idakrisnashow  

Ida Arimurti Jika Ibu Harus Kembali Bekerja

Ida arimurti
Wed, 21 Feb 2007 16:57:56 -0800

Jika Ibu Harus Kembali Bekerja 

 

Cuti melahirkan hampir habis. Anda pun harus bersiap-siap meninggalkan si
kecil di rumah untuk kembali bekerja. Bagi kebanyakan ibu bekerja hal ini
memang tidak mudah, bahkan mungkin sangat sulit dilakukan. Berbagai perasaan
berkecamuk. Di satu sisi, Anda sudah harus kembali bekerja atau tak sabar
kembali mengaktualisasi diri dan berinteraksi dengan dunia luar. Namun di
lain sisi, perasaan ingin tetap bersama si kecil untuk memastikan ia
mendapatkan perawatan terbaik dan perhatian sering mengganggu pikiran. Belum
lagi rasa bersalah harus meninggalkan si kecil di rumah. 

Mengatur agar keduanya berjalan baik memang akan menjadi tantangan bagi ibu
bekerja. Namun, dengan perencanaan, komitmen dan niat yang kuat, Anda pasti
bisa mengatasinya. 

 

Sebelum kembali bekerja 

 

  a.. Cari pengasuh yang dapat diandalkan. Inilah keputusan penting dan
menjadi prioritas utama bagi ibu yang akan kembali bekerja, karena dapat
membantu memberikan rasa tenang saat meninggalkan si kecil di rumah.
Pilihannya bisa beragam, mulai sang nenek, saudara, baby sitter, atau
menyerahkan pengasuhan pada lembaga penitipan anak terpercaya. 

 

  b.. Bicaralah dengan atasan Anda mengenai tugas dan jadwal Anda saat
kembali bekerja. Jadi saat bekerja Anda pun sudah tahu tahu persis apa yang
diharapkan oleh atasan. 

 

Saat waktu bekerja tiba 

 

  a.. Be organized! Bekerja dan mengasuh anak menuntut Anda untuk juga ahli
dalam manajemen waktu. Organisasikan semua tugas dan tanggung jawab Anda
dengan baik, agar tak ada satu hal pun yang tertinggal.

 

  b.. Jaga kedekatan dengan si kecil. Walaupun harus berada jauh di luar
rumah, pastikan Anda tetap berhubungan dengannya, misalnya dengan menelepon
si kecil untuk mengetahui apa yang sedang dia lakukan. Menurut Alan Greene,
MD, spesialis anak dari Lucile Packard Childrens Hospital, California, bayi
sudah dapat mengenali Anda sejak dalam kandungan dengan semua inderanya.
Karena itu, baju, foto dan rekaman suara Anda yang sedang bercerita juga
dapat menjadi alat yang efektif untuk membuat si kecil merasa dekat. 

 

  c.. Antisipasi bila si kecil sakit. Tanyakan pada atasan Anda mengenai
kemungkinan Anda bisa tidak masuk saat si kecil sakit. Jika tidak bisa,
mintalah suami atau keluarga dekat lain untuk menggantikan Anda menjaganya. 

 

  d.. Ada kalanya rasa sedih dan bersalah begitu mengganggu pikiran, karena
Anda tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan si kecil, cobalah untuk
membicarakannya dengan pasangan atau ibu lain yang menghadapi situasi
serupa. Tetapi jika perasaan ini semakin menjadi-jadi, segera konsultasikan
dengan ahli untuk mengatasinya.

 

  e.. Jangan paksa untuk melakukan semua hal sendiri. Buatlah sistem yang
membantu Anda melakukan beberapa tugas dengan bantuan suami, anggota
keluarga lain,atau pun pembantu. 

 

  f.. Luangkan waktu untuk diri sendiri. Walaupun sulit, Anda juga perlu
waktu untuk diri sendiri. Saat si kecil tertidur atau dijaga oleh pasangan,
manfaatkanlah waktu tersebut untuk sekedar berlama-lama di kamar mandi,
membaca buku atau mendengarkan musik kesayangan dan mengembalikan kesegaran
pikiran atau beristirahat. Karena bagaimanapun, jika pikiran Anda tidak
dipenuhi stres, Anda pun bisa menikmati waktu bersama di kecil dengan lebih
baik. 

 

  g.. Tetaplah memberikan ASI. Tak ada yang dapat menyangkal kehebatan
manfaat ASI bagi si kecil. Karena itu, berusahalah untuk tetap memberikan
ASI padanya walaupun Anda sudah bekerja. Walau tidak bisa sesering
sebelumnya, cobalah untuk menyusui si kecil waktu pagi atau malam hari.
Bonusnya, Anda dan si kecil dapat merasakan kedekatan yang terjalin selama
proses menyusui. Di luar itu, Anda dapat memompa ASI agar si kecil tetap
bisa meminumnya saat Anda tidak berada di rumah.

 

  h.. Jaga kesehatan dan rajin berolahraga. Olahraga membuat sirkulasi darah
menjadi lancar. Ini dapat mengurangi stres dan rasa penat tubuh. Pastikan
Anda memiliki pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan seimbang dan
bergizi. Kondisi kesehatan menjadi syarat mutlak bagi ibu berperan ganda.
Jika Anda sakit-sakitan bisa dipastikan semuanya akan terbengkalai. Urusan
anak dan rumah tak bisa dilakukan dengan baik, Anda pun akan sering minta
izin. Situasi bisa menjadi rumit dan mempengaruhi penilaian di kantor.

 

sumber : sahabat nestle

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]