Parwati Agung
Sat, 13 Mar 2010 01:09:04 -0800
om swastiastu, membaca tulisan Jero Mangku dibawah, sangat memberikan pengetahuan tambahan buat kita kita yang belum tahu. namun, tulisan Jero yang : ....tetapi hanya sebatas wacana, kenyataannya nothing to do (mungkin istilash ini lebih tepatnya NATO/No Action Talking Only), sepertinya kita terhipnotis.......... betulakh kita terhipnotis? atau kebanyakan tidak mau berbuat sesuatu ? Maaf sebelumnya, mungkin ada yang kurang setuju dengan pendapat saya ini. kebanhyak tidak mau berbuat sesuatu karena: pekerjaan itu tidak ada rupiah nya, modelnya pengabdian.tidak ada yang berani ambil resiko (enggan turun tangan) pekerjaan itu perlu ketekunan agar hasilnya bisa dicapai dan dinikmati oleh semua generasi muda kita. dalam artian, pengabdian bukan sehari dua hari saja. kan sudah ada PHDI, dll - kenapa kita mesti repot? ini pernah saya dengar. ini lagi yang saya pernah dengar langsung di kuping saya juga: panak pisage bakat sangetang.......kal dadi ape bin dan? ada juga yang nanya, jika saya ajakin tuk berbuat sesuatu: berapa saya dibayar? wah wah wahhhhhhhh.......rupiah rupiah rupiahhhh lagi dan lagi... nah itulah, indayang kayunin sareng sami - ampura yaning wenten yang tidak berkenan dibaca. kesadaran masih sangat kurang (bukan semuanya lho), sikap pengkotak-kotakan masih berlangsung hingga sekarang mungkin dengan alasan eksklusifitasan diri masing masing kelompok, dll. itu beberapa kendala yang kita hadapi terus menerus. sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita menyikapi karakter yang seperti diatas itu agar mereka sedikitnya mau perduli akan nasib kelompok2 yang kurang mampu dan sekaligus menyelamatkan mereka dari cengkraman si 'penjual obat itu'. suksma// > -----Original Message----- > From: Jero Mangku Sudiada <jeromangku_sudi...@yahoo.com> > Date: Fri, 12 Mar 2010 03:31:03 > To: <hindu-dharma@itb.ac.id> > Cc: <babadb...@yahoogroups.com>; <suaraut...@yahoogroups.com> > Subject: [suarautara] Kisah Desa Tenganan I. > > TEMBOK SAKRAL YANG MEMBENTENGI DESA TENGANAN. > oleh : jeromangku_sudi...@yahoo.com. > Maaf niki wantah satua yg turun temurun di desa kami, kalau > ternyata menyimpang dari keadaan yang sebenarnya ampurayang titiang > > Mari kita toleh sedikit kebelakang tentang sejarah, mudah > mudahan dengan demikian kita bisa berjalan lebih lurus kedepan dengan > berpegangan sejarah yang kita miliki karena bangsa yang besar mereka sangat > menghargai sejarahnya, serta berani mengambil key point dari sejarah untuk > dijadikan improvisasi, jangan sekali kali meninggalkan sejarah (Ja s me > rah). > Dari jaman dahulukala sampai dengan sekarang ini, Bali sngat > kental dengan Sekterian, sampradaya, soroh, traag, terkadang masing masing > sampradaya tersebut, hidup sejalan dami berdampingan saling mebutuhkan, > tetapi tak jarang pula yang satu dengan yang lainnya bersaing dengan sehat, > bahkan bersaing tidak sehat yang akhirnya berujung pada saling tikam, celah > inilah yang merupakan jalan yang mulus bagi para penjajah untuk menaklukan > Bali, bahkan permadani yang empuk bagi golongan misionaris untuk > memancangkan pondasi betonnya di bali shg munculah suatu anekdot kini ”BALI > DALAM GENGGAMAN”...he.... banyak sekali yang sudah menyadari hal ini, dari > dulu sudah banyak sekali menggunjingkan hal ini, Tapi hanya sebatas wacana > kenyataannya nothing to do......he....he...sepertinya kita terhipnotis akan > hal ini > Sebenarnya sudah beberapa dekade yang lewat, dibali sudah terjadi suatu > peristiwa yang sangat pahit untuk dikenang, Bali saat tempo doeloe yg > terdriri dari bebrapa sampradaya diantaranya Ciwaisme, Brahmaisme, Waisnawa, > Ganapati, Budha, Indra, Prajapati, Bairawa, Saora. Konon satu dengan yang > lainnya kondisinya sudah dalam tarap persaingan yang tidak sehat shg > kecerdasan emosionalnya lebih menonjol dari spiritual, satu dengan yang > lainya saling tikam. > Dalam kondisi itulah munculah Mpu Kuturan, seorang bagawanta yang juga ahkli > dalam tata negara dalam naungan Raja Masula Mesuli, berhasil menengahi dan > memergerkan beberapa Sampradaya ini sehingga menjadilah 3 sampradaya yaitu > Ciwa sidanta, Waisnawa, dan Buda, dengan ajaran yang terkenal dengan Desa > Pekraman serta dengan konsept Kahyangan Tiganya ( Siapa sesungguhnya Empu > Kuturan ) silahkanh ikuti sejarah Bali dan juga Babad Pasek, yang banyak > menceritrakan kiprah dari Dang Hyang / Empu Kuturan ( nunas lugra titiang > dumogi titiang tan keni cakrabawa) > Sekarang apa hubungannya bdengan tembok sakral Desa > Tenganan.............??? > kemungkinan salah satu sekterian ( Indra) yang tetap teguh dengan > pendiriannya akhirnya mengasingkan diri mengisolasi wargynya yang taat > dengan sektenya itu menutup diri dengan dunia luar ( penguasaan bali ) yang > saat itu mencapai puncak keemasannya (enteg bali). > Kisah terjadinya tembok sakral desa Tenganan......? > Disebuah kerajaan yang begitu masyur karena pada jaman ini telah banyak > didirikan Parahyangan, mulai dari kahyangan tiga, Sad kahyangan sampai > dengan Asta dewata, saat enteg Bali inilah telah dibangun sehingga konon > saat itu diibaratkan Bali adalah Cetak birunya kahyangan (swarga katon ) > Sang raja sangat gemar berkuda dengan kuda kesayanganya yang bernama > Tangenan, konon katanya bila berkuda dengan kuda kesayanganya sang raja > tersebut, menjadi ngelangenin, sehingga ogah untuk menyudahi berkuda. > Suatu hari kuda kesayangan sang raja itu lepas dan hilang, sehingga berhari > hari petugas istana mencari kemana gerangan kuda itu, akhirnya > dikeluarkanlah sebuah bisama barang siapa yg menemukan kuda kesayangan sang > raja tersebut akan diberi hadiah yg sangat menarik dari sang raja. Tiba tiba > ada berita dari pedesaan yang menyatakan bahwa kepala desa tersebut telah > menemui kuda sang raja, hanya saja penemunya berharap agar kiranya sang raja > berkenan datang ke dusun tsb untuk melihat keadaan kudanya. > saking sayangnya sang raja dengan kudanya akhirnya bagindapun langsung minta > diantar untuk datang kedusun tsb. > Sesampai di dusun tersebut, betapa kecewanya sang raja karena telah > mendapatkan kudanya sudah mati dan mulai mebusuk, Namun sang raja sangat > setya wecana setelah baginda yakin bahwa itu adalah benar kuda > kesayangannya, maka beliaupun tetap memberikan hadiah kepada sang kepala > dusun, kepala dusun memilih hadiah dari baginda raja yaitu sebuah pekarangan > untuk tempat tinggal wargy yang diayominya, dan mohon kehidupannya dilepas > dari Upetti penguasa Bali saat itu. > Pikir sang raja adalah sangat pantas kalau hanya sebidang tanah, apalagi > untuk menampung wargynya sebegitu banyak, pekarangan tersebut ditentukan > sebatas terciumnya bangkai kuda yg sudah membusuk, maka sang rajapun > merestuinya. > Akhirnya ditugaskanlah ponggawanya untuk menentukan batas pekarangan yang > diminta oleh kepala dusun tersebut, ritatkala menentukan batas pekarangan > yang dibatasi terciumnya bangkai kuda tersebut, kepala dusun tersebut sangat > cerdik, sehingga digrondot ( maksudnya dikantongilah sedikit serpihan > bangkai kuda tsb) s/d daerah yang dinginkan, sehingga wilayah dusun tersebut > lumayan cukup luas, setelah terpenuhi area yang diinginkan, dibuanglah > serpihan bangkai kuda tersebut sehingga tak tercium lagi. > Nah Batas area inilah kemudian yang disengker / ditembok sehingga menjadilah > Desa Tenganan yang sakral dan terisolir dari pengaruh kerajaan Bali saat > itu. > sehingga wajar pengaruh enteg Bali maupun nuansa Majapahit nyaris tak > tersentuh oleh cultur dari luar, sehingga merekapun tidk merayakan Isaka > warsa / Nyepi. Wajar ada beberapa ritual Hindu yang ada di Bali tidak masuk > ke Dusun Tenganan ini. > Selanjutnya ikuti Kain Khas ( Gringsing ) desa tenganan yang > Harganya ratusan juta...... > Apasih istimewanya / misteri dibalik kain Gringsing > Tenganan....................................? > Ikuti kisah kain Gringsing dari Tenganan. > > > New Email addresses available on Yahoo! > Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and > @rocketmail. > Hurry before someone else does! > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ > _______________________________________________ > Hindu Dharma Mailling List [HDNet] > http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma > http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/ > "Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim" -- kibagus putra ragasela _______________________________________________ Hindu Dharma Mailling List [HDNet] http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/ "Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim" Your Mail works best with the New Yahoo Optimized IE8. Get it NOW! http://downloads.yahoo.com/in/internetexplorer/ _______________________________________________ Hindu Dharma Mailling List [HDNet] http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/ "Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"