M Fahmi Aulia
Fri, 30 Apr 1999 22:14:29 -0700
arsip -- http://nic.itb.ac.id/~arsip/itb/ ----------------------------------------------------------------- From: Faisal Wiryasantika > >>> Kekerasan, Gandringisme Hingga Soehartoisme > >>> > >>> PURBALINGGA (KR) - Tim serse gabungan Polda Jateng, Polwil Banyumas > >>> dan Polres Purbalingga dalam pengusutan insiden 2 April 1999 di > >>> Purbalingga yang mengakibatkan gagalnya rapat besar Partai Golkar yang > >>> akan dihadiri Ketua Umum DPP Partai Golkar Ir Akbar Tandjung, sampai > >>> Kamis (8/4) memeriksa 39 saksi yang dicurigai terlibat langsung dalam > >>> aksi penghadangan, pelucutan dan perusakan. > >>> > >>> Dari 39 saksi yang dimintai keterangan tim serse gabungan 8 saksi > >>> dijadikan sebagai tersangka, yakni Arm, Sg, Es, Id, As, Do, Bd dan Wn. > >>> Dari 8 tersangka tersebut yang ditahan Polwil Banyumas baru 3 > >>> tersangka. > >>> Kapolwil Banyumas Kol Pol Drs Isnandar, didampingi Wakapolwil Letkol > >>> Pol > >>> Drs Agus Judharto, Kamis (8/4) ditemui diruang kerjanya membenarkan > >>> penahanan 3 tersangka warga Bobotsari. > >>> > >>> Menurut Kapolwil Banyumas Kol Pol Drs Isnandar dari 3 tersangka yang > >>> ditahan tersebut mengakui warga PDI Perjuangan, bahkan 1 diantaranya > >>> pengurus Komdes. Namun dari sumber lain menyebutkan, ke-3 tersangka > >>> yang > >>> ditahan semula ngotot mengaku anggota dan Komdes PDI Perjuangan > >>> ternyata > >>> tidak dapat menunjukkan kartu tanda anggota (KTA) PDI Perjuangan. > >>> > >>> Karena tidak dapat menunjukkan KTA, sumber tersebut juga menyebutkan, > >>> setelah diperiksa intensif oleh penyidik, akhirnya terungkap ke-3 > >>> tersangka mengaku sebagai anggota ormas pemuda lain yang tidak > >>> berafiliasi ke PDI Perjuangan. Untuk pengusutan kasus insiden > >>> Purbalingga tersebut menurut Kapolwil Banyumas, kemungkinan akan > >>> berkembang. Mengingat kasus perusakan dan pelucutan ini melibatkan > >>> massa. > >>> > >>> Ketika ditanya berkaitan pemeriksaan terhadap Bendahara DPC PDI > >>> Perjuangan, Sukardjo, yang pada waktu kejadian insiden di tengah > >>> massa, > >>> Kol Pol Isnandar menjelaskan, untuk pemeriksaan terhadap Sukardjo yang > >>> diketahui pengurus DPC PDI Perjuangan sebagai saksi, masih mengadakan > >>> penyelidikan sejauh mana perannya di lapangan. Terhadap korban > >>> pelucutan > >>> pakaian yang menimpa kaum wanita, Kapolwil Banyumas juga meminta untuk > >>> segera melapor. Karena yang melapor tiga orang dan mengaku dilucuti > >>> pakaiannya, jelas Kol Pol Drs Isnandar. Berkaitan akan turunnya Tim > >>> Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) untuk menyelidiki kasus insiden > >>> Purbalingga, Kapolwil Banyumas menyambut baik. Namun hingga Kamis > >>> (8/4) > >>> Kepolisian Wilayah Banyumas belum diberi tahu kapan akan menyelidiki > >>> insiden di Purbalingga. Saya baru tahu setelah membaca di koran tadi > >>> pagi dan kapan tepatnya turun saya belum mengetahui, kata Kol Pol Drs > >>> Isnandar. > >>> > >>> Dibesar-besarkan > >>> > >>> Di tempat terpisah Kapolda Jateng Mayjen Pol Drs Nurfaizi menegaskan, > >>> pihaknya tetap akan mengusut kasus Purbalingga yang melibatkan massa > >>> beratribut PDI Perjuangan. Jika terbukti melanggar hukum polisi tidak > >>> segan-segan akan menindak pelakunya secara tegas. Pihak Kepolisian > >>> sampai saat ini masih melakukan pengusutan secara intensif terhadap > >>> pelaku. > >>> > >>> Kepada masyarakat yang mengalami atau mengetahui peristiwa tersebut, > >>> Kapolda mengharapkan untuk tidak takut melapor kepada aparat > >>> Kepolisian. > >>> Karena jika masyarakat takut atau ragu maka kasus itu tidak akan dapat > >>> diselesaikan aparat. Kapolda menyayangkan adanya ancaman terhadap > >>> orang > >>> yang lapor ke polisi. Namun pihaknya belum mengetahui siapa yang > >>> melakukan ancaman tersebut. > >>> > >>> Berdasarkan laporan, dari 39 orang yang diperiksa berkaitan dengan > >>> pelucutan pakaian terhadap massa perempuan Partai Golkar ternyata > >>> hanya > >>> dialami 9 orang. Sementara 3 pelakunya sampai saat ini masih ditahan > >>> Polres Purbalingga untuk dimintai keterangan, kata Kapolda kepada > >>> wartawan usai acara Pengenalan Program Kerja PPD I Kepada Unsur > >>> Muspida > >>> di gedung PPD I Jalan Veteran Semarang, Kamis (8/4). > >>> > >>> Lebih lanjut Nurfaizi menegaskan, berdasarkan laporan yang diterima > >>> Polres setempat ternyata insiden pelucutaan pakaian tersebut kecil > >>> kemungkinan terjadi. Kapolda menduga berita pelucutan itu terlalu > >>> dibesar-besarkan. Karena ketika pencegatan oleh massa beratribut PDI > >>> Perjuangan, wanita yang berkaos Partai Golkar disuruh ganti. Ada yang > >>> di > >>> kantor polisi maupun di tempat rumah masyarakat sekitar lokasi > >>> kejadian. > >>> > >>> Mereka berganti pakaian dengan meminjam milik warga masyarakat sekitar > >>> lokasi kejadian. Berdasarkan para pelaku yang diperiksa, semuanya > >>> mengaku atas nama pribadi bukan atas nama kader Parpol tertentu. > >>> Seperti > >>> bendahara DPD PDI Purbalingga Sukardjo, diperiksa atas nama pribadi, > >>> karena saat kejadian berada di tempat tersebut. > >>> > >>> Pelecehan Wanita > >>> > >>> Mengantisipasi kejadian seperti itu tidak terulang di masa datang, > >>> kepolisian bersama OPP, Muspida, Satgas OPP dan instansi terkait dalam > >>> minggu ini akan membentuk Crisis Centre. Dengan tujuan membuat > >>> perencanaan yang matang untuk menganalisa kasus yang terjadi dalam > >>> masa > >>> kampanye mendatang. Anggotanya berasal dari berbagai macam unsur yang > >>> ada di masyarakat. > >>> > >>> Sekjen Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) > >>> Bambang > >>> Sugianto SH mengatakan, kepada KR usai ceramah dalam sarasehan > >>> Kekerasan > >>> Orde Baru di Aula Fakultas Hukum Unsoed Purwokerto, Kamis, dinilai > >>> terdapat tindak kekerasan dan pelecehan wanita. Tanpa memandang siapa > >>> sebenarnya pelaku dua pelanggaran HAM tersebut, Megawati selaku Ketua > >>> Umum PDI Perjuangan seharusnya segera merespon, terutama yang terkait > >>> dengan harkat kewanitaan. > >>> > >>> Sebab Megawati belum ketinggalan kereta jika ingin mendapat simpati > >>> masyarakat luas. Katanya, pelecehan terhadap para wanita pendukung > >>> Golkar dalam insiden Purbalingga benar-benar ada. Kenyataan seperti > >>> itu > >>> sebenarnya sebuah peluang bagi Megawati untuk meresponnya. Artinya, > >>> selaku wanita harus mampu melindungi kaumnya dengan imbauan-imbauan > >>> kepada masyarakat luas. > >>> > >>> Megawati merupakan public-figur, tanpa memandang siapa pelaku > >>> pelecehan > >>> terhadap wanita, harus memberi respon dukungan terhadap kaum hawa. Ini > >>> akan lebih simpatik dan menjadi tidak ketinggalan kereta, kata Bambang > >>> Sugianto SH. Kontras yang telah menurunkan 4 wakilnya guna mengungkap > >>> insiden massa beratribut PDI Perjuangan dengan Golkar di Purbalingga. > >>> Hasilnya belum final. > >>> > >>> Meski demikian, tutur Sekjen Kontras ini, Pengurus PDI Perjuangan > >>> mestinya mengakui saja ketimbang mengelak. Dengan mengakui, efeknya > >>> justru positif. Dari pengakuan tersebut paling tidak masyarakat tahu > >>> mengapa sampai terjadi hal-hal seperti itu terhadap Golkar. Kita tidak > >>> menutup mata saat Orde Baru, PDI pimpinan Megawati ini juga > >>> berkali-kali > >>> mendapat tekanan kekerasan, katanya. (R-8/R-14/Ero)-f > >>> > >>> ______________________________________________________________________ > >>> > >>> SOAL PERTEMUAN HABIBIE-PRAJOGO > >>> 2 Menteri Lakukan Aksi Tutup Mulut > >>> > >>> JAKARTA (KR) - Presiden BJ Habibie didampingi Menkeu Bambang > >>> Subianto, Memperindag Rahardi Ramelan dan Meneg Pendayagunaan BUMN > >>> Tanri > >>> Abeng menerima seorang pengusaha Prajogo Pangestu yang sangat akrab > >>> dengan mantan Presiden Soeharto dan putra-putrinya di Istana Merdeka, > >>> Kamis (8/4) sore. > >>> Apa yang dibicarakan dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari > >>> satu > >>> jam itu tidak jelas, sebab keterangan yang diberikan menteri itu > >>> bertolak belakang dengan isi keterangan dari pengusaha kondang itu. > >>> Baik > >>> Menperindag maupun Menkeu tidak bersedia memberi keterangan, bungkam > >>> seribu bahasa saat para wartawan menguber dan bertanya apakah demikian > >>> penting masalah yang dibicarakan sehingga untuk menerima satu > >>> pengusaha > >>> saja sampai didampingi tiga orang menteri. > >>> Menkeu Bambang Subianto juga tidak bersedia memberi keterangan saat > >>> ditanya apakah dibicarakan masalah utang-utang grup usaha pimpinan > >>> Prajogo yang kabarnya begitu banyak di bank-bank pemerintah. Sedangkan > >>> Meneg BUMN Tanri Abeng mengatakan, masalah yang dibicarakan tentang > >>> rencana restrukturisasi sektor riil termasuk perusahaan petrokimia > >>> Chandra Asri bagian usaha Prajogo. (Mgn)-n > >>> Tanri Abeng yang membawahi semua bank-bank pemerintah juga bungkam > >>> ketika ditanya apakah dibicarakan pula tentang utang Chandra ABRI yang > >>> miliaran dolar. > >>> > >>> Penunggak Utang > >>> > >>> Ia juga tidak memberi jawaban ketika ditanyakan apakah ada keinginan > >>> dari sebuah perusahaan Jerman yang ingin membeli perusahaan Petrokimia > >>> itu. > >>> Boss Chandra Asri, Prajogo Pangestu juga tidak bersedia menjawab > >>> pertanyaan wartawan, apakah pertemuannya dengan Presiden membicarakan > >>> masalah Chandra Asri. Atau juga berkaitan dengan posisinya yang > >>> diberitakan sebagai penunggak utang terbesar ketiga pada bank-bank > >>> pemerintah setelah Bambang Trihatmodjo dan Tommy Soeharto. > >>> Didesak beberapa kali pertanyaan oleh wartawan, Prajogo Pangestu tetap > >>> bungkam, bahkan terkesan menghindar dari wartawan. Sambil tetap tutup > >>> mulut, Prajogo memasuki kendaraannya. Apakah pertemuan tadi > >>> membicarakan > >>> utang anda karena Anda menunggak utang terbesar ketiga setelah Bambang > >>> Trihatmodjo dan Tommy, tanya wartawan. > >>> Sambil membalik badannya, Prajogo Pangestu hanya menjawab, Itu > >>> bukan > >>> berita, paparnya singkat. Namun setelah dibujuk-bujuk oleh salah > >>> seorang > >>> staf Sekneg RI, akhirnya Prajogo bersedia memberi keterangan, walau > >>> singkat. > >>> Ia secara tidak langsung membantah bahwa pertemuannya dengan > >>> Presiden > >>> membahas masalah dirinya sebagai penunggak utang di bank-bank negara. > >>> Kami membicarakan masalah Mangole yang terkena gempa bumi beberapa > >>> waktu > >>> lalu dan kami diminta untuk membangun kembali, tutur Prajogo sambil > >>> buru-buru memasuki mobilnya. (Mgn)-n > >>> > >>> =========== > >>> > >>> > >>> Subject: Yorris berencana ledakkan Kalbar & Daftar Cekal Bankir > >>> Date: Fri, 16 Apr 1999 19:16:30 +0700 > >>> > >>> Subject: SiaR---YORRYS BERENCANA LEDAKKAN KALBAR > >>> Date: Fri, 16 Apr 1999 17:39:38 +0700 > >>> > >>> PONTIANAK (SiaR, 16/4/99), Yorrys dan Yapto berencana > >>> mengobarkan kerusuhan susulan di Kalimantan Barat. Rencana yang > >>> disusun > >>> di sebuah Hotel Bintang 5 di Jakarta itu bocor ke beberapa sejumlah > >>> pihak dan sampai ke masyarakat Pontianak. Menteri Kehakiman Muladi > >>> dikabarkan berang setelah mendengar bocoran rencana tersebut. > >>> > >>> Setelah sukses membakar Ambon dengan pertikaian antarAgama, > >>> kali > >>> ini Ketua Umum Pemuda Pancasila Yorrys Raweyai dan Yapto Suryosumarno > >>> kembali dapat pesanan dari Cendana untuk mengobok-obok Kalimantan > >>> Barat. > >>> Sejumlah sumber Siar di Pontianak menyatakan Yorrs dan Yapto berencana > >>> mengobarkan konflik etnis antara Madura dengan Melayu-Dayak di kawasan > >>> Singkawang-Pontianak sebagai kelanjutan kejadian Sambas. > >>> > >>> Kesuksesan Yorrys dan Yapto di Ambon diduga karena menggunakan > >>> operator operator preman Ambon yang kebetulan memang sedang bertikai > >>> antara kelompok Ongky Pieterz dan Milton Natuawakota yang dikenal > >>> sebagai kelompok Ambon Kristen melawan kelompok Ambon Muslim di bawah > >>> pimpinan Ongen Sangaji. Dalam hal Kalbar, Yoris dan Yapto kerap > >>> mengadakan rapat intensif dengan beberapa tokoh preman dan pejabat > >>> intelejen asal Bakin. > >>> > >>> Pada Jumat (2/4) malam Yorrys dan Yapto beserta petinggi > >>> intelejen ABRI mengadakan rapat guna mendesign skenario kerusuhan di > >>> Kalbar. Skenario kali ini disusun setelah konflik etnis tersebut > >>> ternyata tidak menghasilkan konflik agama dan malah justru mulai > >>> mereda. > >>> Menurut sumber SiaR tersebut Tommy dan Sigit Soeharto direncanakan > >>> terlibat dalam pembiayaan operasi tersebut. > >>> > >>> Namun rencana yang akan digulirkan para operator kerusuhan > >>> tersebut bocor dan didengar Menteri Kehakiman Muladi, yang konon > >>> segera > >>> mengontak beberapa tokoh masyarakat asli Kalimantan Barat di Jakarta. > >>> Muladi dikabarkan geram pada tindakan para operator politik 'Cendana' > >>> tersebut. > >>> > >>> Seorang kepercayaan Muladi, yang mengaku mantan operator Mbak > >>> Tutut mengaku membocorkan skenario tersebut. Pria yang mantan redaktur > >>> di dua majalah ibukota itu mengatakan, "Beberapa elit terutama Muladi > >>> menginginkan Soeharto dan Tommy diadili sebelum Pemilu agar tidak > >>> terjadi pemberontakan Rakyat." Menurutnya skenario kerusuhan Kalbar > >>> itu > >>> akan diledakkan di Pontianak dengan mengarahkan ke konflik Agama. > >>> Tampaknya "track-record" > >>> Yorrys dan Yapto makin naik dengan banyaknya paket kerusuhan yang > >>> dipesan Cendana.*** > >>> > >>> ---------- > >>> > >>> Jumat, 16 April 1999 > >>> > >>> Daftar Cekal Bankir Tutut, Bambang, dan Tommy > >>> Tidak Ada > >>> Reporter Nurul Hidayati > >>> > >>> detikcom, Jakarta. Walau secara resmi Bank Indonesia, Departemen > >>> Keuangan, dan Depkeh tidak mengumumkan daftar bankir yang dicekal, > >>> tapi > >>> daftar nama 172 bankir yang dicekal itu sudah beredar luas di kalangan > >>> masyarakat sejak pekan ini. > >>> > >>> Tampaknya pemerintah harus hati-hati untuk mengumumkan, sebab memang > >>> tidak terdapat nama keluarga cendana sama sekali. Padahal siapa yang > >>> membantah,bahwa Tutut adalah pemegang saham Bank Yakin Makmur (Yama) > >>> dan > >>> Bank Pesona bersama Tommy. Begitu pula Bambang Soeharto juga pemegang > >>> saham mayoritas bank Alfa. "Kami tak mau mengumukan karen itu tidak > >>> etis," kilah Gubernur BI Syahril Sabirin, Jumat (16/4/1999). > >>> > >>> Bahwa BI ternyata dalam melakukan pencekalan itu diskriminatif, sudah > >>> sangat jelas. Selain bukti tak adanya nama keluarga cendana di daftar > >>> yang dicekal, juga nama Hashim Djojohadikusumo dan Gus Dur tidak > >>> termasuk. > >>> Sebagian besar nama yang dicekal, ternyata orang yang kurang dikenal. > >>> Kalaupun ada, itu adalah Sofyan Wanandi dan The Nin King dari Bank > >>> Danahutama. > >>> > >>> Mengenai Hashim yang juga adik kandung Letjen (Purn) Prabowo Subianto > >>> adalah pemegang saham di Bank Papan. Dia saat ini merupakan utusan > >>> khusus Presiden BJ Habibie dalam urusan bisnis untuk diwilayah Eropa. > >>> > >>> Di Bank Papan ini juga terdapat nama Gus Dur sebagai salah satu > >>> pemegang > >>> saham. Bahkan Gus Dur pun tercatat di Ficorinvest. Khusus soal Gus Dur > >>> itu, Menkeh Mulai pernah menyatakan bahwa tak akan mencekal Gus Dur > >>> karena meyakini Ketua PBNU itu tak akan berbuat jahat untuk > >>> meninggalkan > >>> tanah air. > >>> > >>> Berikut daftar 172 bankir yang beredar luas di masyarakat > >>> > >>> 1. Bank Aken: Putu Setiawan, I Made Puger, I > >>> Gede Darmawan, Arya Adi, IGPC Dharmaputera, I > >>> Made Sudiarta. > >>> > >>> 2. Bank Sahid Gajah Perkasa: Ny Itjih Sjamsul > >>> Nursalim, Susanto Sjahrir, Bambang Husodo, > >>> Sryantoro Wiweko. > >>> > >>> 3. Bank Putra Surya Perkasa: Suhargo > >>> Gondokusumo, Slamet S. Gondokusumo, Murniaty > >>> Kartono, Ichwan Wijono, Wilyana Sugityo, > >>> Irwandi Pranata Triono Gondokusumo. > >>> > >>> 4. Bank Namura Internusa: Joseph Januardy, > >>> Adisaputra Januardy, James F Januardy, Freddy > >>> Gozali, Angela Listia Dewi. > >>> > >>> 5. Bank Dana Asia: Tidak ada > >>> > >>> 6. Bank Budi Int: Hendra Liem, Ronald Liem, > >>> Tock Kwong, Sumadi Rusli, Josotaruno Nimpuno. > >>> > >>> 7. Bank Yakin Makmur: Rusman Aji Samanu, > >>> Winfried Tongken, Erwadi Gunawan, Untung > >>> Suharyadi, Harri Wiharso, Flores Hutahajan, > >>> Samuel Maruli. > >>> > >>> 8. Bank Lautan Berlian: Ulung Bursa, Buslorni > >>> Bursa, Sintunata Bursa, Hendrawin Singgih, FX > >>> Nurtanio, Ibrahim Alje. > >>> > >>> 9. Bank Danahutama: Sofyan Wanandi, The Ning > >>> King, Marcia Sutedja, Hadipurnama Chandra, > >>> Lukito Wanandi > >>> > >>> 10. Bank Orient: Kwan Benny Ahadi, Aldo Putra > >>> Brasah, Bambang Sigit Sutanto, Hendra > >>> Darmadi, > >>> Yusak Puspowinoto. > >>> > >>> 11. Bank Papan: Honggo Hendratno, Siswanto > >>> Sudomo, Al Njoo/Njoo Kok Kiong, Priaswijanto > >>> Sabrawi, Hengky Kurniawan Halim, Lina > >>> Tresnawaty Tanusandjaya, Bistok Hutasoit. > >>> > >>> 12. Bank Pesona Kriyadana: Harry Sapto > >>> Supoyo, > >>> Trenggono Purwosuprodjo, Bambang U > >>> Sastromuljono, Arthur Irawan, Janpie Siahaan, > >>> Rocky Surya Sugandi, Hendy Herijanto. > >>> > >>> 13. Bank Tata: Hengky Wijaya Ng, Tonny > >>> Tanjung, > >>> Aninda Sardjana, Hari Setiawan Nicolas > >>> Bernadus > >>> Tirtadinata. > >>> > >>> 14. Bank Intan: Arnir Rachman Badawi > >>> Subarjono, > >>> Sechan Sahab, Suharso Munoarta, Riswan > >>> Chaidir, > >>> Tommy Sutomo, Meizal Zam. > >>> > >>> 15. Bank Asia Pacific: Irawan Harjono, > >>> Setiawan > >>> Harjono, Hendrawan Harjono, Reny Mulyatie, > >>> Arie > >>> SB Moeljadi, Joseph L Hengkengbala, Benjamin > >>> Soeryadi. > >>> > >>> 16. Bank Sewu Internasional: Tidak Ada. > >>> > >>> 17. Bank Hastin Internaslonal : Hendrawan > >>> Harjono. > >>> > >>> 18. Bank Indonesia Raya Tbk: Bambang W > >>> Panutomo, Swic Ling Tjin, Tuty Sumargo, > >>> Budiarto Gunawan, Farman Gunawan. > >>> > >>> 19. Bank Umum Servitia: Hendita Winarto, > >>> Ganda > >>> Eka Hundria, Kakan Sukandadinata, David Nusa > >>> Wijaya, Tarunodjojo Nusa, Soedarso, Winarso, > >>> Tuty Ridwan Tjandra, Ng Christine Nusa, > >>> Wijatin > >>> Nusa, Taruno Harto Nusa. > >>> > >>> 20. Bank Dharmala: Erly Syahada, Suyanto > >>> Gondokusumo, Hendro S Gondokusumo, Tjan Soen > >>> Eng, Suhanda Wirnaatmadja, Kinardi Rusli, > >>> Hartawan Sumosubroto, Hardjono Darto To, > >>> Jenny > >>> Wirjadinata. > >>> > >>> 21. Bank Mashill: Philip Sandra Widjaja, > >>> Agustinus T Windoe, Harsono Ng, Karta > >>> Widjaja, > >>> Makki Widjaja, Anthon Widjaja > >>> > >>> 22. Bank Arya Panduarta: Tidak Ada. > >>> > >>> 23. Bank Central Dagang: Hindarto Hovert > >>> Tantular, Stanley Ranty, Purnomo Budisatrio, > >>> Sumardjo Andjum, Sam Handojo. > >>> > >>> 24. Bank Bahari: Tidak Ada. > >>> > >>> 25. Bank Ciputra: Tidak Ada. > >>> > >>> 26. Bank Metropolitan Raya: Tidak Ada > >>> > >>> 27. Bank Alfa: Nico Mailangkay, Uthan A. > >>> Sadikin, Djunanda P Sjarfuan. > >>> > >>> 28. Bank Kharisma: Suhendro Hadiwidjojo, > >>> Lukas > >>> Jethrokusumo, Probo Yuwono Sugiharto Susanto. > >>> > >>> 29. Bank Dewa Rutji: Johan Setiawan, Aloysius > >>> Indrarto Tedjoseputro, Muzakir Asona, Wiwaha > >>> Boenjamin, Dawidju WidJaJa. > >>> > >>> 30. Bank Bumi Raya Utama: Swandono Adijunto, > >>> Bianadi Harlan, Adijanto, Thomas Agap, Winoto > >>> Adijanto, Suparno Adijanto, Boedisoesanto. > >>> > >>> 31. Bank Baja : The Ning Khing, Abdul Malik, > >>> Benny The Tjai Sun, Lo Wirawan, Jean R. > >>> Ronald > >>> Pea, Andy Wibowo Sardiito, Reza S Haruman, > >>> Andy > >>> Hartawan Sardjito, The Kwen Yuan. > >>> > >>> 32. Bank Sembada Arta Nugroho: Tidak Ada > >>> > >>> 33. Bank Dagang dan Industri: Rizal N Panji, > >>> Adriansyah Omar Makki, Suyud Subakti. > >>> > >>> 34. Bank Sino: Tidak Ada. > >>> > >>> 35. Bank Indotrade: Tidak Ada. > >>> > >>> 36. Bank Ficorinvest: Soemer, Tommy Boham, > >>> Roekman Prawirasastra. > >>> > >>> 37. Bank Uppindo: Iwan Rosudi Widyapranolo > >>> > >>> 38. Bank BPD Indonesia: Tidak Ada > >>> > >>> ========== > >>> > >>> > >>> Subject: Habibie's fatal flaw > >>> Date: Fri, 16 Apr 1999 19:36:55 +0700 > >>> > >>> The Age > >>> Thursday, 15 April, 1999 > >>> > >>> Habibie's fatal flaw: failing to end military privilege > >>> > >>> By GERRY van KLINKEN > >>> > >>> FOR all his sometimes clownish mannerisms, President Habibie has in > >>> many > >>> ways been Indonesia's Gorbachev. He rode the crest of a wave of > >>> political creativity generated by the massive protests of last year. > >>> But > >>> now that wave has spent much of its force. > >>> > >>> The army-backed Liquica massacre in East Timor last week represents a > >>> conservative backlash, in which failed Soeharto-era ideas are being > >>> put > >>> forward as real solutions once more. Habibie has been mocked as a > >>> Soeharto protege. Yet under him press freedom has flourished, labor > >>> unions have sprung up freely and almost all political prisoners have > >>> been freed. He has talked with dissatisfied Irianese and Acehnese > >>> community leaders. And he has foreshadowed independence for East > >>> Timor. > >>> > >>> However, on the single most important Soeharto legacy - military > >>> privilege - he has made little headway. In this Habibie is not alone. > >>> Virtually the entire political establishment has agreed that, unlike > >>> last year's demonstrators, they don't want the military out of > >>> politics > >>> now. Not one of the major parties - despite their long opposition to > >>> Soeharto - have placed an end to the privilege of organised violence > >>> at > >>> the top of their political agenda. > >>> > >>> Such a loss of political nerve is now becoming apparent in East Timor. > >>> The Liquica massacre, in which at least 25 people died at the hands of > >>> a > >>> military-backed militia, could well be a message to that establishment > >>> from armed forces commander General Wiranto. The message: no more > >>> experimentation with the future of East Timor. > >>> > >>> Last month a high-level United Nations delegation visited East Timor > >>> to > >>> begin preparations for the poll in July or August on East Timor's > >>> future > >>> association with Indonesia. According to reliable reports, the > >>> delegation had great difficulty getting to see Wiranto even briefly as > >>> it passed through Jakarta on 25 March after its visit to East Timor. > >>> > >>> The Far Eastern Economic Review noted last month that Wiranto is > >>> relying > >>> more on retired General Benny Murdani, the architect of the East Timor > >>> tragedy. Officers seen as Murdani proteges have been favored in recent > >>> promotions. Murdani told a visiting academic in January that he > >>> disapproved of Habibie's conciliatory autonomy offer for East Timor. > >>> He > >>> believed that in ``four to five months'' the armed forces, ABRI, would > >>> be ready to crack heads once and for all in East Timor. Tough talk for > >>> a > >>> man supposedly long out of power. > >>> > >>> Wiranto's message on East Timor, if I have read it correctly, may > >>> unfortunately fall in good soil in Jakarta. Indonesia may yet prove to > >>> be a reluctant decoloniser. Eager to depict Habibie as a lame duck, > >>> presidential aspirant Megawati Sukarnoputri says she opposes the > >>> Habibie > >>> initiative offering independence if the East Timorese reject an > >>> autonomy > >>> offer. She wants the matter decided by a freshly elected parliament, > >>> in > >>> which she has made it clear she will oppose independence. Abdurrahman > >>> Wahid has been similarly unhelpful. Amien Rais is the only prominent > >>> party leader with an open mind on East Timor. > >>> > >>> The reason for the hawkishness among political prominents is not > >>> difficult to find. Unrest around the vast archipelago in recent > >>> months, > >>> whether engineered or not, has had the predictable effect of > >>> stimulating > >>> nostalgia for Soeharto's security approach. The conservative view that > >>> Indonesia is > >>> perhaps too violent to be democratic may be gaining ground in > >>> influential circles. The Habibie-sponsored political process over East > >>> Timor has triggered copy-cat demands in Aceh and Irian Jaya, where > >>> until > >>> now the word referendum had never been heard. > >>> > >>> Frequently aired anxiety over Indonesia's possible ``disintegration'' > >>> has dampened the creativity of last year, leaving the hawks to offer > >>> their already failed policies with renewed assurance. In East Timor, > >>> those policies mean once more backing violent militias to give the > >>> impression of a civil war, in which ABRI is the essential > >>> disinterested > >>> peacekeeper. > >>> > >>> The new conservative ascendancy is not easy to challenge from abroad. > >>> The UN process, for all its goodwill, remains dependent on Indonesia. > >>> Australia has a security treaty with Indonesia that makes it > >>> impossible > >>> to pit Australian soldiers against Indonesians in defence of the > >>> Timorese. > >>> > >>> All this does not mean East Timorese self-determination is now out of > >>> the question. There are many reasons for hope. But it does mean the > >>> decolonisation process will be slower and messier than was thought > >>> just > >>> a few weeks ago. Habibie said in February he would like to see the > >>> East > >>> Timor issue resolved by 1January 2000. Unless Indonesia's political > >>> movers and shakers rediscover their creative nerve, that magic date is > >>> likely to pass with no joy for the Timorese. > >>> > >>> Dr Gerry van Klinken edits Inside Indonesia magazine.E-mail: > >>> [EMAIL PROTECTED] > >>> > >>> ============ > >>> > >>> > >>> RUU Korupsi Bisa Menjerat Menteri 5 Tahun, Negara Rugi Rp 4 Trilyun > >>> Reporter Nurul Hidayati > >>> > >>> detikcom, Jakarta. Selama lima tahun terakhir, negara ternyata telah > >>> kebobolan karena dikorupsi sebesar Rp 4 trilyun. Dari jumlah itu, yang > >>> bisa diselamatkan cuma Rp 597 milyar lebih. > >>> > >>> Muladi mengatakan hal itu dalam memberikan jawaban pemerintah atas > >>> pertanyaan anggota fraksi di DPR mengenai RUU Pemberantasan Tindak > >>> Pidana Korupsi, Jumat (16/4/1999). Dalam rapat paripurna yang dipimpin > >>> oleh Wakil Ketua DPR Hari Sabarno itu, Muladi menilai bahwa akibat > >>> banyaknya kerugian itulah maka sangat penting dibuatnya UU untuk > >>> memberantas tindak korupsi itu. > >>> Korupsi lima tahunan yang diungkapan itu, adalah periode 1994-1999. > >>> Dan > >>> ternyata, justru setahun terakhir (1998-1999) merupakan jumlah korupsi > >>> yang paling besar dibanding empat tahun sebelumnya, jumlahnya mencapai > >>> Rp 2 trilyun sendiri (50 persen dari jumlah total). > >>> > >>> Selengkapnya, kerugian negara periode 1994-1995 sebesar Rp 1 trilyun, > >>> yang terselamatkan Rp 500 milyar. Periode berikutnya 1995-1996 > >>> kerugian > >>> Rp 208 milyar, diselamtkan 258 juta. Sedang periode '96-97 > >>> yang dikorupsi Rp 376 milyar, diselamatkan Rp 1 milyar. Ketika membaca > >>> di bagian ini, Muladi berkomentar: "Kok sedikit amat, lainnya kemana?" > >>> Tak pelak langsung disambut senyum anggota dewan. > >>> > >>> Muladi lalu melanjutkan, korupsi untuk negara pada 1997-1998 sebesar > >>> Rp > >>> 621 milyar dan yang berhasil diselamatkan Rp 4 milyar. Tahun 1998-1999 > >>> yang korupsi oleh 'tikus-tikus' sebesar Rp 2 trilyun, hanya bisa > >>> diselamatkan Rp 76 milyar. > >>> > >>> Namun demikian, jumlah yang terselamatkan senilai Rp 597 milyar itu > >>> menurut Muladi belum termasuk barang sitaan, benda tetap, dan barang > >>> bergerak, serta aset atau harta kekayaan tersangka. > >>> > >>> Mengenai jumlah penyelamatan dan pemulihan keuangan atau kekayaan > >>> negara > >>> yang berkaitan dengan KKN, menurut Muladi ditangani oleh JAM Datun > >>> kantor Kejaksaan Agung. > >>> Penyelamatan keuangan negara sampai Desember 1998 nilainya mencapai 79 > >>> trilyun serta 5800 ribu dolar AS. > >>> > >>> Sedangkan penyelamatan keuangan untuk perkara di LN, sampai Desember > >>> 1998 sebesar Rp 25 juta AS. Total penyelamatan 166 trilyun lebih > >>> ditambah 234 ribu dolar AS. Dan 59000 france. > >>> > >>> Dijelaskan pula, bahwa dalam RUU pemberantasan Tindak Pidana Korupsi > >>> ini, akan diterapkan pula bahwa menteri dan pejabat negara pun bisa > >>> dikenai jerat hukum. Sebab menteri dalam pandangan RUU ini adalah > >>> dimengertikan sebagai pegawai negeri. > >>> > >>> Pengertian pegawai negeri menurut Muladi, adalah orang yang menerima > >>> gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah. Selain pegawai > >>> negeri, > >>> korupsi dalam kasus tertentu pun bisa dikenakan juga terhadap orang > >>> swasta. Sehingga, untuk masalah seperti yang dihadapi Tommy Soeharto, > >>> bila RUU ini diloloskan, maka tak ada alasan bahwa orang tersebut > >>> swasta. > >>> > >>> Yang tak kalah pentingnya, RUU ini juga disulkan menganut azas > >>> pembuktian terbalik. Artinya terdakwa wajib membuktikan bahwa dirinya > >>> tidak terbukti tidak bersalah, khususnya yang berkaitan dengan harta > >>> benda, dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap > >>> orang atau korporasi yang diketahuinya atau diduga mempunyai hubungan > >>> dengan tindak pidana korupsi. "Yang membuktikan bahwa dirinya tidak > >>> korupsi itu terdakwa atau tersangka." > >>> > >>> Barangkali ini belajar dari kasus Soeharto, yang selalu mengatakan > >>> bahwa > >>> dirinya tak memiliki uang sepeserpun seperti yang dicurigakan > >>> masyarakat. Bila RUU ini lolos, maka jikalau Soeharto (atau siapapun) > >>> menyatakan bahwa dirinya tak memiliki harta dari korupsi, harus bisa > >>> membuktikan dulu, tidak mesti kejaksaan. Sebab kalau harus kejaksaan, > >>> jadinya seperti sekarang ini, nggak tuntas-tuntas. > >>> > >>> Hak Cipta © > >>> detikcom Digital Life 1999 > >>> > >>> ======== ----------------------------------------------------------------- Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] isi e-mail "unsubscribe itb" atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing -----------------------------------------------------------------