160 tea'
Tue, 18 Sep 2001 04:45:46 -0700
Maaf Amerika Terlontar Saat Gelombang Anti Islam Merajalela di AS Tgl. publikasi: 18/9/2001 12:11 WIB eramuslim - Amerika Serikat (AS) kejeblok lagi. Daftar orang-orang yang dituduh FBI sebagai pelaku teror berdarah Selasa lalu (11/09), termasuk Osama bin Laden, sepatutnya dipertanyakan kembali, bahkan harus dicurigai. Pasalnya, 4 orang warga Saudi yang dituduh sebagai pelaku penghancuran gedung WTC dan Pentagon, ternyata masih hidup. Keempat orang itu adalah Abdurrahman Said al Omari, Ahmad Ibrahim Al Ghamdi, Fayez Mohammad Al Shehri, dan Amer Kenfer. Said al Omari adalah seorang pilot Saudi Airlines, sekarang masih hidup dan telah diwawancarai langsung oleh harian Al Watan. Tertuduh AS berikutnya, Ahmad Ibrahim Al Ghamdi (20), adalah seorang relawan kemanusiaan yang saat ini bekerja untuk para korban Perang Chechnya. Ibunda Al Ghamdi sampai saat ini masih sering saling kontak dengan anaknya yang lulusan fakultas teknik di Mekkah itu. Orang ketiga yang masuk dalam daftar teroris versi FBI, Fayez Mohammad Al Shehri, ternyata juga masih hidup. Ia, sebagaimana Al Ghamdi, juga bekerja sebagai relawan kemanusiaan di Chechnya sejak 2 tahun lalu. Orangtuanya di Saudi mengaku sering mendapat kontak dari anaknya sampai saat ini. Kemudian orang keempat adalah Amir Kenfer, ternyata juga masih hidup dan kini menetap di Saudi. Ia mengatakan terkejut, ketika namanya masuk dalam list penumpang pesawat United Airlines yang diumumkan FBI. Dari sini bisa kita simpulkan dengan sangat mudah, bahwa dalam perburuan orang- orang yang dicurigai, termasuk penyusunan daftar orang-orang yang dituduh terkait dengan aksi teror Washington dan New York, ternyata FBI asal tuduh. Tuduhan AS dapat dipastikan tanpa didukung bukti-bukti yang memadai, apalagi alasan-alasan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Betapa naifnya AS, sebab ternyata apa saja yang berbau Arab dan Islam langsung saja mereka kaitkan dengan aksi-aksi terorisme. Asal diketahui, sebelumnya pihak FBI juga telah ceroboh menuduh dua orang warga Arab yakni Amir Bukhari dan Adnan Bukhari yang dianggap terlibat penyerangan WTC dan Pentagon. Amir Bukhari sang tertuduh ternyata sudah meninggal setahun yang lalu. Sementara Adnan Bukhari saat ini masih ada di Florida. Pejabat AS di Riyadh memang menyampaikan permohonan maaf melalui kementerian dalam negeri Arab Saudi terkait dengan penyebutan nama Abdurrahman Said al Omari dalam daftar tersangka pelaku penyerangan teror di AS. Begitupun si "Rambo" dengan mudahnya juga meminta maaf atas keteledorannya mencap orang- orang Arab lainnya sebagai pelaku teror WTC dan Pentagon, namun ternyata salah. Maaf Amerika, tentu saja sangat terlambat. Sebab aksi teror warga Amerika terhadap kaum Muslimin dan Arab di negara itu sudah menyebar ke mana-mana. Gelombang kebencian terhadap Islam dan Arab bahkan bukan cuma melanda Amerika, tapi juga menyebar ke Eropa dan Australia. Orang-orang Islam yang tak tahu menahu dan tak ada kaitannya dengan aksi peledakan gedung WTC dan Pentagon itu, terpaksa harus melindungi diri ekstra ketat. Sebab mereka terus dicaci, dihina, diteror, diintimidasi, dikejar-kejar, ditabrak dengan mobil, ditembaki, bahkan masjid-masjid mereka telah dilempari kotoran manusia oleh orang-orang yang mengaku paling "beradab" dan "anti terorisme" itu. Stigma pemerintah AS terhadap Islam dan Arab dengan mengaitkannya sebagai dalang dan pelaku aksi penghancuran gedung WTC dan Pentagon memang cukup efektif. Dan perlu dicatat disini, bahwa pemerintah AS secara sistematis telah membingkai opini warga AS khususnya, dan warga dunia umumnya, bahwa terorisme adalah identik dengan Islam dan Arab. Wajar saja bila rasa kebencian masyarakat AS dan dunia terhadap Islam begitu menggelora. Islam, kaum Muslimin dan Arab pun kini jadi masyarakat terpidana di AS dan Eropa, dan beberapa belahan duni lainnya. Jadi aneh, bila tiba-tiba Presiden AS George W Bush mengecam siapa saja yang melakukan intimidasi terhadap kaum Muslim dan warga Arab di AS. Menurut Bush, Islam sama sekali tidak merepresentasikan teroris yang sedang diburu oleh pemerintah AS. “Siapa saja yang anti-Arab atau anti-Muslim yang melakukan reaksi tidak baik terhadap mereka, tidak akan mendapat toleransi dari pemerintah AS. Siapa saja yang mencoba mengintimidasi kaum Muslim, maka mereka merepresentasikan hal yang terburuk bagi kemanusiaan,” kecam Bush. Hal ini dikemukakan Bush saat mengadakan kunjungan ke Islamic Center di Washington. Seperti dalam tayangan CNN, Bush tampak didampingi juga oleh para pemuka agama Islam di AS. Ditegaskan Bush dalam pidatonya, Islam merepresentasikan kedamaian, bukan teroris. Karena pelaku teroris yang diburu AS sama sekali tidak merepresentasikan kedamaian, melainkan kejahatan. Di bagian lain, Bush mengaku telah mendengar kekhawatiran dan ketakutan yang dialami umat Islam yang berada di AS sejak terjadinya aksi teror yang melanda Gedung World Trade Center dan Pentagon. “Hal seperti itu tidak seharusnya terjadi di AS. Karena di AS, warga Arab dan muslim banyak yang memberikan kontribusi seperti bekerja sebagai pengacara, dokter, pedagang, bahkan sebagai karyawan di militer, dan ada juga para ibu dan ayah,” tutur Bush. Pernyataan Bush benar, Islam dan kaum Muslimin sama sekali tidak ada kaitannya dengan aksi-aksi terorisme yang biasa dilakukan AS dan sekutunya Israel. Ungkapan simpatik Bush memang patut dihargai. Tapi pertanyaannya, kenapa itu baru diungkapkan sekarang, ketika gelombang anti Islam dan Arab sudah sedemikian kuat melanda Amerika dan Eropa? Sampai-sampai kaum Muslimin AS dan Eropa merintih ketakutan, "We are in serious danger here. Help us !" (sultoni) ___________________________________________________________________________ Visit http://www.visto.com. Find out how companies are linking mobile users to the enterprise with Visto. --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]