itb  

[ITB] Tanggapan atas "Memburu Pengakuan Penemuan Ilmiah"

Moko Darjatmoko
Sat, 23 Oct 1999 07:06:57 -0700

Dear itb-netters,

Seperti saya tulis sebelumnya, berikut ini saya lampirkan tanggapan atas
surat pembaca "Memburu Pengakuan Penemuan Ilmiah" yang saya kirimkan
kemarin kepada redaksi Suara Merdeka. Mungkin sampai tujuan mungkin juga
tidak, karena Suara Merdeka tidak mencantumkan alamat kontak via email
(jadi saya kirim langsung ke [EMAIL PROTECTED] ... so far so good
... at least not bounced until now) -- Moko/

*****

  Redaksi & Pembaca Yth.,

  Dalam rubrik Surat Pembaca (SUARA MERDEKA, 23 Oktober 1999) Sdr.
  H. Pramoe Soetomo mengisahkan "penemuan ilmiah" peneliti muda yang
  juga diungkapkan sebelumnya pada edisi tanggal 8 September 1999.
  Disebutkan bahwa peneliti tersebut "menemukan" kesalahan pada
  konstanta percepatan gravitasi bumi pada permukaan laut dan
  khatulistiwa saja, juga ketidakbenaran bilangan Archimedes
  (Pi = 22/7) dan bilangan Napiere (e).

  Dibawah ini ada lima hal penting yang ingin saya tanggapi:

  (1) Disebutkan oleh penulis ...

    "Misalnya mengenai konstanta percepatan gravitasi bumi pada
     permukaan laut dan katulistiwa yang g = 9,7805 m/s2; ia
     menyanggah dan menyatakan yang benar adalah g = 9,862285979 m/s2
     atau g = 9,8623 m/s2."

  Angka pertama (yang disanggah) itulah yang lebih mendekati kenyataan.
  Ini didukung oleh pengukuran di katulistiwa yang sudah jutaan kali
  dilakukan orang. Angka kedua lebih mendekati besaran gravitasi di
  kutub, ketimbang di katulistiwa. Perbedaan antara gravitasi di kutub
  dengan di katulistiwa adalah 0.0339 m/s2.

  Pengukuran empiris di beberapa garis lintang yang berbeda (pada
  ketinggian muka laut) mengukuhkan perbedaan gravitasi ini. Sebagai
  contoh di Greenland (70 Derajad Lintang Utara) nilai gravitasi
  adalah 9.82534 m/s2; sedangkan di Cambridge, Massachussetts (42 DLU)
  9.80398 m/s2; dan di Panama Canal yang dekat katulistiwa (9 DLU)
  9.78243 m/s2.

  [CATATAN: Percepatan gravitasi di katulistiwa lebih kecil daripada
  gravitasi di kutub karena adanya percepatan sentrifugal yang arahnya
  berlawanan (ke luar) yang disebabkan oleh rotasi bumi. Kalau bumi
  bisa dianggap bundar sempurna, maka ada perbedaan pecepatan sebesar
  v2/R, dimana v=kecepatan di katulistiwa dan R=radius bumi. Setiap
  titik di katulistiwa mengelilingi bumi penuh selama 86,164 s (hampir
  24 jam). Jadi v = 2 Pi (6.38 x 10^6 m)/(86,164 s) = 465 m/s.
  Akhirnya, v2/R = (465 m/s)2 by 6.38 x 10^6 m = 0.0339 m/s2.]


  (2) Disebutkan tentang "Kesalahan Bilangan Archimedes" bahwa

    "Bilangan Pi yang dikenal selama ini, ada 2 versi, yaitu versi
     Archimedes p = 3,14285714285714 (= 22/7), dan Pi versi L. Euler,
     p = 3.14159265358979 (pada kalkulator dan komputer). Bilangan
     Archimedes yang disebut juga sebagai bilangan Pi, pada tahun 1798
     dilambangkan oleh L Euler dengan notasi jari-jari. Nilai bilangan
     Pi diperoleh dari hasil bagi keliling lingkaran terhadap garis
     tengahnya."

  Pertama, perlu diluruskan bahwa yang bilangan Pi itu tidak cuma
  "2 versi" saja. Sejak 2000 tahun sebelum Masehi para insinyur di
  Babilon sudah menggunakan bilangan Pi = 3.125 (3 +1/8). Begitu pula
  arsitek Mesir purba yang membangun piramid sudah menggunakan
  bilangan Pi = 3.16405. Sebuah ayat Bible (1Kings 7:23) yang ditulis
  sekitar 550 sebelum Masehi menceritakan raja Solomon yang membuat
  bak mandi bundar yang kelilingnya 3 kali diameter (Pi = 3). Sejak
  itu ratusan orang melakukan perhitungan dan menentukan Pi yang
  "diyakini" masing-masing. Semua perhitungan Pi ini dilakukan secara
  empiris, dengan pengukuran secara fisik, paling tidak sampai jaman
  Archimedes. Archimedes lah orang yang pertama kali melakukan
  perhitungan Pi secara teoritis, tanpa mengukur benda di lapangan.

  Beginilah cara berpikir Archimedes pada saat itu:

  Keliling lingkaran terletak diantara "inscribed polygon" (poligon
  dalam, yang sudut-sudutnya terletak pada keliling lingkaran) dan
  "circumscribing polygon" (poligon luar, yang sisi-sisinya menyentuh
  keliling lingkaran).

  Keliling poligon yang teratur (panjang sisi sama) lebih mudah
  dihitung, dan ini yang kemudian dipakai sebagai pendekatan
  (pembatas) keliling lingkaran didalamnya. Makin besar jumlah sisi
  poligon, makin dekat kedua poligon tersebut pada lingkaran, dan pada
  akhirnya keduanya konvergen menjadi lingkaran.

  Pada jaman Archimedes, perhitungan yang kelihatannya "sepele" ini
  ternyata luar biasa repot, mengingat ilmu yang ada waktu itu baru
  geometri (ilmu ukur) saja. Jangankan kalkulator, trigonometry (ilmu
  ukur sudut) dan aljabar masih belum ada, bahkan notasi desimal pun
  masih belum diciptakan manusia. Harap diingat, Archimedes ini hidup
  di tahun 287 sampai 212 ... sebelum Masehi!

  Karena itulah Archimedes "hanya" sempat menghitung sampai poligon
  dengan sisi 96, dan mendapatkan nilai Pi diantara keliling kedua
  poligon pembatas, yaitu

       223/71 < Pi < 22/7

  Jika kita ambil rata-rata dari dua nilai pembatas (limit) diatas,
  maka akan kita dapatkan nilai Pi "temuan" Archimedes sebesar 3.1418.
  Perhitungan Archimedes tidak melenceng terlalu jauh -- kesalahannya
  cuma 0.0002 (0.6%). Satu hasil yang cukup bagus untuk kebanyakan
  perhitungan praktis, bahkan sampai jaman sekarang pun.

  [CATATAN: Lebih dari dua milenia yang lalu, Archimedes sudah tahu
  secara pasti bahwa nilai Pi itu tidak sama dengan 22/7, dan dia juga
  pernah berkata bahwa dia menemukan nilai yang eksak. Bahwa banyak
  orang kemudian memakai 22/7 --seperti yang lazim diajarkan di
  sekolah kita-- dan kemudian menganggapnya sebagai nilai konstan
  Archimedes. Ini salah kaprah, dan sayangnya tidak pernah ada pakar
  atau guru yang meluruskannya dengan acuan sejarah yang betul.]


  (3) Tentang metode perhitungan Pi disebutkan ...

     Hal ini dapat dimengerti karena pada saat itu belum ada suatu
     metoda yang dapat digunakan untuk menentukan keliling lingkaran
     sesungguhnya, selain menggunakan cara pengukuran. Jadi belum ada
     analisa teoritis-matematis yang secara tepat dapat digunakan
     untuk menyatakan keliling lingkaran. Sehingga bilangan Archimedes
     yang digunakan sampai saat ini adalah sebesar:

          Pi (p) = 22/7 = 3,1428571428714.

  Pertama, seperti telah dijelaskan diatas, angka 22/7 bukanlah
  besaran yang dinyatakan oleh Archimedes sebagai Pi -- itu hanya
  batas atas (upper limit). Kedua, sejak Archimedes sudah ada analisa
  atau formulasi teoritis-matemtis untuk Pi yang eksak (tidak cuma
  satu). Kalau ada perbedaan antar satu dengan yang lain, itu hanyalah
  karena ketelitian perhitungan yang berbeda, artinya angka-angka di
  belakang titik desimal yang berbeda.panjangnya.

  Walau formula teoritis-matematis bisa dinyatakan secara eksak,
  bilangan Pi sendiri tidak bisa dituliskan secara eksak. Hal ini
  disebabkan bilangan Pi ini (seperti halnya konstanta Euler atau
  bilangan Napier, "e") adalah adalah bilangan irrasional (hal ini
  telah dibuktikan oleh Lambert pada tahun 1781), artinya angka di
  belakang desimal tidak terhingga dan tidak mempunyai pola (pattern)
  perulangan. Tidak lama kemudian Lindemann juga membuktikan bahwa
  bilangan Pi, selain irrasional, juga transcendental, artinya Pi
  (juga "e") bukan merupakan solusi dari persamaan polinomial manapun
  yang dengan berkoefisien bulat (integer).


  (4) Mengenai "Kesalahan Bilangan Napiere" ...

    "Bilangan Napiere yang dilambangkan dengan notasi e, adalah sebuah
     bilangan logaritma natural dengan nilai e = 2,718281828. Atau
     dapat dirumuskan sebagai berikut: ex = 1 + x + (1/2!) x2 + (1/3!)
     x3 + ......... + (1/n!) xn
     ....
     Jadi masih sulit untuk menentukan nilai e dengan metoda primitif
     tersebut, dengan alat hitung apa pun tak mampu. Namun yang
     bersangkutan menemukan nilai bilangan Napiere baru e = 2,7261
     (pembulatan) atau koreksi kesalahannya = 0,287 %."

  Seperti penjelasan Pi diatas, formula untuk bilangan e adalah eksak,
  sedangkan representasi angkanya tidak pernah bisa dilakukan secara
  eksak, karena sifatnya yang irrasional. Harap diingat bahwa formula
  diatas bukan satu-satunya. Masih banyak formula lain yang lebih
  efisien untuk menghitung bilangan e -- dan dengan komputer modern,
  jutaan angka dibelakang titik desimal bida didapat tanpa kesulitan
  yang berarti.

  Entah bagaimana mendapatkan bilangan Napiere "baru" e = 2,7261,
  tetapi jelas bahwa angka yang "ditemukan" oleh peneliti muda diatas
  bukan bilangan e yang sesungguhnya.


  (5) Selanjutnya ditulis tentang "Reevaluasi Dunia Sains Melalui
  Upaya Perbaikan Nilai Bilangan Archimedes dan Napiere" ...

    "Pada tahun 1988, peneliti usia muda yang energik tersebut, telah
     berhasil menemukan metode analitis matematis tersebut dan
     menamakannya dengan "Metode Nusantara". Lebih jauh lagi ia
     memperbaiki nilai bilangan Archimedes dan nilai bilangan Napiere
     dengan nilai ketepatan 100%."

  Bagaimana mungkin kita mau memperbaiki sesuatu kalau kita sendiri
  belum memahami apa yang akan diperbaiki? Tanpa bermaksud mematahkan
  semangat "otak-atik" peneliti muda ini, saya anjurkan untuk banyak
  membaca, terutama supaya mengerti dulu apa yang sudah pernah
  dilakukan orang sebelumnya. Dalam kasus ini, dan banyak hal pada
  umumnya, "pengertian" akan satu konsep jauh lebih penting daripada
  "menemukannya [kembali]."

  Jarang sekali penemuan itu murni muncul dari daya kreasi otak seorang
  individu, seolah jatuh dari langit begitu saja. Bilangan Pi Archimedes
  dan logaritma Napier merupakan contoh yang sedikit itu. Sebagian
  besar penemuan merupakan hasil akhir dari proses evolusi panjang
  dari ide yang diolah oleh pemikiran orang lain berpuluh-puluh tahun
  bahkan berabad-abad sebelumnya.


  Bacaan yang relevan dan sangat bagus sehubungan dengan tulisan ini:

   1. Petr Beckman, "A History of Pi" (Hippocrene Books, 1990)
   2. Eli Maor, "e: The Story of a Number" (Princeton U Press, 1998)


  --
  Moko Darjatmoko
  [EMAIL PROTECTED]
  Madison, Wisconsin



-----------------------------------------------------------------
Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing
------------------------------------------------------------------
  • [ITB] Tanggapan atas "Memburu Pengakuan Penemuan Ilmiah" Moko Darjatmoko