Basuki Suhardiman
Tue, 31 Aug 2004 05:05:09 -0700
Ini balasan email saya :-)
---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: RE: [technomedia] HARTUNGNAS : Solusi tepat TI-KPU
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tue, August 31, 2004 10:26 am
To: [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------------------
Kalau boleh saya menjelaskan :-)
1. IT KPU yang sekarang men- deploy -
a. 8005 PC di total
32 prop
416 kabupaten kota
4167 kecamatan
dengan unit cost per PC FOB di lokasi kecamatan
8 jutaan
dengan spek
P IV RAM 256 M
HD 40 G
Monitor
Keyboard
OS---> MS XP
APlikasi --> MS Office 2003
bandingkan dengan unit cost Grand Design (GDSI) yang per pc nya
adalah 15 juta tanpa OS dan APlikasi
alias PC Kosongan dan tanpa FOB ke kabupaten
2. GDSI hanya di desain di 350 an kab kota
dengan 4000 PC dan pada level Kab kota , bukan
pada level kecamatan
3. Dalam GDSI tidak ada :
Data Center (DC) dan Data Recovery Center (DRC)
Team IT KPU membuat DC dan DRC dengan
30 server kelas 32 BIT dan
4 buah server kelas itanium 64 bit
Harga DC dan DRC ini sudah 50 M sendiri.
Data center ini digunakan utk menampung data data kependudukan dari
proses P4B , yang meliputi 217 juta nama penduduk Indonesia dengan 10
Variabel per penduduk nya
(itu yang membuat kita dengan cepat dapat menemukan alamat Dani
Firmansyah)
4. Budget buat aplikasi sangat minim apabila dibandingkan dengan
GDSI . Yang saya tahu dan teman teman di Tim, rela utk tidak dibayar
secara profesional karena ini kerja utk negara dan bangsa.
5. Dalam GDSI tidak ada membangun Infrastruktur , sementara
menurut pengalaman dan pendapat kami di Tim , adalah perlu
untuk membuat infrastruktur yang mudah ,murah dan cepat.
untuk itu akhirnya pilihan nya ada pada Telkom dan PSN
Untuk mendeploy 2569 kec dengan VPN Dial
butuh sekitar 19 Milyar
Untuk mendeploy 1850 kecamatan dengan Telpon satelit
butuh sekitar 28 Milyar
Sedangkan utk mendeploy data center , DRC dan Distribusi
PC , multifunction Printer , Hub dsb
butuh dana 154 Milyar
jadi total utk infrastruktur adalah 154 + 19 + 28 = 201 M
6. Dalam GDSI , yang nantinya jadi operator adalah pegawai bank , pegawai
kantor dsb...
ini yang kita tidak setuju karena tidak akan ada transfer knowledge ke
masyarakat di daerah. Salah satu penyusun GDSI tidak percaya dengan
kemampuan mahasiswa Indonesia sebaliknya saya sangat percaya dengan
kemampuan bangsa sendiri. Jadi disini salah satu bedanya. Saya lebih
cenderung utk memberikan tanggung jawab pada mahasiswa dan terbukti
berhasil dengan baik.
Segitu dulu ...
sorry lagi di buru buru tugas di ITB ;-)
terima kasih
-bsd-
>
>
> Sebagaimana diketahui, GDSI menjalankan total 29 (duapuluh sembilan)
aplikasi, artinya, sistem TI-KPU yang hanya bisa melakukan 1 (satu)
aplikasi sekarang, yakni SITUNG saja,
> menjadi jauh lebih mahal nilainya bila dibandingkan dengan GDSI tersebut
.
>
>>> Saya kurang tahu persis persentase dari Rp 200miliar. Tapi secara
> logis saja bukankah sebagian besar dana TI-KPU justru digunakan untuk
pengadaan, pengiriman dan instalasi hardware (ribuan PC Pentium IV,
server, datacenter, backup storage dan IDS), termasuk software basic
seperti sistem operasi. Dana juga abis buat SDM. Sedangkan jatah
aplikasi hampir tidak ada (minim). Dana habis untuk infrastruktur.
>>> Jadi kalo membandingkan, sebaiknya apple-to-apple antara biaya
> aplikasi, tanpa menghitung infrastruktur dan SDM. Sehingga
> perbandingannya adalah biaya 29 aplikasi GDSI vs biaya aplikasi SITUNG
saja, diluar Hardware. Lebih murah mana ?
>
> Dss
>
>
>
>
_______________________________________________
Itb mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/itb