ceramah
Sat, 16 Sep 2000 16:55:16 -0700
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
{ Sila lawat Laman Hizbi-Net - http://www.hizbi.net }
{ Hantarkan mesej anda ke: [EMAIL PROTECTED] }
{ Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED] }
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
IN THE NAME OF ALLAH THE GRACIOUS THE MERCIFUL
RENUNGAN SURAT AL-FATIHAH DAN DI BALIK KEDAHSYATAN PETIR TERPENDAM KEINDAHAN ALLAH
TA'ALA
Disampaikan pada Khutbah Jum'at Maret 1996, Di mesjid UGI-Gunung Salak
Oleh: Subarkah (Staff Catering / Camp Department)
Berkenaan dengan Allah Ta'ala, jika kita mengatakan Alhamdulillahi rabbil 'alamiin,
maka setiap keindahan dari setiap produk ciptaan-Nya menuntut banyak sekali ilmu
pengetahuan. Banyak sekali sifat-sifat (kemampuan) yang dimintakan. Dan di dalam
penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan, kita benar-benar dapat mengatakan:
Alhamdulillahi rabbil 'alamiin. Benar-benar bahwa Dialah Wujud yang paling layak untuk
memperoleh segala pujian; yaitu yang telah menciptakan kesemuanya ini. Jadi bukan
hanya pujian itu pada zaman sekarang saja melainkan pujian dari seluruh zaman yang
diisyaratkan di dalam kata 'alamiin. Dan pujian dari seluruh sifat yang terkandung di
dalam setiap partikel sekalian alam ini, yang diisyaratkan didalam kata 'alamiin. Dan
paduan segala pujian ini tidak bertaburan. Melainkan terkumpul di dalam sebuah Wujud;
yaitu Wujud Allah Ta'ala.
Jadi, jika kita hanya memperhatikan seekor binatang saja dan menelaah tahap demi tahap
proses penciptaannya, maka semakin banyak jenis ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk
itu. Semakin banyak sifat-sifat (kemapmpuan) yang diperlukan untuk itu, yakni
sifat-sifat yang tanpanya wujud-wujud tersebut tidak dapat tercipta. Semakin hebat
pujian yang patut diberikan kepada karya tersebut serta kepada penciptanya atas segala
yang Dia (Allah Ta'ala) miliki. Begitulah jika kita menelaah segala-sesuatunya dengan
pandangan yang dalam. Sebab wujud tersebut merupakan menifestasi terakhir dari pada
seluruh sifat (kemampuan) tadi. Yaitu suatu gambaran bentuk akhir yang tampak oleh
kita.
Oleh karena itu, tatkala kita mengucapkan Alhamdulillahi rabbil 'alamiin, maka dalam
menelaah / menyaksikan setiap fenomena alam, kita bukan saja menemukan satu sifat
Allah Ta'ala. Melainkan kita akan menemukan puluhan, ratusan bahkan seberapa banyak
ilmu pengetahuan kita berkembang, sebanyak itu pulalah sifat-Nya yang akan kelihatan.
Dan sumber dari segala sifat itu, yang akan tampak adalah Alhamdulillahi rabbil
'alamiin.
Apabila kita menelaah masalah ini, maka dapat dikatakan bahwa akal pikiran ini menjadi
heran dan terpana dibuatnya. Terasa seolah-olah manusia tenggelam di dalam alam
keheranan. Kita perhatikanlah secara mendalam unsur-unsur alam ini. Maka pertama-tama
akan kelihatan satu Tuhan. Kemudian akan kelihatan berbagai manifestasi Tuhan. Dan
sifat-sifat-Nya akan semakin banyak kelihatan. Namun yang menjadi titik sentralnya
adalah Wujud itu juga (Allah swt). Yang berbeda-beda adalah sifat-Nya, bukan
Wujud-Nya. Dan semua yang berkaitan dengan wujud tersebut adalah Sifat-Nya.
Kunci untuk memahami masalah ini terdapat di dalam Alhamdulillahi rabbil 'alamiin.
Segal sifat adalah layak dan serasi bagi-Nya, yaitu Dia yang telah menciptakan
sekalian alam dan yang telah memelihara sekalian alam. Jadi, setiap partikel yang
dimiliki oleh sekalian alam ini, menggiring / menunjukkan kita kepada Tuhan. Selain
menunjukan kita kepada Wujud Yang Esa, juga menunjukkan kita kepada seluruh sifat-Nya.
Inilah sebuah segi yang melaluinya kalimat ataupun uraian Alhamdulillahi rabbil
'alamiin - benar-benar tanpa di buat-buat, langsung menunjukkan kita kepada seluruh
sifat Allah Ta'ala.
Namun dalam hal ini perlu juga berhati-hati. Dan masalahnya adalah bahwa di dalam
Al-Qur'an, dalam corak mana saja masalah 'pujian' ini diuraikan, jika kita
menelaahnya, dan memperhatikan dengan seksama di setiap tempat dimana kata 'hamd -
pujian' itu digunakan oleh Al-Qur'an, maka disana telah dibukakan jendela untuk
memahami sifat-sifat Tuhan. Dan masing-masing memperlihatkan manifestasi Wujud-Nya
yang berlainan. Dan hal ini akan terus terbuka.
Oleh karena itu, janganlah berusaha untuk memahami masalah ini dari sudut pandang
selera sendiri, melainkan, simaklah sifat-sifat Allah Ta'ala melalui jendela-jendela
yang telah dibukakan oleh Al-Qur'an kepada kita, serta melalui lubang-lubang yang
telah dipaparkan di hadapan kita, maka kita tidak akan melakukan kesalahan.
Hubungan Penampakan Kedahsyatan Perbuatan Allah Ta'ala Dengan Alhamdulillahi rabbil
'alamiin.
Saya telah katakan bahwa Tuhan itu tidak aniaya. Walaupun demikian tetap ada masalah
penghukuman. Ada uraian tentang Rabbul 'Alamiin, Rahman, Rahim, Maalik. Tidak ada
uraian tentang Tuhan yang pemurka. Walaupun demikian pada akhir Surah Al-Fatihah
sendiri kita menemukan masalah "orang-orang yang dimurkai". Jadi, apa hubungan antara
kesemuannya ini?
Hubungan kesemuanya ini adalah dengan Alhamdulillahi rabbil 'alamiin. Dan masalah ini
akan dapat kita pahami dengan bantuan Al-Qur'an. Oleh karena itu, ketika menelah
Al-Qur'an Karim, secara khusus perhatikanlah tempat-tempat dimana diterangkan masalah
'Tasbih' dan 'Hamd' (pujian), lalu berhentilah. Dan kemudian lihat, apalagi yang
tampak melalui jendela tersebut?. Maka disana akan mulai menyaksikan banyak sekali
sifat Allah Ta'ala. Saya telah memilih dua contoh untuk menguraikan masalah ini. Di
dalam Al-Qur'an Allah Ta'ala telah berfirman:
Yakni, "Bangsa-bangsa yang telah berbuat aniaya, mereka itu telah dicabut dari
akar-akar mereka, lalu dicampakan.
Segala pujian bagi Rabb sekalian alam. Segala puji adalah Bagi-Nya. Merupakan hak-Nya
supaya Dia dipuji". (Al-An'am, 46).
Nah, jika akar orang-orang yang berbuat aniaya tidak dicabut, maka akar setiap
manifestasi sifat-sifat hasanah / baik Allah Ta'ala akan tercabut juga. Dan di dunia
ini kebaikan tidak akan ada. Jadi bersamaan dengan diuraikan-nya masalah
Alhamdulillahi rabbil 'alamiin itu diterangkan bahwa tatakala kita mengatakan
bahwasanya segala pujian adalah mutlak bagi-Nya; segala pujian adalah hak bagi-Nya,
merupakan keindahan & kemuliaan bagi-Nya; artinya adalah: bahwa Dia pun merupakan
pengawas bagi makhluk-makhluk-Nya sendiri. Dan hal-hal yang dapat menghancurkan
beberapa keindahan / kebaikan; hal-hal yang dapat menyebar-luaskan keburukan; adalah
pekerjaan Rabb sekalian alam juga untuk melenyapkan hal-hal yang seperti itu. Dan
merupakan suatu hal wajib atau wajar bagi-Nya untuk berlaku demikian.
Jadi, sifat-sifat Allah Ta'ala - Apakah itu sifat-sifat murka; sifat-sifat amarah;
atau sifat kasih sayang maupun penuh kecintaan secara nyata - pada hakikatnya adalah
sifat rahmat dan kecintaan juga adanya. Dan hal itu pun merupakan sifat-sifat
Rabbubiyat juga. Salah satu contoh lainnya adalah sebagai berikut:
Bahwa, petir bertasbih dengan pujian-nya. Yakni, petir yang kita lihat di awan,
menyampaikan puji-pujian terhadap-Nya.
Dan malaikat pun memanjatkan puji-pujian terhadap-Nya, namun dengan rasa takut
pada-Nya (Ar-Rad, 14)
Jika kita memperhatikan petir, maka seorang manusia sederhana yang memiliki ilmu
duniawi sedikitpun, akan turut takut menyaksikan petir itu. Kadang-kadang bunyi petir
sedemikian rupa hebatnya sehingga orang yang dewasa pun akan menjadi takut serta
bergetar hatinya. Di dalam istilah sains (ilmu pengetahuan), ada beberapa nama bagi
topan, namun saya tidak perlu merincinya. Sebagian topan ada yang dibarengi oleh
petir-petir yang sedemikian rupa mengerikannya sehingga dalam sekejap mata dapat
menghanguskan kota-kota besar. Dan petir-petir tersebut memiliki kekuatan yang
berlipat-lipat dari kekuatan bom atom. Oleh karena itu kaitannya adalah dengan rasa
takut juga.
Pertama-tama ketika kita melihat topan, petir dan khususnya petir tunggal, maka hati
akan menjadi takut. Dan karena ketakutan kita mulai memanjatkan pujian kepada Tuhan.
Yakni rasa takut semoga petir itu lenyap dan kita terlindung darinya.
Wujud-wujud baik yang menjalin hubungan dengan Allah Ta'ala, merekapun disebut
malaikat. Disini yang dimaksud adalah mereka juga adanya. Mereka ini melihat petir
lalu memanjatkan pujian bahwasanya: "Wahai Tuhan! Seluruh kekuatan adalah pada Engkau.
Dari keburukan yang dapat saja timbul kejelekan. Dan dari kejelekan dapat timbul
keburukan. Awan-awan yang membawa air rahmat, bersamanya ada pula petir-petir. Akan
tetapi Engkau dapat menciptakan kebaikan dari petir-petir itu. Oleh karena itu, dengan
rendah hati dan dengan penuh kehinaan, kami datang ke haribaan Engkau memanjatkan
senandung-senandung pujian terhadap Engkau. Kami melihat keindahan Engkau di dalam
sesuatunya.
Dibalik Kedahsyatan Petir Terpendam Keindahan Allah Ta'ala
Disini bersamaan dengan 'khifah - takut' telah dipautkkan pula masalah 'keindahan'.
Yakni, bukan hanya karena takut pada petir. Ketika diadakan penelaahan terhadap rasa
takut yang timbul akibat petir, maka telah diketahui bahwa di dalamnya ternyata banyak
sekali 'keindahan' yang tersembunyi. Banyak sekali keelokan yang terselubung. Setelah
menelaah masalah ini, terjadi demikian, bahwa tatkala kita mengatakan di dalam
penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan serta di dalam setiap benda, yang ada hanyalah
pujian dan pujian belaka. Maka dari petir itu pertama-tama timbul adalah rasa takut.
Manusia menjadi takut dan gemetar. Lalu ketika lebih dalam menelaahnya, diketahui
bahwasanya Tuhan itu tidak hanya mengemukakan hal-hal yang menakutkan. Dia tidak hanya
menciptakan benda-benda yang dapat menimbulkan kebinasaan / kematian. Jika seandainya
kita menemukan hal-hal yang demikian, maka di dalamnya tentu ada kebaikan yang
terselubung. Dan kebaikan tersebut secara mutlak mengalahkan / menu!
!
tupi keburukan zahiriahnya. Walaupun masalah ini tidak dipahami secara rinci, tetapi
memahami masalah Alhamdulillahi rabbil 'alamiin, maka setelah timbul rasa takut
sehabis menyaksikan petir itu, di dalam hati (manusia) akan timbul pujian. Dan dia
akan mengakui hakikat ini secara keseluruhan, bahwa di dalam setiap manifestasi Tuhan
terdapat keindahan / kebaikan. Tidak perduli apakah manifestasi itu menampakan
pemandangan yang sangat mengerikan sekalipun. Walaupun merupakan manifestasi yang
sangat menakutkan hati serta menyeramkan, di dalamnya pasti terdapat pujian.
Kini coba kita telaah lebih dalam lagi. Perhatikanlah orang-orang yang telah
dianugerahi ilmu pengetahuan oleh Allah Ta'ala, maka 'hamd' (puji-pujian) mereka
adalah yang lebih selayaknya dipanjatkan. Masalah ini sedikit lebih sulit untuk
diterangkan. Oleh sebab itu saya memerlukan waktu yang cukup untuk menerangkannya.
Hubungan Petir Dengan Turunnya Hujan
Dalam kondisi apapun, pujian itu hanya berhak diberikan kepada Tuhan semata. Hal itu
memang tidak diragukan lagi. Akan tetapi sejauh mana sebenarnya kita mengetahui
bahwasanya Dia itu memang berhak untuk memperoleh puji-pujian? Nah, masalah ini lebih
memperluas lagi masalah pujian terhadap-Nya. Seorang petani sederhana yang lugu, atau
seorang bocah kecil, setidak-tidaknya akan merasa takut (terhadap petir) lalu
memanjatkan pujian kepada Tuhan. Dan ia memanjatkan pujian tersebut dalam arti bahwa:
"Baiklah, tidak ada yang lain lagi. Wahai Tuhan! Engkaulah yang merupakan majikan
daripada petir. Selamatkanlah aku, dan demikianlah pujianku."
Akan tetapi seberapa banyak ilmu pengetahuan itu berkembang, sebanyak itu pula masalah
pujian yang berkaitan dengan petir ini akan terus berkembang. Ada satu hal yang mutlak
di dalam penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan terhadap petir, akan tetapi tidak
banyak diketahui oleh para awam. Yaitu bahwa, tanpa adanya petir, maka air hujan tidak
akan turun. Jadi, seorang lugu yang tidak memiliki ilmu pengetahuan pun, pujian yang
ia panjatkan adalah sesuai taufiknya. Dikarenakan hal itu dipanjatkannya dengan penuh
rasa pujian, maka hal itu tentu akan diterima oleh Tuhan. Akan tetapi di dalam
pujiannya itu tidak dapat timbul lagi kelezatan seperti yang timbul di dalam pujian
orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan tentang masalah ini apabila orang-orang
tersebut mempunyai hubungan dengan Tuhan.
Bahwasanya air-air yang naik kelangit dalam bentuk uap, jika tidak ada petir, maka
sampai kapanpun tidak akan dapat kembali menjadi air lalu jatuh ke bumi. Adalah petir
yang mengumpulkan / memadukan partikel-partikel air tersebut serta membuat mereka
menjadi berat, dan lalu berjatuhan ke bawah seperti cucuran. Ini sama halnya jika
seseorang mati disambar petir. Orang itu mati adalah karena partikel-partikel yang ada
di dalam darahnya berubah menjadi gumpalan-gumpalan beku akibat terkena aliran
listrik. (Tubuh) orang itu pun menjadi hitam / biru. Sebab darahnya membeku dan
berubah menjadi hitam.
Kalau para malaikat, memanjatkan pujian menurut gayanya sendiri. Namun mereka tidak
dapat masuk sampai dikedalaman masalah ini. Sedangkan petir tadi, dia sendiri tahu
tentang dirinya. Difirmankan: Yusabbihur ra'adu bihamdihi. Setiap petir itu
memanjatkan puji-pujian kepada Rabb-nya. Sebab ia tahu bahwa, sebagaimana halnya para
malaikat, ia pun diutus untuk tugas-tugas yang baik. Dan sebagai akibatnya: banyak
sekali umat manusia yang meraih faedah darinya.
Hubungan Petir Dengan Kesuburan Tumbuh-Tumbuhan
Lebih lanjut mari kita telaah hal ini. Setelah mengetahuinya kita akan menjadi heran,
bahwa ternyata kesuburan bumi ini mempunyai hubungan langsung dengan petir. Jadi
seorang manusia lugu atau yang ilmunya sedikit, memang akan memanjatkan pujian. Akan
tetapi di dalam pujiannya itu lebih banyak terdapat rasa takut, banyak terdapat rasa
gentar terhadap petir. Akan tetapi, dalam makna ini, petir mengetahui tentang hakikat
dirinya sebagaimana halnya seorang manusia mengetahui dirinya sendiri. Demikian pula
bahwa alam raya kekuasaan (Tuhan) ini mengetahui benar tentang dirinya.
Ada satu hal lagi yang tekandung di dalam (petir) ini. Yaitu bahwa nitrogen yang
terdapat diudara, adalah sangat penting bagi pertumbuhan. Dan di dalam sekian banyak
bahan-bahan kimia perangsang pertumbuhan yang digunakan - yaitu pupuk sintetis ataupun
pupuk-pupuk buatan - sebagian besar kandungannya adalah nitrogen. Jadi
nitrogen-nitrogen yang kita lepaskan maupun oleh tumbuh-tumbuhan, berbaur diudara. Dan
untuk membawanya kembali ke bumi diperlukan adanya petir. Petir tidak hanya berfungsi
untuk memadukan partikel-partikel air sehingga mengucur dari langit. Melainkan ia juga
berfungsi untuk mengikatkan nitrogen ke dalam partikel-partikel air tesebut.
Demikianlah sistim pemutaran dilangit. Jika tidak ada makanan / pupuk di dalamnya,
maka untuk apa pula air yang hampa dicucurkan? Oleh karena itu, air-air yang turun
dari langit, mereka turun sambil membawa zat penyubur / makanan. Kita tentu melihat
bahwa jika kita memberikan sepuluh (tong) air sumur kepada tanaman, keadaan dan
kesegaran yang ditimbulkannya tidak dapat menyamai keadaan yang ditimbulkan dengan
menyiramkan satu (tong) air hujan. Memang tidak diragukan bahwa didalam air bumi
terdapat manfaat. Air di beberapa tempat pun ada yang menyuburkan. Akan tetapi jika di
dalam air hujan tidak terdapat nitrogen, maka sampai sekarang niscaya bumi ini akan
menjadi tandus.
Dengan perantaraan petir dapat timbul nitrogen sekian banyaknya sehingga sebagian
ilmuwan berpendapat bahwa nitrogen yang dihasilkan oleh petir dalam satu hari saja
adalah berkali-lipat lebih banyak dari nitrogen yang diproduksi oleh pabrik-pabrik
(kimia) di seluruh dunia. (Nitrogen yang dihasilkan oleh petir) itu berbaur di dalam
partikel-partikel air lalu kembali jatuh ke bumi.
Lihatlah, betapa luar biasanya hal yang terkandung didalam (ayat) Yusabbihur ra'du
bihamdihi. Orang awam mengatakan bahwa petir itu merupakan sesuatu yang menhanguskan,
atau yang mebinasakan. Setelah ditelaah ternyata ia tidak untuk menghanguskan maupun
untuk membinasakan. Melainkan petir itu adalah untuk menimbulkan pertumbuhan dan
perkembangan serta untuk kemajuan hidup. Jadi, memang dia mengandung makna
'kebinasaan', namun hal itu pun adalah untuk memberikan manfaat. Ini adalah suatu
masalah ekosistem, yang tidak mungkin dapat saya rincikan di tempat ini.
Hubungan Petir Dengan Dimulainya Kehidupan Makhluk
Sungguh suatu hal yang menarik bahwa satu bagian yang berfungsi untuk menghanguskan
itu ternyata adalah untuk manfaat yang jauh lebih besar lagi. Ini adalah masalah yang
memberikan sokongan bagi kehidupan. Yaitu masalah rabbubiyat yang berlangsung / aktif
setelah terciptanya kehidupan.
Dengan menyimak (ayat) Yusabbihur ra'du. Betapa luasnya hal-hal yang telah dipaparkan
oleh Allah Ta'ala kepada kita. Tetapi salah satu kaitannya adalah dengan awal-pertama
kehidupan ini. Banyak para ilmuwan yang meneliti masalah terciptanya (awal-mula)
kehidupan. Dan ratusan ribu jumlahnya ilmuwan di dunia ini yang kehidupan mereka,
mereka wakafkan siang dan malam untuk memecahkan misteri ini. Yaitu: bagaimana
sebenarnya awal-mula terjadinya kehidupan.
Dan mereka seluruhnya telah sepakat bahwa, jika seandainya (pada masa awal itu) tidak
ada petir-petir yang dahsyat dari langit menghantam air lautan, maka tidak akan
tercipta cikal-bakal kehidupan yang darinya kehidupan ini selanjutnya mulai terbentuk.
Tidak akan tercipta batu-batu fondasi yang diatasnyalah kehidupan ini bakal dibangun.
Jadi, Yusabbihur ra'du bihamdihi tidak hanya berkaitan dengan masa yang sedang
berjalan ataupun dengan masa yang akan datang. Melainkan juga mempunyai kaitan dengan
zamal awal-mula penciptaannya kehidupan ini. Yakni seolah-olah ketika itu kehidupan
ini belum lahir, sang petir itu mentertawakan kita seraya berkata: "Wahai orang-orang
bodoh! Kalian akan beranggapan bahwa aku ini adalah sesuatu yang menghanguskan serta
membinasakan. Padahal karena akulah kehidupan ini telah bermula. Tuhan telah
menggunakan aku untuk kalian serta untuk menciptakan bentuk-bentuk segala kehidupan di
alam raya ini."
Nah, lihatlah! Betapa mulianya Allah Ta'ala! Hanya dengan sekedar menelaah satu bagian
dari sebuah ayat kita telah menyaksikan sekian banyak sifat Tuhan. Dan kadang-kadang
manusia berfikir bahwa bagaimana mungkin didalam surah Al-Fatihah itu diuraikan 99
sifat Allah Ta'ala?. Nyatanya adalah ilmu-ilmu yang diisyaratkan didalam Yusabbihur
ra'du bihamdihi - yang tanpanya masalah Yusabbihur ra'du bihamdihi itu sendiri tidak
akan timbul - jumlahnya lebih dari sembilan puluh sembilan. Bahkan jika kita
memperhatikan dengan seksama. Maka akan tampak lebih dari 99.000 sifat.
Menyelamlah di dalam Samudera Dalam dan Luas Surah Al-Fatihah Dengan Berbekal Kesucian
Hati
Jadi, itulah Surah Al-Fatihah. Berusahalah dengan penuh perhatian untuk dapat
memahaminya. Dan diterapkanlah masalah ini didalam hati kita. Berusahalah untuk
tenggelam didalamnya. Jadikanlah ia sebagai bahtera. Dan melaluinyalah arungi Zat
Allah Ta'ala. Jadi, ini adalah sebuah perahu yang selamanya berlayar di sebuah lautan
yang tak terbatas. Dan sampai kapanpun pesisir pantai tidak akan pernah terlihat oleh
kita.
Oleh karena itu, suatu kaum yang telah dianugerahkan sebuah nikmat seperti Surah
Al-Fatihah ini, kaum itu tidak akan dapat mengatakan seperti berikut: "Wahai Tuhan!
Engkaulah yang telah mewajibkan ibadah. Dan telah Engkau wajibkan lima waktu setiap
harinya. Akan tetapi engkau tidak memberitahukan kepada kami bagaimana caranya untuk
menimbulkan kelezatan didalam ibadah ini."
Di karenakan surah Al-Fatihah telah mengajarkan segala sesuatunya, yang saya uraikan
ini adalah sangat terbatas sekali. Tidak terhitung banyaknya rahasia yang tertimbun
didalam surah Al-Fatihah, bagaikan harta-harta karun. Cobalah terus menemukannya.
Teruslah memperhatikan serta menelaahnya. Maka Allah Ta'ala pun akan terus
membukakannya. Kita tidak dapat menemukannya dengan penelaahan kita sendiri. Akan
tetapi sejauh mana kita terus mensucikan hati kita, maka sejauh itu pula Allah Ta'ala
sendiri yang akan terus membukakan rahasia-rahasia tersebut. Perhatikanlah (ayat)
berikut ini:
Bahwa, kecuali orang-orang yang telah disucikan oleh Tuhan, tidak ada orang yang dpaat
menyentuh rahasia-rahasia Al-Qur'an.
Jadi, disini tidak diperlukan kelicikan. Pikiran manusia ada bermacam-macam. Ada yang
cerdas, ada yang kurang cerdas, ada yang lebih pintar dan ada yang kurang pintar. Akan
tetapi yang diperlukan untuk memahami hal-hal (rahasia-rahasia) yang terkandung di
dalam surah Al-Fatihah, adalah kesucian hati. Dan hati ini tidak akan dapat menjadi
suci sepenuhnya jika bukan Tuhan yang mensucikannya. Dia-lah yang dapat mensucikan
hati sejauh yang Dia inginkan.
Al-Qur'an ditempat ini tidak mengatakan bahwa "laa yamssuhu illatthaahiruun" - yaitu
hanya orang-orang suci sajalah yang dapat menyentuh hal-hal yang terkandung di dalam
Kitab ini. Melainkan yang dikatakan adalah: "laa yamassuhu illal muthahharuun - yaitu
hanya orang-orang yang telah disucikanlah yang dapat "Menyentuh" hal-hal yang terdapat
didalamnya. Sedangkan yang dapat mensucikan itu adalah Allah Ta'ala sendiri.
Jadi, sejauh mana kita terus maju menelaah hal-hal yang terkandung didalam surah
Al-Fatihah, kita akan sampai pada Iyyaaka na'budu wa iyaaka nasta'iin, yakni, "Wahai
Tuhan! Kami puas mengarungi. Kami benar-benar merasakan kelezatan. Akan tetapi masih
banyak lagi yang harus kami lihat. Dan masih banyak lagi manfaat yang harus kami ambil
dari apa-apa yang telah kami saksikan. Kami masih harus menjadikannya sebagai bagian
permanen dari diri kami. Oleh karena itu Iyyaka na'budu - hanya kepada Engkau-lah kami
menyembah. Wa iyyaaka nasta'iin - dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta
pertolongan."
Kemudian bukan hanya dengan berbagai macam gambaran saja, melainkan juga dengan
berbagai zaman / masa, hal-hal yang terkandung di dalam surah Al-Fatihah ini akan
terus berkembang. Dan berbagai macam bentuk puji-pujian terhadap Tuhan akan terus
muncul di hadapan kita. Difirmankan:
"Bertasbihlah kepada tuhan dengan puji-pujian-Nya",
Sebelum matahari terbit dan sebelum matahari tenggelam" (Thaha, 131)
Ini adalah dua keadaan berbeda yang berganti-ganti. Hubungan semua ini adalah
Rabbubiyat. Sebab dikatakan: Sabbih bihamdi rabbika. Sejauh mana para ilmuwan telah
menelusuri masalah ini, maka sejauh itu pula kepada mereka telah diperlihatkan
khazanah-khazanah ilmu / makrifat yang agung.
Ringkasnya adalah bahwa terbitnya matahari; tenggelamnya matahari; struktur yang
berkaitan dengan terbit dan tenggelamnya matahari, kesemuanya itu adalah sangat perlu
sebagai olah-raga bagi kehidupan ini serta perlu untuk tetap melestarikan kehidupan di
dunia ini. Jika seandainya tidak ada proses terbit dan tenggelamnya matahari, maka
tidak mungkin kehidupan dapat timbul di bumi ini. Kalaupun kehidupan sempat timbul.
Maka ia akan segera mati dan tidak ada lagi masalah apakah akan terdapat sisa-sisanya
atau tidak.
Hikmah Pergantian Musim, Pergantian Siang dan Malam, Dll.
Jadi, kini seperti yang telah difirmankan: Sabbaha bihamdi rabbika qobla tulu'issyamsi
wa qobla ghurubiha, di dalamnya telah dibukakan bagi kita jendela-jendela untuk
melakukan penelaahan dengan seksama. Difirmankan bahwa: "Perhatikanlah dengan seksama
(proses/sistim) pergaintian musim; pergantian siang dan malam. Telaahlah perbandingan
kaitan sistim pergantian mereka. Dan selidikilah, apa saja reaksi yang timbul sebelum
matahari itu terbit."
Yaitu hal-hal yang dapat membantu agar manifestasi Rabbubiyat itu sampai kepada kita,
atau yang melalui perantaraan mereka manifestasi Rabbubiyat itu zahir di dunia ini.
Dan apa pula reaksi-reaksi yang biasanya muncul sebelum matahari itu tenggelam. Yaitu
reaksi-reaksi yang mengakibatkan tenggelamnya matahari.
Kalau tidak demikian, tentu dunia ini tidak akan tersisa lagi kehidupan. Jaringan
Rabbubiyat pun akan hancur berantakan. Jadi, Rabbubiyat juga memiliki kaitan dengan
terbitnya matahari. Dan Rabbubiyat pun memiliki kaitan dengan tenggelamnya matahari.
Manifestasi Rabbubiyat itu tampil dalam berbagai corak sesuai dengan pertukaran waktu
/ zaman. Sebagaimana yang telah saya kemukakan secara ringkas, bahwa para ilmuwan di
seluruh dunia yang mempunyai kaitan dengan masalah ini, mereka sepakat bahwa antara
kehidupan dengan pergantian musim serta pergantian hari, terdapat suatu hubungan yang
sangat erat. Dan ia juga mempunyai kaitan sangat erat dengan masalah kelestarian hidup
serta pengembangannya. Begitu eratnya sehingga jika seandainya kita mengadakan sedikit
saja perubahan di dalamnya, maka seluruh hubungan / kaitan itu akan terputus. Dan bumi
dimana kita saat ini sedang hidup, tidak akan layak lagi untuk di huni.
Jadi, di dalam Alhamdulillahi rabbil 'alamiin pun terdapat uraian seluruh sifat
hasanah / kebaikan (Tuhan) yang berkaitan dengan perubahan dan pergantian musim. Dan
bersamaan dengan perubahan / pergantian musim itu terdapat hal-hal yang sangat dalam
sekali. Kaitannya adalah sifat-sfiata yang tak terhitung banyaknya. Jadi, kita dapat
mengetahui rahasia-rahasia baru Rabbubiyat, sesuai dengan ilmu pengetahuan kita. Dan
sejauh mana kita meningkatkan ilmu pengetahuan kita, maka sejauh itu pula kita akan
dapat mengarungi Allah Ta'ala di dunia ini.
Ada sebuah istilah para sufi, yaitu: "Mengarungi Allah Ta'ala". Artinya adalah:
arungilah / berjalan-jalanlah di dalam Zat Allah Ta'ala itu. Berjalan-jalan di luar
negeri pun merupakan suatu tamasya. Akan tetapi tidak ada faedahnya. Tidak akan ada
faedah "Syruw fil ardhi" (Berjalan-jalanlah di bumi) jika manusia belum layak untuk
melakukan "Syruw fillahi" (Berjalan-jalan di dalam Sat Allah).
Jadi, berjalan-jalanlah didunia ini. Akan tetapi kita harus merasakan / mengambil
kelezatan dari mengarungi Allah Ta'ala.
Semoga apa yang saya sampaikan melekat, menggores dalam hati bapak-bapak dan meraih
barkat-barkat langit rohani - Aamiin Allahuma aamiin..!!
Subarkah - Telp. 62-0266-260278
Petikan dari : http://burns2000.tripod.com/article/fatihah1.html
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body : SUBSCRIBE HIZB)
( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body: UNSUBSCRIBE HIZB)
( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan )
( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net )
( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED] )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengirim: [EMAIL PROTECTED]