Inspirasi Alkitab
Inspirasi berarti
proses dimana Allah campur-tangan terhadap para penulis Alkitab melalui
pekerjaan Roh Kudus atas diri penulis, sehingga apa yang mereka tulis merupakan
kata-kata asli mereka, tetapi sekaligus juga merupakan catatan yang akurat dari
wahyu Allah yang tidak mengandung kesalahan. Bukan seperti seorang sekretaris
yang secara mekanis didikte oleh atasannya untuk mengetik surat, tapi dengan
berbagai cara yang Allah gunakan untuk memberikan Firman-Nya kepada manusia (2
Timotius 3:16; 2 Petrus 1:20-21).
Dalam 2
Timotius 3:16 tertulis: Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Dalam bahasa Inggrisnya:
“All Scripture is God breathed and is useful for
teaching,.."
Kata
God breathed di sini berarti sebagai 'penghembusan' (peniupan
nafas) Ilahi kepada seorang manusia melalui Roh Kudus, yang mengakibatkan
seorang tersebut berbicara atau menulis dengan kualitas, penglihatan, ketetapan
dan otoritas yang tidak mungkin ada dalam kalimat atau tulisan orang lain yang
tidak digerakkan Roh Kudus. Di sini Allah menafaskan Firman-Nya. Dengan
demikian, maka pengarang Alkitab itu Allah sendiri. Alkitab bukan berisi Firman
Allah, melainkan Alkitab sendiri adalah Firman Allah.
Jadi meskipun Alkitab
dituliskan oleh tangan-tangan manusia biasa, tetapi sumber tertinggi adalah
Allah sendiri (2 Petrus 1:21). Para penulis itu digerakkan oleh inisiatif Roh
Kudus, mereka tidak sanggup menolak gerakan Allah untuk berkata-kata dan
menuliskan Firman-Nya (Yeremia 20:9; Amos 3:8).
Walaupun
Allah mengontrol penulisnya, sehingga apa yang ditulis mereka hanyalah apa yang
dikehendaki-Nya, para penulis tetap menggunakan pikiran dan kepribadian mereka
sendiri selama proses penulisan tersebut. Hal ini begitu jelas terlihat dalam
perbedaan gaya tulisan dan pendekatan yang digunakan masing-masing penulis
tersebut.
Melalui
keunikan pribadi penulis tersebut, Allah tetap dapat menyampaikan Firman-Nya.
Dengan demikian wajar bila di dalam Alkitab termuat hal-hal yang cukup membuat
para intelektual terpesona dan kagum, tetapi orang-orang biasa pun tetap dapat
membaca dan memahaminya, dan bila dibaca dengan hati yang hormat pada Allah,
mereka akan menemukan Allah sendiri di dalamnya.
Ketika kita
membaca bagian-bagian Alkitab, kita tidak boleh melepaskan bagian tersebut dari
konteksnya. Kita harus mencari apa yang ingin Allah ajarkan pada bagian-bagian
tersebut. Alkitab bahkan tidak menutup-nutupi dosa para tokoh yang dipakai
Allah, misalnya: Daud yang berzinah dengan Betsyeba dan membunuh Uria (2 Samuel
11), Yunus yang melarikan diri dari tugas yang diberikan Allah (Yunus 1:1-3).
Hal-hal ini menunjukkan kejujuran Alkitab.
Inti berita yang Alkitab sampaikan adalah:
-
Manusia
diciptakan segambar Allah untuk tujuan yang mulia (Kejadian 1:26-28; Yohanes
10:10; Efesus 2:10)
-
Manusia
jatuh ke dalam dosa karena telah melanggar Firman Allah dan akibatnya adalah:
kematian rohani, manusia terputus hubungan dari Allah, dan akhirnya manusia
akan mengalami maut, kematian kekal. Namun Allah telah menjanjikan anugerah
keselamatan (Kejadian 3; Roma 3:23; Roma 6:23)
-
Karena
kasih-Nya, Allah telah memberikan Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk mati menebus
manusia yang mau percaya kepada-Nya, dan bangkit untuk menyediakan tempat bagi
mereka (Roma 8:1)
-
Kristus
akan datang lagi di akhir jaman, sebagai Hakim Agung atas dunia
ini.
Kanonisasi
Istilah kanon berasal dari bahasa Yunani yang
berarti 'tongkat pengukur, standar atau norma'. Secara historis, Alkitab telah
menjadi norma yang berotoritas bagi iman dan kehidupan bergereja. Proses
pengkanonan ini dilakukan oleh berpuluh-puluh ahli kitab suci dan bahasa yang
dengan teliti dan serius memilah-milah banyak tulisan yang dianggap suci untuk
menemukan kitab-kitab yang benar-benar suci dan diwahyukan Allah untuk kemudian
dijadikan satu.
Tanda-tanda kanonitas meliputi:
-
Kitab
tersebut ditulis atau disahkan oleh para nabi/rasul.
-
Kitab
tersebut diakui otoritasnya di kalangan gereja mula-mula.
-
Kitab
tersebut mengajarkan hal yang selaras dengan kitab-kitab lainnya yang jelas
termasuk dalam kanon.
Kanon Perjanjian Lama (PL)
Diawali oleh tulisan Musa,
koleksi kanon PL yang mayoritas dalam bahasa Ibrani secara progresif akhirnya
terbentuk sejak sekitar tahun 400 SM.
-
Loh batu yang berisi
10 hukum ditaruh dalam Tabut Perjanjian (Keluaran 40:20). Loh batu tersebut
masih dalam tabut ketika Salomo membawa tabut tersebut ke dalam Bait Allah
yang baru saja didirikan (1 Raja-raja 8:9).
-
Kitab Taurat yang
ditulis oleh Musa ditaruh di samping tabut Tuhan sebagai saksi atas kesalahan
Israel (Ulangan 31:24-26; Keluaran 24:7).
-
Yosua menulis sebuah
kitab yang melanjutkan kitab Taurat (Yosua 24:26).
-
Samuel menulis
sebuah kitab, lalu ditaruh di hadapan Tuhan ( 1 Samuel 10:25).
-
Allah menggerakan
orang lain untuk melanjutkan mencatat, misalnya:
Kisah Daud oleh Nathan
dan Gad (1 Tawarikh 29:29)
Kisah Salomo oleh: Nathan, Ahia, Ido (2 Tawarikh
9:29)
-
Banyak mazmur yang
ditulis oleh Daud, dan kitab nabi-nabi yang memakai nama nabi-nabi
tersebut.
-
Dalam Yeremia
36:1-32 menceritakan Yeremia setelah bernubuat selama 23 tahun, baru
diperintahkan Allah untuk menuliskannya. Setelah ditulis, kemudian dibacakan
di hadapan raja Yoyakim. Tetapi raja membakar gulungan tulisan
tersebut.
Kemudian Allah menggerakkan Yeremia untuk menulis lagi dan
memberikan Yeremia banyak berita lagi. Dalam Yeremia 36:25 ditulis ada
orang-orang yang memohon supaya raja jangan membakar gulungan tulisan
tersebut. Ini menunjukkan bahwa mereka percaya gulungan tulisan tersebut
adalah Firman Allah.
-
Ketika Israel
ditawan ke Babilonia, mereka membawa serta kitab Taurat.
Sebab Ezra
menyelidiki Taurat di Babilonia dan membawa Taurat tersebut kembali ke
Yerusalem (Ezra 7:6,14; Nehemia 8:1-2). Yang dimaksudkan Taurat (the Book
of the Law) di sini diperkirakan adalah seluruh kitab PL yang telah
ditulis saat itu.
-
Diperkirakan Ezra
yang mengumpulkan semua kitab nabi-nabi paling akhir dalam PL dan
menyatukannya menjadi kanon yang paling lengkap pada tahun 400 SM.
-
Sekitar tahun 200
SM (sekitar 280-150 SM), PL terjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang disebut
Septuaginta. Penterjemahan ini dilakukan di Mesir. Pada waktu itu banyak orang
Yahudi yang tinggal di Mesir. Fakta bahwa pada waktu itu PL telah
diterjemahkan, berarti bahwa kanon PL telah lengkap dan semua kitab itu
diterima sebagai Alkitab.
Pembagian Kitab dalam PL
sesuai kanon:
Taurat
Terdiri dari 5 kitab:
Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, Ulangan. Disebut juga Kitab Pentateuch
(artinya lima volume). Penulisnya adalah Musa. Kitab Kejadian membicarakan
permulaan dari segala sesuatu. Keempat kitab yang lain membicarakan hal
permulaan bangsa Israel, sebuah bangsa yang dipilih Allah untuk menyatakan karya
keselamatan-Nya bagi seluruh dunia.
Sejarah
Terdiri
dari 12 kitab: Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2
Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester. Membicarakan
tentang jatuh bangunnya bangsa Israel selama kurun waktu sekitar 1000
tahun:
-
Israel menduduki
Kanaan.
-
Kebimbangan Israel di
masa hakim-hakim.
-
Kebangkitan Israel di
masa Saul, Daud dan Salomo.
-
Kerajaan Israel yang
terpecah setelah Salomo wafat: Kerajaan Utara, runtuh tahun 722 SM; dan
Kerajaan Yehuda, runtuh sekitar seabad setelah itu. Tiga kitab terakhir (Ezra,
Nehemia, dan Ester) mencatat sejarah kaum Israel yang tersisa setelah masa
pembuangan di Babilonia.
Nyanyian
Terdiri dari 5 kitab: Ayub, Mazmur,
Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Mereka disebut kitab nyanyian/puisi karena
bentuk tulisannya memang demikian. Ciri khusus kitab puisi Ibrani adalah
'sense rhythm' atau pengulangan gagasan.
Nubuatan
Terdiri dari:
-
5 kitab nabi besar:
Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel.
-
12 kitab nabi kecil:
Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai,
Zakaria dan Maleakhi.
Para nabi
ini muncul untuk menyuarakan Firman Tuhan, khususnya di masa pemberontakan, masa
kemunduran dan jatuhnya kerajaan Israel dan Yehuda. Para nabi menyatakan tentang
penghakiman dan pemulihan bagi dua kerajaan tersebut (Kerajaan Utara dan
Yehuda).
Setelah Kitab Maleakhi, di
antara PL dan PB (Perjanjian Baru), menjelang kelahiran Kristus, ada masa dimana
Allah diam (tidak ada inspirasi) selama 400 tahun.
Kanon Perjanjian Baru (PB)
Setelah Tuhan Yesus naik ke
surga, belum sebuah kitab pun ditulis mengenai diri dan ajaran-Nya, karena belum
dirasa perlu – para saksi mata utama masih hidup. Jadi Injil masih dalam bentuk
verbal, lisan; dari mulut ke mulut, oleh para rasul.
Seiring
dengan berjalannya waktu, jumlah para saksi mata dan para rasul berkurang, dan
semakin banyak ancaman pemberitaan ajaran-ajaran sesat. Pada masa itu banyak
ditemukan tulisan-tulisan yang bercorak rohani, yang sebenarnya bukan Firman
Allah. Oleh karena itu gereja merasakan pentingnya ditentukan kitab-kitab mana
sajakah yang dapat diakui berotoritas sebagai Firman Allah. Kemudian para rasul
mulai menuliskan surat-suratnya untuk para jemaat, lalu perlahan-lahan dibuat
salinan surat-surat itu untuk berbagai gereja dan salinan itu dibacakan dalam
pertemuan gereja (Kolose 4:16;
1 Tesalonika 5:7, Wahyu 1:3). Tulisan-tulisan
ini diinspirasikan oleh Allah (2 Petrus 1:20-21; Wahyu 22:18; Efesus
3:5).
Pada waktu yang bersamaan, ada orang-orang yang menulis kitab-kitab
tentang Yesus dan surat-surat ke gereja-gereja, yang tidak termasuk kanon.
Lambat- laun gereja-gereja mulai jelas mengenai kitab-kitab mana yang
diinspirasikan oleh Roh Kudus.
Pada abad ke 2 kanon PB telah
lengkap. Hal ini kita ketahui dari:
-
The
Old Syriac – terjemahan PB pada abad kedua dalam bahasa Syria. Semua kitab
ada, kecuali: 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, dan
Wahyu.
-
Justin Martyr
pada tahun 140 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filipi dan 1
Timotius.
-
The
Old Latin – sebuah terjemahan sebelum tahun 200 M. Terkenal sebagai
Alkitab dari gereja Barat. Semua PB ada, kecuali Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan
2 Petrus.
-
The Muration
Canon pada tahun 170 M. Semua PB ada, kecuali: Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2
Petrus (sama dengan The Old Latin).
-
Codex
Barococcio pada tahun 206 M. Semua kitab PL dan PB ada, kecuali: Ester dan
Wahyu.
-
Polycarp pada
tahun 150 M pernah mengutip: Matius, Yohanes, sepuluh surat Paulus, 1 Petrus,
1 Yohanes dan 2 Yohanes.
-
Irenaeus
(murid Polycarp) pada tahun 170 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filemon,
Yakobus, 2 Petrus, dan 3 Yohanes.
-
Origen pada
sekitar tahun 230 M menulis daftar kitab-kitab PB, sebagai berikut: ke-4
Injil, Kisah Para Rasul, ke-13 surat-surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan
Wahyu.
-
Eusebius di
awal abad ke 4 menyebut semua kitab PB.
-
Pada tahun
367 M dalam Festal Letter yang ditulis oleh Athanasius, Bishop
Alexandria, mencantumkan daftar 27 kitab-kitab PB.
-
Jerome pada
tahun 382 M, Ruffinua pada tahun 390 M dan Augustine pada tahun 394 M mencatat
kanon PB sebanyak 27 kitab.
-
Akhirnya pada
tahun 397 M, konsili gereja di Carthago mengesahkan 27 kitab
PB.
Gereja
sebagai persekutuan orang-orang yang ditebus, yang beriman sungguh-sungguh di
dalam Kristus bukan menentukan atau menciptakan kanon, tetapi gereja hanya
mengesahkan kitab-kitab yang memiliki tanda kanonitas dan karena itu kitab-kitab
tersebut memiliki otoritas dalam gereja.
Pembagian kitab
dalam PB sesuai kanon:
Injil
Terdiri dari empat kitab: Matius, Markus,
Lukas, dan Yohanes. Mencatat tentang kehidupan dan pelayanan Yesus selama di
dunia. Matius menekankan Yesus sebagai raja, Markus menekankan Yesus sebagai
hamba, Lukas menekankan Yesus sebagai manusia, Yohanes menekankan Yesus sebagai
Anak Allah. Meskipun keempat penulis mempunyai penekanan yang berbeda-beda,
tetapi tulisan-tulisan mereka satu dengan yang lain tetap
harmonis.
Sejarah
Terdiri dari satu kitab, yaitu Kitab Para
Rasul. Mencatat perkembangan kekristenan setelah kenaikan Yesus.
Surat-surat
Terdiri dari:
-
14 surat
Paulus: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1
Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, dan
Ibrani.
-
7 surat
bukan dari Paulus : Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3
Yohanes, dan Yudas.
Kitab Apokaliptik
Terdiri satu kitab, yaitu
Wahyu. Kitab ini merupakan kitab terklimaks dalam Alkitab, memberi kita gambaran
mengenai masa yang akan datang dan penggenapan sejarah pada saat kedatangan
Kristus yang kedua kali sebagai Hakim yang Agung.
Alkitab (PL dan PB) sebagai Firman
Allah
Alkitab adalah Firman Allah, oleh karena
itu Alkitab memiliki beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab
manapun:
Berkuasa
Alkitab berkuasa dan memiliki wibawa
tertinggi bagi kehidupan manusia. Alkitab menyatakan apa yang benar dan salah
secara mutlak, sehingga manusia wajib mempercayai dan
mengikutinya.
Cukup
Alkitab cukup untuk
menyatakan kehendak Allah kepada manusia sesuai dengan yang Allah nyatakan.
Alkitab tidak perlu ditambah atau dikurangi. Tidak ada kitab lain yang memiliki
nilai otoritas dan kuasa yang setara dengan Alkitab. Tidak ada ayat di dalam
Alkitab yang boleh dibuang dan dinyatakan tidak berlaku sampai akhir dunia
ini.
Tidak bisa khilaf (infallible)
Karena
Alkitab merupakan Firman Allah yang dituliskan melalui pengilhaman Roh Kudus,
maka Alkitab tidak bersalah sedikit pun (tidak mungkin menyesatkan/khilaf) dalam
maksud dan ajarannya.
Tidak bisa salah (inerrancy)
Alkitab tidak
bisa salah karena bukan produk manusia. Alkitab diilhamkan oleh Allah yang Maha
Benar sendiri dan Roh Kudus turut berperan dalam penulisannya. Karena itu
Alkitab tidak bisa salah dalam ajaran, maksud dan juga kalimat-kalimatnya (baik
secara geografis, historis, maupun teologis). Pemahaman ini khususnya menunjuk
pada setiap huruf pada naskah asli Alkitab, yang tidak bersalah hingga detil
terkecil.
Sumber:
-
Trivena
Ambarsari, Bibliologi – Doktrin Alkitab, Momentum.
-
Miriam Santoso S.
Th, Bibliologi – Pengantar Alkitab, Seminari Alkitab Asia Tenggara
Malang
-
J. Wesley Brill,
Dasar Yang Teguh , Kalam Hidup