hizb  

H-Net* Biodata Jaafar Umar Talib - lashkar Ji had

Prima vera
Sat, 23 Jun 2001 19:55:59 -0700


 *~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
 {  Sila lawat Laman Hizbi-Net -  http://www.hizbi.net     }
 {        Hantarkan mesej anda ke:  [EMAIL PROTECTED]         }
 {        Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED]     }
 *~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
          PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
http://www.laskarjihad.or.id/

Riwayat Hidup Al Ustadz Ja’far Umar Thalib

 

Ayahnya Umar Thalib, seorang kiai keturunan Yaman
-Madura yang aktif di Al-Irsyad, Malang. Tidak seperti
ibu Ja'far, Badriyah Saleh, yang juga keturunan Arab,
ayah Jaf'ar mendidik Jaf'ar sejak kecil dengan pola
militer. Kebetulan, ayahnya adalah veteran perang 10
November di Surabaya. Sehingga, sejak kecil pria
kelahiran Malang, 29 Desember 1961 itu sudah terbiasa
dirotani. Beliau adalah anak bungsu dari delapan orang
bersaudara “Belajar bahasa Arab dari ayah sama dengan
naik ring tinju,” kenang alumni Pesantren Persis
Bangil itu. Ustadz Jafar Umar Thalib mempunyai empat
orang Istri dan sembilan orang anak.

Sikap kritis Ja'far sudah tumbuh sejak muda. Tokoh
dengan tinggi 165 cm mempunyai Pengalaman sampai ke
Afgahnistan dan Jihad Maluku saat ini pun sebetulnya
merupakan akibat sikapnya yang selalu merasa tidak
puas. Ayah sembilan anak dari keempat istrinya ini
misalnya, lari dari lingkungan pesantren Al-Irsyad
milik ayahnya setelah lulus Pendidikan Guru Agama
(PGA) tahun 1981 ke Pesantren Persis, Bangil). Merasa
kurang puas di Bangil, tahun 1983 Ja'far hijrah ke
Jakarta dan masuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Arab (LIPIA).

Selama mahasiswa ia duduk sebagai Ketua DPP Pelajar
Al-Irsyad yang menentang Asas Tunggal bersama
teman-temannya dari Pelajar Isam Indonesia (PII). Di
LIPIA, anak ke tujuh dari delapan bersaudara itu cuma
betah tiga tahun. Ia gagal mencapai sarjana syariah
karena bertengkar dengan salah satu dosen yang
dikritiknya habis-habisan. Kemudian, oleh direktur
LIPIA ia disekolahkan ke Maududi Institute di Lahore,
Pakistan. Tak sampai setahun, pada 1987, lagi-lagi ia
ribut dengan dosennya yang ditantang berdebat tentang
hadits. Akhirnya, ia memutuskan untuk ikut berjihad di
Afghanistan.

Sekembali dari sana tahun 1989, ia diamanahkan
memimpin pesantren Al-Irsyad di Salatiga. Almamaternya
itupun dikritiknya habis-habisan hingga ia cuma betah
satu setengah tahun. Tahun 1991 ia terbang lagi
keliling Timur Tengah untuk berguru kepada sejumlah
ulama Salafy. Salah satu ulama yang menjadi guru utama
beliau adalah Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i di
Dammaz, Yaman Utara.

Sepulangnya dari Timur Tengah pada tahun 1993, beliau
mendirikan Pesantren di Yogyakarta yang bernama
“IHYA’US SUNNAH” dan beliau sendiri yang menjadi
pemimpinnya. Antara tahun 1994-1999 waktunya
dihabiskan untuk belajar dan mengajar melalui dakwah
Salafiyah yaitu dakwah yang berdasarkan Al-Quran dan
As-Sunnah dengan pemahaman para Sahabat nabi.

Kegiatan beliau di pesantren Ihya’us Sunnah mengajar
kitab-kitab para ulama Salaf seperti Al-utsul tsalasah
(3 pedoman dasar), Syarah Kitabut Tauhid (penjelasan
tentang kitab Tauhid) karya Imam Muhamamd bin Abdul
wahab kemudian kitab Al-Aqidah Al-Washitiyah karya
Imam Ibnu Taimiyah dll.

Para rekan-rekan mengajarnya adalah Al-Ustadz Muhammad
Umar As-Sewed yang dulu menjadi muridnya, Al-Ustadz
Hamzah, Al-Ustadz Muslim.

Ketika situasi politik dan ekonomi di Indonesia sedang
bergejolak di awal tahun 1999 beliau memandang perlu
untuk ikut menyelesaikan kemelut bangsa ini. Maka pada
tanggal 14 Februari 1999 beliau tampil dalam suatu
tabligh akbar yang dilaksanakan di Solo, Jawa Tengah
dengan tujuan memperingatkan kepada Umat Islam tentang
bahayanya berpecah belah di kalangan umat Islam karena
akan menghadapi Pemilu sekaligus menjelaskan tentang
haramnya presiden wanita.

Dan berlanjut dengan tabligh akbar di Yogyakarta pada
tanggal 30 Januari 2000 dalam rangka menyikapi kondisi
pembantaian Umat Islam di maluku yang sudah berusia 1
tahun tapi tidak ada upaya-upaya penyelesainanya
akhirnya Ustadz ja’far mengeluarkan resolusi Jihad
dengan deadline 3 bulan.

Ternyata deadline sudah lewat tapi tetap tidak ada
kejelasan mengenai konflik Maluku maka pada tanggal 6
April 200 Ustadz Ja'far bersama seluruh muridnya
mendeklarasikan akan berangkat ke Ambon dan meresmikan
berdirinya Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan
setelah melakukan Tabligh Akbar di stadiun Senyan
dilanjutkan dengan latihan perang di Bogor yang
dinamakan “Latihan Gabungan Nasional Laskar Jihad”.
Dan beberapa bulan kemudian beliau mengutus 29 orang
untuk pergi ke Ambon pertama kali.

  


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail
http://personal.mail.yahoo.com/

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 ( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED]   pada body : SUBSCRIBE HIZB)
 ( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED]  pada body:  UNSUBSCRIBE HIZB)
 ( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan             )
 ( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net                  )
 ( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED]                    )
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pengirim: Prima vera <[EMAIL PROTECTED]>