basuki
Tue, 09 Dec 2003 01:50:08 -0800
Don't Dream is Over -----Original Message----- From: krisnart [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, December 09, 2003 10:35 AM To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Selasar Sunaryo Art Space; Cemeti Art House | Rumah Seni Cemeti; Prakt4; nugroho eko; jompi jompet; anggun priambodo; RUANGRUPA; Rizki A. Zaelani; Rifky Effendy; Agung Jenong; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Asmudjo Jono Irianto; [EMAIL PROTECTED]; Galery Lontar; parosart; [EMAIL PROTECTED]; jejaring; w Christiawan; [EMAIL PROTECTED]; Mimi Fadmi; bulbul tuptup; wawan husin; tisna sanjaya; [EMAIL PROTECTED]; Teguh Ostenrik; Cemeti Art Foundation; [EMAIL PROTECTED]; Popi Primadewi; pak sam; Sumarsam; victoria cattoni; agung frigidanto; amanda rath; [EMAIL PROTECTED]; Maria Clementine Wulia; Martin; Marinta; [EMAIL PROTECTED]; Teruyo Utsumi; Tanaka Hiroko; Martinus Dwi Marianto Subject: press release HOLE Press Release/Undangan Proyek Video Konferensi Untuk Publik HOLE IN THE EARTH Karya Maki Ueda Tempat : Plasa Mini Market Pesantren Daarut Tauhid Jl. Gegerkalong Girang, Bandung Waktu : Sabtu, 13 Desember 2003, 16.00 - 17.30 wib Fasilitas Video konferensi terbuka untuk umum selama 24 jam sehari selama setahun mulai 13 Desember 2003-13 Desember 2004. Jejaring Artnetworkers bekerjasama dengan Cell Insiators of Incidents Rotterdam dengan dukungan HIVOS, Kedutaan Belanda Jakarta , Pemerintah kota Rotterdam dan Pesantren Daarut Tauhiid menyelenggarakan Proyek Video Konferensi Untuk Publik HOLE IN THE EARTH (Lubang di Bumi) karya Maki Ueda (27). Instalasi kembar Web Interaktif berteknologi internet ini dibangun di dua ruang publik : Pesantren Daarut Tauhid dan Plasa di kawasan Stasium Kereta Api Pusat Rotterdam. Sejak 13 Desember 2003, siapapun tidak terbatas santri, bisa memanfaatkan fasilitas umum tsb. untuk berkomunikasi secara audio visual, spontan dan realtime. Publik cukup datang kapan saja, berkomunikasi dengan siapa saja di Rotterdam. Jadi, inilah barangkali video konferensi pertama di Indonesia - bahkan Dunia - untuk publik tanpa dipungut biaya untuk kepentingan pertukaran kebudayaan. Ide Hole in the Earth awalnya berangkat dari masa kecil Maki Ueda, seniman perempuan Jepang yang kini tinggal di Rotterdam. Baginya bumi adalah datar. Setelah ia mengetahui bahwa bumi adalah bundar, kemudian ia berpikir apakah manusia seperti dirinya yang tinggal di sebalik bumi di mana ia berpijak posisinya terbalik ? Apakah perlu menggali bumi bila orang berkeinginan untuk menemui satu dengan lainnya ? Pengalaman masa kecil ini tentunya tidak persis seperti kita, namun ini hanya menunjukkan bahwa keinginan untuk berkomunikasi pada dasarnya universal bagi manusia. Upaya untuk merealisasi mimpi masa kecilnya itu tidak pernah pudar hingga ia menyelesaikan studinya di bidang Seni dan Kajian Media di Universitas Keio, Tokyo (1999). Tahun 2001 ia telah melakukan eksperimen Hole in the Earth pertamanya dengan menghubungkan Rotterdam dengan Shanghai meskipun hasilnya belum memenuhi harapannya. Sampailah ia menemukan buku kuno "Hallo Bandoeng, Hier Den Haag" terbitan 1928 yang berisi percakapan telepon antar benua pertama di masa kolonial antara Bandung yang masa itu menjadi bagian Hindia Belanda dengan kota Den Haag yang berjarak fisik 12.000 KM, 100 hari perjalanan. Sesaat setelah membaca catatan percakapan antara seorang ibu dan anaknya yang mengharukan, lalu ia terinspirasi untuk merealisasikannya di Indonesia (Bandung). Setelah melalui berbagai survey lapangan mulai awal Januari 2003 ini, akhirnya Maki memutuskan memilih kawasan pesantren - yang dianggap merepresentasikan kehidupan kota Bandung itu - yang tidak pernah diduga sebelumnya bahwa lokasi itu menjadi pusat kegiatan dai ternama KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Jadi instalasi video konferensi ini seperti mengulang sejarah 75 tahun silam, perintisan komunikasi antar bangsa yang berbeda kebudayaan. Sebagai bentuk seni media baru Hole in the Earth menarik karena tidak saja ditempatkan di ruang publik di mana aktifitas kehidupan nyata dilakukan tetapi mendorong masyarakat untuk berpartisipasi langsung. Setiap orang bisa memilih tema, bahasa dan caranya sendiri dalam proses berkomunikasi yang terbuka itu. Pengunjung dengan demikian sah menggunakan bahasa 'tarzan' atau gerak-gerik sederhana dan jenaka bahkan naif atau sekadar sapaan 'halo' atau 'halo meneer!'. Bagi yang menguasai sedikit bahasa asing, perbincangan tentang perbedaan waktu, cuaca, musim, gelap-terang dan panas- dingin barangkali akan menjadi pertukaran pengalaman kebudayaan yang akrab (intimate) dan spontan. Dari sisi Belanda sendiri bisa menjadi aktifitas bermanfaat bagi masyarakat kota karena instalasi kembaran di mana ia di bangun semula sempat menjadi tempat rawan. Setelah setahun di Bandung, seni media yang memfasilitasi dialog antar budaya masyarakat ini akan dilanjutkan ke Kepulauan Melanesia dan Afrika. Jejaring Artnetworkers [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
_______________________________________________ Itb mailing list [EMAIL PROTECTED] http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/itb