hindu-dharma  

Re: [hindu] Nyepi Oh Nyepi

s2sakti
Mon, 15 Mar 2010 02:04:02 -0700

Osa,

Penjelasan yang sangat rasional tentang pemaknaan Nyepi. Terimakasih artikelnya 
pak. Untuk umat Hindu Nusantara kami ucapkan "Selamat Merayakan Nyepi Tahun 
Baru Saka 1932"

Shanti
Ikguna   
Sent from www.s2sakti.com
powered by mokhsartam jagadhita ya caiti dharma

-----Original Message-----
From: vaikuntha shop <vaikuntha.s...@gmail.com>
Date: Mon, 15 Mar 2010 14:50:51 
To: hindu-dharma<hindu-dharma@itb.ac.id>; vaikuntha. 
shop<vaikuntha.s...@gmail.com>; dvibhuja das (bali)<dvibhuja.b...@gmail.com>
Subject: [hindu] Nyepi Oh Nyepi

Osa....
ketika penasaran dengan asal usul nyepi, salah seorang teman mengirimkan
tulisannya tentnag nyepi
lumayan....buat tambahan
barangkali ada yang berminat juga disini membaca

silhakan...

peace
Happy Silence Day!


SELAMAT HARI RAYA NYEPI
Bagikan<http://www.facebook.com/ajax/share_dialog.php?s=4&appid=2347471856&p[]=100000302700981&p[]=367204298597>
 Hari ini jam 8:27
Hindu bersama banyak tradisi relijius kuno lainnya menganut sistem waktu
yang bersifat siklik. Berarti bahwa penciptaan dan peleburan adalah proses
berkesinambungan tanpa awal dan akhir. Peleburan, bukanlah akhir segalanya,
melainkan suatu proses yang alamiah untuk mengembalikan manifestasi alam
yang telah usang, kembali menjadi bahan-bahan penyusunnya, untuk selanjutnya
hadir dalam wujud yang segar dan baru.

Perayaan tahun baru selalu dilaksanakan sebagai pesta untuk menyambut
hadirnya suasana dan kebahagiaan yang baru di masa depan. Namun sebagaimana
layaknya kita hidup di alam duniawi ini, dengan selalu berdampingan antara
suka dan duka, adalah mustahil mengabaikan bahwa di masa depan tidak akan
terjadi sesuatu yang buruk, tantangan, halangan, maupun bentuk-bentuk
penderitaan yang lebih berat lagi. Kita tidak bisa memungkiri bahwa setahun
ke depan pasti ada kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Merayakan pergantian tahun bukan saja bergembira karena masalah yang telah
lalu telah lewat, namun juga sebenarnya menyambut sebuah ketidakpastian yang
baru. Perenungan semacam ini sangat jarang dilakukan oleh kebanyakan dari
kita.

Kita patut bersyukur karena leluhur kita, umat Hindu di Indonesia khususnya
di Bali, telah mewariskan suatu bentuk perayaan tahun baru yang sarat dengan
nilai filosofis dibanding sekedar gegap-gempita suasana pesta. Perayaan
Nyepi adalah bentuk perayaan yang tepat untuk sebuah pergantian tahun.

Rangkaian ritual Nyepi dimulai terutama saat prosesi melasti. Melasti
dinyatakan sebagai upacara untuk menyucikan diri, prayascitta, dan memohon
amrita kehidupan bagi semua makhluk. Dalam Veda, sebelum kita melaksanakan
puja, yajna, atau acara apapun, pasti akan diawali dengan upacara menyucikan
diri. Penyucian yang terbaik adalah dengan mengingat Tuhan Yang Maha Esa,
Vishnu, yang kehadiran-Nya meresapi segala-galanya di seluruh alam semesta
ini. Ingatan akan Kemaha-adaan Vishnu, seketika itu juga akan membawa kita
dalam keadaan Pavitram (suci) secara lahir maupun batin (sa bahih -
antarah). Ketika Pratima para devata dibawa berjalan bersama kita, maka ini
membawa kita pada suasana adi-duniawi. Pratima menyatakan kehadiran para
Devata di tengah-tengah kita. Maka sekalipun secara lahiriah kita masih
melangkah di dunia, namun mental kita diarahkan untuk berada di alam-alam
luhur.

Melasti juga dapat menandakan Sankalpa, ucapan peneguhan. Upacara-upacara
suci dalam Veda selalu diawali dengan pengucapan Maha-sankalpa, yaitu
menyatakan tekad kita untuk melaksanakan upacara tertentu itu. Sankalpa
menetapkan hati kita untuk tidak mundur saat kesulitan muncul di tengah
upacara dan tidak menghentikannya sebelum maksud yang diinginkan dapat
diwujudkan. Air dan samudera adalah perlambang dari Sankalpa ini, dan
upacara Sankalpa juga dilakukan dengan sarana mencurahkan air. Jadi kita
menetapkan hati untuk menyelesaikan tugas dan menjalani hidup sesuai dharma
kita di tahun yang akan datang ini.

Selanjutnya tibalah Tilem atau dalam Veda disebut Amavashya. Amavashya
adalah hari yang sejak jaman dahulu kala diperuntukkan untuk melaksanakan
persembahan yang disebut Tarpanam. Tarpana berarti memberi kesejukan,
kelegaan, atau kesenangan. Tarpanam terutama memang dipersembahkan kepada
Pitri, roh nenek moyang yang telah mendahului kita. Namun sesungguhnya
Tarpanam adalah persembahan kepada setiap jiwa yang memiliki hubungan karma
dengan kita, dan itu berarti semua bentuk kehidupan dari yang paling rendah
sampai yang paling tinggi, yang tanpanya kita tak mampu hidup dengan baik di
dunia ini.

Di Indonesia, ini adalah saat dilakukannya upacara persembahan Tawur dan
Caru kepada para Bhuta serangkaian dengan perayaan Nyepi. Bila kita melihat
isi dari persembahan Tawur atau Caru, di sana akan tampak berbagai jenis
bahan yang bersifat Tamasika atau mengandung sifat kegelapan – kebodohan.
Bahan-bahan Tamasika adalah sumber energi yang paling kasar dan rendah. Di
India, bila seorang Brahmin menyentuh benda-benda Tamasika, maka ia harus
melakukan penyucian diri lagi.

Tetapi di sisi lain, bahan-bahan yang bersifat Tamasika juga melambangkan
energi duniawi yang bergelora. Ini adalah kesukaan dari makhluk-makhluk yang
juga bersifat Tamasika dan dapat memberikan kepuasan/kesenangan bagi mereka.
Anda bisa membayangkan bagaimana jika melihat sampah plastik berserakan di
mana-mana, tentu ada rasa tidak suka. Tetapi seorang pemulung yang mendaur
ulang plastik akan senang sekali. Itu karena sampah ini sangat bermanfaat
untuknya dan dia memiliki kemampuan untuk mengolahnya menjadi barang yang
lebih baik.

Kita juga harus tahu bahwa setiap unsur penyusun alam ini juga disebut
Bhuta. Kemudian setiap unsur alam memiliki pengendali yang disebut
Abhimani-devata. Energi alam yang ganas dan sulit dikendalikan dapat
mengakibatkan bencana bagi ma-nusia. Contohnya api bila digunakan dalam
kompor di dapur akan bermanfaat tetapi bila tak dikendalikan akan menjadi
kebakaran yang memusnahkan. Energi yang ganas ini dipersonifikasikan dalam
Tantra sebagai wujud murka dari Devata yang disebut Ugrarupa. Jadi pada
upacara Bhuta-yajna, saat pengundangan (avahana) kita tidak memanggil para
Bhuta dalam pengertian makhluk-makhluk halus yang bersifat Tamasika saja.
Kita memohon kehadiran Ugrarupa dari para Abhimani-devata. Dengan
memperlihatkan berbagai benda kesenangan yang disusun dalam wujud berbagai
Mandala atau diagram kita berupaya mendamaikan energi yang bergelora itu.
Mandala-yantra ini “dihidupkan” dengan mantra sehingga lambang akan menjadi
yang dilambangkannya, persembahan yang sedikit akan divisualisasikan
memenuhi seluruh alam semesta dan “menjadi” seluruh alam semesta. Semuanya
dileburkan secara mental ke dalam energi alam yang bergelora itu, kemudian
energi itu kembali dipersatukan dengan para Abhimani-devata yang
menguasainya. Energi itu menjadi “jinak” dan tenang (Saumya). Para Devata
pun dapat dipuja dalam Saumyarupa-Nya yang pengasih dan menganugerahkan
kehidupan yang harmonis bagi semua makhluk.

Saat Nyepi tiba, kita memasuki keadaan yang benar-benar “diheningkan”.
Inilah masa ketika kita merenungkan secara mendalam makna keberadaan diri
kita dan perannya sebagai bagian dari keseluruhan alam semesta. Hening
menandakan saat ketika semua telah berada di tempatnya yang sebenarnya.
Ke-sunya-an bukanlah dipandang sebagai kekosongan yang tak ada apa-apanya,
nol – nihil. Sunya adalah keadaan dimana segala sesuatu berada pada keadaan
awalnya, sesuai aslinya, tattva. Keadaan seperti ini mengingatkan kita pada
keadaan sebelum Brahma menciptakan alam semesta. Di sekeliling Brahma hanya
ada kegelapan dan kekosongan yang hening. Lalu Brahma memulai fungsi
kreatifnya bukan dari membuat dari tidak ada menjadi ada, melainkan mengolah
energi primordial menjadi alam semesta yang dapat dipersepsi berikut semua
bentuk kehidupan yang beraneka warna. Brahma mewujudkan semua itu melalui
kekuatan TAPA.

Seperti itu pula saat Nyepi, di tengah keheningan, kita melaksanakan tapa
mengarahkan energi kreatif kita, yang telah disucikan dan diberkati oleh
Tuhan melalui berbagai ritual dan prosesi yang mendahului Nyepi. Dengan
energi ini kita akan menyusun diri kita untuk menghadapi segala sesuatu yang
akan terjadi di tahun yang baru. Mengisinya dengan kesegaran karya-karya
kita yang baru dan menjalani dharma kita dengan kebugaran semangat yang
baru. Nyepi bukanlah sekedar rutinitas ritual yang kita jalani setiap tahun.
Ini adalah kebenaran yang maknanya akan terkuak melalui kontemplasi mendalam
dan tentunya sangat bermanfaat dalam segala aspek kehidupan. SELAMAT HARI
RAYA NYEPI TAHUN BARU SAKA 1932.
_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
"Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"
_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/
"Isi tulisan adalah tanggung jawab pengirim"