itb  

[ITB] Fw: [fisika95itb] Fw: Indonesia rame (part 2)

M Fahmi Aulia
Fri, 30 Apr 1999 22:14:29 -0700

arsip -- http://nic.itb.ac.id/~arsip/itb/
-----------------------------------------------------------------

From: Faisal Wiryasantika
> >>> Kekerasan, Gandringisme Hingga Soehartoisme
> >>>
> >>>    PURBALINGGA (KR) - Tim serse gabungan Polda Jateng, Polwil Banyumas
> >>> dan Polres Purbalingga dalam pengusutan insiden 2 April 1999 di
> >>> Purbalingga yang mengakibatkan gagalnya rapat besar Partai Golkar yang
> >>> akan dihadiri Ketua Umum DPP Partai Golkar Ir Akbar Tandjung, sampai
> >>> Kamis (8/4) memeriksa 39 saksi yang dicurigai terlibat langsung dalam
> >>> aksi penghadangan, pelucutan dan perusakan.
> >>>
> >>> Dari 39 saksi yang dimintai keterangan tim serse gabungan 8 saksi
> >>> dijadikan sebagai tersangka, yakni Arm, Sg, Es, Id, As, Do, Bd dan Wn.
> >>> Dari 8 tersangka tersebut yang ditahan Polwil Banyumas baru 3
> >>> tersangka.
> >>> Kapolwil Banyumas Kol Pol Drs Isnandar, didampingi Wakapolwil Letkol
> >>> Pol
> >>> Drs Agus Judharto, Kamis (8/4) ditemui diruang kerjanya membenarkan
> >>> penahanan 3 tersangka warga Bobotsari.
> >>>
> >>> Menurut Kapolwil Banyumas Kol Pol Drs Isnandar dari 3 tersangka yang
> >>> ditahan tersebut mengakui warga PDI Perjuangan, bahkan 1 diantaranya
> >>> pengurus Komdes. Namun dari sumber lain menyebutkan, ke-3 tersangka
> >>> yang
> >>> ditahan semula ngotot mengaku anggota dan Komdes PDI Perjuangan
> >>> ternyata
> >>> tidak dapat menunjukkan kartu tanda anggota (KTA) PDI Perjuangan.
> >>>
> >>> Karena tidak dapat menunjukkan KTA, sumber tersebut juga menyebutkan,
> >>> setelah diperiksa intensif oleh penyidik, akhirnya terungkap ke-3
> >>> tersangka mengaku sebagai anggota ormas pemuda lain yang tidak
> >>> berafiliasi ke PDI Perjuangan. Untuk pengusutan kasus insiden
> >>> Purbalingga tersebut menurut Kapolwil Banyumas, kemungkinan akan
> >>> berkembang. Mengingat kasus perusakan dan pelucutan ini melibatkan
> >>> massa.
> >>>
> >>> Ketika ditanya berkaitan pemeriksaan terhadap Bendahara DPC PDI
> >>> Perjuangan, Sukardjo, yang pada waktu kejadian insiden di tengah
> >>> massa,
> >>> Kol Pol Isnandar menjelaskan, untuk pemeriksaan terhadap Sukardjo yang
> >>> diketahui pengurus DPC PDI Perjuangan sebagai saksi, masih mengadakan
> >>> penyelidikan sejauh mana perannya di lapangan. Terhadap korban
> >>> pelucutan
> >>> pakaian yang menimpa kaum wanita, Kapolwil Banyumas juga meminta untuk
> >>> segera melapor. Karena yang melapor tiga orang dan mengaku dilucuti
> >>> pakaiannya, jelas Kol Pol Drs Isnandar. Berkaitan akan turunnya Tim
> >>> Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) untuk menyelidiki kasus insiden
> >>> Purbalingga, Kapolwil Banyumas menyambut baik. Namun hingga Kamis
> >>> (8/4)
> >>> Kepolisian Wilayah Banyumas belum diberi tahu kapan akan menyelidiki
> >>> insiden di Purbalingga. Saya baru tahu setelah membaca di koran tadi
> >>> pagi dan kapan tepatnya turun saya belum mengetahui, kata Kol Pol Drs
> >>> Isnandar.
> >>>
> >>> Dibesar-besarkan
> >>>
> >>> Di tempat terpisah Kapolda Jateng Mayjen Pol Drs Nurfaizi menegaskan,
> >>> pihaknya tetap akan mengusut kasus Purbalingga yang melibatkan massa
> >>> beratribut PDI Perjuangan. Jika terbukti melanggar hukum polisi tidak
> >>> segan-segan akan menindak pelakunya secara tegas. Pihak Kepolisian
> >>> sampai saat ini masih melakukan pengusutan secara intensif terhadap
> >>> pelaku.
> >>>
> >>> Kepada masyarakat yang mengalami atau mengetahui peristiwa tersebut,
> >>> Kapolda mengharapkan untuk tidak takut melapor kepada aparat
> >>> Kepolisian.
> >>> Karena jika masyarakat takut atau ragu maka kasus itu tidak akan dapat
> >>> diselesaikan aparat. Kapolda menyayangkan adanya ancaman terhadap
> >>> orang
> >>> yang lapor ke polisi. Namun pihaknya belum mengetahui siapa yang
> >>> melakukan ancaman tersebut.
> >>>
> >>> Berdasarkan laporan, dari 39 orang yang diperiksa berkaitan dengan
> >>> pelucutan pakaian terhadap massa perempuan Partai Golkar ternyata
> >>> hanya
> >>> dialami 9 orang. Sementara 3 pelakunya sampai saat ini masih ditahan
> >>> Polres Purbalingga untuk dimintai keterangan, kata Kapolda kepada
> >>> wartawan usai acara Pengenalan Program Kerja PPD I Kepada Unsur
> >>> Muspida
> >>> di gedung PPD I Jalan Veteran Semarang, Kamis (8/4).
> >>>
> >>> Lebih lanjut Nurfaizi menegaskan, berdasarkan laporan yang diterima
> >>> Polres setempat ternyata insiden pelucutaan pakaian tersebut kecil
> >>> kemungkinan terjadi. Kapolda menduga berita pelucutan itu terlalu
> >>> dibesar-besarkan. Karena ketika pencegatan oleh massa beratribut PDI
> >>> Perjuangan, wanita yang berkaos Partai Golkar disuruh ganti. Ada yang
> >>> di
> >>> kantor polisi maupun di tempat rumah masyarakat sekitar lokasi
> >>> kejadian.
> >>>
> >>> Mereka berganti pakaian dengan meminjam milik warga masyarakat sekitar
> >>> lokasi kejadian. Berdasarkan para pelaku yang diperiksa, semuanya
> >>> mengaku atas nama pribadi bukan atas nama kader Parpol tertentu.
> >>> Seperti
> >>> bendahara DPD PDI Purbalingga Sukardjo, diperiksa atas nama pribadi,
> >>> karena saat kejadian berada di tempat tersebut.
> >>>
> >>> Pelecehan Wanita
> >>>
> >>> Mengantisipasi kejadian seperti itu tidak terulang di masa datang,
> >>> kepolisian bersama OPP, Muspida, Satgas OPP dan instansi terkait dalam
> >>> minggu ini akan membentuk Crisis Centre. Dengan tujuan membuat
> >>> perencanaan yang matang untuk menganalisa kasus yang terjadi dalam
> >>> masa
> >>> kampanye mendatang. Anggotanya berasal dari berbagai macam unsur yang
> >>> ada di masyarakat.
> >>>
> >>> Sekjen Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras)
> >>> Bambang
> >>> Sugianto SH mengatakan, kepada KR usai ceramah dalam sarasehan
> >>> Kekerasan
> >>> Orde Baru di Aula Fakultas Hukum Unsoed Purwokerto, Kamis, dinilai
> >>> terdapat tindak kekerasan dan pelecehan wanita. Tanpa memandang siapa
> >>> sebenarnya pelaku dua pelanggaran HAM tersebut, Megawati selaku Ketua
> >>> Umum PDI Perjuangan seharusnya segera merespon, terutama yang terkait
> >>> dengan harkat kewanitaan.
> >>>
> >>> Sebab Megawati belum ketinggalan kereta jika ingin mendapat simpati
> >>> masyarakat luas. Katanya, pelecehan terhadap para wanita pendukung
> >>> Golkar dalam insiden Purbalingga benar-benar ada. Kenyataan seperti
> >>> itu
> >>> sebenarnya sebuah peluang bagi Megawati untuk meresponnya. Artinya,
> >>> selaku wanita harus mampu melindungi kaumnya dengan imbauan-imbauan
> >>> kepada masyarakat luas.
> >>>
> >>> Megawati merupakan public-figur, tanpa memandang siapa pelaku
> >>> pelecehan
> >>> terhadap wanita, harus memberi respon dukungan terhadap kaum hawa. Ini
> >>> akan lebih simpatik dan menjadi tidak ketinggalan kereta, kata Bambang
> >>> Sugianto SH. Kontras yang telah menurunkan 4 wakilnya guna mengungkap
> >>> insiden massa beratribut PDI Perjuangan dengan Golkar di Purbalingga.
> >>> Hasilnya belum final.
> >>>
> >>> Meski demikian, tutur Sekjen Kontras ini, Pengurus PDI Perjuangan
> >>> mestinya mengakui saja ketimbang mengelak. Dengan mengakui, efeknya
> >>> justru positif. Dari pengakuan tersebut paling tidak masyarakat tahu
> >>> mengapa sampai terjadi hal-hal seperti itu terhadap Golkar. Kita tidak
> >>> menutup mata saat Orde Baru, PDI pimpinan Megawati ini juga
> >>> berkali-kali
> >>> mendapat tekanan kekerasan, katanya. (R-8/R-14/Ero)-f
> >>>
> >>> ______________________________________________________________________
> >>>
> >>>    SOAL PERTEMUAN HABIBIE-PRAJOGO
> >>>    2 Menteri Lakukan Aksi Tutup Mulut
> >>>
> >>>    JAKARTA (KR) - Presiden BJ Habibie didampingi Menkeu Bambang
> >>> Subianto, Memperindag Rahardi Ramelan dan Meneg Pendayagunaan BUMN
> >>> Tanri
> >>> Abeng menerima seorang pengusaha Prajogo Pangestu yang  sangat akrab
> >>> dengan mantan Presiden Soeharto dan putra-putrinya di Istana Merdeka,
> >>> Kamis (8/4) sore.
> >>>    Apa yang dibicarakan dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari
> >>> satu
> >>> jam itu tidak jelas, sebab keterangan yang diberikan menteri itu
> >>> bertolak belakang dengan isi keterangan dari pengusaha kondang itu.
> >>> Baik
> >>> Menperindag maupun Menkeu tidak bersedia memberi keterangan, bungkam
> >>> seribu bahasa saat para wartawan menguber dan bertanya apakah demikian
> >>> penting masalah yang dibicarakan sehingga untuk menerima satu
> >>> pengusaha
> >>> saja sampai didampingi tiga orang menteri.
> >>>    Menkeu Bambang Subianto juga tidak bersedia memberi keterangan saat
> >>> ditanya apakah dibicarakan masalah utang-utang grup usaha pimpinan
> >>> Prajogo yang kabarnya begitu banyak di bank-bank pemerintah. Sedangkan
> >>> Meneg BUMN Tanri Abeng mengatakan, masalah yang dibicarakan tentang
> >>> rencana restrukturisasi sektor riil termasuk perusahaan petrokimia
> >>> Chandra Asri bagian usaha Prajogo.  (Mgn)-n
> >>>    Tanri Abeng yang membawahi semua bank-bank pemerintah juga bungkam
> >>> ketika ditanya apakah dibicarakan pula tentang utang Chandra ABRI yang
> >>> miliaran dolar.
> >>>
> >>> Penunggak Utang
> >>>
> >>> Ia juga tidak memberi jawaban ketika ditanyakan apakah ada keinginan
> >>> dari sebuah perusahaan Jerman yang ingin membeli perusahaan Petrokimia
> >>> itu.
> >>>    Boss Chandra Asri, Prajogo Pangestu juga tidak bersedia menjawab
> >>> pertanyaan wartawan, apakah pertemuannya dengan Presiden membicarakan
> >>> masalah Chandra Asri. Atau juga berkaitan dengan posisinya yang
> >>> diberitakan sebagai penunggak utang terbesar ketiga pada bank-bank
> >>> pemerintah setelah Bambang Trihatmodjo dan Tommy Soeharto.
> >>> Didesak beberapa kali pertanyaan oleh wartawan, Prajogo Pangestu tetap
> >>> bungkam, bahkan terkesan menghindar dari wartawan. Sambil tetap tutup
> >>> mulut, Prajogo memasuki kendaraannya. Apakah pertemuan tadi
> >>> membicarakan
> >>> utang anda karena Anda menunggak utang terbesar ketiga setelah Bambang
> >>> Trihatmodjo dan Tommy, tanya wartawan.
> >>>    Sambil membalik badannya, Prajogo Pangestu hanya menjawab, Itu
> >>> bukan
> >>> berita, paparnya singkat. Namun setelah dibujuk-bujuk oleh salah
> >>> seorang
> >>> staf Sekneg RI, akhirnya Prajogo bersedia memberi keterangan, walau
> >>> singkat.
> >>>    Ia secara tidak langsung membantah bahwa pertemuannya dengan
> >>> Presiden
> >>> membahas masalah dirinya sebagai penunggak utang di bank-bank negara.
> >>> Kami membicarakan masalah Mangole yang terkena gempa bumi beberapa
> >>> waktu
> >>> lalu dan kami diminta untuk membangun kembali, tutur Prajogo sambil
> >>> buru-buru memasuki mobilnya. (Mgn)-n
> >>>
> >>> ===========
> >>>
> >>>
> >>> Subject: Yorris berencana ledakkan Kalbar & Daftar Cekal Bankir
> >>> Date: Fri, 16 Apr 1999 19:16:30 +0700
> >>>
> >>> Subject: SiaR---YORRYS BERENCANA LEDAKKAN KALBAR
> >>> Date: Fri, 16 Apr 1999 17:39:38 +0700
> >>>
> >>>         PONTIANAK (SiaR, 16/4/99), Yorrys dan Yapto berencana
> >>> mengobarkan kerusuhan susulan di Kalimantan Barat. Rencana yang
> >>> disusun
> >>> di sebuah Hotel Bintang 5 di Jakarta itu bocor ke beberapa sejumlah
> >>> pihak dan sampai ke masyarakat Pontianak. Menteri Kehakiman Muladi
> >>> dikabarkan berang setelah mendengar bocoran rencana tersebut.
> >>>
> >>>         Setelah sukses membakar Ambon dengan pertikaian antarAgama,
> >>> kali
> >>> ini Ketua Umum Pemuda Pancasila Yorrys Raweyai dan Yapto Suryosumarno
> >>> kembali dapat pesanan dari Cendana untuk mengobok-obok Kalimantan
> >>> Barat.
> >>> Sejumlah sumber Siar di Pontianak menyatakan Yorrs dan Yapto berencana
> >>> mengobarkan konflik etnis antara Madura dengan Melayu-Dayak di kawasan
> >>> Singkawang-Pontianak sebagai kelanjutan kejadian Sambas.
> >>>
> >>>         Kesuksesan Yorrys dan Yapto di Ambon diduga karena menggunakan
> >>> operator operator preman Ambon yang kebetulan memang sedang bertikai
> >>> antara kelompok Ongky Pieterz dan Milton Natuawakota yang dikenal
> >>> sebagai kelompok Ambon Kristen melawan kelompok Ambon Muslim di bawah
> >>> pimpinan Ongen Sangaji. Dalam hal Kalbar, Yoris dan Yapto kerap
> >>> mengadakan rapat intensif dengan beberapa tokoh preman dan pejabat
> >>> intelejen asal Bakin.
> >>>
> >>>         Pada Jumat (2/4) malam Yorrys dan Yapto beserta petinggi
> >>> intelejen ABRI mengadakan rapat guna mendesign skenario kerusuhan di
> >>> Kalbar. Skenario kali ini disusun  setelah konflik etnis tersebut
> >>> ternyata tidak menghasilkan konflik agama dan malah justru mulai
> >>> mereda.
> >>> Menurut sumber SiaR tersebut Tommy dan Sigit Soeharto direncanakan
> >>> terlibat dalam pembiayaan operasi tersebut.
> >>>
> >>>         Namun rencana yang akan digulirkan para operator kerusuhan
> >>> tersebut bocor dan didengar Menteri Kehakiman Muladi, yang konon
> >>> segera
> >>> mengontak beberapa tokoh masyarakat asli Kalimantan Barat di Jakarta.
> >>> Muladi dikabarkan geram  pada tindakan para operator politik 'Cendana'
> >>> tersebut.
> >>>
> >>>         Seorang kepercayaan Muladi, yang mengaku mantan operator Mbak
> >>> Tutut mengaku membocorkan skenario tersebut. Pria yang mantan redaktur
> >>> di dua majalah ibukota itu mengatakan, "Beberapa elit terutama Muladi
> >>> menginginkan Soeharto dan Tommy diadili sebelum Pemilu agar tidak
> >>> terjadi pemberontakan Rakyat." Menurutnya skenario kerusuhan Kalbar
> >>> itu
> >>> akan diledakkan di Pontianak dengan mengarahkan ke konflik Agama.
> >>> Tampaknya "track-record"
> >>> Yorrys dan Yapto makin naik dengan banyaknya paket kerusuhan yang
> >>> dipesan Cendana.***
> >>>
> >>> ----------
> >>>
> >>> Jumat, 16 April 1999
> >>>
> >>>                          Daftar Cekal Bankir Tutut, Bambang, dan Tommy
> >>> Tidak Ada
> >>>                          Reporter Nurul Hidayati
> >>>
> >>> detikcom, Jakarta. Walau secara resmi Bank Indonesia, Departemen
> >>> Keuangan, dan Depkeh tidak mengumumkan daftar bankir yang dicekal,
> >>> tapi
> >>> daftar nama 172 bankir yang dicekal itu sudah beredar luas di kalangan
> >>> masyarakat sejak pekan ini.
> >>>
> >>> Tampaknya pemerintah harus hati-hati untuk mengumumkan, sebab memang
> >>> tidak terdapat nama keluarga cendana sama sekali. Padahal siapa yang
> >>> membantah,bahwa Tutut adalah pemegang saham Bank Yakin Makmur (Yama)
> >>> dan
> >>> Bank Pesona bersama Tommy. Begitu pula Bambang Soeharto juga pemegang
> >>> saham mayoritas bank Alfa. "Kami tak mau mengumukan karen itu tidak
> >>> etis," kilah Gubernur BI Syahril Sabirin, Jumat (16/4/1999).
> >>>
> >>> Bahwa BI ternyata dalam melakukan pencekalan itu diskriminatif, sudah
> >>> sangat jelas. Selain bukti tak adanya nama keluarga cendana di daftar
> >>> yang dicekal, juga nama Hashim Djojohadikusumo dan Gus Dur tidak
> >>> termasuk.
> >>> Sebagian besar nama yang dicekal, ternyata orang yang kurang dikenal.
> >>> Kalaupun ada, itu adalah Sofyan Wanandi dan The Nin King dari Bank
> >>> Danahutama.
> >>>
> >>> Mengenai Hashim yang juga adik kandung Letjen (Purn) Prabowo Subianto
> >>> adalah pemegang saham di Bank Papan. Dia saat ini merupakan utusan
> >>> khusus Presiden BJ Habibie dalam urusan bisnis untuk diwilayah Eropa.
> >>>
> >>> Di Bank Papan ini juga terdapat nama Gus Dur sebagai salah satu
> >>> pemegang
> >>> saham. Bahkan Gus Dur pun tercatat di Ficorinvest. Khusus soal Gus Dur
> >>> itu, Menkeh Mulai pernah menyatakan bahwa tak akan mencekal Gus Dur
> >>> karena meyakini Ketua PBNU itu tak akan berbuat jahat untuk
> >>> meninggalkan
> >>> tanah air.
> >>>
> >>> Berikut daftar 172 bankir yang beredar luas di masyarakat
> >>>
> >>>                          1. Bank Aken: Putu Setiawan, I Made Puger, I
> >>>                          Gede Darmawan, Arya Adi, IGPC Dharmaputera, I
> >>>                          Made Sudiarta.
> >>>
> >>>                          2. Bank Sahid Gajah Perkasa: Ny Itjih Sjamsul
> >>>                          Nursalim, Susanto Sjahrir, Bambang Husodo,
> >>>                          Sryantoro Wiweko.
> >>>
> >>>                          3. Bank Putra Surya Perkasa: Suhargo
> >>>                          Gondokusumo, Slamet S. Gondokusumo, Murniaty
> >>>                          Kartono, Ichwan Wijono, Wilyana Sugityo,
> >>>                          Irwandi Pranata Triono Gondokusumo.
> >>>
> >>>                          4. Bank Namura Internusa: Joseph Januardy,
> >>>                          Adisaputra Januardy, James F Januardy, Freddy
> >>>                          Gozali, Angela Listia Dewi.
> >>>
> >>>                          5. Bank Dana Asia: Tidak ada
> >>>
> >>>                          6. Bank Budi Int: Hendra Liem, Ronald Liem,
> >>>                          Tock Kwong, Sumadi Rusli, Josotaruno Nimpuno.
> >>>
> >>>                          7. Bank Yakin Makmur: Rusman Aji Samanu,
> >>>                          Winfried Tongken, Erwadi Gunawan, Untung
> >>>                          Suharyadi, Harri Wiharso, Flores Hutahajan,
> >>>                          Samuel Maruli.
> >>>
> >>>                          8. Bank Lautan Berlian: Ulung Bursa, Buslorni
> >>>                          Bursa, Sintunata Bursa, Hendrawin Singgih, FX
> >>>                          Nurtanio, Ibrahim Alje.
> >>>
> >>>                          9. Bank Danahutama: Sofyan Wanandi, The Ning
> >>>                          King, Marcia Sutedja, Hadipurnama Chandra,
> >>>                          Lukito Wanandi
> >>>
> >>>                          10. Bank Orient: Kwan Benny Ahadi, Aldo Putra
> >>>                          Brasah, Bambang Sigit Sutanto, Hendra
> >>> Darmadi,
> >>>                          Yusak Puspowinoto.
> >>>
> >>>                          11. Bank Papan: Honggo Hendratno, Siswanto
> >>>                          Sudomo, Al Njoo/Njoo Kok Kiong, Priaswijanto
> >>>                          Sabrawi, Hengky Kurniawan Halim, Lina
> >>>                          Tresnawaty Tanusandjaya, Bistok Hutasoit.
> >>>
> >>>                          12. Bank Pesona Kriyadana: Harry Sapto
> >>> Supoyo,
> >>>                          Trenggono Purwosuprodjo, Bambang U
> >>>                          Sastromuljono, Arthur Irawan, Janpie Siahaan,
> >>>                          Rocky Surya Sugandi, Hendy Herijanto.
> >>>
> >>>                          13. Bank Tata: Hengky Wijaya Ng, Tonny
> >>> Tanjung,
> >>>                          Aninda Sardjana, Hari Setiawan Nicolas
> >>> Bernadus
> >>>                          Tirtadinata.
> >>>
> >>>                          14. Bank Intan: Arnir Rachman Badawi
> >>> Subarjono,
> >>>                          Sechan Sahab, Suharso Munoarta, Riswan
> >>> Chaidir,
> >>>                          Tommy Sutomo, Meizal Zam.
> >>>
> >>>                          15. Bank Asia Pacific: Irawan Harjono,
> >>> Setiawan
> >>>                          Harjono, Hendrawan Harjono, Reny Mulyatie,
> >>> Arie
> >>>                          SB Moeljadi, Joseph L Hengkengbala, Benjamin
> >>>                          Soeryadi.
> >>>
> >>>                          16. Bank Sewu Internasional: Tidak Ada.
> >>>
> >>>                          17. Bank Hastin Internaslonal : Hendrawan
> >>>                          Harjono.
> >>>
> >>>                          18. Bank Indonesia Raya Tbk: Bambang W
> >>>                          Panutomo, Swic Ling Tjin, Tuty Sumargo,
> >>>                          Budiarto Gunawan, Farman Gunawan.
> >>>
> >>>                          19. Bank Umum Servitia: Hendita Winarto,
> >>> Ganda
> >>>                          Eka Hundria, Kakan Sukandadinata, David Nusa
> >>>                          Wijaya, Tarunodjojo Nusa, Soedarso, Winarso,
> >>>                          Tuty Ridwan Tjandra, Ng Christine Nusa,
> >>> Wijatin
> >>>                          Nusa, Taruno Harto Nusa.
> >>>
> >>>                          20. Bank Dharmala: Erly Syahada, Suyanto
> >>>                          Gondokusumo, Hendro S Gondokusumo, Tjan Soen
> >>>                          Eng, Suhanda Wirnaatmadja, Kinardi Rusli,
> >>>                          Hartawan Sumosubroto, Hardjono Darto To,
> >>> Jenny
> >>>                          Wirjadinata.
> >>>
> >>>                          21. Bank Mashill: Philip Sandra Widjaja,
> >>>                          Agustinus T Windoe, Harsono Ng, Karta
> >>> Widjaja,
> >>>                          Makki Widjaja, Anthon Widjaja
> >>>
> >>>                          22. Bank Arya Panduarta: Tidak Ada.
> >>>
> >>>                          23. Bank Central Dagang: Hindarto Hovert
> >>>                          Tantular, Stanley Ranty, Purnomo Budisatrio,
> >>>                          Sumardjo Andjum, Sam Handojo.
> >>>
> >>>                          24. Bank Bahari: Tidak Ada.
> >>>
> >>>                          25. Bank Ciputra: Tidak Ada.
> >>>
> >>>                          26. Bank Metropolitan Raya: Tidak Ada
> >>>
> >>>                          27. Bank Alfa: Nico Mailangkay, Uthan A.
> >>>                          Sadikin, Djunanda P Sjarfuan.
> >>>
> >>>                          28. Bank Kharisma: Suhendro Hadiwidjojo,
> >>> Lukas
> >>>                          Jethrokusumo, Probo Yuwono Sugiharto Susanto.
> >>>
> >>>                          29. Bank Dewa Rutji: Johan Setiawan, Aloysius
> >>>                          Indrarto Tedjoseputro, Muzakir Asona, Wiwaha
> >>>                          Boenjamin, Dawidju WidJaJa.
> >>>
> >>>                          30. Bank Bumi Raya Utama: Swandono Adijunto,
> >>>                          Bianadi Harlan, Adijanto, Thomas Agap, Winoto
> >>>                          Adijanto, Suparno Adijanto, Boedisoesanto.
> >>>
> >>>                          31. Bank Baja : The Ning Khing, Abdul Malik,
> >>>                          Benny The Tjai Sun, Lo Wirawan, Jean R.
> >>> Ronald
> >>>                          Pea, Andy Wibowo Sardiito, Reza S Haruman,
> >>> Andy
> >>>                          Hartawan Sardjito, The Kwen Yuan.
> >>>
> >>>                          32. Bank Sembada Arta Nugroho: Tidak Ada
> >>>
> >>>                          33. Bank Dagang dan Industri: Rizal N Panji,
> >>>                          Adriansyah Omar Makki, Suyud Subakti.
> >>>
> >>>                          34. Bank Sino: Tidak Ada.
> >>>
> >>>                          35. Bank Indotrade: Tidak Ada.
> >>>
> >>>                          36. Bank Ficorinvest: Soemer, Tommy Boham,
> >>>                          Roekman Prawirasastra.
> >>>
> >>>                          37. Bank Uppindo: Iwan Rosudi Widyapranolo
> >>>
> >>>                          38. Bank BPD Indonesia: Tidak Ada
> >>>
> >>>                          ==========
> >>>
> >>>
> >>> Subject: Habibie's fatal flaw
> >>> Date: Fri, 16 Apr 1999 19:36:55 +0700
> >>>
> >>> The Age
> >>> Thursday, 15 April, 1999
> >>>
> >>> Habibie's fatal flaw: failing to end military privilege
> >>>
> >>> By GERRY van KLINKEN
> >>>
> >>> FOR all his sometimes clownish mannerisms, President Habibie has in
> >>> many
> >>> ways been Indonesia's Gorbachev. He rode the crest of a wave of
> >>> political creativity generated by the massive protests of last year.
> >>> But
> >>> now that wave has spent much of its force.
> >>>
> >>> The army-backed Liquica massacre in East Timor last week represents a
> >>> conservative backlash, in which failed Soeharto-era ideas are being
> >>> put
> >>> forward as real solutions once more. Habibie has been mocked as a
> >>> Soeharto protege. Yet under him press freedom has flourished, labor
> >>> unions have sprung up freely and almost all political prisoners have
> >>> been freed. He has talked with dissatisfied Irianese and Acehnese
> >>> community leaders. And he has foreshadowed independence for East
> >>> Timor.
> >>>
> >>> However, on the single most important Soeharto legacy - military
> >>> privilege - he has made little headway. In this Habibie is not alone.
> >>> Virtually the entire political establishment has agreed that, unlike
> >>> last year's demonstrators, they don't want the military out of
> >>> politics
> >>> now. Not one of the major parties - despite their long opposition to
> >>> Soeharto - have placed an end to the privilege of organised violence
> >>> at
> >>> the top of their political agenda.
> >>>
> >>> Such a loss of political nerve is now becoming apparent in East Timor.
> >>> The Liquica massacre, in which at least 25 people died at the hands of
> >>> a
> >>> military-backed militia, could well be a message to that establishment
> >>> from armed forces commander General Wiranto. The message: no more
> >>> experimentation with the future of East Timor.
> >>>
> >>> Last month a high-level United Nations delegation visited East Timor
> >>> to
> >>> begin preparations for the poll in July or August on East Timor's
> >>> future
> >>> association with Indonesia. According to reliable reports, the
> >>> delegation had great difficulty getting to see Wiranto even briefly as
> >>> it passed through Jakarta on 25 March after its visit to East Timor.
> >>>
> >>> The Far Eastern Economic Review noted last month that Wiranto is
> >>> relying
> >>> more on retired General Benny Murdani, the architect of the East Timor
> >>> tragedy. Officers seen as Murdani proteges have been favored in recent
> >>> promotions. Murdani told a visiting academic in January that he
> >>> disapproved of Habibie's conciliatory autonomy offer for East Timor.
> >>> He
> >>> believed that in ``four to five months'' the armed forces, ABRI, would
> >>> be ready to crack heads once and for all in East Timor. Tough talk for
> >>> a
> >>> man supposedly long out of power.
> >>>
> >>> Wiranto's message on East Timor, if I have read it correctly, may
> >>> unfortunately fall in good soil in Jakarta. Indonesia may yet prove to
> >>> be a reluctant decoloniser. Eager to depict Habibie as a lame duck,
> >>> presidential aspirant Megawati Sukarnoputri says she opposes the
> >>> Habibie
> >>> initiative offering independence if the East Timorese reject an
> >>> autonomy
> >>> offer. She wants the matter decided by a freshly elected parliament,
> >>> in
> >>> which she has made it clear she will oppose independence. Abdurrahman
> >>> Wahid has been similarly unhelpful. Amien Rais is the only prominent
> >>> party leader with an open mind on East Timor.
> >>>
> >>> The reason for the hawkishness among political prominents is not
> >>> difficult to find. Unrest around the vast archipelago in recent
> >>> months,
> >>> whether engineered or not, has had the predictable effect of
> >>> stimulating
> >>> nostalgia for Soeharto's security approach. The conservative view that
> >>> Indonesia is
> >>> perhaps too violent to be democratic may be gaining ground in
> >>> influential circles. The Habibie-sponsored political process over East
> >>> Timor has triggered copy-cat demands in Aceh and Irian Jaya, where
> >>> until
> >>> now the word referendum had never been heard.
> >>>
> >>> Frequently aired anxiety over Indonesia's possible ``disintegration''
> >>> has dampened the creativity of last year, leaving the hawks to offer
> >>> their already failed policies with renewed assurance. In East Timor,
> >>> those policies mean once more backing violent militias to give the
> >>> impression of a civil war, in which ABRI is the essential
> >>> disinterested
> >>> peacekeeper.
> >>>
> >>> The new conservative ascendancy is not easy to challenge from abroad.
> >>> The UN process, for all its goodwill, remains dependent on Indonesia.
> >>> Australia has a security treaty with Indonesia that makes it
> >>> impossible
> >>> to pit Australian soldiers against Indonesians in defence of the
> >>> Timorese.
> >>>
> >>> All this does not mean East Timorese self-determination is now out of
> >>> the question. There are many reasons for hope. But it does mean the
> >>> decolonisation process will be slower and messier than was thought
> >>> just
> >>> a few weeks ago. Habibie said in February he would like to see the
> >>> East
> >>> Timor issue resolved by 1January 2000. Unless Indonesia's political
> >>> movers and shakers rediscover their creative nerve, that magic date is
> >>> likely to pass with no joy for the Timorese.
> >>>
> >>> Dr Gerry van Klinken edits Inside Indonesia magazine.E-mail:
> >>> [EMAIL PROTECTED]
> >>>
> >>> ============
> >>>
> >>>
> >>> RUU Korupsi Bisa Menjerat Menteri 5 Tahun, Negara Rugi Rp 4 Trilyun
> >>>                                                Reporter Nurul Hidayati
> >>>
> >>> detikcom, Jakarta. Selama lima tahun terakhir, negara ternyata telah
> >>> kebobolan karena dikorupsi sebesar Rp 4 trilyun. Dari jumlah itu, yang
> >>> bisa diselamatkan cuma Rp 597 milyar lebih.
> >>>
> >>> Muladi mengatakan hal itu dalam memberikan jawaban pemerintah atas
> >>> pertanyaan anggota fraksi di DPR mengenai RUU Pemberantasan Tindak
> >>> Pidana Korupsi, Jumat (16/4/1999). Dalam rapat paripurna yang dipimpin
> >>> oleh Wakil Ketua DPR Hari Sabarno itu, Muladi menilai bahwa akibat
> >>> banyaknya kerugian itulah maka sangat penting dibuatnya UU untuk
> >>> memberantas tindak korupsi itu.
> >>> Korupsi lima tahunan yang diungkapan itu, adalah periode 1994-1999.
> >>> Dan
> >>> ternyata, justru setahun terakhir (1998-1999) merupakan jumlah korupsi
> >>> yang paling besar dibanding empat tahun sebelumnya, jumlahnya mencapai
> >>> Rp 2 trilyun sendiri (50 persen dari jumlah total).
> >>>
> >>> Selengkapnya, kerugian negara periode 1994-1995 sebesar Rp 1 trilyun,
> >>> yang terselamatkan Rp 500 milyar. Periode berikutnya 1995-1996
> >>> kerugian
> >>> Rp 208 milyar, diselamtkan 258 juta.             Sedang periode '96-97
> >>> yang dikorupsi Rp 376 milyar, diselamatkan Rp 1 milyar. Ketika membaca
> >>> di bagian ini, Muladi berkomentar: "Kok sedikit amat, lainnya kemana?"
> >>> Tak pelak langsung disambut senyum anggota dewan.
> >>>
> >>> Muladi lalu melanjutkan, korupsi untuk negara pada 1997-1998 sebesar
> >>> Rp
> >>> 621 milyar dan yang berhasil diselamatkan Rp 4 milyar. Tahun 1998-1999
> >>> yang korupsi oleh 'tikus-tikus' sebesar Rp 2 trilyun, hanya bisa
> >>> diselamatkan Rp 76 milyar.
> >>>
> >>> Namun demikian, jumlah yang terselamatkan senilai Rp 597 milyar itu
> >>> menurut Muladi belum termasuk barang sitaan, benda tetap, dan barang
> >>> bergerak, serta aset atau harta kekayaan tersangka.
> >>>
> >>> Mengenai jumlah penyelamatan dan pemulihan keuangan atau kekayaan
> >>> negara
> >>> yang berkaitan dengan KKN, menurut Muladi ditangani oleh JAM Datun
> >>> kantor Kejaksaan Agung.
> >>> Penyelamatan keuangan negara sampai Desember 1998 nilainya mencapai 79
> >>> trilyun serta 5800 ribu dolar AS.
> >>>
> >>> Sedangkan penyelamatan keuangan untuk perkara di LN, sampai Desember
> >>> 1998 sebesar Rp 25 juta AS. Total penyelamatan 166 trilyun lebih
> >>> ditambah 234 ribu dolar AS. Dan 59000 france.
> >>>
> >>> Dijelaskan pula, bahwa dalam RUU pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
> >>> ini, akan diterapkan pula bahwa menteri dan pejabat negara pun bisa
> >>> dikenai jerat hukum. Sebab menteri dalam pandangan RUU ini adalah
> >>> dimengertikan sebagai pegawai negeri.
> >>>
> >>> Pengertian pegawai negeri menurut Muladi, adalah orang yang menerima
> >>> gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah. Selain pegawai
> >>> negeri,
> >>> korupsi dalam kasus tertentu pun bisa dikenakan juga terhadap orang
> >>> swasta. Sehingga, untuk masalah seperti yang dihadapi Tommy Soeharto,
> >>> bila RUU ini diloloskan, maka tak ada alasan bahwa orang tersebut
> >>> swasta.
> >>>
> >>> Yang tak kalah pentingnya, RUU ini juga disulkan menganut azas
> >>> pembuktian terbalik. Artinya terdakwa wajib membuktikan bahwa dirinya
> >>> tidak terbukti tidak bersalah, khususnya yang berkaitan dengan harta
> >>> benda, dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap
> >>> orang atau korporasi yang diketahuinya atau diduga mempunyai hubungan
> >>> dengan tindak pidana korupsi. "Yang membuktikan bahwa dirinya tidak
> >>> korupsi itu terdakwa atau tersangka."
> >>>
> >>> Barangkali ini belajar dari kasus Soeharto, yang selalu mengatakan
> >>> bahwa
> >>> dirinya tak memiliki uang sepeserpun seperti yang dicurigakan
> >>> masyarakat. Bila RUU ini lolos, maka jikalau Soeharto (atau siapapun)
> >>> menyatakan bahwa dirinya tak memiliki harta dari korupsi, harus bisa
> >>> membuktikan dulu, tidak mesti kejaksaan. Sebab kalau harus kejaksaan,
> >>> jadinya seperti sekarang ini, nggak tuntas-tuntas.
> >>>
> >>>                                                        Hak Cipta ©
> >>> detikcom Digital Life 1999
> >>>
> >>> ========

-----------------------------------------------------------------
Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
isi e-mail "unsubscribe itb"
atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing
-----------------------------------------------------------------
  • [ITB] Fw: [fisika95itb] Fw: Indonesia rame (part 2) M Fahmi Aulia