Santi Diwyarthi
Fri, 12 Mar 2010 02:57:28 -0800
Melasti dilaksanakan
sebelum hari Nyepi sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka menyambut tahun baru
Caka dan upacara Tawur Kesanga. Melasti atau Mekiyis atau Melis artinya
Penyucian diri, dilaksanakan di sungai atau di laut (pantai), danau, campuan,
atau sumber mata air suci. Dengan melakukan Melasti, umat mengharap / mohon
penyucian diri dari segala dosa atau kesalahan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi
Wasa, dalam simbol Beliau sebagai Sang Hyang Baruna, yang disertai dengan
berbagai upacara / upakara.
Dr. W.Suarjaya, M.Si., dosen IHDN, di BP 12/3/2010,
menjelaskan bahwa Melasti memiliki dua tujuan, angayutaken lara petaka, dan
angamet amertha ring tengahin segara. Melalui Melasti, umat Hindu menyucikan
secara simbolis Buana Alit dan Buana Agung, dan memohon Tirta Amertha. Memohon
kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan. Memohon kesucian agar mendapatkan
kedamaian dalam lingkungan keluarga, di lingkungan, dan dalam alam semesta.
Berbagai pelawatan Ida Bethara, berbagai simbol dari Sang
Hyang Widhi dalam berbagai bentuk dan rupa, berbagai simbol Buana Agung,
seperti pratima, diarak di atas Jempana menuju sungai, pantai, danau, campuhan,
tempat sumber mata air. Dengan demikian diharapkan dapat membersihkan dan
menyucikan pikiran umat manusia, Buana Agung menjadi suci. Tirta Amertha
sebagai simbol tirta kehidupan yang menyucikan pikiran umat manusia akan
dibagikan serangkaian dengan upacara Pengerupukan, sehari sebelum Nyepi.
Setelah pelaksanaan Melasti, selanjutnya Pretima akan Nyejer, dilinggihkan /
ditempatkan
di Pura Utama, dan diadakan persembahyangan bersama.
Mecaru merupakan rangkaian kegiatan selanjutnya, yaitu
upacara yang dilakukan berkaitan dengan Bhutakala / roh jahat yang senantiasa
mengganggu desa, biasanya dilaksanakan di persimpangan jalan yang terdapat di
desa dengan tujuan agar desa di Somya, yaitu dinetralkan dari sifat buruk atau
roh jahat, agar konflik terhindar, agar mara bahaya dan berbagai bentuk
penyakit atau gangguan tidak terjadi.
Selanjutnya dilaksanakan Ngerupuk, yaitu membakar semua
sifat buruk atau roh jahat yang masih tersisa dengan berkeliling desa membawa
obor. Dalam prosesi ritual Pengrupukan, umat Hindu melaksanakan Nyomia
Bhutakala. Bhutakala disimbolkan dengan wujud raksasa yg besar dan berwajah
menyeramkan. Belakangan, hadir dalam wujud Ogoh-Ogoh. Mengarak Ogoh-ogoh
keliling Desa, sekaligus mewujudkan kerja sama dan keberadaan nilai
kemasyarakatan di lingkungan Desa. Nilai-nilai Bhutakala ini lah, yang
diharapkan lebur, musnah, dengan upacara Pengerupukan. Segala keserakahan,
egois, emosi, dan berbagai hal yang bersifat negatif dalam diri umat manusia,
agar ke depannya kita bisa memelihara kesucian dalam setiap jejak langkah dan
arah tujuan, baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, baik pada Buana Alit,
dan juga Buana Agung.
Setelah semua rangkaian diatas dilaksanakan, dilanjutkan
dengan pelaksanaan Nyepi atau Sipeng. Catur Brata Penyepian, amati geni, amati
karya, amati lelanguan
Catur Brata Penyepian, amati geni, amati karya, amati
lelanguan, amati lelungaan. Padamkan, istirahatkan, relaksasi lah sejenak,
pikiran perkataan dan perbuatan dari berbagai tuntutan materi dan fisik semata,
dari hiruk pikuk situasi duniawi. Berkonsentrasi pada nilai-nilai agama dan
spiritual, menjaga sisi rohani dan psikis, dan menjaga selalu api dalam diri
masing-masing umat, agar tercipta santi, damai, di bumi ini.
Selamat Tahun Baru Caka 1932
Dumugo anemu saptawerdhi ring warsane sane jagi rawuh.
Dumogi sarva roga, marana, vighna, papa klesa vinasanam...
-Santi Diwyarthi-
Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali
Jalan Dharmawangsa, Kampial, Nusa Dua
BALI 80363 - INDONESIA
Tel. +62 (0361) 773537-38
Fax. +62 (0361) 774821
www.stpbali.ac.id
_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
"Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"