Awang Satyana
Thu, 11 Dec 2008 17:01:03 -0800
Pak Elan, rekan saya di BPMIGAS, yang sedang berada di Luwuk, Banggai (Lengan
Timur Sulawesi) bersama 14 rekan2 Divisi Eksplorasi BPMIGAS termasuk beberapa
ahli geologi/dosen dari PSG (Pusat Survey Geologi) dan UPN, mengirimkan sms
subuh tadi pukul 05.00 WIB bahwa mereka baru saja digoyang gempa.
Rekan-rekan kami berada di sana sejak awal minggu ini dalam rangka melakukan
"Ekspedisi Banggai" -suatu kegiatan lapangan yang dirancang untuk mempelajari
deformasi hasil benturan antara micro-terrane dan implikasinya kepada sistem
hidrokarbon. Di wilayah itu, sejak Miosen Atas, mikro-kontinen Banggai telah
membentur Lengan Sulawesi Timur yang disusun oleh ofiolit. Benturan ini telah
membuat deformasi imbrikasi-duplex yang sangat ketat. Tetapi, benturan ini
telah membentuk foreland basin Banggai yang produktif dan telah mulai
menghasilkan minyak sejak tiga tahun yang lalu (Lapangan Tiaka - JOB
Pertamina-Medco Tomori). Lapangan gas telah ditemukan beberapa (Donggi, Senoro,
Matindok, sedang dikembangkan untuk diproduksikan), temuan-temuan eksplorasi
lainnya cukup menggembirakan.
Luwuk-Banggai adalah tempat terbaik dan paling mudah dicapai untuk mempelajari
tektonik benturan (collision tectonics) dan implikasinya kepada hidrokarbon.
Untuk itulah tim Ekspedisi Banggai BPMIGAS pergi ke sana.
Tentang gempa pagi tadi, memang wilayah ini sudah langganan digoyang gempa,
baik akibat reaktivasi sesar Sula-Sorong yang berdivergensi menjadi beberapa
cabang sesar saat memasuki Sulawesi Timur, maupun oleh sesar dextral Gorontalo
yang mendekati Sulawesi Timur dari arah baratlaut. Gempa tadi pagi berhubungan
dengan Sesar Gorontalo.
Di bawah ada detail data gempa berdasarkan release terbaru USGS. Momen tensor
solution-nya menunjukkan bahwa gempa ini berhubungan dengan sesar mendatar
dengan komponen sesar naik berjurus 85 BT dan kemiringan 79.
Plotting episentrum gempa pada peta tektonik menunjukkan bahwa gempa ini duduk
di atas perpanjangan offshore Sesar Gorontalo, sebuah sesar mendatar dextral
yang untuk pertama kalinya diajukan keberadaannya oleh Katili (1969).
Keberadaan gempa ini tentu mengkonfirmasi pemikiran Pak Katili alm. tersebut.
Walaupun gempa berlokasi di laut, fokus gempa dalam, magnitudenya tak terlalu
besar, dan pematahannya bukan murni dip-slip, sehingga kemungkinan tidak
disertai tsunami.
Beberapa tahun ke depan, diperkirakan wilayah ini akan diramaikan oleh kegiatan
eksplorasi hidrokarbon, beberapa blok telah dirancang Ditjen Migas di perairan
Teluk Tomini ini. Masalah gempa nantinya harus menjadi pertimbangan juga dalam
setiap kegiatan eksplorasi-produkai hidrokarbon sebab wilayah ini termasuk
wilayah aktif gempa.
salam,
awang
LAMPIRAN
Earthquake Details
Magnitude
6.0
Date-Time
Thursday, December 11, 2008 at 21:40:54 UTC
Friday, December 12, 2008 at 05:40:54 AM at epicenter
Time of Earthquake in other Time Zones
Location
0.112°N, 123.435°E
Depth
143.8 km (89.4 miles)
Region
MINAHASA, SULAWESI, INDONESIA
Distances
60 km (40 miles) SE of Gorontalo, Sulawesi, Indonesia
220 km (135 miles) SW of Manado, Sulawesi, Indonesia
1620 km (1010 miles) S of MANILA, Philippines
1980 km (1230 miles) ENE of JAKARTA, Java, Indonesia
Location Uncertainty
horizontal +/- 6.3 km (3.9 miles); depth +/- 3.8 km (2.4 miles)
Parameters
NST=261, Nph=366, Dmin=699.1 km, Rmss=0.99 sec, Gp= 22°,
M-type=regional moment magnitude (Mw), Version=6
Source
USGS NEIC (WDCS-D)
Event ID
us2008alb2