adnan basalamah
Fri, 21 Jul 2000 20:54:04 -0700
dari bisnis indonesia http://www.bisnis.com/bisnis/owa/frame.fstoryf_othernewsf?cookie=2&cdate=22-JUL-2000&inw_id=125708 Usaha Kecil dan Koperasi Edisi : 22-JUL-2000 Berawal dari hobi Teddy kini jadi 'empu' pisau BANDUNG (Bisnis): Dari hobi bisa membuat orang terkenal dan menghasilkan uang. Itu dialami Teddy Kardin. Alumnus Teknik Geologi ITB angkatan 1971 sukses dalam usaha pisau justru diawali dari hobi. Dia sempat bekerja selama lima belas tahun keluar masuk hutan sebagai geolog freelance spesialis eksplorasi dengan penghasilan US$3.000-US$6.000. Selama masa itulah Teddy akrab dengan pisau karena kemanapun dia pergi selalu membawa pisau untuk menebang pohon, berjaga terhadap binatang, berburu dan sebagainya. "Saya rata-rata tiga empat bulan di hutan dan sebulan di rumah." Selama menggunakan pisau, dia merasa sering dikecewakan karena pisau-pisau tersebut tidak awet, cepat rusak dan aus sementara harga pisau bagus ketika itu amat mahal. Teddy berinisiatif memesan pisau ke pandai besi namun hasilnya tetap kurang memuaskan. Akhirnya dia memesan ke Jambi sebanyak 20 buah untuk anak buahnya, ternyata hasilnya bagus dan awet. Sejak 1992 itulah dia mulai tertarik untuk menekuni usaha pembuatan pisau dengan mendirikan T. Kardin Knives Workshop. Maka dia mencari teman dari Fakultas Seni Rupa yang mengerti seni untuk membuat desain. Hasilnya bagus seperti pisau buatan luar negeri namun terganjal karena pasarnya tidak bisa diandalkan. Teddy mulai terjun total mengurusi pembuatan pisau setelah pada 1993 mengalami kecelakaan fatal sampai imsomnia selama hampir empat bulan. "Sejak itu saya tidak bisa lagi melanjutkan kerja sebagai geolog." Modal awal yang dikeluarkannya sebesar Rp 3 juta dan tidak ditambahnya hingga sekarang. "Orang yang banyak membantu di masa awal adalah Pak Prabowo Subianto (mantan Danjen Kopassus), bukan dengan uang tetapi dengan menghargai hasil karya kami," ujarnya. Prabowo memesan pertama kali 30 buah pada 1993 untuk cinderamata bagi tamu-tamu asing. Setelah itu pesan 30 buah lagi. "Harganya waktu itu masih murah, Rp 100.000 per buah." Pada 1996, setelah Prabowo menjadi jenderal, pisau buatan Teddy mulai diperkenalkan melalui kerja sama dengan pasukan khusus Yordania hingga mendapat pesanan di atas Rp 100 juta. Pada tahun itu pula, Teddy dimintai bantuan oleh Prabowo dalam operasi pembebasan sandera Kelly Kwalik. "Saya berhasil membantu karena punya pengalaman baik dengan suku-suku pedalaman sehingga saya bisa memperkirakan apa yang mereka lakukan. Keberhasilan ini membuat saya sembuh secara psikologis paska kecelakaan fatal." Pulang dari Irian, Teddy yang awalnya hanya memiliki tiga karyawan langsung mengangkat 15 orang lagi. Kini jumlah karyawan 40 orang. Kualitas pisau Menurut dia, kualitas pisau dinilai dari kualitas baja, kekokohan konstruksi, serta keindahan. "Ada juga yang namanya baja indah yaitu baja berpamor atau yang menurut istilah internasional disebut baja Damaskus." Baja Damaskus, kata dia, mengandung nikel namun kurang keras. "Empu jaman dulu membuat keris berpamor dari batu meteor atau meteorit yang mengandung nikel." Pada 1996 Teddy membeli baja Damaskus dengan harga US$200 per kg padahal satu kg hanya jadi satu atau dua pisau. "Mulai saat itulah saya berkenalan dengan Empu Daliman dari Solo yang bisa memasok baja Damaskus untuk saya dengan harga seperempat harga impor." Sedangkan untuk pisau pakai, kata dia, yang paling penting dari baja adalah kekerasan dan kelenturannya. Karena itu, dia menggunakan baja khusus untuk membuat pisau dari Jepang (Hitachi) dan Australia (Bohler). "Baja itu termasuk O1, D2 dan 440C dari Bohler dan ATS 34 dari Jepang menurut standar AISI (American Iron & Steel Institute). Menurut ukuran kekerasan Rockwell Standard angkanya 58 hingga 62." Teddy memasarkan produknya lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan tulisan media massa. "Para kolektor kemudian tertarik untuk datang setelah membaca tulisan di media massa." Sejauh ini Teddy merasa belum ada persaingan yang kuat karena pasar pisau dalam negeri amat terbatas. Pasar dalam negeri yang menggunakan produk Teddy kebanyakan kolektor, pemburu serta kalangan militer. Kebanyakan konsumen dalam negeri lebih banyak menggunakan produk Tedy sebagai cinderamata dan sifatnya pribadi. Dia berharap kalangan militer lebih banyak menggunakan produknya. -adnan- Reveolusi itu belum selesai rek..!!! ngawur ae koen iku.. ----------------------------------------------------------------- Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing ------------------------------------------------------------------