Ihsan Hariadi
Sun, 15 Oct 2000 07:48:36 -0700
Kompas, Senin, 5 Juni 2000.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ceramah Internasional Islam Versus Barat:
Bercermin Pada Semangat Kemanusiaan Multatuli
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Acara Ceramah internasional bertema Islam versus Barat (Islam
versus het Western) digelar di Breda, Belanda, Jum'at pekan lalu.
Ceramah ini merupakan rangkaian dari acara tahunan bernama
"Ceramah Multatuli", yang berlangsung sejak tahun 1996 dan
digelar bergantian di dua kota, Breda dan Leuven, Belgia.
TEMA sentral "Ceramah Multatuli" adalah mencari jalan agar
kontak-kontak antarbudaya yang semakin kerap terjadi di seluruh
dunia tidak melahirkan ancaman, tapi justru memperkaya
masyarakat-masyarakat dan kebudayaan yang terlibat. Tema ini
diambil dari semangat kemanusiaan tokoh Multatuli alias Eduard
Douwes Dekker
***
PETANG itu, Imam Farid Esack, ulama dari Kaapstad, Afrika
Selatan, berbicara dengan penuh semangat. Suara laki-laki tengah
baya, berkulit gelap, dan mengenakan topi haji itu menggema ke
segenap penjuru ruang dari abad pertengahan itu. Tak kurang dari
300 yang hadir, mayoritas nonmuslim, duduk dengan takzim,
berusaha menyimak setiap kata yang meluncur cepat dari mulutnya.
"Ini peristiwa luar biasa. Bagaimana mungkin saya dapat
mengungkap berbagai kekeliruan bangsa-bangsa Barat terhadap Islam
dan mendapat tepuk tangan," kata Esack usai berceramah dan sibuk
meladeni mereka yang menyalaminya dan melontarkan berbagai
pertanyaan.
Kecuali seorang ulama, Esack juga doktor dan guru besar di
Universitas Kaapstad. Esack yang sudah menulis sejumlah buku,
antara lain But Moses Went to Pharaoh, juga anggota Komisi
Nasional Masalah Gender yang dipimpin Presiden Nelson Mandela.
Dalam ceramahnya yang berjudul "Islam, Kaum Muslim, dan Dunia
Barat", Esack antara lain mengutarakan, seperti halnya humanisme
Barat, Islam melihat dirinya sebagai suatu sistem keyakinan yang
rasional yang selayaknya dijadikan pedoman hidup semua orang.
Islam juga merasa dirinya selalu dipahami secara salah oleh
Barat. Sejak dahulu kala Islam tidak pernah dilihat sebagai
sebuah peradaban. Masyarakat Islam tak pernah dilihat sebagai
kumpulan manusia yang juga berpikir dengan akal sehat. Islam
selalu dianggap sebagai ancaman yang harus dihadapi dengan
kekerasan. Perang Salib lahir dari pikiran semacam itu.
Sebagian umat Islam beranggapan sampai saat ini Perang Salib
belum berakhir. Perang yang dilakukan negara-negara Barat melawan
Irak, kekerasan yang dilakukan pada kaum muslim di Bosnia dan
Chechnya, serta masih terus diterapkannya sanksi terhadap Libya,
memberikan kesan pada umat Islam bahwa Perang Salib masih
berlangsung.
Selanjutnya Esack menyatakan, dalam berbagai dialog Islam dan
Dunia Barat tidak berhadapan sebagai mitra yang setara. Bahkan
pemerintah-pemerintah Barat tak pernah mempertimbangkan Islam
sebagai mitra dialog. Sebab, dalam tradisi logika Barat, sistem
kenegaraan terpisah dari sistem agama. Sesuatu yang menurut
pandangan Islam bukan saja tidak benar, tetapi juga dalam
kenyataannya Barat masih terus saja mencoba "menyadarkan" pihak
lain agar menganut keyakinan mereka yang "obyektif" dan
"rasional".
Dunia barat selalu meneriakkan pentingnya pluralisme, namun hal
itu sebenarnya pemanis belaka. Kata-kata itu lahir dari perasaan
terancam, misalnya karena adanya gelombang besar kaum imigran
gelap yang sudah berhasil membobol gerbang "benteng Eropa". Apa
yang lebih banyak terjadi sebenarnya adalah intoleransi,
diskriminasi, dan perlawanan. Ajakan untuk berdamai pun jadi tak
ada gunanya.
Apa yang diperlukan untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan
manusiawi bukan hanya sekedar dialog antaragama dan kebudayaan,
tetapi solidaritas kemanusiaan yang tak mengenal batas-batas
agama dan kebudayaan.
***
CERAMAH Farid Esack merupakan antitesis dari tesis yang diajukan
Frits Bolkestein yang tampil lebih dulu. Bolkestein adalah tokoh
politik Belanda yang kini menjadi anggota Komisi Eropa.
Sebelumnya ia pernah menjadi Sekretaris Negara bidang Perdagangan
Luar Negeri, Menteri Pertahanan, dan Ketua Partai Rakyat untuk
Kebebasan dan Demokrasi (VVD, Volkspartij voor Vrijheid en
Democratie), salah satu partai terbesar Belanda.
Pemisahan antara agama dan negara, salah satu hal yang digugat
Esack, menurut Bolkestein terjadi setelah bangsa-bangsa Eropa
melakoni sejarah panjang yang bersimbah darah. Keyakinan itu
muncul sebagai reaksi setelah terjadinya serangkaian perang agama
antara umat Katolik dan Protestan di zaman Reformasi. Perang 30
tahun yang terjadi pada masa itu, misalnya telah menewaskan
sepertiga penduduk negeri yang kini bernama Jerman. Penderitaan
manusia akibat perang agama itu hingga kini sulit dibayangkan.
"Dialog dengan pihak lain yang tidak memahami bahwa prinsip
pemisahan antara negara dan agama sebagai sebuah hasil penting
dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa Barat, tak akan
menghasilkan apa-apa," ujar Bolkestein. Keyakinan itu bukan lagi
suatu hal yang bisa ditawar-tawar. Pertemuan dengan pihak lain
dapat membuka dan mewajibkan kita mempertimbangkan berbagai nilai
budaya yang berbeda-beda.
Hal sama juga berlaku bagi sejumlah prinsip lainnya, yakni
kebebasan menyatakan pendapat, menghormati hak-hak asasi manusia,
serta antidiskriminasi. Secara bersama-sama prinsip-prinsip yang
menjadi keyakinan politik bangsa-bangsa Barat itu merupakan hasil
kombinasi antara rasionalisme, ajaran Kristiani, dan humanisme
Barat. Inilah yang disebut sebagai paham demokrasi-liberal yang
diklaim berlaku secara universal.
Adalah tidak adil memaksakan pihak lain berpikir dan melakukan
tentang sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya yang paling
dalam. Karena itu dialog ini tidak berkaitan dengan hal-hal yang
kurang penting dan pendapat-pendapat yang bersifat relatif,
tetapi berkaitan dengan hal-hal yang memiliki nilai paling tinggi
dan bersifat universal yang ada dalam kebudayaan kita.
Untuk terus meningkatkan sikap peduli antaragama dan kebudayaan,
dialog, pembicaraan, dan pertemuan harus dilakukan. Kegiatan-
kegiatan semacam itu akan membawa semua pihak pada pengenalan
lebih dalam mengenai diri sendiri dan menolak berbagai bentuk
ketidakpedulian pada relativisme moral dan kultural.
***
DALAM beberapa tahun terakhir, di berbagai negara Eropa, Islam
sudah berkembang menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen dan
menjadi agama dengan kemungkinan perkembangan terbesar. Di negeri
Belanda yang berpenduduk sekitar 15 juta jiwa, bahkan
diperkirakan dalam waktu 10 tahun ke depan jumlah kaum muslim
sudah akan menyamai jumlah penganut agama Kristen.
Menurut Prof Dr Marie-Claire Foblets, guru besar antropologi
sosial dari Universitas Katolik Leuven, kecenderungan demografis
ini melahirkan berbagai sikap dalam masyarakat Barat. Sebagian
memandangnya secara optimis, namun ada pula yang menanggapinya
secara skeptis dan mempertanyakan bagaimana nasib masyarakat
Barat di masa depan serta kelestarian nilai-nilai
fundamentalnya. Berbagai diskusi yang terjadi, antara lain lewa
media massa, penuh dengan muatan emosi dan mengkonfrontasikan
Islam dan Barat secara diametral.
Sebagai pembicara terakhir dalam acara Ceramah Multatuli ke-5,
Foblets menyampaikan sintesa yang membulatkan acara ceramah. Ia
yang juga seorang pakar hukum, melihat persoalan yang ada di
antara Islam dan Dunia Barat melalui gejala yang terjadi di
bidang hukum dan peradilan.
Menurut Foblets, selama lebih 20 tahun, lembaga-lembaga peradilan
di berbagai negara Eropa sebenarnya sudah biasa menangani
berbagai kasus hukum yang melibatkan warga beragama Islam dan
bersinggungan dengan nilai-nilai dan aturan-aturan Islam.
Misalnya saja kasus-kasus pelarangan berjilbab di sekolah bagi
murid-murid perempuan; pekerja tidak diizinkan libur pada hari
raya Islam; sampai kasus-kasus poligami.
Dalam sejumlah kasus, seperti kasus persengketaan soal jilbab,
untuk mengambil keputusan hakim tak hanya mengikuti aturan hukum
terakhir atau ketetapan pemerintah yang berlaku, namun juga
mempertimbangkan prinsip kebebasan beragama. Namun, dalam kasus-
kasus lain yang jelas-jelas tak sejalan dengan nilai-nilai Barat,
seperti kasus-kasus poligami, para hakim menarik garis tegas
antara hukum negara dan hukum Islam.
Kasus-kasus hukum yang melibatkan warga beragama Islam dan di
mana nilai-nilai budaya Islam ikut dijadikan bahan perdebatan,
melahirkan inovasi-inovasi baru di bidang hukum di antara para
hakim yang menanganinya. Untuk mengambil keputusan dalam kasus-
kasus ini para ahli hukum kadang-kadang meminta nasihat dulu pada
para Islamolog atau pakar hukum Islam.
Menurut Foblets, peradilan pada dasarnya bersifat kasuistik.
Namun, keputusan-keputusan hukum yang diambil di sana sebenarnya
menggambarkan juga proses yang tengah berlangsung dalam
masyarakat umumnya.
Keputusan para hakim selama 25 tahun terakhir menunjukkan nilai-
nilai agama dan hukum Islam cukup mendapat tempat dalam sistem
hukum dan peradilan Eropa. Keputusan-keputusan itu untuk
selanjutnya menjadi contoh penyelesaian berbagai dilema praktis
mau pun moral yang timbul akibat berkembangnya kepentingan umat
Islam di Eropa dan makin meningkatnya tuntutan dari kaum Muslim
agar hukum agama mereka juga dihormati.
***
Di daratan Eropa, dialog antara Islam dan Dunia Barat tampaknya
akan terus bergulir dalam berbagai format. Substansinya tetap,
mencari titik-titik temu di antara dua peradaban besar itu, agar
para pendukungnya dapat terus bergandengan tangan dan bekerja
sama untuk meraih masa depan yang lebih cemerlang. Bangsa-bangsa
Barat sendiri jelas tak mau negeri-negeri mereka yang makmur
kembali bersimbah darah gara-gara perang bernuansa ras dan agama,
seperti yang kini masih terjadi di berbagai tempat lain di dunia,
termasuk di Maluku.
Untuk mengingatkan betapa penyalahgunaan kekuasaan bisa berakibat
amat buruk dalam hubungan antarmanusia dari berbagai kebudayaan
dan agama, dalam salah satu bagian ceramahnya, Frits Bolkestein
merasa perlu menyebut kembali nama Multatuli dan semangat
kemanusiaannya yang antara lain dikobarkan lewat novel Max
Havelaar, buah catatan dan perenungannya selama masa tugasnya
yang singkat sebagai asisten residen di Lebak, Banten, Hindia
Belanda, lebih dari seabad lalu.
"Bisa dikutip di sini salah satu dari surat-surat Max Havelaar
pada para penguasa Hindia Belanda, surat-surat di mana ia meminta
perhatian para pembesar atasannya mengenai penyalahgunaan
kekuasaan para regent pribumi di Lebak".
Sebagaimana kita ketahui, tujuan tulisan Multatuli adalah untuk
menunjukkan betapa struktur pemerintahan gubernemen baik di
Hindia Belanda maupun di Den Haag sama sekali tak peduli terhadap
penderitaan rakyat Jawa," begitu kata Bolkestein yang belum
pernah ke Jawa, apalagi ke Lebak, tempat Multatuli menemukan
inspirasi kemanusiaannya.
#### akhir dokumen ####
-----------------------------------------------------------------
Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing
------------------------------------------------------------------