itb  

Re: [Itb] [GENETIK@] RE: HARTUNGNAS : Solusi tepat TI-KPU

Muhamad Tole
Wed, 01 Sep 2004 02:46:21 -0700

On Wed, 1 Sep 2004 13:14:46 +0700 (JAVT)
 "JPN. Sumarno" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
apkah tidak boleh untuk meningkatkan daya analisis saya terhadap kajian
seperti itu ?

aku kira itu boleh aja dilakukan, asal bapak memiliki surat pengantar dari sekolah atau tempat bapak bekerja. Kalau bapak bekerja dilemabaga survey, cukuplah bapak bawa surat dari kantor bapak. Riset seperti itu amat diperlukan dalam peningkatan produktivitas riset di dunia ilmiah Indonesia.


secara tersamar anda ingin menyampaikan kepada saya bahwa dalam era
otonomi daerah, setiap daerah memiliki peraturan pembangunan tersendiri,
sehingga pelestarian pembangunan di daerah itu amat tergantung kepada
"usaha" pemerintah daerahnya dan agak menutup kemungkinan adanya kritik
dari penduduk luar propinisi.

ya kira kira begitulah pak, otonomi daerah memiliki aturan tersendiri. Jangan jauh jauh, di Aceh saja sudah diterapkan aturan yang agak berbeda dari daerah lain yaitu syariat Islam. Tentu saja apabila bapak hendak mengkritisi pembangunan disana jangan lupa selalu mengucapkan assalamu;alaikum terlabih dahulu. Baru melangkah ke sisi studinya. Kalau tidak bapak akan dinyatakan melanggar peraturan daerah.


mengapa analisis realitas anda tidak pernah dimuat di media masa, bukankah
itu sebuah bahan pembelajaran penting bagi masyarakat ?

mungkin bapak sudah mengetahui kalau media masa itu adalah lembaga usaha juga, yang mencari profit. Profitnya sudah jelas dari pemasang iklan sehingga produknya bisa murah dinikmati masyarakat. Lihat surat kabar yang beritanya dicari dan ditulis oleh wartawan setengah mati, harganya cuma sekian ribu rupiah saja, murah bukan.


Oleh karena itu disana selalu ada semacam tim yang mengatur trend beritanya. Jikalah tulisanku akan dimuat, tentu akan melalui saringan kerja tim ini, sehingga karena aku tidak memiliki gelar doktor apalagi hanya berbekal KTP. Makalah tulisanku walaupun aktuil tetap akan ditolak. Ini memang agak menampilkan pesan pesimis, tetapi memang aku tidak pernah berminat menulis dimedia masa. Cukuplah bagiku berbagi ilmu atau analisis dengan kawan dan sahabat saja. Biarkan masyarakat belajar sendiri karena dg begitu mereka akan bisa survive.

Masih ingat soal ayam kate yang dipelihara di kandang dan di hutan ? bapak pasti mengetahui kalau ayam kate di hutan jauh lebih "mampu" hidup mandiri dibandingkan ayam kate yang dipelihara didalam kandang yang setiap saat selalu dimanja diberi makan disuapi. Tetapi saya tidak setuju apabila pemimpin Indonesia bersikap terhadap masyarakat Indonesia seperti membiarkan ayam kate di hutan. Agak ironis menurutku sih. Ironisnya dimana coba, disatu sisi pemimpin itu dipilih melalui pemilu, disisi lain pemilih itu yang notabene orang Indonesia dibiarkan saja macam ayam akte dihutan, disuruh hidup sendiri. Itu agak berbeda dengan filosofi hidup di negara maju.

tetapi menurut pak Roy itu harus dihentikan dan digantikan dengan mesin
fax. Mungkin maksudnya mesin fax yang bisa menerima email kali ya :-).

mungkin pak Roy belum pernah menghitung biaya pulsanya, memang kalau diitung dari sisi harga alatnya sih murah, tapi ongkos pulsanya men, minta ampun lho. Aku yakin pak Roy agak hilap karena sibuk pergi ke Jakarta.


wah saya salut kepada anda yang lebih mengedepankan semangat "menghargai"
kreativitas kaum muda. Saya setuju, karena masa depan Indonesia amat
tergantung dari semangat juang dan kreativitas kaum mudanya.


Terimakasih atas penghargaan bapak kepadaku.

Sebagai
contoh, Indonesia sekarang merdeka, karena dulu banyak kaum muda berjuang
dengan iklas, berkorban jiwa raga dan harta. Sebagai informasi saja, dulu
ada keluarga muda di Bandung yang rela membakar perusahaan transportasinya
yang bernama Bandung de Express, ketika terjadi Bandung Lautan Api,
dirinya berjuang bersama para pemuda lainnya dan gugur di daerah Sumedang,
sedangkan keluarganya mengungsi ke wilayah Priangan Timur.


Menurut anda apakah masih perlu semangat seperti ini untuk memajukan
Indonesia, ataukah yang dibutuhkan adalah semangat ngedugem saja ?

semangat totalitas seperti itu masih diperlukan bagi generasi muda Indonesia. Kalaupun ingin ngedugem saranku sih kontrol diri aja. Aku tidak saranin lari dari persoalan hidup atau lari dari masalah nilai E. Justru harus lebih rajinbelajar supaya dapat A.


Apalagi pake obat terlarang atau minuman keras. Gimana mau kreatif kalau dengkulnya saja ditendang tidak gesit menghindar, karena mabuk ? karena orang mabuk hanya besar suaranya saja bukan kreatifitasnya atau pikirannya. Jika ingin mencoba bapak bisa menemui kawan bapak dikampung yang biasa mabuk, coba bapak kasih peta kota Bandung, dan mintalah kawan bapak itu menyebut salah satu nama jalan yang ada yang telah bapak tunjuk. Bagaimana hasilnya ? aku yakin salah sekali jawabnya.

Generasi muda Indonesia yang dibutuhkan saat ini adalah kreatif, gesit, dan survive, tidak loyo.

Kira kira begitu pemikiranku pak, wah kok melantur sampai soal ngedugem nih. Maaf soal IT KPU kok dibahas sampai ngedugem ya, tetapi mungkin saja di lapangan pelakunya ada yang lari ke dugem karena stress diancam oleh oknum. hu nows :-).

wassalam
mt
===========================================================================================
"Gabung INSTANIA, dapatkan XENIA. Daftar di www.telkomnetinstan.com, langsung dapat 
akses Internet Gratis..
Dan ..ikuti "Instan Smile" berhadiah Xenia,Tour S'pore, Komputer,dll, info hub : TELKOM 
Jatim 0-800-1-467826 "
===========================================================================================
_______________________________________________
Itb mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/itb