Ida arimurti
Thu, 22 Feb 2007 18:06:44 -0800
Essay - SEBUAH PRASANGKA TERHADAP TEMAN, YANG KEBETULAN ANGGOTA DPR
Prasangka di hati kita terkadang terlalu kuat, dan mempengaruhi penilaian kita pada hal-hal yang secara umum dianggap seolah-olah sudah pasti kebenarannya. Misalnya, anggapan bahwa anggota DPR hampir semuanya pasti korup, busuk, atau menerima uang haram. Padahal prasangka kita bisa jadi sangat keliru, atau minimal tidak seakurat yang kita bayangkan. Hal ini pernah menimpa saya. Sebagai jurnalis dan mantan aktivis, yang merasa ikut andil dalam gerakan prodemokrasi menumbangkan kekuasaan Soeharto tahun 1998, saya punya rasa kecurigaan yang tinggi terhadap mereka yang menjadi pejabat negara, entah itu di pemerintahan atau pun di DPR. Nah, suatu saat ada teman saya aktivis, yang melangsungkan pernikahan di Jakarta (2006). Saya sebagai teman lama seperjuangan tentu saja memerlukan hadir. Karena yang menikah ini aktivis yang punya jaringan luas, maka ramailah acara pernikahan itu dihadiri para mantan aktivis, termasuk yang sudah menjadi pimpinan di partai politik dan mendapat jabatan di DPR. Salah satu dari mereka, sebut saja namanya XY, datang ke acara pernikahan dengan mobil mewah, yang harganya saya taksir pasti di atas Rp 650 juta. Saya kenal akrab dengan XY ketika sama-sama menggalang aksi mahasiswa pasca sarjana di Universitas Indonesia tahun 1998. Tetapi sesudah itu kami jarang bertemu dan jarang kontak. Saya tetap berkarir di jalur jurnalistik, sedangkan dia memilih terjun ke dunia politik. Saya pun berbisik ke seorang mantan aktivis lain, yang kenal dekat dengan XY. "Apakah XY itu ketika jadi anggota DPR termasuk 'bersih"?" Dia menjawab, "Yah, di dunia politik seperti ini sulitlah kalau kita mencari orang yang benar-benar 100% bersih. Tapi XY ini masih lumayanlah..." "Lho, tapi bagaimana dia bisa punya mobil mewah, yang harganya pasti tak terjangkau dengan sekadar gaji anggota DPR?" tanya saya, penasaran. "Oh, dia tidak membeli mobil itu. Dia bernasib baik memenangkan undian berhadiah mobil dari sebuah bank. Bank 'kan sering bikin undian untuk memancing nasabah baru," sahut rekan saya. Saya terhenyak. Ternyata prasangka dan kecurigaan saya tidak terbukti. Saya memang tidak tahu persis, apakah XY betul-betul "bersih." Tetapi, setidaknya, khusus untuk kasus mobil mewah ini, dia memperolehnya bukan dari korupsi seperti yang saya duga semula. Sejak saat itu, saya bertekad untuk lebih berhati-hati, sebelum tergesa-gesa menilai atau menghakimi "bersih-tidaknya" orang lain. Walaupun, kalau sekadar mengikuti pandangan umum yang populer, dengan mudah pasti kita akan mengatakan: "mayoritas anggota DPR pasti korupsi." Manila, 22 Februari 2007 Satrio Arismunandar Producer - News Division, Trans TV, Floor 3 [Non-text portions of this message have been removed]