Ida arimurti
Wed, 21 Feb 2007 17:03:17 -0800
Jika Ibu Harus Kembali Bekerja
Cuti melahirkan hampir habis. Anda pun harus bersiap-siap meninggalkan si
kecil di rumah untuk kembali bekerja. Bagi kebanyakan ibu bekerja hal ini
memang tidak mudah, bahkan mungkin sangat sulit dilakukan. Berbagai perasaan
berkecamuk. Di satu sisi, Anda sudah harus kembali bekerja atau tak sabar
kembali mengaktualisasi diri dan berinteraksi dengan dunia luar. Namun di
lain sisi, perasaan ingin tetap bersama si kecil untuk memastikan ia
mendapatkan perawatan terbaik dan perhatian sering mengganggu pikiran. Belum
lagi rasa bersalah harus meninggalkan si kecil di rumah.
Mengatur agar keduanya berjalan baik memang akan menjadi tantangan bagi ibu
bekerja. Namun, dengan perencanaan, komitmen dan niat yang kuat, Anda pasti
bisa mengatasinya.
Sebelum kembali bekerja
a.. Cari pengasuh yang dapat diandalkan. Inilah keputusan penting dan
menjadi prioritas utama bagi ibu yang akan kembali bekerja, karena dapat
membantu memberikan rasa tenang saat meninggalkan si kecil di rumah.
Pilihannya bisa beragam, mulai sang nenek, saudara, baby sitter, atau
menyerahkan pengasuhan pada lembaga penitipan anak terpercaya.
b.. Bicaralah dengan atasan Anda mengenai tugas dan jadwal Anda saat
kembali bekerja. Jadi saat bekerja Anda pun sudah tahu tahu persis apa yang
diharapkan oleh atasan.
Saat waktu bekerja tiba
a.. Be organized! Bekerja dan mengasuh anak menuntut Anda untuk juga ahli
dalam manajemen waktu. Organisasikan semua tugas dan tanggung jawab Anda
dengan baik, agar tak ada satu hal pun yang tertinggal.
b.. Jaga kedekatan dengan si kecil. Walaupun harus berada jauh di luar
rumah, pastikan Anda tetap berhubungan dengannya, misalnya dengan menelepon
si kecil untuk mengetahui apa yang sedang dia lakukan. Menurut Alan Greene,
MD, spesialis anak dari Lucile Packard Childrens Hospital, California, bayi
sudah dapat mengenali Anda sejak dalam kandungan dengan semua inderanya.
Karena itu, baju, foto dan rekaman suara Anda yang sedang bercerita juga
dapat menjadi alat yang efektif untuk membuat si kecil merasa dekat.
c.. Antisipasi bila si kecil sakit. Tanyakan pada atasan Anda mengenai
kemungkinan Anda bisa tidak masuk saat si kecil sakit. Jika tidak bisa,
mintalah suami atau keluarga dekat lain untuk menggantikan Anda menjaganya.
d.. Ada kalanya rasa sedih dan bersalah begitu mengganggu pikiran, karena
Anda tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan si kecil, cobalah untuk
membicarakannya dengan pasangan atau ibu lain yang menghadapi situasi
serupa. Tetapi jika perasaan ini semakin menjadi-jadi, segera konsultasikan
dengan ahli untuk mengatasinya.
e.. Jangan paksa untuk melakukan semua hal sendiri. Buatlah sistem yang
membantu Anda melakukan beberapa tugas dengan bantuan suami, anggota
keluarga lain,atau pun pembantu.
f.. Luangkan waktu untuk diri sendiri. Walaupun sulit, Anda juga perlu
waktu untuk diri sendiri. Saat si kecil tertidur atau dijaga oleh pasangan,
manfaatkanlah waktu tersebut untuk sekedar berlama-lama di kamar mandi,
membaca buku atau mendengarkan musik kesayangan dan mengembalikan kesegaran
pikiran atau beristirahat. Karena bagaimanapun, jika pikiran Anda tidak
dipenuhi stres, Anda pun bisa menikmati waktu bersama di kecil dengan lebih
baik.
g.. Tetaplah memberikan ASI. Tak ada yang dapat menyangkal kehebatan
manfaat ASI bagi si kecil. Karena itu, berusahalah untuk tetap memberikan
ASI padanya walaupun Anda sudah bekerja. Walau tidak bisa sesering
sebelumnya, cobalah untuk menyusui si kecil waktu pagi atau malam hari.
Bonusnya, Anda dan si kecil dapat merasakan kedekatan yang terjalin selama
proses menyusui. Di luar itu, Anda dapat memompa ASI agar si kecil tetap
bisa meminumnya saat Anda tidak berada di rumah.
h.. Jaga kesehatan dan rajin berolahraga. Olahraga membuat sirkulasi darah
menjadi lancar. Ini dapat mengurangi stres dan rasa penat tubuh. Pastikan
Anda memiliki pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan seimbang dan
bergizi. Kondisi kesehatan menjadi syarat mutlak bagi ibu berperan ganda.
Jika Anda sakit-sakitan bisa dipastikan semuanya akan terbengkalai. Urusan
anak dan rumah tak bisa dilakukan dengan baik, Anda pun akan sering minta
izin. Situasi bisa menjadi rumit dan mempengaruhi penilaian di kantor.
sumber : sahabat nestle
Ayo Renang
Memperkenalkan anak dengan air memang terkadang tidak mudah.
Rasa enggan basah atau takut seringkali kita temui pada si kecil.
Namun adapula anak-anak yang telah mengenal air justru menemukan
bahwa kegiatan ini sungguh menyenangkan. Dan dari banyak pengamatan
bisa disimpulkan, anak-anak sebenarnya sangat menyenangi air selain pasir.
Tinggal kemudian bagaimana orangtua melatih anak untuk terampil dalam air
atau berenang.
Bagaimana cara memulainya serta apakah yang harus diperhatikan?
Yuk, ajak anak bermain air sesuai dengan tahap usianya.
6 Bulan-1 Tahun
Bila Anda mulai berpikir untuk mengenalkan air di usia ini,
maka itu adalah tindakan pintar, karena si kecil sudah cukup umur untuk
berenang.
The American Association of Pediatrics merekomendasikan para orangtua untuk
mengikutsertakan anaknya dalam les berenang setelah ulang tahunnya yang
ke-4,
disaat anak telah berkembang dan mampu untuk belajar mengambang.
Sebelum itu pelajaran akan lebih fokus untuk melakukan permainan air,
dasar-dasar berenang, serta keselamatan di dalam air. Sejalan dengan
pertambahan usianya,
ajak anak untuk berpengalaman dan merasa nyaman di dalam air.
"Tanpa les anak akan menjadi tidak mahir, tetapi dengan mengikuti program
berenang maka anak akan menguasai keahlian renang yang akan berlangsung
selamanya,"
ujar Connie Harvey, pakar National Health and safety dari American Red
Cross.
Pelajaran:
a.. Ajak anak masuk ke dalam air, bukan belajar bagaimana berenang.
b.. Tunjukkan bagaimana mencipratkan air.
c.. Bernyanyi bersama sambil mengajaknya berkeliling kolam berenang.
d.. Atau memainkan mainan air.
Tips aman:
a.. Pastikan bayi selalu dalam rengkuhan Anda.
b.. Jangan merendamkan anak di bawah usia 3 tahun,
karena pada usia ini anak mampu meneguk banyak air dan dapat
menyebabkan masuknya zat-zat kimia dalam darahnya.
c.. Gunakan popok khusus untuk berenang.
d.. Jika kolam renang berada di rumah, pastikan bahwa si kecil tidak akan
mampu menjangkaunya.
2-3 Tahun
Pelajaran:
a.. Gunakan pelampung pada lengan atau perutnya, lalu ajak si kecil
untuk melakukan permainan air yang memungkinkan Ia menggerakan tangan
atau kakinya. Contoh, melempar bola lalu ajak Ia untuk mengambilnya.
a.. Tunjukan bagaimana membuat gelembung dalam air, sehingga anak belajar
untuk mendekatkan wajahnya ke air tanpa harus menyelam.
Tips aman:
a.. Meski memakai pelampung pastikan agar Anda tidak lengah, jangan
biarkan Anak bermain sendiri.
b.. Tetap pastikan anak tidak dapat menjangkau kolam sendiri.
c.. Ajarkan dan tekankan agar anak tidak pergi ke kolam tanpa orangtua.
d.. Jangan tinggalkan mainan apapun dalam kolam, karena dikhawatirkan anak
akan berusaha untuk mengambilnya.
4-5 Tahun
Pelajaran:
a.. Anak Anda telah siap untuk mengikuti kursus berenang.
b.. Anda dapat ikut serta dalam kelas pertamanya agar anak merasa nyaman.
c.. Mulai pelajaran dengan mengajarkan bagaimana menyelupkan kepala dan
tahan selama 5-10 hitungan.
d.. Coba meluncur tanpa asisten.
e.. Gerakan tangan dan kaki ketika berenang.
f.. Serta memberitahukan bagaimana cara mengambang dalam air.
Tips aman:
a.. Meski tidak harus selalu memeganginya, namun pastikan pelatih selalu
siap meraihnya bila terjadi apa-apa.
b.. Bersabarlah, jangan paksa anak pada satu aktivitas bila ia belum siap.
c.. Jangan mengharapkan orang akan mengawasi anak, meski lifeguard.
d.. Tidak semua anak mau membiarkan wajahnya terkena air, latihlah dengan
membiasakan di bawah shower ketika mandi.
6 tahun ke atas
Pelajaran:
a.. Pada usia ini anak sudah mampu menahan nafas lebih lama di dalam air,
berenang, serta meraih benda di bawah kolam.
b.. Anak telah mampu untuk melompat dari daratan ke dalam air.
c.. Anda sudah dapat mengajarkan berbagai gaya renang, seperti gaya dada
dan gaya punggung.
d.. Latihlah untuk memperjauh jarak renangnya sedikit demi sedikit.
Tips aman:
a.. Tetaplah mengawasi anak meski Anda tidak harus berenang bersamanya.
Meski anak telah menguasai gerakan ia tetap bisa kelelahan.
b.. Tekankan bahwa anak diizinkan berenang hanya jika ada orang dewasa
yang mengawasi.
c.. Waspadai perbedaan berenang di kolam renang dan di pantai.
Pengawasan Anda sangat dibutuhkan bila anak berenang di alam.
d.. Pastikan anak menggunakan jaket pelampung ketika naik kapal atau
waterskiing,
meski Ia telah mahir berenang.
sumber : sahabat nestle
[Non-text portions of this message have been removed]