ikbal_alamien  

[IKBAL Al-Amien] Sang Pejuang, Sang Kiyai

Jaris Baslan
Fri, 23 Nov 2007 17:40:58 -0800

  Seputar Indonesia
   
  Jum'at, 16/11/2007 - 10:47 WIB 
   
  Sang Pejuang, Sang Kiai
   
  Akhir-akhir ini kita mendengar pernyataan berbagai pihak yang meminta agar 
Bung Tomo diberi gelar pahlawan nasional. Karena alasan-alasan politik, Orde 
Baru tidak memberikan gelar itu kepadanya.
  
 Memang terasa tidak adil terhadap Bung Tomo jika gelar itu tidak diberikan 
kepadanya karena alasan-alasan politik. Tetapi dalam hal ini ada sebuah sebab 
lain yang berada di belakang "keharusan sejarah" atas langkah menolak pemberian 
gelar tersebut. Hal itu sama dengan ketidaksediaan para pemimpin Divisi 
Brawijaya, salah satunya Mayjen Sungkono (jabatan terakhir Wakil Gubernur 
Militer Jatim), yang berusaha menutup-nutupi kelebihan para santri, yaitu untuk 
tidak mengakui paman penulis artikel ini, KH A Chalid Hasjim adalah jenderal 
mayor (demikian gelar tersebut digunakan waktu itu).
 
 Hal itu juga mengenai diri Bung Tomo yang santri itu. Menjelang hari 
kepahlawanan kita yang ditandai dengan penyobekan kain warna biru dari bendera 
tiga warna (merah, putih, biru milik Belanda) menjadi bendera dua warna (merah 
dan putih) yang selanjutnya menjadi bendera kita, dengan perobekan bendera di 
Hotel Yamato itu, para pemuda pejuang seperti Bung Tomo menunjukkan kepada 
dunia pada 1945 bahwa Indonesia telah merdeka. Hal ini dilakukan oleh para 
pemuda pejuang di hadapan tentara sekutu (pada umumnya tentara Inggris) yang 
dipimpin oleh perwira tinggi Inggris Brigjen Mallaby. Para pemuda pejuang kita 
saat itu dipimpin oleh Bung Tomo, yang tiap hari meneriakkan pekik Allahu Akbar 
melalui radio di Surabaya.
 
 Kita menyesalkan mengapa orang seperti beliau tidak diakui jasa-jasanya 
melalui gelar pahlawan nasional. Nah, sebuah kenyataan sejarah yang lain harus 
diakui. Tetapi sejauh ini tidak ada yang menyinggung soal ini dalam sekian 
tulisan tentang Divisi Brawijaya, yaitu dalam divisi tersebut ada perpecahan di 
antara para perwira. Di satu pihak ada perwira "nonsantri" seperti Mayjen 
Sungkono, Sumitro (yang di belakang hari menjadi Pangkopkamtib), dan Kretarto. 
Di pihak lain ada "perwira santri" seperti Jenderal Mayor A Chaliq Hasjim, 
Munasir Ali, Sulam Samsun, dan sebagainya.
 
 Pertentangan yang dimenangkan perwira "nonsantri" akhirnya banyak menutup 
kejadian-kejadian penting dalam kehidupan divisi itu. Inilah yang sebenarnya 
menjadi tragedi TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang kita miliki. Di tingkat 
pusat, hal itu terlihat dari penggantiaan Jenderal Besar Sudirman sebagai 
panglima TNI oleh orang-orang seperti AH Nasution. Untuk melengkapi cerita 
tentang Hari Pahlawan 10 November 1945 yang berawal di Surabaya itu, kita harus 
mengetahui juga dua kisah lain yang erat kaitannya dengan kejadian tersebut.
 
 Tak lain peristiwa di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atau lebih 
dikenal dengan nama Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama di Kawatan, Surabaya. Di 
tempat itulah pada 22 Oktober 1945 dicanangkan seruan yang dikenal dengan 
Resolusi Jihad. Seruan itu menyatakan bahwa tindakan membela (lebih-lebih 
secara fisik) negara Republik Indonesia dari serangan musuh adalah pelaksanaan 
jihad fi sabilillah (kiprah kaum muslimin untuk membela Islam).
 
 Ini adalah pertama kalinya sebuah entitas non-Islam, yaitu Republik Indonesia 
dipertahankan sebagai kewajiban agama. Saat ini gedung di Kawatan itu akan 
dijadikan museum untuk memperingati kiprah PBNU tersebut. Dengan demikian, 
orang dapat menilai sampai di mana PBNU turut berjuang. Hal lain yang perlu 
dicantumkan dalam tulisan ini adalah kiprah Markas Besar Oelama Djawa Timoer 
(MBODT) di Wonokromo. Kalau Bung Tomo dan kawan-kawan berjuang di garis depan 
melawan tentara sekutu di Surabaya, maka di kota yang sama para kiai turut 
berjuang dengan mengumpulkan nasi bungkus (9.000 bungkus setiap hari selama 
berbulan-bulan), mengumpulkan tikar dan selimut, menjamin adanya peluru dan 
senapan dan beberapa hal lain lagi.
 
 Komandan dari MBODT itu adalah KH A Wahab Chasbullah, Khatib 'Aam PBNU, 
sedangkan KH M Bisri Syansuri sebagai wakil Khatib 'Am menjadi kepala staf 
markas tersebut. Dengan jalinan sesama kiai yang begitu erat dan hubungan 
langsung mereka dengan rakyat di tingkat bawah, MBODT berhasil melaksanakan 
tugas tersebut dengan baik. Gedung tempat MBODT itu pun tinggal diubah menjadi 
museum. Kehadiran NU mempunyai arti tersendiri dalam kehidupan bangsa ini. Hal 
ini direfleksikan secara utuh oleh pemunculan para kiai itu dalam perjuangan 
bersenjata yang kita lakukan. Mula-mula terhadap tentara sekutu, kemudian 
terhadap tentara Belanda.
 
 Para kiai itu yang kemudian kembali ke pondok pesantren mereka masing-masing 
untuk mengajar, dapatlah dipahami. Tetapi, jika peran mereka dihilangkan dari 
sejarah perjuangan, itu merupakan kejadian yang sulit dimengerti. Bukti-bukti 
sejarah akan adanya pertentangan antara "tentara santri" dan "tentara 
nonsantri" dapat dilihat dari perjuangan KH Mahfudz dari Pesantren Somalangu, 
Kebumen. Pelaksanaan beberapa kerangka berpikir seperti gagasan rasionalisasi 
militer yang diajukan Kolonel AH Nasution, yang kemudian diterima oleh Kabinet 
Hatta pada 1950, adalah bukti lainnya. Pantas saja kalau kemudian kita tidak 
lagi menyaksikan "kepahlawanan" para kiai,bukan? (*)
 
 Abdurrahman Wahid 
 Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB 
  (mbs)

       
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
  • [IKBAL Al-Amien] Sang Pejuang, Sang Kiyai Jaris Baslan