Andika Triwidada
Tue, 12 Jul 2005 11:40:44 -0700
karena sebelum sempat 'ngga bisa bayar kuliah' sudah di DO dulu? :p On 7/12/05, Aldi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > no comment ah ... :P > gue juga ngga tau gimana, soalnya pas gue masuk > belum ada tuh yang namanya uang pangkal atau semacamnya itu ... > seinget gue sih gue cuma bayar 200k, ditambah uang semester satu 1750k, > itu doang. > > gue yakin pasti ada jalannya, > seperti yang jefri bilang, belum pernah ada mahasiswa UI yang diDO gara-gara > ngga bisa bayar kuliah ;) > > On 7/12/05, mbah dukun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ================================================================================= > > > > Ini email dari salah seorang teman dari UI, sebuah refleksi pendidikan > > Indonesia... > > > > "Kak, saya berasal dari pekanbaru.Saya diterima di fasilkom UI dan saat > > registrasi saya harus membayar uang masuk 35 juta .Kedua orang tua saya > > hanya > > pegawai negeri biasa, sedangkan bantuan dari pemda yang dijanjikan tidak > > datang - datang. Saya 4 bersaudara, dan kakak adik saya yang lain masih > > sekolah juga. Saya bingung dengan besarnya biaya yang harus ditanggung > > untuk > > masuk UI". > > > > Kata - kata diatas bukanlah karangan saya. Inilah kalimat yang keluar dari > > seorang mahasiswa baru UI angkatan 2005 yang baru saja diterima melalui > > jalur > > PPKB (Program Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar) yang berasal dari > > riau.Senada dengan beliau diatas, teman - temannya sesama mahasiswa baru > > angkatan di asrama UI yang berasal dari fakultas lainnya mengungkapkan > > keluhannya yang sama mengenia beratnya biaya masuk kuliah di UI.Memang > > secara > > umum jalur khusus PPMM (Program Prestasi Minat Mandiri) yang sempat heboh > > karena uang masuknya yang gila - gilaan (50 - 60 jt) sudah ditutup tahun > > ini. > > Tap tetap saja berlaku penarikan uang pangkal yang tahun lalu bernama > > admission fee, yang besarnya berbeda - beda. FK, FKG, FT, dan Fasilkom > > menduduki urutan jumlah uang pangkal tertinggi yakni Rp 25 jt yang harus > > dibayar di awal. Sedangkan FE sekitar 10 jt, dan FIB "hanya" 5 jt. Kampus - > > kampus lainnya pun mempunyai nilai uang pangkal yang beragam. > > > > Uang pangkal memang bukan barang baru di UI.Tahun lalu uang pangkal ini > > bernama "admission fee" dengan besar yang sama, dan sempat ditentang habis > > oleh mahasiswa UI yang menutup separuh jalan UI selama kurang lebih 6 jam. > > tetapi kebijakan ini tetap saja berlaku hanya ganti nama. Yang lebih ironis > > adalah tidak adanya penyeimbang dari pihak birokrat kampus (rektorat dan > > dekanat) dalam hal keringanan. Dari hasil diskusi saya dan beberapa teman - > > teman angkatan 2004 dan 2005, terungkap bahwa proses wawancara keringanan > > uang pangkal kemarin jadi ajang tawar dan tekan. Tawar dalam arti si > > mahasiswa ditawar agar tetap membayar biaya operasional pendidikan dan uang > > pangkal. Untuk BOP (sebesar 1,5 jt) misalnya.Di FKM terungkap bahwa minimal > > BOP harus dibayar minimal Rp 500 ribu, dan tidak bisa sampai O rupiah.Di > > FKUI > > lebih parah lagi dimana BOP yang 1,5 jt itu harus dibayar penuh. Uang > > pangkal > > saja yang boleh dimintai keringanannya. Terlepas apakah si mahasiswa baru > > itu > > bawa uang berapa. Suatu hal yang benar - benar TIDAK ADIL.Tahun 2004 > > kemarin > > saja penulis masih menemukan kasus dimana seorang mahasiswa PPKB hanya > > membawa uang Rp 100 ribu untuk biaya makan saja. Dan saat itu kebijakan > > uang > > pangkal sudah berlaku.Tentu saja mereka tidak bisa dikenakan biaya > > seminimal > > apapun. Simak saja penuturan seorang maba FKUI jalur PPKB angkatan 2005 > > yang > > berasal dari Aceh.Untuk registrasi BOP dia wajib membayar sebesar 1,5 jt > > sementara uang pangkal sebesar 25 jt bisa dinego. Padahal di daerahnya dia > > adalah salah satu orang yang tertimpa bencana Tsunami. Dimana hati nurani > > rektorat UI terhadap hal ini ? > > > > Yang lebih bikin saya prihatin dan marah lagi adalah, ada beberapa kasus > > wawancara dimana si mahasiswa baru ditekan untuk membayar dengan nilai > > tertentu seperti yang diperoleh di FT. Untuk FISIP pembayaran uang pangkal > > ditunda sampai tgl 13 Juli baru ada proses wawancara. Dan selama itu banyak > > maba yang khawatir mengenai bagaimana dia bisa membayar biaya uang pangkal > > di > > FISIP (yang kalau tidak salah sekitar 5 juta). > > > > Singkat kata dari semua kasus diatas adalah, pihak birokrat kampus belum > > bisa > > adil dan transparan dalam melakukan keringanan. > > > > Memang ada beberapa kejanggalan dan keanehan yang terjadi saat keringanan > > tahun ini. Pertama - tama saat audiensi lembaga - lembaga kemahasiswaan > > dengan rektorat disebutkan bahwa pada tanggal 6 juli kemarin hanya uang BOP > > yang ditarik, tetapi uang pangkal tidak. Kenyataannya uang pangkal juga > > tetap > > ditarik, bahkan mesin teller BNI yang disiapkan di balairung tidak mau > > memproses jika baik uang pangkal maupun BOP belum dibayarkan.Yang kedua > > adalah wawancara keringanan dilakukan di fakultas - fakultas.Alasannya > > karena > > uang pangkal besarnya berbeda - beda tergantung fakultas, jadi biar > > fakultas > > yang mengurus keringanan itu.Maksud yang baik sebenarnya sekaligus untuk > > mempercepat proses keringanan ketimbang dilakukan di pusat. Tetapi yang > > terjadi adalah tiap fakultas bikin prosedur sendiri - sendiri sehingga > > tidak > > terstandarisasi dengan baik dan timbul kesan bahwa fakultas menjadi raja - > > raja kecil dalam memutuskan keringanan. > > > > Yang ketiga adalah adanya sistem aneh dalam prosedur keringanan tahun > > ini.Sistem itu adalah sistem softloan atau bisa diartikan sebagai pinjaman > > lunak.Disini mahasiswa yang tidak mampu membayar biaya bukan diberi > > keringanan berupa pemotongan atau keringanan mencicil. Tetapi diberikan > > pinjaman oleh fakultas berupa pinjaman yang nanti harus mereka kembalikan > > lagi.Bagi saya pribadi ini bukan keringanan.Softloan hanya memperpanjang > > napas si mahasiswa baru saat awal saja. Selebihnya dia harus pusing lagi > > untuk mengganti pinjaman yang sudah diberikan oleh birokrat > > kepadanya.INIKAH > > KERINGANAN ??? ADILKAH INI ???? > > Yang terakhir.Memang jalur khusus PPMM sudah ditutup. Tetapi seperti > > admission fee yang "ganti baju" menjadi uang pangkal, bentuk jalur khusus > > masih ada walaupun hanya di dua fakultas. Yakni Program Pendidikan Dokter > > Daerah (PPDD) di FKUI dan program Pengembangan SDM Daerah Bidang Teknologi > > Informasi atau disingkat PEDATI di Fasilkom UI. Kedua jalur ini menerima > > anak - anak daerah dengan pembiayaan dari PEMDA setempat tapi dengan harga > > lebih tinggi. Untuk PEDATI di Fasilkom misalnya, uang pangkal anak - anak > > PEDATI berjumlah Rp 35 jt sedangkan untuk yang PPKB biasa Rp 25 jt. Lalu > > BOP > > semester untuk anak - anak PEDATI berjumlah Rp 5 jt sedangkan untuk yang > > biasa Rp 1,5 jt. PPDD sudah dibuka di FK sekitar 3 tahun lalu sedangkan > > PEDATI baru tahun ini. Yang membuat saya prihatin adalah rupanya untuk anak > > - > > anak PEDATI mereka hanya dibiayai oleh PEMDA untuk uang pangkal awal saja > > yang berjumlah Rp 35 jt itu. Sedangkan untuk BOPnya setiap semesternya > > berasal dari kantong si maba sendiri. > > > > Penulis hanya bisa geleng - geleng kepala saja. Penulis juga adalah > > mahasiswa > > UI yang diterima dari jalur PPKB dan berasal dari Papua. Tetapi saat itu > > keadaan registrasi tidak separah ini. Seharusnya rektorat harus bisa lebih > > arif dalam melihat kondisi dan strata ekonomi maba yang ada.Kondisi > > psikologis si maba yang harus membayar jumlah besar di awal tidak pernah > > diperhatikan. Sehingga jadilah si maba tertekan. Misal seorang maba FEUI > > 2005 PPKB yang mengaku karena takut dia setuju untuk membayar uang pangkal > > Rp > > 10 jt di depan interviewer padahal saat ngobrol dengan penulis dia mengaku > > tidak bisa membayar sebesar itu dan minta bantuan kalau uang pangkal yang > > harus dia bayarkan bisa dikurangi lagi. Dengan evaluasi 2 tahun ini sudah > > saatnya rektorat mengevaluasi program uang pangkal dan menghapuskannya > > sejauh > > mungkin dari muka bumi kampus makara UI. Buang jauh - jauh paradigma bahwa > > maba berpura - pura dalam proses keringanan dan mereka hanya bohong saja. > > Bukti apa lagi yang perlu diberikan sehingga rektorat bisa tahu bahwa > > mahasiswa baru UI masih banyak yang mampu secara intelektual tetapi tidak > > mampu secara finansial. Haruskah satu persatu mahasiswa kampus ini > > mengundurkan diri karena tidak mampu membayar kuliah dan dengan ongkang - > > ongkang kaki rektorat berbicara "tenang - tenang, yang miskin bisa masuk UI > > kok". Segala kebijakan diskriminasi finansial sudah seharusnya dihapuskan, > > baik itu bernama uang pangkal, admission fee, PPMN dan lain sebagainya. > > Masih > > banyak pengusaha - pengusaha yang peduli terhadap dunia pendidikan dan mau > > menyumbang. Dan sebagai universitas yang katanya ining berbasis riset, UI > > seharusnya bisa mengembangkan risetnya untuk menghasilkan paten - paten > > bermutu. Bukan malah jadi "centeng" di depan meja wawancara. Ingat sampai > > sekarang masih tertulis dengan indah dan agung di UU Sisdiknas No. 20 tahun > > 2003 bahwa pemerintah berkewajiban memberi anggaran minimal 20% untuk > > pendidikan. Realisasinya mana ??????? > > > > Tanggal 5 Agustus nanti akan diumumkan mahasiswa yang diterima di UI lewat > > PPKB. Semoga rektorat tidak mengulangi kesalahan saat ini. Hapus semua > > bentuk - bentuk penarikan dan berikan keringanan yang berhak. Buktikan > > bahwa > > UI adalah kampus rakyat yang memihak kepentingan rakyat yang cerdas tetapi > > tidak mampu. Jangan jadi kampus menara gading yang mendidik orang dengan > > pikiran kapitalis.Jika hal ini terjadi maka saat saya wisuda nanti secara > > pribadi saya akan ikut menyanyikan lagu mars UI yang membanggakan itu. > > Tetapi > > dengan lirik plesetan yang selalu kita nyanyikan saat aksi pendidikan > > > > Universitas Indonesia, Universitas Borju > > Ngaku Negeri Statusnya, Ternyata Mahal Bayarannya > > Kami Mahasiswa, Penyandang Dana > > Orang Miskin dan Tak Mampu Gak Bisa Kuliah > > > > M. Rizki "Sorong" Ramadhani > > Fakultas Teknik Jurusan Elektro UI > > Ketua Komisi Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Transparansi Keuangan Kampus > > Majelis Permusyawaratan Mahasiswa UI 2005 - 2006 > > > > > > > -- > aldi, aldi.kriwil.com > -- .''`. Andika Triwidada <[EMAIL PROTECTED]> : :' : just another Debian admin `. `'` http://andika-lives-here.blogspot.com/ `- Debian - when you have better things to do than fixing a system