Faustan Ahmad
Tue, 31 Aug 1999 23:44:47 -0700
Kalau Benar sekarang siapa yang masih bisa diharapka yah ??? dikutip dari Majalah Forum : PERANG DATA DANA POLITIK SILUMAN HANIBAL W.Y. WIJAYANTA, WIDIARSI AGUSTINA, DAN TEGUH S. USIS Adalah Ketua Umum PAN Amien Rais yang pertama kali menyinggung upaya pemanfaatan kasus Bank Bali oleh PDIP. "Itu semua orang tahu dan jelas sekali, sehingga tak usah dipertanyakan," ujarnya. Dengan politisasi skandal ini, menurut Amien, posisi PDIP dalam pencalonan presiden makin menguat. Tapi, menurut dia, politisasi ini bisa jadi bumerang. Soalnya, Amien mengaku punya informasi yang mirip dengan kasus Bank Bali ini. Beberapa hari kemudian, anggota DPR dari Partai Golkar, Ekky Sjachruddin, mengaku mendapat kiriman selembar kertas berisi catatan pembukuan tak lengkap berjudul Daftar Nama Donatur Kampanye dan Besarnya Sumbangan untuk PDI Perjuangan. "Saya bersedia mengatakan ini karena Amien mengatakannya," kata Ekky. FORUM sendiri sebenarnya sudah menerimanya seminggu setelah kasus Bank Bali muncul ke permukaan. Dalam daftar itu, penyumbang dana terbesarnya adalah keluarga Mochtar Riady. Dari dia sendiri sebesar Rp 100 miliar, James T. Riady mengulurkan Rp 50 miliar, dan dari Grup Lippo Rp 500 miliar. Bila hal ini benar terjadi, berarti Grup Lippo telah dibobol habis-habisan untuk mendanai PDIP. Karena itu, kasus ini kemudian disebut-sebut sebagai kasus Lippogate. Beberapa bos konglomerat lain pun muncul dalam daftar itu. Antara lain, Prajogo Pangestu, The Ning King, Rudi Ramli, dan Arifin Panigoro. Nama putra mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana, pun ada. Juga Sigit dan Tommy. Semua menyumbang di atas Rp 5 miliar. Nama-nama seperti Bambang Widjojanto dan Garin Nugroho juga ada. Cuma, ala kadarnya. Sekitar Rp 15 juta saja. Tentu saja, kalangan PDIP membantah mentah-mentah daftar itu. ''Isu itu enggak masuk di akal," kata Wakil Bendahara PDIP Noviantika Nasution. Alasannya, data tadi tidak jelas menunjukkan pembukuan yang resmi. Jadi, bisa dikarang-karang. "Anak kecil juga bisa bikin kayak begini," kata Meilono Soewondo, yang juga Wakil Bendahara PDIP. Beberapa tokoh yang tercantum dalam daftar itu pun buru-buru membantah. Ketua YLBHI, Bambang Widjojanto, misalnya. "Kalau gue disangka kaya, ya, alhamdulillah. Tapi, saya enggak merasa menyumbang. Lagi pula, duit itu lebih baik buat membeli susu anak gue," ujarnya. Sementara itu, Garin enggan berkomentar. "Saya tidak mau menanggapi kabar ini," ujarnya. Para pengamat pun agak meragukannya. "Kalau enggak ada nama Peter Sondakh, saya meragukan daftar itu," kata Ketua ICW Teten Masduki. Soalnya, menurut informasi yang didapatnya, Pemilik Grup Rajawali itulah yang disinyalir merupakan salah satu penyumbang dana terbesar bagi PDIP. Sumbangan itu, menurut Bambang, sebenarnya gampang dilacak. Asal diketahui nomor rekeningnya. Masalahnya, data dalam fotokopi selebaran itu tidak lengkap dan tampak sudah diolah. Noviantika memang tidak mengingkari banyak pengusaha yang membantu PDIP. Tapi, menurut dia, bantuan itu banyak yang tidak langsung. Misalnya, menyewakan truk dan membelikan kaus atau air minum Aqua saat kampanye. Tapi, bukankah Grup Lippo pun pernah menyumbang kampanye Presiden Amerika Serikat Bill Clinton? Bukan hal yang mustahil jika Grup Lippo pun menanam saham kepada PDIP. ''Tapi, kalau jumlahnya sampai Rp 500 miliar, Lippo punya enggak, sih?" kata Meilono. Petinggi Lippo juga membantah soal itu. "Tidak. Tidak benar kami menyumbang ke PDIP," kata seorang petinggi Bank Lippo yang tak mau disebut namanya kepada Ronald Raditya dari FORUM. Bahkan, ia mengaku bahwa Lippo tidak membantu PDIP sama sekali. Tapi, apa iya? Bukankah Laksamana Sukardi dulu bekas petinggi Lippo? Apalagi, tersiar kabar bahwa Taufik Kiemas dan Laksamana Sukardi sempat bertemu dengan para pemilik 38 bank bermasalah yang digalang Philips Wijaya dari Bank Mashill di Apartemen Darmawangsa. "Mereka menampung Cina-Cina kecil itu," kata seorang mantan aktivis. Namun, Arifin Panigoro, bos konglomerat yang juga caleg PDIP, membantah semua tudingan itu. "Sudahlah, kamu tulis saja. Apa buktinya dan mana bukti otentik yang langsung menyebut itu sebagai sebuah fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi, terlebih dahulu, selesaikan dulu skandal Bank Bali. Jangan lantas mencari kambing hitam baru. Ini kan pola lama,'' ujarnya. Dan, klek, telepon genggamnya mati. Karena itu, berkembanglah spekulasi bahwa peredaran data tadi merupakan aksi balasan Golkar. Apalagi, pencetusnya adalah pernyataan Ekky Sjachruddin, seorang fungsionaris Golkar. Teorinya, setelah diobok-obok habis-habisan dengan kasus Bank Bali, Golkar perlu masalah baru untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Kasus sumbangan Bank Lippo inilah yang dipakai untuk menyerang balik. Tapi, uniknya, tidak seperti PDIP yang benar menggebu-gebu menghajar kasus ini. Ekky justru menyarankan PDIP membantah berita itu. Menurut Wakil Litbang PDIP, Mochtar Buchori, kemunculan selebaran itu merupakan tudingan kasar ke PDIP. "Ini kan cara yang biasa dilakukan dari dulu, menjadikan yang lain korban," katanya. Ia pun menyayangkan sikap Amien yang tidak melakukan recek sebelum berkomentar soal kasus-kasus penggalangan dana lain di luar kasus Bank Bali. ''Ia sakit hati karena kalah.'' ujarnya. Tapi, menurut Mochtar, masalah ini tidak akan mempengaruhi pencalonan dan dukungan kepada Mega. Tapi, belakangan beredar berita bahwa dalam kasus Bank Bali pun PDIP mendapatkan cipratan uang panas itu dalam jumlah yang tidak sedikit. "Ada sekitar Rp 40 miliar yang diberikan lewat perusahaan anaknya Tanri," kata sumber FORUM. Perusahaan itu bernama Arung Gauk Jarre. Bahkan, sebelumnya, beberapa hari setelah Pemilu, Tanri Abeng pun menulis surat kepada Presiden Habibie. Isinya, ia telah mengirimkan uang kepada PDIP. "Saya punya data otentik surat itu," kata sumber tadi. Data otentik? Lantas, dari mana? Menurut sumber tadi, pembongkaran kasus Bank Bali ataupun Bank Lippo ini tak lepas dari permainan kalangan intelijen. "Semua ini akibat persaingan Bais (Badan Intelijen Strategis TNI) dan Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara)," ujarnya. Menurut kabar, pembocoran data Bank Bali sebenarnya bukan semata-mata dari Marzuki. "Baislah yang pertama kali membocorkan," kata sumber FORUM yang juga ahli intelijen keuangan. Konon, sebelum terjadi kasus Bank Bali, Bais melihat gejala-gejala yang kurang sehat dari tim sukses Habibie dalam menggalang dana. Ketika Golkar masih merahasiakan kasus ini, Bais menghubungi beberapa orang tertentu untuk mengungkapkannya. Tapi, rupanya, itu belum manjur. Baru ketika Pradjoto mengungkapkannya, kasus Bank Bali mulai terkuak dan terus terkuak hingga saat ini. Melihat kondisi yang kurang menguntungkan ini, Bakin pun bergerak dengan menyebarkan data keuangan PDIP. Lalu, apa maksud mereka? Konon, semua operasi intelijen ini dilakukan untuk menggambarkan image di masyarakat bahwa setiap pihak tidak ada yang bersih. Buntutnya, kedua kubu calon presiden akan sama-sama lemah. "Giliran selanjutnya, tentara lagi yang maju," ujar seorang pengamat. Tapi, menurut pakar politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, kemunculan isu skandal Bank Bali dan sumbangan ke PDIP ini justru positif. "Saling bongkar antara Golkar, PAN, dan PDIP adalah hal yang baik," ujarnya. Alasannya, transparansi justru akan menguntungkan masyarakat. Perkembangan terakhir justru semakin menarik karena Rudi Ramli membantah catatan harian yang dimuat di media cetak. "Saya tidak pernah membuat catatan harian semacam itu," ujarnya. Konon, surat itu pun sampai ke tangan Presiden Habibie. Lalu, adakah yang menekannya? Yang jelas, senapan, meriam, granat, ataupun tank kini tak selalu diperlukan dalam pertempuran di zaman modern. Bahkan, bila perlu, untuk memenangi perang, senjata-senjata berat semacam itu harus disembunyikan jauh-jauh. Yang diperlukan kadang-kadang hanya selembar kertas berisi beberapa tulisan. " Faustan is Faustan, It was long ago I never to walk in anyone shadow, iF I fail, iF i Succed at least i HAVE DIGNITY" _______________________________________________________ Are you a Techie? Get Your Free Tech Email Address Now! Many to choose from! Visit http://www.TechEmail.com ----------------------------------------------------------------- Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing ------------------------------------------------------------------