Taufan Marhaendrajana
Thu, 4 Mar 1999 11:52:32 -0500
arsip -- http://nic.itb.ac.id/~arsip/itb/ ----------------------------------------------------------------- Ini saya forwardkan berita dari Republika tentang pemberitaan (provokasi?) oleh RCTI yang menimbulkan korban (pembantaian) di Ambon. TM ----------------------------------------------------------------------------- Return-Path: <[EMAIL PROTECTED]> Reply-To: [EMAIL PROTECTED] (PERMIAS mailing list) To: [EMAIL PROTECTED] (PERMIAS mailing list) Errors-To: [EMAIL PROTECTED] From: Dudi Abdullah Rendusara <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Permias: Sumbangsih RCTI thd. kerusuhan Ambon Date: Mon, 1 Mar 1999 09:36:24 -0600 (CST) Assalamu'alaikum wr. wb., Berikut ini saya forwardkan sebuah contoh kasus lain berupa pola pemberitaan koran yang tidak memperdulikan etika jurnalisme. Efek berita dari New York Times mungkin tidak terasa langsung di Indonesia, tetapi kalau RCTI maka akibatnya akan terasa langsung. wassalam, Dudi Saya kutipkan dari majalah Sabili dan Republika. ------------------------------------------------------------------------ Akibat pemberitaan yang tidak benar alias fitnah dari RCTI, maka sekitar 30 warga Muslim desa Pelauw harus mati terbantai karena dikira menyerang ummat Kristen di desa Kariu. RCTI memberitakan bahwa warga Muslim desa Pelauw menyerbu desa Kariu yang beragama Kristen, padahal fakta sebenarnya malah warga Muslim desa Pelauw yang diserang oleh kelompok tak dikenal. Karena pemberitaan (kalau fitnah masih bisa disebut berita) RCTI itu, warga Kristen di Ambon akhirnya marah kepada warga Muslim desa Pelauw dan membantai 30 warga Muslim. Jelas fitnah yang merenggut korban jiwa yang dilakukan RCTI harus dibawa ke pengadilan. Apalagi fitnah atau paling tidak pemberitaan sepihak itu bukan yang pertama kali dilakukan RCTI tentang kasus Ambon ini. RCTI yang bersama SCTV dikelola oleh tokoh Kristen Peter F Gontha ini pemberitaannya memang didominasi oleh jurnalis Kristen macam Chrys Kelana dan Adolf Posumah. Tidak heran jika pemberitaan mereka akhirnya banyak menguntungkan ummat Kristen Ambon dan merugikan ummat Islam di sana. Pemerintah jelas harus berani menindak RCTI yang jelas terbukti sebagai provokator kerusuhan yang merenggut 30 nyawa warga desa Pelauw. Ummat Islam sebaiknya mendemo RCTI (secara damai dan intelek) agar saudara Muslim kita di Ambon tidak menjadi sasaran fitnah mereka lagi, sehingga korban jiwa juga bisa ditekan. Berikut berita dari Republika 16 Februari tentang berita (baca: fitnah) RCTI yang mengakibatkan puluhan nyawa warga Muslim Pelauw melayang: Menyoal Kerusuhan Ambon Kami sangat kaget menyaksikan tayangan Seputar Indonesia RCTI edisi hari Ahad (14/2) yang menyiarkan kerusuhan di Pulau Haruku. Dalam tayangan itu disebutkan kerusuhan di Pulau Haruku terjadi karena warga Islam Desa Pelauw menyerbu Desa Kariu yang mayoritas beragama Kristen. Sebagai warga Desa Pelauw, kami menyesalkan pemberitaan tersebut. Pemberitaan ini sungguh merupakan pemutarbalikan fakta. Fakta yang sebenarnya terjadi justru Desa Pelauw yang diserang oleh orang-orang yang tak dikenal. Yang kami tahu mereka bukan warga asli Desa Kariu. Selama ini, hubungan warga Desau Pelauw yang penduduknya muslim dengan Desa Kariu sangatlah harmonis. Warga Desa Kariu pun sangat baik dengan warga Desa Pelauw. Ketika terjadi kerusuhan di Ambon, hubungan kami tetap tidak berubah. Kami justru mempereratnya, karena tahu Desa Kariu adalah desa kecil dan warganya dihinggapi kekhawatiran. Dan akibat pemberitaan RCTI yang memutarbalikkan fakta itu, hari Senin (15/2) di kota Ambon terjadi pembakaran rumah-rumah warga asal Desa Pelauw. Sebuah peristiwa yang sama-sama tidak kita inginkan. Kesalahan dalam pemberitaan itu bukanlah kejadian pertama. Dalam memberitakan pemicu kerusuhan Ambon, RCTI juga salah. Dalam berita RCTI pernah disebutkan bahwa pemicu kerusuhan Ambon adalah Yopie dipalak warga Batu Merah. Berita ini juga suatu pemutarbalikan fakta. Yang benar justru warga Batu Merah yang dipalak Yopie. Untuk itu, kami meminta RCTI agar berhati-hati dalam menurunkan pemberitaan. Semestinya RCTI tidak menyajikan pemberitaan berdasarkan informasi yang sepihak semata tanpa cek dan ricek. Untuk itu, agar RCTI tetap oke, maka semestinya pemberitaan-pemberitaan RCTI -- khususnya mengani kerusuhan Maluku -- tak hanya menggunakan sumber-sumber sepihak saja. Nama dan Alamat Ada pada Redaksi -------------------------------------------------------------------------------- ----------------------------------------------------------------- Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] isi e-mail "unsubscribe itb" atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing -----------------------------------------------------------------