safarina mahanani
Fri, 23 Feb 2007 00:27:13 -0800
Waduh Mas Lisman, saya terharu sekali mendengar cerita anda. Saya juga pernah
punya kisah nyata yang hampir serupa.
Sewaktu saya masih kuliah di Trisakti jakarta sekitar tahun 2000, pulang kuliah
saya naik bus pulang kerumah tante saya yang tinggal di tebet, karena seluruh
keluarga menetap di Surabaya. pulang kuliah sekitar jam 3 sore, lelah dan
lapar, kebetulan juga saat itu akhir bulan jadi memang saya harus irit
pengeluaran. Tiba- tiba di P 55 jurusan grogol- pondok kopi yang saya tumpangi
naik seorang anak laki- laki yang mungkin berusia 12 tahun. Disamping supir bus
menghadap para penunpang dia bercerita bahwa adiknya saat itu masuk rumah
sakit karena kecelakan, dia butuh darah dan keluarganya tidak punya uang!
Melihat raut wajahnya saja saya sudah bersimpati ditambah lagi mendengar
ceritanya.
Saat itu dia menceritakan keadaan adiknya yang terdengar kritis dan sangat
butuh pertolongan, dia pun tanpa ragu- ragu menyebutkan nama rumah sakit dan no
kamar serta nama adiknya tsb. Tidak ada pikiran negatif sama sekali saya pun
mengeluargan semua uang yang saya miliki di dompet sayangnya mungkin uang
sejumlah itu tidak menolong banyak. Jumlahnya sekitar 17.000 rupiah karena
cuman itu yang saya punya. Saya pun iklas memberikan uang jajan saya untuknya,
hanya itu yang bisa saya berikan.
Besoknya tergugah keinginan saya untuk donor darah di PMI, walaupun mungkin
bukan untuk menolong anak itu lagi tetapi mungkin sangat menolong pasien yang
lain. Selesai donor darah diantar seorang kawan saya pun ingin menengok anak
kecil yang kecelakaan itu dan mungkin sedikit lagi bantuan bisa membantu.
Tetapi sesampai disana bukan nama anak itu sudah tidak ada, tapi malah nama
pasien itu tidak ada. No kamar pun tidak di kenal. Teman saya pun mulai ngomel-
ngomel memarahi saya kenapa mudah percaya sama orang lain.
Pikiran saya saat itu cuman ini anak pintar sekali bersandiwara, saat itu bukan
hanya saya yang percaya tetapi beberapa penumpang juga. Saya ambil hikmah dari
semua ini yaitu saya bisa memberikan darah saya kepada orang lain melalui PMI.
Mungkin dengan jalan di bohongi anak kecil itu pikiran saya terbuka untuk
menolong orang lain dengan cara yang lain. Terima kasih yah untuk " Tri" yang
mumbuka hati saya untuk berbuat sesuatu:))
Dan dua bulan kemudian ayah saya terserang stroke yang sangat parah, selain
pendarahan di otak sebelah kanan yang akhirnya harus di operasi , dampak dari
stroke itu pun menghantam ginjal ayah saya sehingga harus dilakukan cuci darah
seminggu dua kali dalam keadaan masih koma. Tuhan memberikan kami sekeluarga
cobaan yang berat tapi juga hikmah dan rahmat yang tidak sedikit.
Saat- saat kritis ayah saya di lalui dengan kemudahan, bantuan dari orang
lain, yah moril dan materil, Muzizat doa dari banyak orang, dan pertolongan
sumbangan darah yang tiada henti. Ayah saya Alhamdullilah sadar dan masih
diberikan waktu untuk menemani istri- anak- cucu sebelum akhirnya pergi untuk
selamanya (th. 2003)
" Selalu posisikan kita pada posisi orang lain yang benar- benar membutuhkan
pertolongan, rasa iklas dan bahagia, InsyAllah kita dapat. "
Cheers,
Safarina
'Ida arimurti' <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Renungan : Do'aku Smoga Kalian Selamat...
Pada tahun 1997 an saya bekerja pada Perusahan Jepang di wilayah
Cilegon. Suatu malam kira-kira jam 9 an sehabis makan malam, saya
bersama seorang rekan kerja pulang naik angkot ke arah Merak untuk
kembali ke Mes Perusahaan tempat kami tinggal. Di depan persimpangan
Polres Cilegon, angkot yang kami tumpangi di stop oleh seorang Bapak
yang sedang menggendong anak umur 2 tahunan sambil menuntun 2 orang
anak lainnya kira-kira usia 5 dan 7 tahun semuanya anak perempuan.
Penampilan semuanya sangat lusush, anak terkecil tidak pakai sandal
sedang yang lainnya pakai sandal jepit yang sudah kotor.
Ketika angkot berhenti Bapak tsb tidak langsung naik tetapi melongok
ke sopir sambil memperlihatkan berapa jumlah uang yang dia miliki,
saya yang duduk dibelakang sopir melihat kejadian itu walaupun tidak
tahu pasti berapa banyak uang recehan 100 rupiaan yang dia tunjukkan
ke sopir, perkiraan saya sekitar Rp 600, padahal normalnya satu
orang harus bayar minimal Rp 1000. Bapak tsb minta izin ke sopir
untuk naik angkot walaupun dengan ongkos seadanya. Melihat uang
kurang, sopir tidak memperkenankan Bapak itu naik dan hendak maju
lagi, saya terperanjat dan berteriak Stop-stop... langsung bilang
sama sopir, tolong Bapak dan anaknya dibawa, biar saya yang bayar ongkosnya.
Sambil masuk mobil, Bapak tadi mengucapkan terimakasih, lalu duduk
di dekat pintu sambil menggendong 2 anak karena yang satunya saya
gendong, selanjutnya dia hanya tertunduk mungkin malu sama penumpang
lain yang kebetulan memang angkot sudah terisi penuh. Menyaksikan
semua itu saya bergetar, dan naluri saya berkata orang ini pasti
sedang membutuhkan pertolongan. Dalam perjalanan saya coba tanya
dengan nada simpati, malam-malam begini Bapak mau pergi kemana? Dia
jawab: saya mau pergi ke Pasar merak. Kok malam-malam, emang Bapak
mau belanja apa? Jawabnya : Bukan, saya mau cari truk sayur,
rencananya saya ingin menumpang truk untuk pulang kampung ke Sukabumi.
Mendengar jawaban itu saya tersedak, hati bergetar, air mata saya
bercucuran, bukan hanya karena saya keturunan dari Sukabumi tapi
bagaimana membayangkan kalau itu anak balita saya yang harus naik
truk dari Merak ke Sukabumi, malam-malam lagi. Selanjutnya saya
bertaruh pasti keluarga ini belum makan... dan ternyata betul.... Ya
Alloh, tak mungkin saya membiarkan keluarga ini dengan perut kosong
naik truk pulang ke Sukabumi sementara saya tidur dengan perut kekenyangan.
Singkat cerita saya ajak keluarga Bapak itu ke tempat saya, lalu
saya hidangkan makanan yang saya miliki agar dia bisa makan, saya
berikan obat-obatan ringan dan bekal biskuit serta mie instan.
Selanjutnya saya antar dia naik angkot ke Merak dan tak lupa
dititipi uang untuk beli tiket bis lebih dari cukup.
Anehnya, sekembali saya ngantar keluarga Bapak itu, rekan kerja saya
yang sejak awal menemani saya berkata, kamu sebaiknya hati-hati
nemuin orang seperti itu, jangan terlalu baik, siapa tahu dia itu
seorang penipu, pura-pura gak punya uang dan memanfaatkan anak kecil
untuk menarik iba orang lain. Saya jawab dengan mantap, kalau pun
dia itu menipu saya, saya ikhlas... uang atau barang yang saya
kasihkan tidak seberapa, lebih baik ditipu daripada harus membiarkan
orang kelaparan di depan saya tanpa berbuat apapun... kita
kembalikan saja kepada Alloh Swt. Saya tidak menyalahkan sikap kawan
saya yang acuh tak acuh terhadap penderitaan orang, tapi kebanayakan
para penipu masuk lewat cara seperti itu.
Terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih buat doa Bapak
sekeluarga yang mungkin selama perjalanan pulang ke Sukabumi
mendoakan kebaikan untuk saya. Sekarang saya dan anak istri tinggal
di Jepang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah sampai
Doktor. Smoga Bapak sekeluarga samapai Sukabumi dengan selamat...
Pesan saya buat semua orang... selalu berbuat baik... karena Alloh
Maha Kaya, Dia akan memberikan kebaikan dari arah yang tidak kita duga.
Subhanalloh wabihamdihi.
Lisman Suryanegara
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]