kibagus ragasela
Fri, 12 Mar 2010 10:36:16 -0800
om svastiastu,jadi Tenganan itu tanah Perdikan/Swatantra/otonomi khusus ?mohon di share lebih lanjut...matur nuwun,om shantih Pada tanggal 12/03/10, Ketut Wijaksana <wick...@yahoo.com> menulis: > Om Svastiastu, > Konon, kain geringsing bisa dipergunakan untuk menenangkan orang gila yang > sedang mengamuk. > Suksma, > > Ketut Wijaksana - Toko Dharma Laksana, Kedonganan, Bali - mobile: +62 87 861 > 313 165 - website: www.pustakahindu.com > > -----Original Message----- > From: Jero Mangku Sudiada <jeromangku_sudi...@yahoo.com> > Date: Fri, 12 Mar 2010 03:31:03 > To: <hindu-dharma@itb.ac.id> > Cc: <babadb...@yahoogroups.com>; <suaraut...@yahoogroups.com> > Subject: [suarautara] Kisah Desa Tenganan I. > > TEMBOK SAKRAL YANG MEMBENTENGI DESA TENGANAN. > oleh : jeromangku_sudi...@yahoo.com. > Maaf niki wantah satua yg turun temurun di desa kami, kalau > ternyata menyimpang dari keadaan yang sebenarnya ampurayang titiang > > Mari kita toleh sedikit kebelakang tentang sejarah, mudah > mudahan dengan demikian kita bisa berjalan lebih lurus kedepan dengan > berpegangan sejarah yang kita miliki karena bangsa yang besar mereka sangat > menghargai sejarahnya, serta berani mengambil key point dari sejarah untuk > dijadikan improvisasi, jangan sekali kali meninggalkan sejarah (Ja s me > rah). > Dari jaman dahulukala sampai dengan sekarang ini, Bali sngat > kental dengan Sekterian, sampradaya, soroh, traag, terkadang masing masing > sampradaya tersebut, hidup sejalan dami berdampingan saling mebutuhkan, > tetapi tak jarang pula yang satu dengan yang lainnya bersaing dengan sehat, > bahkan bersaing tidak sehat yang akhirnya berujung pada saling tikam, celah > inilah yang merupakan jalan yang mulus bagi para penjajah untuk menaklukan > Bali, bahkan permadani yang empuk bagi golongan misionaris untuk > memancangkan pondasi betonnya di bali shg munculah suatu anekdot kini ”BALI > DALAM GENGGAMAN”...he.... banyak sekali yang sudah menyadari hal ini, dari > dulu sudah banyak sekali menggunjingkan hal ini, Tapi hanya sebatas wacana > kenyataannya nothing to do......he....he...sepertinya kita terhipnotis akan > hal ini > Sebenarnya sudah beberapa dekade yang lewat, dibali sudah terjadi suatu > peristiwa yang sangat pahit untuk dikenang, Bali saat tempo doeloe yg > terdriri dari bebrapa sampradaya diantaranya Ciwaisme, Brahmaisme, Waisnawa, > Ganapati, Budha, Indra, Prajapati, Bairawa, Saora. Konon satu dengan yang > lainnya kondisinya sudah dalam tarap persaingan yang tidak sehat shg > kecerdasan emosionalnya lebih menonjol dari spiritual, satu dengan yang > lainya saling tikam. > Dalam kondisi itulah munculah Mpu Kuturan, seorang bagawanta yang juga ahkli > dalam tata negara dalam naungan Raja Masula Mesuli, berhasil menengahi dan > memergerkan beberapa Sampradaya ini sehingga menjadilah 3 sampradaya yaitu > Ciwa sidanta, Waisnawa, dan Buda, dengan ajaran yang terkenal dengan Desa > Pekraman serta dengan konsept Kahyangan Tiganya ( Siapa sesungguhnya Empu > Kuturan ) silahkanh ikuti sejarah Bali dan juga Babad Pasek, yang banyak > menceritrakan kiprah dari Dang Hyang / Empu Kuturan ( nunas lugra titiang > dumogi titiang tan keni cakrabawa) > Sekarang apa hubungannya bdengan tembok sakral Desa > Tenganan.............??? > kemungkinan salah satu sekterian ( Indra) yang tetap teguh dengan > pendiriannya akhirnya mengasingkan diri mengisolasi wargynya yang taat > dengan sektenya itu menutup diri dengan dunia luar ( penguasaan bali ) yang > saat itu mencapai puncak keemasannya (enteg bali). > Kisah terjadinya tembok sakral desa Tenganan......? > Disebuah kerajaan yang begitu masyur karena pada jaman ini telah banyak > didirikan Parahyangan, mulai dari kahyangan tiga, Sad kahyangan sampai > dengan Asta dewata, saat enteg Bali inilah telah dibangun sehingga konon > saat itu diibaratkan Bali adalah Cetak birunya kahyangan (swarga katon ) > Sang raja sangat gemar berkuda dengan kuda kesayanganya yang bernama > Tangenan, konon katanya bila berkuda dengan kuda kesayanganya sang raja > tersebut, menjadi ngelangenin, sehingga ogah untuk menyudahi berkuda. > Suatu hari kuda kesayangan sang raja itu lepas dan hilang, sehingga berhari > hari petugas istana mencari kemana gerangan kuda itu, akhirnya > dikeluarkanlah sebuah bisama barang siapa yg menemukan kuda kesayangan sang > raja tersebut akan diberi hadiah yg sangat menarik dari sang raja. Tiba tiba > ada berita dari pedesaan yang menyatakan bahwa kepala desa tersebut telah > menemui kuda sang raja, hanya saja penemunya berharap agar kiranya sang raja > berkenan datang ke dusun tsb untuk melihat keadaan kudanya. > saking sayangnya sang raja dengan kudanya akhirnya bagindapun langsung minta > diantar untuk datang kedusun tsb. > Sesampai di dusun tersebut, betapa kecewanya sang raja karena telah > mendapatkan kudanya sudah mati dan mulai mebusuk, Namun sang raja sangat > setya wecana setelah baginda yakin bahwa itu adalah benar kuda > kesayangannya, maka beliaupun tetap memberikan hadiah kepada sang kepala > dusun, kepala dusun memilih hadiah dari baginda raja yaitu sebuah pekarangan > untuk tempat tinggal wargy yang diayominya, dan mohon kehidupannya dilepas > dari Upetti penguasa Bali saat itu. > Pikir sang raja adalah sangat pantas kalau hanya sebidang tanah, apalagi > untuk menampung wargynya sebegitu banyak, pekarangan tersebut ditentukan > sebatas terciumnya bangkai kuda yg sudah membusuk, maka sang rajapun > merestuinya. > Akhirnya ditugaskanlah ponggawanya untuk menentukan batas pekarangan yang > diminta oleh kepala dusun tersebut, ritatkala menentukan batas pekarangan > yang dibatasi terciumnya bangkai kuda tersebut, kepala dusun tersebut sangat > cerdik, sehingga digrondot ( maksudnya dikantongilah sedikit serpihan > bangkai kuda tsb) s/d daerah yang dinginkan, sehingga wilayah dusun tersebut > lumayan cukup luas, setelah terpenuhi area yang diinginkan, dibuanglah > serpihan bangkai kuda tersebut sehingga tak tercium lagi. > Nah Batas area inilah kemudian yang disengker / ditembok sehingga menjadilah > Desa Tenganan yang sakral dan terisolir dari pengaruh kerajaan Bali saat > itu. > sehingga wajar pengaruh enteg Bali maupun nuansa Majapahit nyaris tak > tersentuh oleh cultur dari luar, sehingga merekapun tidk merayakan Isaka > warsa / Nyepi. Wajar ada beberapa ritual Hindu yang ada di Bali tidak masuk > ke Dusun Tenganan ini. > Selanjutnya ikuti Kain Khas ( Gringsing ) desa tenganan yang > Harganya ratusan juta...... > Apasih istimewanya / misteri dibalik kain Gringsing > Tenganan....................................? > Ikuti kisah kain Gringsing dari Tenganan. > > > New Email addresses available on Yahoo! > Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and > @rocketmail. > Hurry before someone else does! > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ > _______________________________________________ > Hindu Dharma Mailling List [HDNet] > http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma > http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/ > "Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim" -- kibagus putra ragasela _______________________________________________ Hindu Dharma Mailling List [HDNet] http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/ "Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"