itb  

[Itb] soal kompas (fwd)

Basuki Suhardiman
Sat, 23 Apr 2005 23:15:52 -0700


---------- Forwarded message ----------
Date: Fri, 22 Apr 2005 23:04:17 -0700 (PDT)
From: Satria Kepencet <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: soal kompas

 
Kompas: Obyektivitas Pers yang Hilang

 

 

Kisruh di kotak suara tenyata hanya membuat sedikit media yang tertarik 
mengangkat temuan-temuan itu sejak awal. Republika mengeluarkan tulisan sehari 
berselang percakapan di ruang MWK pada tanggal 21 Januari 2004. Pemunculan itu 
disusul dengan Tempo dan Media Indonesia. Kompas? Tentu tidak. Bukankah 
reporternya yang bernama Dik sangat dekat dengan kelompok RS dan SY. Bahkan Dik 
menjadi pertama lomba penulisan pemilu yang diselenggarakan pengelola Media 
Center KPU. Saat pertengkaran antara Dik dan pengelola MediaCenter KPU HR yang 
mneyebut Dik memang bukan karena tulisannya bagus tapi karena Kompas. 

 

Salah satu staf KPU mengungkapkan Dik dan segelintir wartawan lain menerima 
gaji bulanan dari SY karena kedekatannya itu. Imbalannya, jelas Dik dan 
segelintir wartawan lain juga harus membuat tulisan sesuai dengan kepentingan 
SY. Sabtu, 23 April 2003, Dik menurunkan feature tentang Kotak Suara sebagai 
Kunci Pembuka? Dik dalam tulisannya menyebutkan “Jika mau mengurutkan proses 
pengadaan di KPU, adakah yang peduli dengan apa yang terjadi dengan pengadaan 
logistik yang dilakukan pada 2002? Saat itu ada proses pengadaan logistik yang 
berkaitan dengan kegiatan P4B yang sepenuhnya ditangani staf Sekretariat 
Jenderal KPU. Pencetakan formulir pengadaan dan beragam perlengkapan petugas 
pencacah P4B toh sempat dipersoalkan, Nilai proyeknya pun boleh diadu dengan 
proyek pengadaan pada tahun anggaran 2003 dan 2004.”

 

Tulisan Dik merupakan isapan jempol dan membuktikan Kompas tidak obyektif dalam 
pemberitaannya. Dari bekas peserta lelang terungkap bahwa pengadaan yang 
sepenuhnya ditangani staf Setjen KPU bukannya tanpa kebocoran. Kebocoran 
terjadi dengan mark up harga 39 unit heavy duty scanner. 

 

SY diduga meraup hampir US$1 juta dari pengadaan itu saja. Selain itu, mark up 
juga terjadi saat pengadaan PC. Ini dilakukan cara menggunakan list harga dan 
speks PC merek HP dalam proses pelelangan, namun pembeliannya dilakukan dengan 
merek IBM. Sebuah bidder yang kalah pernah menyebutkan 3 di antara PC itu tidak 
bisa dipergunakan sejak pertama kali diinstal. Dipekirakan dari setiap PC 
terdapat perbedaan sekitar US$80 perunitnya. Kalikan saja itu dengan sekitar 
760 unit PC IBM yang dibeli untuk P4B. 

 

Sebelumnya, staf Setjen KPU juga menangani sepenuhnya pengadaan LAN di KPU. 
Pengadaan LAN pada tahun anggaran 2002 ini menurut estimasi BPK proyek ini 
bernilai kurang dari Rp. 400 juta. Padahal dana yang dihabiskan untuk 
mengimplementasikannya bernilai Rp.3,14 milyar. LAN KPU tidak terlohat 
penampakannya di lingkungan KPU hingga saat ini.

 

Pelaksana pengadaannya adalah PT Interteknis yang disebut-sebut oleh bidder 
yang kalah sebagai ‘jagonya’ SY dan sudah dipersiapkan dengan matang untuk 
memenangkan proyek tersebut. Interteknis disebut-sebut sebagai broker bagi 
perusahaan-perusahaan peserta lelang pengadaan komputer dan WAN KPU. Nama SY 
disebut-sebut sebagai ‘orang kuat KPU’ dan setiap calon peserta lelang harus 
bertemu dan memperoleh restunya sebelum berlaga. SY diketahui memiliki 
operatornya seperti Bam, Ed dan GP di staf KPU dan HR di Media Center. 

 

GP selalu melontarkan komisi sebesar 15% pada peserta tender komputer dan WAN 
KPU. Rinciannya 10% untuk anggota KPU dan 5% untuk staf KPU. Komisi itu menurun 
menjadi “10% untuk Pak Ketua” ungkap bidder yang pernah bersantap siang dengan 
GP menjelang anwijziing pertama lelang pengadaan komputer dan WAN KPU. 
Gara-gara ucapan itu, GP disemprot dan dimaki-maki ketua KPU NS sehabis sholat 
Jum’at minggu berikutnya.

 

GP lah yang memerintahkan dimasukan 12 perusahaan tidak lolos prakualifikasi ke 
dalam undangan peserta anwijziing pertama lelang pengadaan komputer dan WAN 
KPU. Undangan tersebut sempat disebarkan. CM yang kemudian mengetahui adanya 
penambahan illegal itu segera memerintahkan staf yang sama untuk meralatnya, 
sehingga hanya 41 perusahaan yang lolos pra-kualifikasi lah yang datang. Kedua 
belas perusahaan itu mengakui dimintai uang sebesar Rp.10 juta untuk 
pencantuman nama-namanya di undangan tersebut. 

 

Salah satu bidder yang kalah dalam lelang pengadaan komputer dan WAN KPU 
terungkap bahwa ia sudah mengeluarkan sekitar Rp.275 juta untuk mengentertain 
para staf Sekjen dan Sekjen KPU saat itu. Seorang broker yang membawa sebuah 
perusahaan metal working dan sebuah perusahaan percetakan di Jakarta 
menyebutkan telah menghabiskan sekitar Rp.500 juta untuk keperluan entertain 
staf KPU. 

 

Dik juga diketahui berseberangan dengan CM karena banyak tulisannya yang 
menyerang tanpa data yang benar. Dik pada Maret 2004 menurunkan tulisan yang 
mengutip Marsudi Kisworo sebagai konsultan Tim IT KPU.  Dalam tulisan itu, 
Marsudi Kisworo menyebutkan tingkat kegagalan koneksitas node IT KPU mencapai 
98%. Marsudi merupakan bekas anggota Grand Design Sistem Informasi KPU dan 
tidak pernah terlibat sejak Imam Prasodjo mengundurkan diri dari KPU. 

 

Perlu diketahui Grand Design SI KPU yang dirancang oleh Marsudi Cs memiliki 
nilai minimal US$119 juta. Pembelian PC dengan prosesor Pentium IV 1,4 GHz, HD 
40GB, RAM 256 MB dan monitor 17”  dipatok antara US$1.500 hingga US$2.000. 
Sedangkan Laptop dipatok berkisar US$3.000-5.000.

 

Kompas juga terlibat dalam proyek percetakan surat suara melalui Gramedia. Pada 
percetakan surat suara Pilpres pertama, Gramedia bahkan dipanggil langsung oleh 
ketua pantia tender percetakan surat suara HA, tanpa sepengetahuan PT Temprina 
sebagai pimpinan konsorsiumnya. Hasilnya, Gramedia berdiri sendiri dan tidak 
berada lagi dalam konsorsium. 

 

--satria kepencet--


_______________________________________________
Itb mailing list
Itb@itb.ac.id
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/itb