id-gmail  

[ig] 1 ONS BUKAN 100 GRAM

Bi[G]
Mon, 25 Apr 2005 01:15:17 -0700

*1 ONS BUKAN 100 GRAM.* 

  PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir 
tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, 
yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang 
pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses 
pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, 
takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound 
dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 
pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia 
terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang 
waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang 
menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa 
menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons(bukan ditulis 
ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk 
tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional 
tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini 
kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di 
Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun 
telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. 
Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem 
Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran 
berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan *Ons bukanlah bagian 
dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons 
ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan 
(bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1   pound = 
500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal* atau 
pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 
gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak 
pernah dikenal adanya satuan ONS khusus **Indonesia**.* Jadi, hal ini adalah 
suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku 
sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan 
salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan 
menyesatkan.

Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran 
akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi 
pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan 
dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan 
bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun 
menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam 
didalam otak anak kita sejak usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang 
diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan 
seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan 
koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk 
resmi. 

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita 
jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada 
para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak 
menjadi beban psikologis bagi mereka ; 

*"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan 
secara internasional , yang menyatakan bahwa : *

*1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?*

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini 
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? 

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain 
Indonesia   berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?

Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit  buku 
pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?

Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru*  ini, 
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian 
satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat 
sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru inipun harus 
diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada 
anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya 
adalah 1 ons *(Depdiknas)* = 100 gram dan 1 pound *(Depdiknas)* = 500 gram. 
? Bagaimana "Ons dan Pound *(Depdiknas)*" ini dimasukkan dalam sistem metrik 
yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang 
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak 
kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh 
kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku 
luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. 

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah 
nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan. 

Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal 
ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. 
Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. 

Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, 
Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat 
Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita 
ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. 

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita 
harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, 
materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal 
kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. 
Janganlah malah diperberat dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal 
menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan 
standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang 
rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. 
Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti 
harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. 

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai 
upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan 
tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan 
juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. *(maaf, ini bukan 
promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.

Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai 
dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan 
oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

*Salah satu* konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara 
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz). 
  
1 ounce/ons/onza  =  28,35 gram *(bukan 100 g.)*

1 pound           =  453 gram *(bukan 500 g.)*

1 pound           =  16 ounce *(bukan 5 ons)*

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep 
obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. 
Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? 
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau 
malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (*ini hanya 
gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian 
sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)*

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan 
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan 
juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons  dan 
pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang 
dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan 
disertai kejelasan asal-usul serta *rumus konversi yang benar*. Hal ini 
untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang 
bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.

*# # # # # *

   *Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun 
elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. 
Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-
masing.*

*Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, 
untuk diketahui secara luas.*

* Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan 
kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak / 
difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.*

* *

*Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya 
langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota 
anda berada. *

* *

*Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi 
menyelamatkan masa depan anak-anak **Indonesia**. Semoga Tuhan memberkati 
upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.*

* *

*# # # # #*

* *

* *

*Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila.*

*Ditengah orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila.*

* *

*Memang banyak orang yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang diikuti 
banyak orang itulah yang pasti dan selalu benar.*


LEMBAR PELENGKAP

TAKAR - UKUR - TIMBANG MENGIKUTI

SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN *1799*.

   *Kuantitas*

*Satuan*          *Simbol*        *Keterangan*

Panjang            meter           m  bukan mtr.

Luas               meter persegi   m2

Isi / volume       meter kubik     m3 

Berat              gram            g  bukan gr.

Takaran            liter           l    1 l = 1000 cm3 (cc)

Suhu / temperatur   derajat Celcius  oC

BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK

AWALAN    FAKTOR PENGALI   SIMBOL / SINGKATAN   CONTOH PEMAKAIAN

giga            1.000.000.000             G                               GHz. 

mega             1.000.000                             M              
                MW

kilo              1.000                                    k          
                    km

hecto             100                                       h         
                      ha

deka                10                                         da     
                        dam

deci                 0,1                                        d     
                           dm

centi               0,01                                      c       
                          cm

milli                0,001                                   m        
                          ml

micro                 0,000.001                           *m*         
                     mF

dan seterusnya.

Dalam sistem metrik memang dikenal *1 are = 100 m2* khusus untuk ukuran 
tanah yang diakui sah secara internasional.

*Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang 
mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik maupun 
non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara internasional. *

*# # # # #* 

  *RANGKUMAN SARAN-SARAN, KRITIK DAN KOMENTAR*

  *1. *Banyak orang berpendapat bahwa ONS kita ini tidak ada kaitannya sama 
sekali dengan OUNCE.

* *

a. Kalau kita baca kamus-kamus Inggris-Indonesia dan sebaliknya, jelas bahwa 
terjemahan "ounce adalah ons" dan "pound adalah pon" begitu pula sebaliknya 
dari Indonesia-Inggris. Bahkan ada beberapa kamus yang menterjemahkan "ounce 
menjadi ons, berat 100 gram." Tetapi ada juga yang menterjemahkan "ons, 28,3 
gram".

*Nara** sumber : Jumlah : 2 orang *

*Profesi : Guru dan Dosen Bahasa Inggris. *

b. Beberapa guru berpendapat bahwa kata "ons" jelas bukan asli bahasa 
Indonesia, karena bahasa Indonesia hanya mengenal 2 konsonan rangkap, yaitu 
"ng" dan "ny". Tidak ada konsonan rangkap "ns". Contoh : "Helm" kalau di 
Indonesiakan menjadi "helem". Kalau "ons" tidak bisa dijadikan "ones" 
tentu karena menyangkut suatu acuan yang harus dilafalkan secara benar, 
sama seperti "gram" yang tidak boleh ditulis menjadi "geram".

*Nara** sumber : Jumlah : 2 orang *

*Profesi : Guru Bahasa **Indonesia**.*

c. Beberapa orang lanjut usia yang cukup terpelajar membenarkan bahwa "ons 
dan pound" itu bawaan Belanda, bukan asli Indonesia, karena sudah dipakai 
sebelum Indonesia merdeka dan diajarkan juga disekolah HIS maupun HCS *(masih 
jaman penjajahan)*. 

Beberapa diantara mereka ingat bahwa acuan konversi yang diterapkan di 
Indonesia tidak sama dengan yang diterapkan di Belanda.

*Nara** sumber : Jumlah : 7 orang. Usia : 77 s/d. 87 tahun. *

*Pendidikan terendah : HCS / HIS. *

*Pendidikan tertinggi : Sarjana*

*Profesi terakhir : Guru, Kontraktor, Dokter, Pendeta, PN.*

*2.* Acuan internasional yang menyatakan 1 ons = 100 gram , 1 pound = 500 
gram jelas-jelas tidak pernah ada. 

Bahkan Acuan nasional (kalaupun ada dulu-dulunya) tidak bisa / tidak boleh 
dipergunakan lagi semenjak diundangkannya UU no.2 tahun 1981 tentang 
Metrologi Legal, yang mencabut dan membatalkan Ijkordonnantie
1.049   Staatsblad nomor 175.

*Nara** sumber : Jumlah : 1 orang.*

* Profesi : tidak dikenal.*

*3.* Penerbit tidak seharusnya dimintai pertanggung-jawaban karena semua 
materi kurikulum yang harus dibukukan telah mendapat persetujuan terlebih 
dulu dari Dep. Pendidikan.

*Nara** sumber : Jumlah : 1 orang.*

* Profesi : Pengusaha.*

* *

* *

*4.* Tidak perlu memperlebar masalah / mendramatisir dengan timbangan versi 
depdiknas dan sebagainya. Yang penting bagaimana kesalahan ini bisa segera 
diakhiri.

*Nara** Sumber : Jumlah : 1 orang.*

* Profesi : tidak dikenal.*

*5.* Terkejut dan syok berat tapi Setuju bahwa kita harus menghentikan 
kebiasaan salah selama ini dan membiasakan diri menggunakan Sistem 
Internasional yang berlaku. Perlu pengumuman resmi dari pemerintah dan 
penyuluhan masyarakat melalui instansi yang berwenang. 

*Nara** sumber : Jumlah : lebih dari 100 orang.*

* Profesi : Guru, Dosen, Karyawan, Mahasiswa, Dokter.*

*6.* Para guru tidak bisa dipersalahkan karena mereka hanya melaksanakan 
apa yang telah menjadi kebijakan nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh 
Dep. Pendidikan.

*Nara** sumber : Jumlah 14 orang.*

* Profesi : Guru, Ibu Rmh.Tangga, Karyawan. *

* *

*7.* Di dalam Dep. Pendidikan ada bagian yang khusus melakukan Penelitian, 
Pengkajian dan Pengembangan. Kalau ini benar-benar suatu kesalahan, .. .*(hanya 
geleng-geleng kepala)*

*Nara** sumber : Jumlah : 1 orang*

* Profesi : Dosen.*

*8.* Bukankah semua pegawai Dir. Metrologi memiliki anak yang juga sekolah 
di Indonesia ? Mengapa diam saja ?

*Nara** sumber : Jumlah : 1 orang.*

* Profesi : Kep. Sekolah*

...
 


-- 
Bi[G]
http://www.adypermadi.com
Y!:br4ind4m4ge
Gmail:[EMAIL PROTECTED]
I have blog now!!!: http://blog.adypermadi.com
----------------------------------------