itb  

[ITB] teori kemanunggalan

Ihsan Hariadi
Tue, 20 Jun 2000 10:25:10 -0700



    ----------------------------------------------------
    Date   : Thu, 24 Feb 2000 22:47:58 +0900 (JST)
    From   : Agus Purwanto 
             <[EMAIL PROTECTED]>
    To     : masyarakatfisikaindonesia <[EMAIL PROTECTED]>
    Subject: [HFI] minum kopi        fwd. :ihsan hariadi
    ----------------------------------------------------


    Entah, untuk menarik simpati rakyat atau apa, beberapa tahun lalu
    permentah kita mengeluarkan istilah Manunggalnya ABRI dan rakyat.
    Perkara di lapangan  ada  jarak  antara  keduanya,  itu  tidaklah
    penting.

    Bila kita pernah belajar sedikit mistik Jawa maka akan kita temui
    istilah  Manunggaling  Kawulo Gusti. Suatu konsep transenden yang
    menggambarkan suasana kejiwaan seseorang yang dengan susah  payah
    telah  mencapai state melebur dari yang tiada ke dalam keabadian,
    kesentosaan dan ketakterhinggaan yang ada.

    Kemanunggalan lain juga kita kenal di dalam fisika. Sukses  teori
    elektrolemahnya  trio  Glashow-Salam-Weinberg  dalam  menjelaskan
    interaksi elektromagnetik serta interaksi lemah dalam satu  teori
    yang kompak serta konfirmasi eksperimen atas beberapa prediksinya
    seperti partikel boson W dan Z  telah  mengilhami  gagasan  untuk
    penggabungan yang lebih besar yakni dengan interaksi kuat.  Teori
    gauge SU(3)xSU(2)xU(1) yang biasa disebut  sebagai  The  Standard
    Model  adalah  teori yang dimaksud. Teori ini telah dengan sukses
    menjlentrehkan sifatt gaya elektromagnetik yang bertanggung jawab
    atas  susunan  atom,  gaya  lemah  yang  bertanggung  jawab  atas
    peluruhan partikel beta serta gaya kuat  yang  bertanggung  jawab
    atas  berkumpulnya  proton dan neutron dalam inti atom. Tidak ada
    satu ekksperimen yang berlawanan dengan prediksi Standar Model.

    Meskipun demikian bukan berarti Standard Model tanpa  cacat  atau
    kelemahan.  Kelemahan  yang  kasat  mata  adalah jumlah parameter
    bebasnya yang cukup banyak yaitu 19. Selain itu, rasa ketakpuasan
    manusia   umumnya   serta   fisikawan   teoritis  khususnya  juga
    ditimpakan pada model ini. Standard Model  tidak  menampung  gaya
    gravitasi  maka  perlu dibangun satu teori yang lebih elok, lebih
    anggun dan lebih sederhana tapi bisa menjelaskan serta  memadukan
    semuanya. Begitu karepnya.

    Keinginan tersebut melahirkan term kemanunggalan baru yang  tidak
    kalah  gagahnya  dibanding  kemanunggalan  ABRI  dan rakyat serta
    tidak kalah  mistisnya  dengan  kemanunggalan  kawulo  gusti.  Ia
    adalah  Teori Kemanunggalan Agung (Grand Unified Theory, GUT). Di
    dalam teori ini diderivatifkan semua gaya dari transformasi gauge
    satu  grup  tunggal  -katakanlah- G. Grup kemanunggalan agung ini
    (haruslah) mengandung grup SU(3)xSU(2)xU(1)  sebagai  subgrupnya.
    Selain  itu  grup  G  ini juga merupakan "simple group" karena ia
    harus  mendiskripsikan  gaya  terpadu  melalui   satu   konstanta
    interaksi.  Namun,  karena  kita  ketahui  bahwa di dalam Standar
    Model ketiga coupling constant yang masingg milik interaksi dalam
    SU(3),  SU(2)  dan  U(1) merupakan coupling constant yang berbeda
    maka mereka harus dapat diderivatifkan dari satu kopling  tunggal
    jika  simetri  yang  terkait  dengan  grup  G mengalami perusakan
    secara spontan.

    Model tipikal dari teori agung tersebut  adalah  SU(5)  GUT  yang
    diajukan  oleh  duet Georgi-Glashow. Model ini menampung 15 medan
    dari quark up dan down, elektron dan neutrino elektron. SU(5) GUT
    berhasil  memadukan  ketiga  gaya  hanya  dengan  satu  konstanta
    kopling,  dan   mengkuantisasi   muatan   elektron   dan   quark,
    memprediksi  Weinberg  angle  serta hubungan antara massa quark b
    dan lepton tau.  Namun prediksi yang paling dramatis  dari  model
    ini   adalah   eksistensi  boson  lepto-quark  yang  memungkinkan
    terjadinya peluruhan proton dan  pada  gilirannya  memberi  lahan
    baru   bagi  para  eksperimentalis  semisal  kelompok  kolaborasi
    Super-Kamiokande Jepang.

    SU(5)  GUT   masih   menyisakan   beberapa   ketakpuasan.   Empat
    di antaranya yang  diatasi oleh model berikutnya adalah kenyataan
    dua multiplet untuk  menampung  ke-15  medan  partikel,  asimetri
    left-right,  prediksi waktu paruh proton yang sangat pendek serta
    neutrino tetap takbermassa. Model  tersebut  adalah  SO(10)  GUT.
    Model  ini menampung ke-16 medan partikel ke dalam satu multiplet
    kompak, memberikan keksimetrian left-right yang  pada  gilirannya
    memungkinkan  kehadiran  massa  bagi neutrino. Memang teori gauge
    SO(10)  ini  merupakan  GUT  paling  sederhana  yang  mengijinkan
    kehadiran  massa  bagi neutrino. Karena perburuan atas eksistensi
    massa neutrino  sedang  menjadi  primadona  maka  perhatian  juga
    banyak  diberikan  kepada  teori  gauge  SO(10). Mekanisme Seesaw
    untuk menjelaskan betapa ringannya massa neutrino (jika  akhirnya
    terbukti  secara  definit)  juga  "lahir" dalam lingkungan SO(10)
    ini.

    Di atas saya katakan bahwa SO(10) GUT adalah GUT paling sederhana
    yang mengijinkan kehadiran massa neutrino, berarti ada yang lebih
    ruwet lagi dibanding SO(10) yang sudah jarang orang menyentuhnya.
    Betul,  memang  ada  Teori Kemanunggalan Agung yang lebih "ruwet"
    ketimbang SO(10). Ia adalah E6 GUT. Apa dan bagaimana  E6  GUT  ?
    Saya sendiri juga belum sempat ingukk (melongok), lha wong SO(10)
    saja juga baru sowan  pada  representasi  grupnya.  Itupun  sudah
    membuat cenutt, tapi untung ada rasa cinta yang menggelora ...

    Ngopi dululah .....           

    Salam,

    Hiroshima.
 
    - Agus Purwanto -

    ////////////////////////////////////// akhir dokumen /////////////



-----------------------------------------------------------------
Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing
------------------------------------------------------------------

  • [ITB] teori kemanunggalan Ihsan Hariadi