Dina . Adityareni
Thu, 9 Mar 2000 19:24:36 -0800
On Fri, 10 Mar 2000, Rochmad Setyadi wrote: > Kalo menurut om Umar Kayam emang begitu kan ya? Semua orang Jawa dididik > jadi priyayi ... yang > pegang posisi dan punya martabat karena kedudukan itu walau gaji tetap terus > ... jadi pengreh praja .. > ... yang mengelola pemerintahan. > Sebelumnya saya nimbrung, saya ingin memperkenalkan diri. Saya alumni ITB Farmasi 88 saya ingin menanggapi Mas Rohmad yang mengomentari Umar Kayam dengan priyayinya.. Kalau diamati betul justru Umar Kayam memberikan pembaruan pemahaman tentang priyayi. Bahwa priyayi itu bukan dari darah birunya, bukan dari posisi dan jabatannya, tapi dari sikap kesungguhannya untuk melayani dan mengayomi rakyat banyak. Bila anda membaca novel Sang Priyayi nya Umar Kayam dengan seksama, hal tsb disampaikan pada bagian terakhir saat tokoh Lantip berpidato pada pemakaman Eyangnya. Dan jangan salah lagi...Umar Kayam itu berasal dari Ngawi, yang perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah / DIY. ah itu khan warisan dari penjajah Belanda :-) dan diteruskan oleh keraton ... Kalau di Jawa Timur tidak begitu :-) Kalau di budaya keraton ... ada tiga bahasa Kromo Inggil (sangat halus) , Kromo (halus) , dan Ngoko (kasar) . Para raja atau juga priyayi ..boleh ngomong Ngoko ke lingkungan yang lain misal kaum proletar (buruh , petani , dan pedagang) . Sedangkan kaum kaum yang disebut proletar atau sebangsanya harus ngomong kromo inggil atau ngoko ke kaum kaum priyayi he he he ... kalau di Jawa sebelah timur , tidak ada seperti itu , yang ada hanya yang muda harus menghormati yang tua , dan biasanya bahasa bahasa seperti kromo inggil tersebut dipakai oleh yang muda ke yang tua apapun strata sosialnya , sedang kalau yang muda ngomong ke yang muda lagi atau yang setara umur nya , biasanya pakai ngoko ... fenomena , ini terlihat pada ketoprak humor , perhatikan kalau "Tessy" ngomong kromo inggil akan terlihat sangat lucu karena memang tidak terbiasa ngomong kromo inggil atau lebih biasa ngomong ngoko karena memang itu bahasa pergaulan sehari hari... dimana bahasa tadi mengungkapka sesuatu dengan lebih lugas , lebih transparan , lebih fair dll..dan sesuatu yang diungkapkan juga harus dilihat perasaan orang / mimik orang yang mengucapkannya . Misal kalau kita ngomong "Jancuk " , "Asu" , atau "wedhus" harus juga dilihat intonasinya , bisa jadi perkataan diatas diucapkan pada kondisi marah , senang ,bahagia , sedih dan lain lain. -bas- ----------------------------------------------------------------- Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing ------------------------------------------------------------------ ----------------------------------------------------------------- Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing ------------------------------------------------------------------