hindu-dharma  

Re: [hindu] Ayat-Ayat Allah" Turun di Gaza ..

sk mulia
Fri, 12 Mar 2010 19:50:17 -0800

Luar biasa, benar2 cerdas, beernas, trengginas.
Coba kirim tulisan ini ke majala hidayatullah bos... hehehehehe

 SK Mulia, Cibubur.




________________________________
From: Ketut <ke...@infracell.net>
To: hindu-dharma@itb.ac.id
Sent: Fri, March 12, 2010 5:20:08 PM
Subject: Re: [hindu] Ayat-Ayat Allah" Turun di Gaza ..


OSA,

Kisahnya panjang sekali, saya hanya membaca sebagian.
Saya kira cerita ke bawah messege-nya sama, hanya beda kisah, beda kasus, beda 
pelaku.

Yang ingin saya komentari adalah bahwa kelihatannya mereka percaya Tuhan 
memihak mereka dan (bahkan kadang-kadang) ikut berperang melawan musuh2 mereka. 
Ini tentu tuhan yang aneh yang dimiliki kepercayaan yang aneh. Kalau Tuhan 
memang ingin memenangkan satu kelompok, kenapa otak encer justru diberikan 
kepada musuh2nya ? Kenapa tidak dikirim saja gempa dahsyat, air bah, hujan 
meteor, gelegar petir, atau kutuk saja israel menjadi lautan darah, atau 
tenggelamkan dengan tsunami seperti di aceh ?
Kenyataannya justru israel berisi manusia2 dengan kecerdasan diatas rata2, 
sehingga pengaruhnya sampai ke meja presiden di gedung putih yang jaraknya 
ribuan kilometer. Sementara kelompok yang merasa "dibela" tuhan ini hanya 
dianugerahi semangat yang kebanyakan dibangun dari mimpi2, tahyul, irasional. 
Bangsa Israel pasti tak berharap tuhannya turun tangan membantu mereka. Jadi 
mereka gunakan otaknya membuat senjata, dan terbukti, mereka mencatat sejarah 
memenangkan perang 6 hari dengan hampir gabungan seluruh negara arab yang konon 
"disayang" Tuhan.

Terlepas dari itu, saya melihat kepercayaan bahwa "Tuhan ikut membantu kami 
berperang" itu justru adalah kepercayaan "jahiliyah" yang sesungguhnya. Tuhan 
yang ada di pikiran manusia rasional haruslah Tuhan yang netral, yang terlepas 
dari "kebencian" pada satu kelompok atau sebaliknya memberikan "kecintaan" pada 
kelompok lain. Apakah logis jika tuhan memiliki musuh ? Apakah logis Tuhan 
menganut paham apartheid yang bahkan sudah ditolak oleh manusia sekelas nelson 
mandela ? Apakah logis jika Tuhan "kalah manusiawi" dibanding mandela ? Demi 
kemuliaan Tuhan sendiri, maka seharusnya kita tidak menganggapnya sebagai 
mahluk yang duduk diatas singgasana yang dijinjing oleh para dewa, memegang 
cambuk api di satu tangan dan berkah ditangan yang lain, dimana cambuknya siap 
diayukan kapan saja kepada manusia yang menjadi musuhnya, dan berkah diberikan 
dengan penuh sukacita kepada manusia yang memujanya. Tuhan seperti ini, menurut 
saya, hanyalah lahir dari angan2
 manusia yang dipenuhi ego. Memuja tuhan ini sama dengan memuja ego.

Jadi, dimana dan kapankah sebenarnya "era jahiliyah" itu ?

Santih,






----- Original Message ----- From: "Parwati Agung" <agungparw...@yahoo.com>
To: <hindu-dharma@itb.ac.id>
Sent: Friday, March 12, 2010 4:54 PM
Subject: Re: [hindu] Ayat-Ayat Allah" Turun di Gaza ..


> om swastiastu,
> 
> benarkah berita itu atau sekedar nyari simpatisan?
> suksma//
> 
> --- On Thu, 11/3/10, Karma, I Nengah [Kar] <ineng...@chevron.com> wrote:
> 
> From: Karma, I Nengah [Kar] <ineng...@chevron.com>
> Subject: [hindu] Ayat-Ayat Allah" Turun di Gaza ..
> To: hindu-dharma@itb.ac.id
> Date: Thursday, 11 March, 2010, 3:09 PM
> 
> Om Swastyastu,
> 
> Ada gunanya juga ngintip postingan dimilis sebelah.
> 
> Masa senjata roket terkalahkan oleh mahluk 2 gaib serta doa 2
> 
> Hari gini masih perang menggunakan doa 2
> 
> Om Shanti 3 Om
> 
> 
> 
> 
> 
> “Ayat-Ayat Allah” Turun di Gaza
> Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km 
> persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara 
> tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, 
> serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.
> Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan 
> menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.
> Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. 
> Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, 
> obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, 
> penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis 
> semakin menguat.
> Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 
> Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom 
> dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.
> Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia 
> ini harus mundur dari Gaza.
> Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta 
> beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin 
> Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank 
> Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur 
> canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan 
> Amerika Serikat.
> Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu 
> membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau 
> hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.
> Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para 
> pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang 
> ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, 
> serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di 
> kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib 
> Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.
> Wartawan kami, Thoriq, merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai 
> sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti. ***
> 
> Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza
> Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri 
> mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.
> Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah 
> yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al 
> Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.
> Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu 
> anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
> Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), 
> mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan 
> jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi 
> tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan..
> Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa 
> para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik 
> pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam 
> putih!”
> Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade 
> Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” 
> yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok 
> pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau 
> Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma 
> sopir ambulan.”
> Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian 
> putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun 
> kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. 
> “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki..
> 
> SuaraTak Bersumber
> Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid 
> Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV 
> channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al 
> Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam 
> Jihad Al Furqan).
> Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah 
> disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.
> “Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter 
> menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju 
> jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.
> Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira 
> ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.
> Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar 
> suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat 
> maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga 
> kali.
> “Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu 
> kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun 
> yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.
> Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah 
> tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu 
> justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. 
> Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut 
> oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid 
> itu lagi, melalui lidah khatib.
> Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam 
> situs alraesryoon. com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, 
> salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika 
> saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang 
> pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan 
> beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, 
> akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan 
> dan pasir.”
> Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk 
> rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk 
> menyelamatkan diri dari serangan Israel.
> Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian 
> menangis?” tanyanya.
> “Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. 
> Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain 
> yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana 
> mereka datang,” jawabnya
> Saksi Serdadu Israel
> Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin 
> Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri 
> menyatakan hal serupa.
> Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Chan­nel 10 milik Israel telah 
> menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan 
> kembali dalam keadaan buta.
> “Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya 
> dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata 
> anggota pasukan ini.
> Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan 
> dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, 
> dan ke mana menghilangnya.
> Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami 
> berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami 
> tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
> Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, 
> siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu? ***
> Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
> Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut 
> membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.
> Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI 
> Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur 
> kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun 
> langsung jatuh ke lokasi itu.
> Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu 
> yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk 
> menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.
> Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana 
> ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah 
> berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.
> Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak 
> mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas 
> ranjau.
> Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan 
> itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, 
> allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau 
> tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga 
> lidak memiliki kesempatan serupa.”
> Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat 
> persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.
> Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, 
> para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh 
> ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? 
> Wallahu a’lam.
> Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke 
> salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah 
> sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak 
> terkendali.
> Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi 
> dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan 
> kekuatan-Mu.”
> Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis 
> terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi 
> pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.
> Merpati dan Anjing
> Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs 
> Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang 
> mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas 
> sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.
> Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya 
> isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.
> Begitu merpali itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat 
> persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat 
> kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.
> Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan 
> situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam 
> melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing 
> militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus 
> untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan 
> persembunyian para mujahidin.
> Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah 
> seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami 
> adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap 
> berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan 
> menimbulkan masalah untuk kami.”
> Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan 
> diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya 
> beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak 
> pergi..
> Kabut pun Ikut Membantu
> Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di 
> kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al 
> Qassam (17/1/2009).
> Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung 
> oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata 
> terus mengawasi.
> Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam 
> itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu 
> pasukan mujahidin keluar dari kepungan.
> Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al 
> Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana 
> kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan 
> serangan.
> Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati 
> tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada 
> Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.
> Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera 
> bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, 
> dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang 
> memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di 
> sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan 
> puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.
> Selamat dengan al-Qur’an
> Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki 
> rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika 
> mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.
> Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung 
> sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang 
> selalu berada di saku sang pejuang.
> Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang 
> rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.
> Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat 
> Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al 
> Muslimun (23/1/2009).
> 
> Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al 
> Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan 
> peluru tersebut.
> Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah 
> menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga 
> tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf 
> Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya 
> seraya tak henti bertasbih.
> “Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan 
> tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan 
> menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan 
> buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, 
> yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya 
> kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” 
> jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009). ***
> Harum Jasad Para Syuhada
> Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam 
> yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos 
> keamanan di Nashirat, Gaza.
> Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini 
> “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, 
> ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. 
> Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah 
> oleh keluarganya untuk dimakamkan.
> Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com 
> (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di 
> rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk 
> dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.
> Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang 
> yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.
> Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau 
> harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah 
> kantong plastik.
> Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka 
> menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi 
> rungan yang sama.
> Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al 
> Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr 
> Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum 
> dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu 
> telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.
> Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya 
> jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi 
> (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah 
> mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat 
> bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya 
> mencium bau harumnya para syuhada.”
> Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir
> Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap 
> milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir 
> setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan 
> lalu.
> Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda 
> huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para 
> mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di 
> pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan 
> agar memperoleh kesyahidan.
> Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia 
> telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah 
> pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.
> Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan 
> wafatnya di medan pertempuran tersebut.
> Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan 
> evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih 
> mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang 
> tertidur.
> Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan 
> salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan 
> tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.
> Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar 
> di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan 
> khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga 
> dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)
> Terbunuh 1.000, Lahir 3.000
> Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan 
> kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra 
> putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel 
> terhadap kota kecil ini.
> Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan 
> pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. 
> “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika 
> Is­rael melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, 
> yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.
> Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding 
> bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di 
> Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan 
> tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan 
> pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari 
> terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus,” katanya kepada 
> islamonline. net (2/2/ 2009).
> Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka 
> kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian 
> mencapai 5 ribu.
> “Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan 
> Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak 
> serta 1.000 wanita mengalami luka-luka,” ungkapnya. ***
> Sumber: Majalah Hidayatullah
> 
> 
> 
> 
> __,_._,___
> 
> _______________________________________________
> Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
> http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
> http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
> "Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"
> 
> 
>      The INTERNET now has a personality. YOURS! See your Yahoo! Homepage. 
> http://in.yahoo.com/
> _______________________________________________
> Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
> http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
> http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
> "Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim" 

_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
"Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"


      
_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
"Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"