islamkristen  

[islamkristen] Saksi Poso, Habib Rizieq, Abubakar Baasyir, Yusuf Kalla dan Rekaman Video Yang Menjijikkan

SARAPINVS GOKILLIANVS
Mon, 29 Jan 2007 01:56:10 -0800

----- Original Message ----- 
From: FBF
Sent: Sunday, January 28, 2007 3:21 PM
Subject: Saksi Poso, Habib Rizieq, Abubakar Baasyir, Yusuf Kalla dan Rekaman 
Video Yang Menjijikkan


Saksi Poso Berbicara Di Jakarta
(laporan Syarifuddin Ambalawi)

Hanya selang 2 hari setelah sweeping Brimob terhadap 16 muslim Poso yang 
termasuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) yang menyebabkan tewasnya 
belasan penduduk sipil muslim Poso 22 Jan 2007 lalu, Ust. Ahmad kemudian 
diutus oleh Ust. Adnan Arsal, tokoh agama Islam Poso setempat, untuk ke 
Jakarta melaporkan fakta sebenarnya. Kamis, 25 Jan 2007, Ust. Ahmad 
didampingi beberapa tokoh Forum Umat Islam, termasuk Ust. Abu Bakar Ba'asyir 
dari Majelis Mujahidin Indonesia dan Habib Rizieq dari Front Pembela Islam, 
mendatangi Komnas HAM untuk menyampaikan fakta.

Rekaman Video Yang Menjijikkan
Rekaman video kekejaman 'Kristen Radikal' pada masa sebelum kesepakatan 
Malino dipersaksikan. Tampak belasan mayat anak kecil Muslim sedang 
dikumpulkan, diantaranya ada anak balita yang 1/3 tempurung kepala bagian 
atasnya lepas terbacok rata (kemudian disambungkan lagi), usus terburai dan 
anak kecil lainnya yang punggung atau bahunya terbelah lebar dan dalam bekas 
bacokan. Disisi lain tampak pula mayat-mayat orang dewasa termasuk para 
wanita dewasa. Mayat seorang ibu terlihat pergelangan tangannya putus rata 
dibacok dengan senjata yang sangat tajam yang menyebabkan bekas bacokannya 
sangat 'rata'.

Suatu rekaman video penutup akhirnya diputarkan yang menyebabkan teriakan 
ledakan marah para pemuda ormas Islam yang ikut hadir disertai teriakan 
histeris para wartawan yang ikut menyaksikan. Dalam rekaman ini tampak 
seorang pemuda muslim Poso sedang dikeroyok oleh sekelompok pemuda Kristen 
Radikal (istilah yang dikemukakan Habib Rizieq untuk membedakannya dengan 
umat Kristen umum). Sebuah golok telah menyabet kulit kepala pemuda tersebut 
hingga terkelupas selebar dan setebal kue serabi, sehingga terlihat daging 
berwarna putih dan kelupasan kulit kepala yang masih menggantung di 
kepalanya terumbai-umbai ketika ia bergerak kesana kemari. Pemuda muslim ini 
terlihat masih bisa berdiri dan teriak-teriak minta tolong pada polisi 
bersenjata lengkap yang ada disekitarnya namun tak berdaya atau tak berani 
atau tak mau bertindak tegas.

Beberapa pemuda Kristen Radikal terlihat masih terus memukulnya dengan kayu, 
sementara seorang pemuda lainnya menombak dada kiri pemuda malang tersebut 
dengan sebilah bambu runcing. Pemuda tersebut melepas tombak bambu itu 
dengan tangannya, lalu dengan kepala yang berlumuran darah, kulit kepala 
terkelupas, baju penuh darah, ia berjalan terhuyung menuju mobil polisi yang 
ada 3 meter disampingnya. Sesaat terlihat kelupasan kulit kepala pemuda 
tersebut masih melambai tergantung diatas telinganya akibat gerakan 
tubuhnya. Seorang polisi yang ada dalam mobil tersebut mengusirnya ketika 
pemuda malang itu minta perlindungan, mungkin polisi itu jijik 
mempersilahkannya masuk ke mobil atau bisa juga ia takut melindungi pemuda 
itu sementara puluhan pemuda Kristen Radikal sedang memukulinya. Walau 
akhirnya pemuda malang tersebut bisa diselamatkan ke sebuah mobil patroli 
bak terbuka polisi, namun dari sekitar 20 - 30 polisi yang ada di lokasi 
hanya 1-2 orang yang terlihat berusaha melerai, namun dengan cara seadanya.

Andi Baso, tokoh penandatangan Perjanjian Malino, yang ikut hadir 
menjelaskan bahwa itu masih belum apa-apa dibanding laporan yang ia terima 
dimana beberapa wanita dewasa di suatu desa di Poso diperkosa para Kristen 
Radikal dan beberapa diantaranya kemaluannya dimasukkan botol dengan paksa, 
ditendang kemaluannya, dan lalu sebagian mati ditempat. Kabar lain 
mengatakan Tibo pernah menyembelih seorang anak kecil dan meminum darahnya 
yang sedang mengalir dari lehernya langsung ke mulutnya.

Kecemburuan Sosial Sebagai Sumbu Perang Antar Umat Beragama Poso

Menurut Andi Baso, pemicu awal perang Poso adalah kecemburuan sosial dari 
umat Kristen terhadap kemajuan umat Islam di Poso. Warga Kristen Poso sudah 
biasa menenggak minuman keras sehingga bangun telat, ke ladang telat, kerja 
telat, akhirnya ekonomi memburuk. Sedang warga muslim, ditambah pengaruh 
transmigran muslim dari Jawa, yang selalu bangun subuh untuk sholat subuh, 
lalu berangkat kerja sejak subuh, lantas lebih cepat maju. Akibat kemajuan 
ekonomi umat Islam, lantas lebih banyak mesjid dibangun, lalu uang lebih 
banyak tersedia untuk beli pengeras suara. Kemajuan rumah ibadah dan 
pengeras suara ini merupakan friksi awal yang memulai kecemburuan sosial. 
Secara logika dalam situasi seperti ini provokasi dari luar lebih mudah 
meledakkan umat Kristen, sebaliknya tidak ada artinya provokasi bagi umat 
Islam yang tidak memiliki kecemburuan sosial.

Perjanjian Malino

Ditandatanganinya Perjanjian Malino adalah langkah akhir pihak Kristen 
Radikal untuk 'menyerah' akibat kemenangan umat Islam yang dipimpin oleh 
sebagian diantaranya adalah para 16 DPO muslim yang kini dicari-cari polisi. 
Kalau saja Kristen Radikal tidak kalah rasanya tidak akan mau mereka 
menandatangani perjanjian Malino ini. Jadi bagi mereka Perjanjian Malino 
menjadi semacam alat untuk melindungi mereka dari kehancuran yang lebih 
besar lagi dalam perang antar umat beragama ini. Hal ini terbukti bahwa 
Perjanjian Malino dijadikan alat untuk mengulur waktu bagi mereka untuk 
menyusun kekuatan menyerang balik. Dan serangan balik ini benar-benar 
akhirnya terjadi.

Pasca Hukuman Mati Tibo Cs : Berubah Menjadi Perang Dengan Aparat Brimob & 
TNI

Kekejaman umat Kristen Radikal yang antara lain dipimpin oleh Tibo Cs telah 
menewaskan lebih dari 2000 umat Islam Poso. Perjanjian Malino 
ditandatangani, dan Tibo Cs dihukum mati. Umat Islam lega, tapi hanya 
sebentar. Karena pembantaian masih terjadi. Kesepakatan Malino dinodai, 
ketika senjata diserahkan ke kepolisian, umat Islam pun diserang lagi. Umat 
Islampun membalas. Bom meledak, pelajar dibunuh, dan sebagainya. Kepolisian 
kemudian menetapkan 16 Daftar Pencarian Orang (DPO) muslim Poso yang 
dianggap sebagai penyebab. Penetapan 16 DPO inilah yang lantas merubah peta 
perang yang tadinya antara Kristen Radikal dengan umat Islam Poso menjadi 
antara Aparat Kepolisian & TNI dengan umat Islam Poso. Kristen Radikal pun 
undur sejenak, diperkirakan mereka menyimpan senjatanya sementara.

Umat Islam Poso berjanji akan menyerahkan 16 DPO muslim asalkan 19 tokoh 
Kristen Radikal (termasuk Pendeta Damanik) yang disebutkan Tibo Cs sebagai 
dalang penggerak Kristen Radikal agar juga diperiksa. Ini prinsip keadilan. 
Syarat lain yang mereka kemukakan adalah agar DPO diperiksa sebagai 
tersangka bukan sebagai pesakitan. Sangat sulit bagi keluarga DPO dan warga 
muslim Poso untuk menyerahkan 16 DPO ini karena kenyataannya beberapa 
saudara kandung DPO yang diciduk saja disiksa lalu mati dibunuh (namun 
polisi mengatakannya mati karena sakit). Kalau saudaranya si DPO saja 
disiksa dan dibunuh, bagaimana pula dengan DPO nya sendiri. Ketika berita di 
media massa melaporkan bahwa belasan muslim penyerang Brimob berhasil 
ditembak polisi, sungguh ini berita bohong. Menurut kesaksian mereka, yang 
terbunuh ada yang wanita dan anak-anak. Bahkan ketika dikatakan ada 
pelindung DPO yang terbunuh, sebenarnya mereka sudah diciduk beberapa hari 
sebelumnya, kemungkinan dibawa
kesana untuk dibunuh sehingga solah-olah terbunuh saat baku tembak.

Di stasiun TV kita lihat minggu lalu sekitar 8 orang penduduk sipil yang 
melapor karena disiksa oleh Kepolisian karena tinggal di wilayah DPO. Ustadz 
Ahmad sendiri menyaksikan seorang temannya ditembaki polisi, dan ketika ia 
menanyakan alasannya, polisi (Brimob) mengatakan alasannya karena ia 
memukul-mukul tiang listrik. Apakah memukul tiang listrik suatu tindakan 
kejahatan ? Ketika dikejar terus dengan protes, pak Polisi hanya bilang ini 
keputusan politik, bukan keputusan kami. Lha.. Ini cermin tindakan 
berlebihan Brimob dan TNI terhadap umat Islam. Kenapa tindakan tegas tidak 
mereka dilakukan ketika pemuda muslim Poso dikeroyok, ditombak dan dibacok 
di depan polisi hingga kulit kepalanya terkelupas terumbai-umbai.

Kasus Poso Tidak Boleh Diputihkan

Habib Rizieq yang hadir di Komnas HAM mengatakan bahwa ia menolak keras 
sikap Wapres Jusuf Kalla yang hanya menindak tegas setiap pelaku kerusuhan 
pasca Perjajian Malino. Sikap ini berarti mengganggap bahwa kasus sebelum 
Malino diputihkan alias tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tidak ada kasus 
kriminal yang boleh diputihkan, katanya. Perhatikan, bahwa masa sebelum 
Perjanjian Malino adalah masa pembantaian 2000 umat Islam oleh Kristen 
Radikal dibawah kendali 19 orang yang disebutkan Tibo Cs. Bagaimana kematian 
2000 umat Islam Poso dianggap tidak pernah ada. Sedangkan masa Pasca Malino 
adalah masa terjadinya kasus pembalasan umat Islam (16 DPO) terhadap Kristen 
Radikal akibat pelanggaran mereka terhadap Perjanjian Malino (penyerangan 
perkampungan muslim).

Ketika Habib Rizieq diminta pemerintah menengahi kasus Poso dan 16 DPO ini, 
ia mendengar dari seorang ibu yang anaknya termasuk seorang DPO, bahwa 16 
DPO siap menyerahkan diri asal dengan syarat 19 daftar nama Kristen Radikal 
yang disebut Tibo Cs juga diproses, syarat kedua, ada jaminan tidak disiksa. 
Ibu itu berkala lagi, baginya lebih senang menerima mayat anaknya mati 
terbunuh di medan perang dari pada menyaksikan anaknya kembali dari 
Kepolisian dalam keadaan cacat akibat disiksa. Ingat, DPO adalah tersangka, 
artinya belum tentu mereka bersalah, karena masih harus melalui proses 
pengadilan untuk membuktikannya.

Media Massa pun Ikut Tidak Adil

Ketika belasan umat Islam Poso tewas dalam serangan Brimob ke perkampungan 
muslim untuk mencari para DPO, sementara itu hanya 1 orang anggota Brimob 
yang tewas, maka hampir semua media massa memberitakan kesedihan yang 
meliputi keluarga sang Brimob. Bahkan berita dukacita kematian anggota 
Brimob ini dibahas tuntas hingga ke kehidupan pribadinya selama ini dan 
kemudian diulang-ulang dalam setiap pemberitaan berikutnya dalam durasi yang 
panjang. Seandainya penderitaan, penyiksaan dan kekejaman terhadap umat 
Islam Poso dapat ditayangkan seluruhnya secara lengkap di TV, maka saya 
yakin tak ada seorangpun yang tertarik lagi menonton infotainment.

Sementara itu ketika rekaman video yang disebut diatas ditayangkan di Komnas 
HAM, puluhan wartawan yang hadir berteriak histeris atau meringis jijik. 
Namun malamnya atau sorenya, ketika kunjungan ke Komnas HAM diberitakan, 
isinya hanya menyatakan bahwa 'sekelompok umat Islam yang menamakan dirinya 
Forum Umat Islam mendatangi Komnas Ham untuk meneliti kasus Poso' . Lantas 
wawancara yang disiarkanpun adalah wawancara terhadap salah satu wakil 
Komnas HAM, yang komentarnya akan mempelajari kasus ini karena mereka harus 
menerima informasi dari berbagai sumber.

Ketika menampilkan orang yang sedang berdemopun hanya ditampilkan 4 - 5 
orang yang berseragam hitam-hitam, padahal peserta demo hari itu ada sekitar 
150 orang dari FPI, HT, Bulan Bintang dan MMI. Sungguh mereka tidak 
menampilkan pernyataan keras Ust. Abu Bakar Ba'asyir yang mengatakan siap 
menyerukan jihad umum kepada seluruh umat Islam Indonesia bila penyelesaian 
Poso tidak adil. Atau pernyataan Habib Rizieq yang
menuntut Komnas HAM mengajukan Yufus Kalla dan mantan kepala BIN, 
Hendropriyono, agar diperiksa karena melindungi kejahatan terhadap umat 
Islam.

Apalagi harian Kompas, yang memberitakan tokoh Muslim Poso, Ust. Adnan 
Arsal, menganjurkan 16 DPO menyerahkan diri. Tapi Kompas tidak ada atau 
tidak lengkap menuliskan syarat-syarat yang dikemukakan Ust. Adnan Arsal 
agar DPO mau menyerahkan diri.

Jusuf Kalla dan Logika Peran Tokoh Islam

Perhatikan logika ini dengan baik ! Masalah Poso dalam kacamata Islam harus 
diselesaikan dengan pendekatan Nahi Munkar (memberantas kejahatan), bukan 
sekedar Amar Ma'ruf (mengajak berbuat baik). Sabtu malam, 27 Januari 2007, 
Wapres Yusuf Kalla mengundang tokoh Islam untuk mendiskusikan penyelesaian 
Poso. Setelah selama ini pak Yusuf ini mendengar laporan Poso dari sisa-sisa 
informasi dari Ketua BIN yang lama, Hendropriyono (yang pernah tersangkut 
kasus pembantaian Muslim Lampung), maka rupanya pak Yufuf ini mencoba 
mencari solusi dialog dengan tokoh Islam. Ia sendiri yang mendefinisikan 
siapa tokoh Islam yang pantas menyelesaikan masalah semacam ini.

Secara logika, maka seharusnya yang diundang adalah ahli nahi munkar atau 
tokoh ormas Islam yang bergerak dibidang nahi munkar, antara lain FPI, MMI, 
FUI, dan lain-lain. Lucunya yang diundang adalah tokoh organisasi amar 
makruf dan organisasi politik Islam, seperti NU, Muhammadiyah, PKS, dll. 
Bahkan diundang juga tokoh 'intelektual' muslim semacam Komarudin Hidayat 
dan Syafi'i Maarif. Kalaupun Ja'far Umar Thalib (mantan Panglima Laskar 
Jihad) diundang dalam acara ini, tentulah dengan pertimbangan bahwa ia 
seorang mantan organisasi perjuangan nahi munkar yang kabarnya kini sudah 
'menyesali' perbuatannya dan kini fokus ke amar makruf.

Bagaimana suatu masalah Nahi Munkar diselesaikan oleh tokoh-tokoh agama yang 
spesialis Amr Makruf ? Katakanlah mereka cukup memahami masalah Nahi Munkar, 
tapi toh sebatas wacana atau paling tinggi dalam level di mimbar mesjid, 
bukan dalam pergerakan konkret di lapangan. Adalah wajar bila saksi mata 
atau intel Islam di Poso selama ini melaporkan kekejaman musuh Islam kepada 
tokoh-tokoh ormas Nahi Munkar semacam Habib Rizieq atau Ust Abubakar. Toh 
tidak mungkinlah mereka melaporkan hal semacam ini kepada partai PKS atau 
Gusdur atau Aa Gym atau Syafii Maarif atau Komarudin Hidayat. Ini sama juga 
diibaratkan seorang Presiden meminta pendapat Menteri Keuangan untuk mencari 
jalan keluar terhadap masalah keamanan atau masalah suatu peperangan. 
Pastilah sang Menteri Keuangan melihatnya dari kacamata budget dan laba 
rugi.

Detik ini

Detik ini, ketika Anda sedang membaca tulisan ini. Bisa saja Pak Yusuf Kalla 
lagi istirahat di tempat tidurnya yang empuk. Bisa saja Hendropriyono lagi 
karaoke dengan mantan Jenderal lainnya. Bisa saja sementara itu Anda sedang 
duduk di kafe sambil membaca tulisan ini ditemani secangki r kopi. Bisa saja 
saat ini seorang warga muslim Poso sedang diperiksa oleh Brimob bagian 
interogasi lantas dijepit keras kedua kakinya dengan dua potong kayu 
bergerigi yang dirantai agar mengaku atau mengarang cerita palsu.

Bisa saja lubang gigi geraham seorang anggota keluarga DPO detik ini sedang 
ditusuk dengan benda runcing agar mengaku dimana menyembunyikan DPOnya. Atau 
kaki seorang muslim Poso baru saja dipatahkan dengan benda tumpul karena 
tidak mau bekerjasama dengan Brimob.

Bagi yang prihatin atau berpihak pada umat Islam Poso, minimal anda bisa 
mendoakan mereka saat ini juga. Bagi yang tidak peduli atau yang membenci 
umat Islam Poso, timbul rasa penasaran saya untuk melihat bagaimana kelak 
Allah akan memperlakukan mereka di akhirat. (Syarifuddin Ambalawi)


  • [islamkristen] Saksi Poso, Habib Rizieq, Abubakar Baasyir, Yusuf Kalla dan Rekaman Video Yang Menjijikkan SARAPINVS GOKILLIANVS