idakrisnashow  

Re: Ida Arimurti Wisatawan Diundang, Wisatawan Enggan Datang

Huda Mahardika Putra
Fri, 23 Feb 2007 01:08:25 -0800

mba Ida,
  
  Menarik sekali tulisan ini. Apa yang penulis sampaikan saya sangat  memahami. 
Kadang2 setiap kali saya ngobrol sama temen2 wartawan, baik  wartaman media 
pariwisata maupun media ekonomi sering kali membicarakan  masalah pariwisata 
Indonesia yang dari dulu tiidak pernah maju. Bila  Pariwisata Pariwisata suatu 
negara  bisa  maju, maka  akan  maju pula perekonomian  negara tersebut 
terutama  perekonomian di daerah Wisata. Anehnya hal ini se-olah2 tidak 
disadari  oleh Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Budaya RI.  
Padahal setahu saya anggaran Pemerintah untuk industri ini lumayan  besar.
  
  Bali yang dianggap sebagai barometer Pariwisata Indonesia ,  kenyataannya 
selama ini  masih banyak  lokasi2 yang  pengelolaannya  terkesan kurang 
profesional.  Kalau Bali saja  seperti ini gimana dengan daerah lain?  Sangat 
Jauh panggang dari  Api. 
  
  Kita hanya bisa berharap semoga aparat Pemerintah kita menyadari akan  hal 
ini, sehingga kedepan Industri Pariwisata Indinesia bisa  menjadi  andalan 
negara kita Indonesia.
  
  
  Salam,
  
  Huda

'Ida arimurti' <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                       
           Ketimpangan pariwisata Bali saat ini sangat memprihatinkan, Bandara 
tidak
  berkembang sesuai keperluan. Akomodasi memang berlebihan (bila peluang tidak
  dimanfaatkan), rekreasi, pertunjukan dan hiburan tidak ada yang mengelola
  secara profesional. Tempat-tempat perbelanjaan, penataan dan kebersihannya
  kurang memberikan kenyamanan, ''pemerasan'' pun terjadi nyaris di semua
  sektor.
  
  Wisatawan Diundang, Wisatawan Enggan Datang
  Oleh N. Gelebet 
  
  PARIWISATA telah menjadi keperluan dalam kehidupan kota-kota dunia yang
  kehilangan alam dan budaya dalam ketersesakan rasa ruang yang semakin
  menghimpit. Pariwisata telah mempekerjakan 600 juta atau sekitar 17% dari
  tenaga kerja global dengan share pariwisata 16% dari GNP dunia. Pariwisata
  dunia tumbuh dengan 6,5% dan Asia Pasifik paling cepat dengan 9,8%.
  
  Bagi Bali, Australia merupakan pasar utama pariwisatanya. Dalam sepuluh
  tahun terakhir, Australia selalu menempati urutan kedua setelah Jepang
  sebagai penyumbang wisatawan terbanyak ke Pulau Dewata. Sayangnya, sejak bom
  Bali I, kunjungan wisatawan Australia ke Bali terus melorot. Bahkan, tahun
  lalu jumlah kunjungan wisatawan dari negeri kanguru ke Bali hanya 47 persen
  dibanding tahun 2005. Akibatnya posisi Australia digeser oleh Taiwan yang
  menduduki posisi kedua setelah Jepang. Inilah antiklimaks dari serangkaian
  tragedi yang menimpa Bali (BP, 19/2).
  
  Proporsional
  
  Membangun kepariwisataan perlu proporsional antarkomponen: bandara, hotel,
  restauran, biro perjalanan, tekreasi, pertunjukan, hiburan, perbelanjaan.
  Masing-masing bersinergi harmonis, dikelola dengan profesional, dapat
  memberikan kepuasan, kenangan keindahan, aman dan nyaman, senantiasa
  beradaptasi aktif dengan tuntutan peradaban yang berkembang. Meningkatkan
  kualitas peran, pesan dan kesan manakala mengharapkan wisatawan berkualitas.
  
  Ketimpangan pariwisata Bali saat ini sangat memprihatinkan, Bandara tidak
  berkembang sesuai keperluan. Akomodasi memang berlebihan (bila peluang tidak
  dimanfaatkan), rekreasi, pertunjukan dan hiburan tidak ada yang mengelola
  secara profesional. Tempat-tempat perbelanjaan, penataan dan kebersihannya
  kurang memberikan kenyamanan, 'pemerasan' pun terjadi nyaris di semua
  sektor. Bagaimana mungkin pariwisata berkembang proporsional manakala ODTW
  (Objek dan Daya Tarik Wisata) tidak menampilkan yang baru dan yang umumnya
  masih telantar. Dengan sistem bapak angkat untuk perawatan beberapa ODTW
  memang cukup berhasil, namun sentuhan penataannya masih jauh dari harapan 
  
  Gaung promosi recovery mendengung seakan merasuk ke seantero dunia. Namun
  masih saja diragukan kebenaran apa yang telah dilakukan. Survai membuktikan,
  nyaris tidak ada wisatawan yang datang ke Bali karena promosi. Kedatangan
  mereka umumnya dari informasi keluarga atau temannya yang pernah ke Bali,
  dari media cetak maupun elektronik dan program massal bagi wisatawan grup.
  Dipertanyakan, sudahkah sesuai kedatangan wisatawan dari hasil promosi
  dengan dana yang dihabiskan? Masih perlukah dana promosi menguras anggaran
  yang tersedia, sementara OTW, perbelanjaan dan pertunjukan nyaris tanpa
  sentuhan pembinaan?
  
  Wisatawan diundang, mereka datang, dirancang untuk bertualang. Objek dan
  daya tarik wisata untuk dipandang bukan dipegang. Untuk itu keamanan,
  kenyamanan dan keunikan keindahan untuk kenangan yang dibawa pulang,
  tentunya perlu dijaga kelestariannya, diupayakan peningkatan kualitasnya,
  dan dimantapkan penataannya dengan dukungan sarana pendukung dan
  penunjangnya yang harmonis selaras lingkungannya. Idealnya demikian,
  faktanya sangat mengecewakan. Sebagian besar ODTW menyusui Pemkab yang
  memanfaatkan sebagai sumber PAD-nya, desa yang mewilayahi untuk
  kontribusinya dan kelompok yang mengelolanya sebagai sumber pendapatan.
  
  Wisatawan diundang untuk datang, bukan dipajang di hotel, namun dirangsang
  untuk berpetualang dalam paket-paket wisata dari ODTW ke ODTW lainnya.
  Mereka diupayakan untuk tinggal lebih lama, pulang ke negaranya berpromosi
  pada temannya, dan nantinya datang lagi. Ada kekeliruan persepsi selama ini
  bahwa hotel diposisikan sebagai tujuan berwisata, sehingga ODTW nyaris
  telantar tidak ada yang peduli. Seniman pengerajin dan seniman seni
  pertunjukan hanya dijadikan objek pemerasan sehingga keringat mereka untuk
  kelegaan mereka yang berpeluang atas prestasinya. 
  
  Pemkab yang menjadikan Sad Kahyangan sebagai ODTW untuk sumber PAD-nya, bila
  dilacak perannya dalam lima tahun terakhir, dari penelusuran dokumen APBD,
  tidak ditemukan adanya pos anggaran yang dikembalikan untuk perawatan
  sebagaimana sebelumnya. Ironis memang, masyarakat yang menyerahkan warisan
  leluhurnya sebagai penyertaan modal bagi pembangunan kawasan pariwisata
  eksklusif, kini terlunta-lunta menjajakan jualannya di lahan yang telah
  beralih fungsi super elite. Bahkan ada yang dipandang sebagai mencemari,
  sehingga perlu dikumpulkan untuk dibina. Jelas mereka mengganggu keamanan
  dan kenyamanan wisatawan. Menjajakan dagagangan memang terkesan liar, tetapi
  itu dilakoni karena tidak ada tempat representatif baginya di kelasnya.
  Dapatkah pemegang kebijakan, peraup keuntungan dan mereka yang memegang
  mandat dan mengatasnamakan keberadaan masyarakat itu, untuk berbagi rasa dan
  berlogika rasional menuntaskan masalah hidup dalam kehidupan yang
  terpinggirkan? Seharusnya dibangun tempat yang layak bagi mereka sehingga
  tidak lagi berkeliaran seakan liar. Dengan demikian mereka akan merasa
  dimanusiakan kemanusiaannya. Hakikat kesejahteran adalah kebahagiaan bersama
  dalam kebersamaan.
  
  Selama ini tidak ada keterbukaan sehingga terjadi gugatan dan hujatan yang
  salah arah karena persepsi yang keliru. Badan otorita adalah pelaksana
  lapangan sebatas penugasan Dewan Komisaris yang terdiri dari dua; daerah dan
  pusat. Penguasa dan yang membidangi international consultant pengkaji awal
  terbentuknya kawasan pariwisata ini, merekomendasikan pimpinan lembaga adat
  setempat mewakili kepentingan masyarakatnya yang telah merelakan lahan
  kawasan sebagai penyertaan modal, sebagai anggota Dekom berperan dalam
  mengupayakanm kesepahaman untuk menemukan kesepakatan dalam mengambil
  kebijakan.
  
  Sayangnya selama seperempat abad posisi tersebut dikosongkan dan kini selama
  lima tahun disesatkan ke orang-orang antah berantah. Sehingga kesejahteraan
  bagi masyaratkan setempat sebagai international pilot project tourist resort
  hanya mimpi yang membuahkan apa yang berulang kali dijadikan objek
  pembinaan. Akibatnya, terdapat sejumlah permasalahan yang belum dan tidak
  akan pernah terselesaikan selama para pihak penyerobot hak lokal tidak mau
  menyadari keberadaannya yang mengada-ada.
  
  Penulis, dosen Fakultas Teknik Unud
  
  * Gaung promosi recovery mendengung seakan merasuk ke seantero dunia, namun
  masih saja diragukan kebenaran apa yang telah dilakukan. 
  
  * Survai membuktikan, nyaris tidak ada wisatawan yang datang ke Bali karena
  promosi. 
  
  * Membangun kepariwisataan perlu proporsional antarkomponen; masing-masing
  bersinergi harmonis, dikelola dengan profesional.
  
  [Non-text portions of this message have been removed]
  
  
      
                                    

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

[Non-text portions of this message have been removed]