itb  

[ITB] monumen multatuli (1)

Ihsan Hariadi
Sun, 15 Oct 2000 07:41:28 -0700



    -----------------------------------------
    Date   : Tue, 10 Oct 2000 21:04:17  
    From   : Basuki Suhardiman  
    To     : [EMAIL PROTECTED] 
    Subject: Pramoedya Ananta Toer: Multatuli  
             Sebuah Kenangan (fwd)
    -----------------------------------------


             ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
             Multatuli, Sebuah Kenangan Pramoedya Ananta Toer
             ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


    Multatuli? Ya, kapan nama  itu  pernah  kudengar?  Jauh  di  masa
    lewat. Semasa kanak-kanak. Aneh kedengarannya.

    Tapi kombinasi bunyi dalam namanya membuat  aku  terus  teringat.
    Soalnya  bukan sekali-dua disebut-sebut di rumah oleh para pemuda
    yang sering datang berkumpul, bermain, dan berdiskusi. Lebih dari
    namanya yang aneh aku tak tahu sesuatu.

    Di rumah kami  terdapat  perpustakaan  yang  cukup  besar,  untuk
    ukuran  kota  kecil,  dalam  keadaan  tak  terawat, bahkan selalu
    berantakan. Ayahku, seorang pemilik akte  untuk  mengajar  bahasa
    Belanda  tingkat  sekolah rendah, suka memborong buku dan majalah
    dari rumah para pejabat Belanda  yang  dilelang  barang-barangnya
    menghadapi kepindahan. Dia tidak pernah mendongeng padaku tentang
    Multatuli, biar pun dalam perpustakaan  terdapat  beberapa  jilid
    karyanya.  Ibuku, yang menelan buku Belanda dan Melayu - ia tidak
    membaca Jawa - juga tidak pernah.

    Awal  tahun  1930-an  rumah  kami  menjadi  pusat  kegiatan  para
    nasionalis  kiri non-koperator. Para pemuda yang berbakat melukis
    muali membikin lukisan dengan cat, dijajarkan  sepanjang  dinding
    rumah.  Setiap  di  antara kanak-kanak dapat membaca nama-nama di
    bawahnya: Rasuna Said, Diponegoro, Alibasah Sentot  Prawirodirjo,
    Soekarno,  Sartono,  Gatot  Mangkupraja,  Iwa  Kusumasumantri, Ki
    Hadjar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo.

    Tapi  Multatuli?  Tidak  melalui  lukisan,  juga  tidak   melalui
    dongengan di rumah. Di tempat lain aku diperkenalkan kepadanya.

    Masih awal tahun 1930-an itu, KBI  (Kepanduan  Bangsa  Indonesia)
    tempat  kami mengangkat aku jadi wakil ketua regu nomor kesekian.
    Bukan karena ada prestasiku dalam kepanduan. Hanya karena  ayahku
    seorang tetua KBI yang dengan beberapa orang lainnya, dalam suatu
    malam api unggun telah melakukan sumpah  sambil  memegangi  ujung
    sang  merah-putih. Atau hanya karena ayahku seorang non-koperator
    sejak 1923.

    Sebagai wakil kepala regu setiap Rabu sore kami  harus  berkumpul
    di  suatu  ruangan  sekolah  Budi Utomo untuk mendapat bimbingan.
    Didongengkan tentang riwayat gambar-gambar di rumah. Ditambah dua
    nama  lagi:  S.K.  Trimurti,  yang  juga  sering diceritakan oleh
    ibuku. Dan: Multatuli. Begitu tahu orang yang  bernama  Multatuli
    itu  orang  Belanda  dan  pejabat  tinggi  pangreh praja pula aku
    terperangah dan mengambil sikap. Tidak lagi  sebagai  anak  didik
    yang  patah,  sudah jadi opposan. Ya, sebelum lagi aku dilahirkan
    udara  rumah  kami  telah  dibuntingi  oleh  kebencian   terhadap
    penjajahan.   Segala  yang  buruk,  keji,  biadab,  berasal  dari
    penjajahan. Belandalah wakil  penjajahan  itu.   Secara  langsung
    atau  tidak  orangtuaku mengajar kami membencinya. Kami muak pada
    serdadu  kolonial,  kami  jijik  terhadap  polisinya,  dan   kami
    memandang rendah pegawai-negerinya.

    Mana mungkin ada orang Belanda yang baik? Beberapa  kali  kulihat
    sendiri  seorang  polisi  Belanda  menendangi  para  penjual  dan
    bakulnya yang  menjual  barang-barangnya  di  luar  pasar.  Hanya
    karena menghindari pajak pasar.  Berapa harga dagangannya? Paling
    banyak senilai duapuluh lima sen. Dendam itu kami lepaskan berdua
    waktu  memapasi  seorang  agen  polisi yang masih muda berkendara
    sepeda seorang diri di jalanan senyap  siang  hari.  Berdua  kami
    melemparinya   dengan   batu  dan  menyumpahi:  anjing!  khianat!
    kemudian hambur melarikan diri menuruni jalan kecil tebing sungai
    yang tak mungkin bisa tersusul dengan sepedanya.

    Pada  hari-hari  tertentu  serombongan  polisi  lapangan   (veld-
    politie)  dengan bedilnya melalui depan rumah kami untuk pergi ke
    luar kota latihan menembak.  Sudah kutaksir pohon kapok  tetangga
    untuk  memasang ujung tali. Bila rombongan polisi lapangan lewat,
    ujung  tali  dari  seberang  jalan  akan  kutarik.  Mereka   akan
    melanggarnya  dan  akan jatuh susun-tindih bergelimpangan. Sayang
    mereka hanya berangkat  pagi  bila  latihan,  tak  pernah  malam.
    Rencana itu tak pernah terlaksana.

    Pernah kusaksikan sendiri seorang mantri polisi datang ke sekolah
    dan  merampas  buku-buku  karangan ayahku. Pernah kulihat sendiri
    bagaimana pegawai-pegawai pajak mengangkuti  perabot  rumah  yang
    terbagus  dari  rumah  kami,  sehingga yang tinggal hanya barang-
    barang buruk dan perasaan tersinggung telah dipermalukan di depan
    umum.

    Semua sumbernya tak lain dari kekuasaan Belanda. Mulatuli?  Orang
    Belanda?   Dia  takkan  lebih dari yang lain-lain. Dan tidak lain
    dari  ayahku  sendiri  yang  di  sekolah  menceritakan  bagaimana
    Diponegoro  ditipu oleh Jendral de Kock, diundang berunding, tapi
    kenyataannya ditangkap dan dibuang.

    Hari-hari riuh  itu  padam.  Tak  ada  lukisan-lukisan,  tak  ada
    nyanyian  mengagungkan  Indonesia  Raya,  tak  ada  suara bersama
    menyambut terbitnya bangsa baru di timur. Apalagi Multatuli.  Tak
    ada yang menyebut-nyebutnya lagi.

    Dalam perayaan  tahunan  sekolahan  sekarang  muncul  hanya  satu
    lukisan:   Pak  Tom.  Dr.  Soetomo.  Ya,  sekolahan  kami  memang
    didirikan olehnya pada 1918, ia meninggalkan bangunan  dua  kelas
    sebelum dikembangkan  oleh  ayahku  menjadi 7 kelas. Dalam tahun-
    tahun tenang itu, aku sudah  duduk  di  kelas  6,  beberapa  guru
    tertentu   memberikan   pengetahuan   umum  ekstra  kurikuler  di
    sore hari. Di antaranya  tentang  Multatuli. Tentu  saja  tentang
    peristiwa  Lebak.  Tentu saja tentang Saija dan Adinda. Sementara
    itu sejumlah orang muda di kota kami  mempelajari  bahasa  Jepang
    melalui   diktat   stensilan   yang  dikeluarkan  oleh  Instituut
    Ksatrian, Bandung,  yang  dipimpin  oleh  E.F.E.  Douwes  Dekker.
    Rupa-rupanya  masa  ini  dipertautkan  nama  Multatuli, E. Douwes
    Dekker, E.F.E. Douwes Dekker oleh diktat tersebut. Dan pengembara
    an nama Multatuli menjadi semakin luas.

    Juli 1941. Suatu kegemparan keluarga. Asisten Residen -  aku  tak
    ingat namanya - memanggil ayahku. Dapat dibayangkan: bencana baru
    akan menimpa keluarga kami.  Tak  ada  sesuatu  yang  baik  dapat
    diharapkan  dari  Belanda  dan  penjajahannya. Yang terjadi lebih
    menggemparkan: ayah diminta kembali mengajar di  HIS  setelah  18
    tahun  menjadi  non-koperator.  Sampai  jauh  di  kemudian  hari,
    sebelum  tahu  tentang  adanya   liga   atau   front   anti-fasis
    internasional  dan pendekatan kerjasama anti-fasis antara bangsa-
    bangsa penjajah dan yang terjajah,  aku  malu  melihat  perbuatan
    ayahku,  dan  tidak  mampu  mengampuninya.  Sekali pun dalam hati
    mulai  percaya  ada  Belanda  yang  baik,  berbudi,  dalam   diri
    Multatuli.

    Dengan cepatnya keadaan berubah. Jepang  datang.  Aku  pindah  ke
    Jakarta.   Seorang teman sekolah, yang tinggal di kios buku bekas
    bernama "Indonesia Sekarang" membuat aku sering  datang  ke  kios
    itu.  Penuh  buku Barat dari rumah-rumah orang Belanda yang masuk
    ke  tawanan.  Di  situ  aku  mulai  berkenalan  langsung   dengan
    Multatuli.  Bukan  Multatuli yang didongengkan, tetapi tulisannya
    dengan bahasanya yang a lot. Ya, sekedar berkenalan saja.

    Guru bahasa  Indonesia,  Mara  Sutan,  memperkenalkan  kami  pada
    sejumlah  pengetahuan  baru ekstra kurikuler, dari Sokrates, Imam
    Sjafei Kayutanam, sampai  Multatuli.  Dialah  yang  membikin  aku
    setiap   hari  Minggu  nongkrong  di  perpustakaan  Musium  Gajah
    membacai  koran  dan  majalah  lama.  Dari   bacaan   itu   dapat
    kusimpulkan:    semua    nasionalis   barisan   terdepan   pernah
    mempelajari, bukan sekadar membaca, Multatuli. Dia  tonggak  awal
    dalam  sejarah  Indonesia yang menampilkan seseorang yang membela
    rakyat kecil dari kejahatan cultuurstelsel klasik van den  Bosch.
    Yang  memberikan  keberanian,  kelugasan,  kecerahan,  dan  hidup
    mudanya  pada  perlawanan  terhadap  kerakusan  para  pembesarnya
    sendiri,  para  pembesar  sebangsa  sendiri. Yang memberitahukan,
    bahwa sampai Raja Belanda pun, dapat dihimbau, bahwa kepala desa,
    kepala   distrik   sampai   Gubernur  Jendral  bukan  pagar-pagar
    kekuasaan yang tak tertembusi oleh daya tulisan dan  daya  cetak.
    Dia yang mengajarkan bagaimana tumbuh, berkembang, lurus ke atas,
    dengan integritas tetap utuh, tidak mondar-mandir  dan  berpusing
    dalam lingkaran setan.

    Tahun 1950-an mulai kukumpulkan  tulisan-tulisan  semasa  tentang
    dia.  Paling  banyak menyebutnya adalah Buyung Saleh. Dalam kurun
    1950-an itu juga Han Resink  pernah  mengejuti  aku  dengan  satu
    penilaian. Itu terjadi di rumahnya pada suatu sore:

    "Sastra Jawa dan sastra Indonesia belum pernah melahirkan  cerita
    percintaan  dari  kalangan rakyat jelata. Orang pertama di negeri
    ini yang pernah menuliskannya, dan bukan tidak berhasil, tak lain
    dari Multatuli dengan Saija dan Adinda."

    Masih tentang cerita percintaan ia mengakui, sastra  Jawa  pernah
    melahirkan  karya  agung.  Seorang  gadis  rakyat bawah memprotes
    dengan hidupnya  pada  feodal  yang  justru  sedang  pada  puncak
    kejayaannya.   Gadis   itu  adalah  Roro  Mendut.  Tetapi  cerita
    percintaan antara  gadis  dan  perjaka  dari  kalangan  tani?  Ia
    menggeleng.

    Ya, Saija dan Adinda  dan  pidato  Lebak  lebih  meluas  daripada
    karya-karya Multatuli selebihnya dalam kurun ini.

    Seorang pelukis Lekra, yang telah membacai Multatuli  sejak  masa
    kolonial, S., sampai tahun itu masih terpaut hanya pada Saija dan
    Adinda.  Pembicaraannya sekali ini ia batasi  pada  pemberontakan
    Lampung.

    "Kalau Saija atau Adinda, atau siapa saja di  antara  kita  waktu
    itu,  melemparkan  tombaknya  atau  mengayunkan  parangnya,  yang
    pertama atau yang ke  sekian,  itu  merupakan  peristiwa  budaya.
    Karena  pembatasan  budaya yang menyebabkannya berbuat yang tidak
    berbudaya. Pembatasan sosial, ekonomi dan politik,  untuk  jangka
    waktu  tertentu  masih  bisa  ditenggang.  Itu sebabnya Saija dan
    Adinda berada di Lampung, sudah meninggalkan Banten,  suatu  masa
    tenggang.  Kalau  Kompeni  melepaskan tembakan untuk pertama atau
    kesekian kali, itu untuk intensivikasi  atau  ekspansi  kekuasaan
    sosial,   politik   dan  ekonominya,  untuk  dominasi  budayanya.
    Pemberontakan Lampung bukan sekadar peristiwa militer.  Sepanjang
    sejarah  kemiliteran  menempati  kedudukan  yang  kesekian  dalam
    kehidupan manusia. Budaya, pernyataan manusia sebagai makhluk."

    Ia tak pernah sempat mengembangkan  pikirannya,  karena  lukisan-
    lukisannya  belum  mampu  menghidupinya.  Masyarakat  lebih sibuk
    mencari sesuap nasi daripada memajang dindingnya dengan lukisan.

    Dalam periode ini  jilid  demi  jilid  kumpulan  karya  Multatuli
    terbit.   Makin  berhamburan  dengan  Latin,  huruf  Yunani,  dan
    persoalan-persoalan yang makin alot.

    Saija dan Adinda telah  dibikin  cerita  panggung  oleh  beberapa
    orang   dan  dipentaskan  di  panggung  umum,  di  sekolahan,  di
    lingkaran-lingkaran pemuda.   Untuk  Indonesia  Multatuli  adalah
    Saija dan Adinda.

    Mengingat bahwa Multatuli  dengan  pengaruhnya  yang  konstruktif
    telah berjasa dalam memberikan suluh pada para nasionalis barisan
    depan maka dalam 1959, dalam sidang para Ketua Komite  Perdamaian
    Pusat,  kuajukan usul untuk mengadakan peringatan ulang tahun 140
    tahun Mutaltuli  secara  nasional  dan  mendirikan  patungnya  di
    tempat-tempat  ia  pernah  membikin  sejarah. Ya, tentu saja usul
    diterima dengan aklamasi. Dan diharapkan dariku  memberikan  pada
    dewan   materi   tentangnya.   Tulisan-tulisan  tentangnya  dalam
    koleksiku kuserahkan untuk diperbanyak. Delegasi  pun  terbentuk.
    Mereka menghadap Presiden Soekarno. Hasilnya?

    Seorang anggota delegasi datang ke rumah untuk melapor. Ia  duduk
    sambil menghembuskan nafas. Ya? Sapaku. Dan ia meringis. Ternyata
    Bung Karno tidak menjawab.

    "Apa katanya?

    "Bung Karno justru  yang  bertanya:  mengapa  Multatuli?  Mengapa
    tidak Baars?  Tidak Sneevliet?"

    Dengan demikian  patung  Multatuli  belum  pernah  berdiri.  Yang
    didirikan  justru patung Kartini, bikinan pematung Jepang, dengan
    penampilan sebagai  peragawati.  Walau  waktu  hidupnya  angkatan
    Kartini  belum  mengenal  kantong  dada,  KD  atau katakanlah BH,
    Kartini peragawati nampak-nampaknya sudah mengenakan. Tapi  bukan
    itu  keberatanku.  Walikota  memanggil.  Rupanya  ia  membutuhkan
    kupingku untuk dapat ditiup dengan kata-katanya:

    "Nah, bagaimana? Itu kan  hadiah  dari  orang  asing.  Apa  harus
    ditolak?"

    Dia tidak bicara tentang Multatuli, sekali  pun  dia  tahu,  juga
    Multatuli punya saham menentukan dalam proses penjadian Kartini.

    Pada 1964 LEKRA mendirikan Akademi Sastra Multatuli.  Tentu  saja
    aku  ikut  mendapat  kehormatan  menjadi  salah  seorang pendiri.
    Hampir tepat setahun kemudian Akademi itu runtuh untuk  selamanya
    bersamaan   dengan   runtuhnya  Presiden  Soekarno.  Namun  tidak
    mengurangi kenyataan, di bidang  sastra  Multatuli  oleh  jajaran
    organisasi kebudayaan rakyat ini dianggap sebagai guru besar. Dan
    memang  LEKRA  sebelum   dijatuhkannya   Soekarno   yang   banyak
    memperkenalkan Multatuli di Indonesia. Ia dinilai sebagai humanis
    besar,  bukan  saja  mengenal  kolonialisme  dan  wataknya,  juga
    mengenal    rakyat    jajahan,    dan    lebih-lebih   menghayati
    keterbatasannya  dalam  penghidupan,   dalam   berbudaya,   dalam
    berlawan, bahkan dalam bercinta.

    Sewaktu di Buru, seorang teman yang baru pulang  dari  kerjapaksa
    di  pelabuhan membawa sesobek kertas, diberikannya padaku sebagai
    oleh-oleh.   Sensor  telah  tidak  meloloskan  produksi   bersama
    Indonesia-Belanda  film  Mutatuli. Alasan: karena orang Indonesia
    (semasa Multatuli belum ada orang Indonesia!)  ditampilkan  lebih
    jahat  daripada  orang  Belanda.  Siapa  tidak  dibikin terkekeh,
    lagi-lagi bertemu dengan kemulukan domestik sisa  warisan  bangsa
    terasing?  Diberitakan  juga  tentang  kekecewaan  pihak Belanda.
    Tentu   saja.   Setidak-tidaknya    itu    kekecewaan    sejumlah
    pribadi, paling-paling  kekecewaan grup  atau golongan. Sumbernya
    masih tetap: orang belum bisa melihat Indonesia  sebagai  pewaris
    kolonialisme  Belanda,  paling  tidak  di  bidang  teritorial dan
    infrastrukturnya, bahkan dalam sejumlah struktur.   Apa  salahnya
    kalau  juga  jadi pewaris syah di bidang mentalitas kolonial? Kan
    mentalitas itu juga yang  menolak  dan  membuang  Multatuli?  Apa
    salahnya  kalau  filmnya pun ditolak? Kan Indonesia tidak mungkin
    ada tanpa kolonialisme Belanda?

    Sekembali dari Buru nampaknya masalah penolakan sensor itu  tetap
    hidup.   Beberapa  kali orang mengajak bicara tentangnya. Seorang
    malah menyatakan ikut terlibat dalam  pembikinan  film  tersebut.
    Tapi  tak seorang pun pernah mengatakan, bahwa kemulukan domestik
    juga memerlukan penghormatan.

    Sementara itu publikasi tentang dan dari Multatuli semakin banyak
    di  Indonesia. ia juga diperkenalkan secara kurikuler di sekolah-
    sekolah dasar.  Multatuli dalam film tetap menyinggung  kemulukan
    domestik, karena dalam banjir produski teknologi mutakhir - lebih
    menggelora dari banjir akibat penggundulan hutan, ia tetap produk
    domestik yang asli.

    Jenuh  kemulukan  membuat   orang   rindu   pada   kesederhanaan,
    kelugasan.   Dalam   hubungan   dengan  Multatuli,  membikin  aku
    terkenang  pada  suatu  kali  di   Warsawa.   Seorang   Polandia,
    pengarang,  bercerita  padaku,  dia  mengenal  Indonesia  melalui
    seorang bocah kampung yang bersahabat dengan kerbaunya.  Di  atas
    punggung sahabatnya itu seekor macan menyerang dan kerbau sahabat
    itu melindunginya. Itulah Indonesia yang dikenalnya.  Dan  heran,
    ia  tidak kenal Multatuli, sekali pun membicarakannya. Adegan ini
    sudah kudengar, keketahui sejak  kecil.  Seperti  orang  Polandia
    itu,  juga tanpa mengenal namanya.  Entah berapa ribu bocah dalam
    setiap angkatan kembali mendengar dan  menceritakan  adegan  itu,
    atau mewujudkan dalam buku gambarnya. Mereka mendengar, bercerita
    dan menggambar Multatuli, tanpa pernah mengenal namanya.

    ### Jakarta, April 1986 ###########

    -----------------------------------------------------------------
    Kami mengundang Anda bergabung dengan  mailing-list  KerjaBudaya
    untuk mendapatkan beragam informasi dan pendapat tentang sejarah,
    kebudayaan dan masyarakat Indonesia.
    -----------------------------------------------------------------
     Kirimkan e-mail kosong ke
 
         < [EMAIL PROTECTED] > atau 

     klik 'subscribe' di

         < http://www.egroups.com/list/kerjabudaya >
    -----------------------------------------------------------------
    Jaringan Kerja Budaya
    Jl Batu Ampar III/6
    Jakarta 13520
    < [EMAIL PROTECTED] >
    -----------------------------------------------------------------


-----------------------------------------------------------------
Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing
------------------------------------------------------------------

  • [ITB] monumen multatuli (1) Ihsan Hariadi