itb  

[Itb] [GENETIK@] HARTUNGNAS : Solusi tepat TI-KPU

KRMT Roy Suryo Notodiprojo
Tue, 31 Aug 2004 05:04:55 -0700


Rekan-rekan Yth,

Berikut saya sampaikan sedikit "orek-orekan" saya terhadap Sistem TI KPU yang
mungkin bisa digunakan dalam Pemilu Presiden Putaran kedua, 20 September 2004
yad.

Saya memang menyatakan dalam tulisan tersebut bahwa sistem yang sekarang
sebaiknya DIHENTIKAN saja (agar justru tidak digunakan untuk meminta tambahan
anggaran), karena jelas-jelas terbukti malahan memiliki "tiga kelebihan" :
Lebih Mahal, Lebih Lambat dan Lebih Tidak Akurat.

Selanjutnya saya tuliskan sebuah solusi berupa "HARTUNGNAS" (Hari Perhitungan
Nasional) yang tampaknya crazy-idea, tetapi coba direnungkan, pasti akan
menarik ...

Tulisan ini mau dibuat bahan berita, seolah-olah wawancara, atau tulisan lepas
saya (tetapi jelas tidak eksklusif, karena saya kirimkan ke beberapa media),
silahkan saja. Yang jelas silahkan dimanfaatkan sebaik-baiknya dan
seluas-luasnya ....

Sekian dan Terimakasih, semoga bermanfaat,
Salam hangat dari Jogja,

----

HARTUNGNAS : Solusi tepat TI-KPU
Oleh : KRMT Roy Suryo Notodiprojo

“Lebih mahal, Lebih lambat, dan Lebih tidak akurat …”. Itulah tiga “kelebihan”
sistem TI-KPU 2004 yang penulis sampaikan di Mahkamah Konstitusi beberapa
waktu
yang lalu ketika dimintai pendapat soal TI-KPU 2004. Penulis memang dengan
sangat tegas & lantang berani mengemukakan pendapat diatas, mengingat berbagai
kejadian (memalukan) yang telah menimpa sistem bernilai lebih dari 200 Milyar
uang rakyat tersebut, yangmana seharusnya tidak perlu terjadi bila KPU jujur &
transparan dalam membangun sistem TI-nya, termasuk mau diaudit oleh Auditor
Independen sebelumnya.

Lebih Mahal. Meski berkali-kali penanggungjawab TI-KPU, Chusnul Mar’iyah
menyampaikan bahwa harga dari sistem ini jauh lebih murah dari Grand Design
Sistem Informasi (GDSI) KPU yang bernilai antara 56-119 ribu US$, akan tetapi
seharusnya masyarakat juga layak diberitahu bahwa GDSI KPU yang akhirnya tidak
dipakai (?) oleh KPU, meski sudah dirancang setidaknya oleh 7 (tujuh) pakar TI
Indonesia yang berasal dari berbagai kampus ternama, yakni Prof. Marsudi
Kisworo, Zainal A Hasibuan PhD, Alexander Rusli PhD, Budi Rahardjo PhD, Bobby
AA Nazief PhD, Dr Bambang Prastowo dan Garin Ganis BSEE tersebut, jauh lebih
canggih, transparan dan kompleks dibanding TI KPU ini. Sebagaimana diketahui,
GDSI menjalankan total 29 (duapuluh sembilan) aplikasi, artinya, sistem TI-KPU
yang hanya bisa melakukan 1 (satu) aplikasi sekarang, yakni SITUNG saja,
menjadi jauh lebih mahal nilainya bila dibandingkan dengan GDSI tersebut
(Catatan : Somasi dari Pakar-pakar TI penyusun GDSI KPU diatas sudah
disampaikan kepada KPU pertanggal 15 April 2004 yang lalu, namun belum ada
jawaban dari KPU).

Lebih Lambat. Meski sempat pula ada “kejadian luarbiasa” pada tanggal 5 Juli
2004 pukul 11.00 pagi, dimana berdasarkan data ‘statistik-update’ website
tnp.kpu.go.id sudah ada 2 kecamatan yang bisa mengirimkan data-datanya ke KPU
(padahal UU Pemilu sendiri menyatakan bahwa perhitungan baru bisa dilakukan
setelah TPS ditutup pada pukul 13.00 siang, yangmana berarti masih perlu waktu
dari TPS-PPK-Kecamatan dan Proses entry-data untuk sampai ke KPU Pusat di
Jakarta). Sampai sekarang kejadian tersebut tetap menjadi misteri, karena
diantara orang KPU sendiri terjadi silang pendapat, dimana Chusnul mengatakan
bahwa 2 data itu adalah “TPS khusus, Penjara dan Rumahsakit” tetapi Staf
TI-KPU
Basuki Suhardiman menyatakan 2 data tersebut adalah Kecamatan di Jember dan
NTT
(?). Akan tetapi yang jelas kenyataannya, setelah KPU menetapkan hasil
perhitungan resmi / final secara manual pada tanggal 26 Juli 2004 dengan
jumlah
total pemilih 118.656.868 suara, ternyata angka di TI KPU pada saat yang sama
baru mencapai 106.914.209 suara. Ini berarti ada “keterlambatan” angka sebesar
11.742.659 suara antara TI-KPU dan Hasil hitung manualnya diatas. Uniknya
lagi,
angka tersebut ternyata sempat “merambat naik” dan akhirnya sekarang sudah
benar-benar berhenti / tidak bergerak di angka 107.403.020 suara pada
tanggal 5
Agustus 2004, alias 11 (sebelas) hari lebih lambat, setelah KPU menetapkan
hasil perhitungan resminya.

Lebih tidak akurat. Untuk “kelebihan” yang terakhir ini rasanya tidak perlu
dibahas lagi secara panjang lebar, karena sudah banyak diketahui oleh
masyarakat (termasuk oleh UU Pemilu yang tidak mengakui hasil perhitungan
melalui TI KPU ini sendiri, meski sekalilagi- sistem ini bernilai lebih dari
200 Milyar). Mulai dari suara yang sempat naik-turun secara drastis ketika
Pemilu Legislatif sebelumnya, dimana puncaknya bisa ditembus oleh Hacker hanya
dengan metode yang cukup sederhana, sampai kepada sempat munculnya “salah
judul” dalam penyajian data-data di situs resmi KPU, dimana seperti diakui
oleh
Ketua Tim TI KPU, Achyar Oemri, seharusnya ‘TPS’ tapi salah ditulis sebagai
‘Kecamatan’ (di hari pertama 5 Juli 2004, sempat mencapai angka 8.908, padahal
total seluruh kecamatan di Indonesia hanya 5.117 dan 4.402 yang memiliki
fasilitas TI-KPU). Ini menunjukkan bahwa sistem TI KPU memang tidak akurat
untuk diteruskan.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini pula penulis dengan tegas berani pula
untuk menyarankan agar Sistem TI-KPU yang sekarang sudah menghabiskan dana
lebih dari 200 Milyar ini di-STOP (baca: dihentikan) saja penggunaannya dan
diserahkan kepada para Auditor Independen untuk diaudit secara terbuka dan
hasilnya dilaporkan kepada masyarakat. Hal ini perlu dilakukan agar tidak
sempat malah dimintakan lagi anggaran tambahan kepada DPR yang ujung-ujungnya
juga akan menjadi beban rakyat Indonesia.
Secara teknis, penghentian TI KPU ini tidak akan menjadi masalah yang berarti.
Karena selain jelas-jelas memiliki “3 kelebihan” diatas, kalau mau sekedar
mencari solusi perhitungan cepat sekarang sudah ada metode statistik modern
yang dilakukan oleh LP3ES dan NDI (sistem yang sama juga dilakukan NAMFREL di
Filipina) yakni dengan sistem Quick-Count menggunakan metode sampling.
Disamping itu, pilihan Presiden-Wapres yang hanya “1 opsi diantara 2 variabel”
(dan variabelnya di seluruh Indonesia sama) seperti sekarang ini, jauh lebih
sederhana dibandingkan 2 Pemilu sebelumnya.
Secara non-teknis, permasalahan hukum berupa tuntutan pencemaran nama baik
yang
diadukan oleh penulis kepada Chusnul Mar’iyah di Polda Metro Jaya sekarang ini
akan sangat mengganggu performansinya. Oleh karena itu sebaiknya memang TI KPU
dihentikan saja dan biarkan menjadi “sejarah TI senilai 200M” setelah diaudit.

Penulis tentu saja tidak sekedar hanya bisa bicara tanpa memberi solusi, oleh
karenanya bila TI KPU ini dihentikan, perlu ada sebuah solusi teknologi tepat
guna yang diharapkan bisa lebih murah, cepat dan akurat untuk menggantikan
sistem TI KPU. Solusi tersebut penulis namakan sebagai “HARTUNGNAS” yang
merupakan akronim dari “Hari Perhitungan Nasional”, dimana nantinya akan
menjadi
sejarah baru di Indonesia. Sistemnya sangat sederhana, tanpa memerlukan beaya
Milyaran rupiah (apalagi sampai mencapai angka 200 Milyar!), tetapi bisa
dipastikan akan jauh lebih cepat, akurat, transparan dan sangat mudah
dipahami,
meski awalnya mungkin terkesan ide “crazy”).
Hal paling penting yang perlu dilakukan adalah mengawal atau menjaga dokumen
resmi / otentik mulai dari TPS, PPK sampai kepada Formulir C3-PWP (dahulu
C1-TI
atau C2-PWP, yang dalam sistem kemarin berfungsi untuk sumber data-entry
komputer) di Kecamatan. Formulir C3-PWP ini kemudian harus ditandatangani oleh
Saksi-saksi dan Petugas yang berwenang, selanjutnya cukup di-FAX ke KPU-Pusat
di Jakarta dan lembar aslinya DIKIRIM langsung ke Jakarta, dengan dikawal oleh
TNI-Polri dan LSM Independen. Kedua langkah (Fax dan Kirim langsung) ini perlu
dilakukan agar bisa dicheck nantinya dengan Sistem “Teknologi Informasi tepat
guna” yang digunakan. Soal darimana menge-fax-nya seharusnya tidak masalah,
karena tentunya 5.117 kecamatan di Indonesia bisa mencari solusi satu mesin
fax
untuk setiap kecamatan (pasti ada).
Hasil Fax yang diterima di Jakarta (dalam waktu 1-5 hari) tersebut kemudian
langsung di-SCAN dan ditampilkan semua dalam website KPU secara rinci
per-kecamatan, tanpa diedit / dikoreksi seperti yang dimungkinkan terjadi
dalam
sistem TI KPU sebelumnya. Artinya, cukup diperlukan sekitar 50 komputer-set di
KPU (lengkap dengan Scanner) yang setiap PC menghandle 100-an kecamatan dan 1
komputer-set untuk Web-server saja. Hasil dari penayangan Fax ini sangat
berguna untuk check-dan-recheck masyarakat di kecamatan terkait untuk melihat
apakah Form C3-PWPnya (berikut nama-nama dan tandatangan) yang ada didalamnya
sama dengan yang difax / dikirimkan sebelumnya atau tidak. Inilah mekanisme
kontrol paling jujur, cepat, mudah dan murah.
Selanjutnya, Form C3-PWP asli yang berjumlah 5.117 (sesuai jumlah kecamatan di
Indonesia) tersebut, pada sebuah HARTUNGNAS yang telah ditentukan sebelumnya
(misalnya 20 hari setelah Pemilu), di-SUSUN BERDERET / URUT di Stadion Utama
Senayan Jakarta dan dihitung secara MANUAL LANGSUNG pada hari tersebut mulai
dari pagi hari sampai selesai. Proses ini tentunya diikuti oleh 2 Kandidat
Capres-Cawapres dari Tribun Kehormatan dan bisa DISIARKAN LANGSUNG oleh
Televisi-televisi atau Radio-radio di Indonesia (dan luarnegeri) dengan
tentusaja coverage secara langsung oleh Wartawan media cetak dan media
lainnya.
Pasti event ini akan bisa menjadi sangat monumental.
Dari sisi teknologi, Hartungnas ini justru memanfaatkan teknologi tepat guna
yang efektif, efisien, murah dan relatif lebih terbebas dari kendala SDM dalam
pengoperasian komputer seperti yang kemarin terjadi (salah entry, double
submission, invalid password, dsb) dan tentu saja transparan, sangat mudah
dikontrol secara langsung oleh masyarakat yang tinggal memperbandingkan Form
C3-PWP-nya di Kecamatannya dengan di Web yang ada. Sedangkan dari sisi hukum,
sistem ini tetap mengakomodasi UU Pemilu yang masih mempersyaratkan
perhitungan
secara manual, karena Rekap justru langsung bisa dilakukan saat Hartungnas
tersebut per-Kabupaten dan Propinsi berbasis Kecamatan.
Masalahnya tinggal satu: Kita mau melakukannya demi kejujuran atau tidak …
?
· “HARTUNGNAS” © KRMT Roy Suryo Notodiprojo  [EMAIL PROTECTED]  Hp
0815-990-2811 /
081-888-2811

  ----------


\|||/ (. .) *--------------ooO-(_)-Ooo-------------* KRMT Roy Suryo Notodiprojo <[EMAIL PROTECTED]> 08131-0000-166, 081-888-2811, 0888-110-2811, 0811-28-2811 & 0815-990-2811 Fax 0274-589440 Callsign ORARI : YC2VRS Jogja - Indonesia *--------------oo0-----Ooo-------------*



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/9rHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

------------------------------------------
VoIP Merdeka sudah memiliki milis sendiri,
yaitu: [EMAIL PROTECTED]

Untuk subcribe silakan kirim mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
-------------------------------------------
Untuk berhenti berlangganan dari milis ini,
kirim mail kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
-------------------------------------------


Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/genetika/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/


_______________________________________________
Itb mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/itb