangkap tongkat itu, ia terbakar dalam kegembiraan karena
telah memperoleh apa yang diinginkannya.

Dalam perenangannya kembali ke tepian, tiba-tiba tongkat itu terlepas dari
tangannya, dan, karena ia telah kehabisan tenaga, ia bergegas berrenang ke
tepi, kendatipun ia tak berhasil meraih kembali tongkat itu.

Setibanya di tepian, ia merasa sangat tertekan dan sedih kehilangan tongkat
itu. Hanya beberapa saat sebelumnya, tongkat itu bukanlah miliknya; ia hanya
memilikinya selama satu atau dua menit saja; akan tetapi ketika ia *
kehilangan*, ia merasa sangat sedih.

***

Kehidupan manusia dipenuhi oleh kesedihan dengan penyebab-penyebab
irrasional serupa itu. Anda tak membawa serta apapun ketika datang ke dunia
ini, dan tak bisa membawa kembali apapun manakala nanti pergi lagi dari
sini. Malahan, sebelum kembali, Anda telah membuat diri Anda sendiri
menderita dengan sedemikian banyak *kemelekatan dan kepemilikan*. Oleh
karenanya, *suatu takaran ketidak-melekatan merupakan satu faktor penting
demi kedamaian dan kebahagiaan hidup.*

Cinta sejati dan rasa belas-kasihan dapat diraih, hanya jika manusia tidak
mementingkan diri sendiri lagi atau hanya punya sedikit kemelekatan pada
egosentrisnya. Hanya dengan begitulah ia bisa melaksanakan tugas dan
kewajibannya dengan baik dan melakukan pelayanan efektif kepada masyarakat
luas.

Tak perlu ada sedemikian banyaknya kekerasan, kebencian kelas, dan
disharmoni keluarga di masyarakat, bila setiap orang dan setiap komunitas
mau memahami kepentingan-kepentingan yang lain, seperti juga
kepentingan-kepentingannya sendiri, bila ada sedikit pengurangan keangkuhan
terhadap apa yang disebut dengan kehebatan kultural dan intelektual
daerahnya sebagai lebih dari yang lainnya, bila seseorang mau peduli untuk
mencerahi dirinya melalui kontak-kontak yang lebih luas dan perspektif yang
lebih lapang. Suatu takaran *ketidak-melekatan mesti dilatih dalam suatu
aturan yang tegas dalam rangka merawat kesesatan mentalitas manusia.*

~ Sri Swami Sivananda.

___________________

Diterjemahkan oleh GungWah.

************************************************************************
Belakangan kian tampak nyata kalau,
yang dibutuhkan umat manusia bukanlah
sekedar tangan-tangan terampil pun otak-otak brilian,
melainkan tangan-tangan dan hati-hati lembut yang penuh kasih,
yang tulus dan tanpa pamerih.
Kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi
ada di tangan-tangan dan di hati-hati seperti itu.

~anonymous 050706-01.
************************************************************************
_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
"Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"