JPN. Sumarno
Wed, 01 Sep 2004 00:32:33 -0700
On Wed, 1 Sep 2004, Muhamad Tole wrote: > ya kira kira begitulah pak, otonomi daerah memiliki aturan > tersendiri. Jangan jauh jauh, di Aceh saja sudah > diterapkan aturan yang agak berbeda dari daerah lain yaitu > syariat Islam. Tentu saja apabila bapak hendak mengkritisi > pembangunan disana jangan lupa selalu mengucapkan > assalamu;alaikum terlabih dahulu. Baru melangkah ke sisi > studinya. Kalau tidak bapak akan dinyatakan melanggar > peraturan daerah. hehehe pak Tole ini bisa saja bergurau :-) ucapan itu saya kira tidak tertulis didalam peraturan daerahnya pak. jadi tidak akan melanggar aturan daerah apabila lupa mengucapkannya. > Oleh karena itu disana selalu ada semacam tim yang > mengatur trend beritanya. Jikalah tulisanku akan dimuat, > tentu akan melalui saringan kerja tim ini, sehingga karena > aku tidak memiliki gelar doktor apalagi hanya berbekal > KTP. Makalah tulisanku walaupun aktuil tetap akan ditolak. > Ini memang agak menampilkan pesan pesimis, tetapi memang > aku tidak pernah berminat menulis dimedia masa. Cukuplah > bagiku berbagi ilmu atau analisis dengan kawan dan sahabat > saja. Biarkan masyarakat belajar sendiri karena dg begitu > mereka akan bisa survive. pak kalau tidak mau nulis di media masa seperti Pak Roy, atau lainnya, ya jangan menuliskan analisis terlalu panjang begitu. Bukankah cukup ditulis "saya tidak berminat menulis di koran" :-). > Masih ingat soal ayam kate yang dipelihara di kandang dan > di hutan ? bapak pasti mengetahui kalau ayam kate di hutan > jauh lebih "mampu" hidup mandiri dibandingkan ayam kate > yang dipelihara didalam kandang yang setiap saat selalu > dimanja diberi makan disuapi. Tetapi saya tidak setuju > apabila pemimpin Indonesia bersikap terhadap masyarakat > Indonesia seperti membiarkan ayam kate di hutan. Agak > ironis menurutku sih. Ironisnya dimana coba, disatu sisi > pemimpin itu dipilih melalui pemilu, disisi lain pemilih > itu yang notabene orang Indonesia dibiarkan saja macam > ayam akte dihutan, disuruh hidup sendiri. Itu agak berbeda > dengan filosofi hidup di negara maju. saya kurang mengerti maksud pak Tole ini kemana sih. Di satu pernyataan disebutkan biarkan generasi muda berkreasi sampai IT KPU biarkan saja yang ada itu sebagai hasil kreasi anak anak muda. Dengan maksud agar anak anak muda itu bisa "bersikap" seperti ayam kate yang hidup survive di hutan dg tetap menjaga daya kreatifitasnya.. Tetapi disisi lain kok malahan prihatin jika sikap pemerintah cuek kepada masyarakat....jadi ini ada dualisme pernyataan. Bukankah jika pemerintah turut campur dalam kehidupan anak anak muda akan mengkebiri kreatifitas anak muda itu sendiri ? padahal anda ingin menghilangkan kebiasaan lama yang mengkebiri kreatifitas anak anak muda. > mungkin pak Roy belum pernah menghitung biaya pulsanya, > memang kalau diitung dari sisi harga alatnya sih murah, > tapi ongkos pulsanya men, minta ampun lho. Aku yakin pak > Roy agak hilap karena sibuk pergi ke Jakarta. ya perlu dimaklumi pak, namanya orang sibuk pasti ada hilapnya pak. > Apalagi pake obat terlarang atau minuman keras. Gimana mau > kreatif kalau dengkulnya saja ditendang tidak gesit > menghindar, karena mabuk ? karena orang mabuk hanya besar > suaranya saja bukan kreatifitasnya atau pikirannya. Jika > ingin mencoba bapak bisa menemui kawan bapak dikampung > yang biasa mabuk, coba bapak kasih peta kota Bandung, dan > mintalah kawan bapak itu menyebut salah satu nama jalan > yang ada yang telah bapak tunjuk. Bagaimana hasilnya ? aku > yakin salah sekali jawabnya. saya minta maaf lho pak Tole, tidak dapat melakukan percobaan ini karena saya hawatir anak saya ikut ikutan. sekarang saja apabila saya mengisap rokok, anak itu ikut ikutan melakukan gerak pantomim merokok :-). > Generasi muda Indonesia yang dibutuhkan saat ini adalah > kreatif, gesit, dan survive, tidak loyo. saya setuju dengan pendapat anda pak Tole. wassalam -Marno- _______________________________________________ Itb mailing list [EMAIL PROTECTED] http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/itb