itb  

[Itb] Investasi Abadi

Mujaya Hertadi
Fri, 22 Apr 2005 19:13:11 -0700

ANAK

Investasi Abadi

TIDAK ada satu manusia pun yang kuasa menolak kematian, dan sesudah mati kita 
akan memikul tanggung jawab dari apa pun yang kita lakukan. Di dunia ini kita 
hanya mampir. Di sini tempat berladang dengan harta dan ilmu, dan besok lusa 
kita menuai. Kita tahu bahwa sesudah kita mati ada tiga perkara, yaitu amal 
jariah, ilmu yang diamalkan, dan anak yang saleh yang mendoakan kedua 
orangtuanya.

Pertama, kita harus bersungguh-sungguh mencari harta supaya bisa melakukan amal 
jariah, seperti wakaf. Amalnya sekali, pahalanya terus sampai kiamat. Misal, 
wakaf sumur air, setiap ada yang berwudu, setiap ada yang minum, maka pahalanya 
akan terus mengalir. Membiayai seseorang untuk sekolah, lalu kemudian dia 
menjadi ulama, pahalanya akan terus mengalir. Kalau harta itu hanya kita 
kumpul-kumpulkan, hanya ditabung dan disimpan, maka kita hanya akan menunggu 
terus-menerus tanpa menikmatinya.

Kedua, ilmu yang manfaat. Apalah artinya kita banyak ilmu kalau tidak diajarkan 
kepada orang lain. Ilmu yang kita cari justru supaya bisa kita sampaikan kepada 
orang lain. Merupakan sebuah sukses bagi kita jika orang yang kita ajari 
menjadi lebih pintar dari kita. Guru yang baik itu bisa membuat muridnya lebih 
baik. Kalau guru hanya ingin pintar sendiri, berarti dia kurang bagus 
mengajarnya.

Ketiga, anak yang saleh yang mendoakan orangtua. Anak adalah sebuah investasi 
paling mahal bagi kita. Berapa pun biaya yang kita keluarkan untuk mendidik 
anak supaya saleh bukanlah sebuah pengeluaran yang sia-sia, tapi adalah modal 
yang akan menjadi keuntungan bagi kita.

Tenaga yang kita keluarkan untuk mendidik anak bukanlah tenaga sia-sia. Itu 
adalah sebuah investasi. Karena itu, jangan sampai kita mendidik anak-anak 
hanya dengan menggunakan waktu dan tenaga sisa yang kita miliki, sisa dari 
kantor, sisa dari acara arisan, dan sisa-sisa yang lainnya. Bayangkan, apa yang 
akan kita dapatkan dari investasi yang serba sisa itu?

Kita harus serius menanam saham pada anak supaya dia menjadi anak saleh. Kalau 
kita meninggal besok lusa, mudah-mudahan anak kita bisa mengurus diri, 
keluarga, dan segalanya. Ketika Umar bin Khattab ditanya seseorang tentang 
perbedaan pahala antara orangtua yang mengurus anaknya dan anak yang mengurus 
orang tuanya, Umar bin Khattab berpendapat, keduanya tidak sama karena orangtua 
yang mengurus anaknya bermaksud agar anaknya panjang umur. Tetapi sebaliknya, 
seorang anak yang mengurus orangtuanya hanya menunggu waktu kematiannya.

Anak Saleh Kita harus selalu melihat bahwa keturunan kita adalah bagian dari 
keselamatan dunia dan akhirat kita. Karena itu, jangan pernah memberikan sisa 
kepada mereka. Kita harus terus berembuk dengan istri mengevaluasi keadaan 
anak-anak.

Kalau kita merindukan bangsa ini bangkit, maka harus diawali dengan kebangkitan 
dari keluarga di rumah. Sebab, tata nilai yang ditanamkan di rumah akan 
mengantarkan anak-anak saat besar nanti menjadi seorang pemimpin. Kalau di 
rumah hanya sibuk pamer harta, saat besar nanti dia hanya bisa meraup harta. 
Tapi, kalau tata nilai yang baik ditanamkan pada anak-anak kita, maka itu akan 
menjadi investasi.

Jika anak kita makin kaya, maka akan makin banyak orang yang tertolong. Dia 
makin berkuasa, makin banyak orang yang terangkat martabatnya. Dia makin 
berani, makin banyak orang yang terlindungi karena keberaniannya.

Belum tentu anak kita panjang umur. Berapa banyak anak yang lebih dulu pulang 
ke Rahmatullah daripada orangtuanya? Kita pun harus siapkan mereka supaya bisa 
pulang dengan selamat. Jangan hanya disiapkan untuk bisa hidup kaya di dunia 
ini, melainkan juga disiapkan menjadi orang yang hidup bermartabat di akhirat.

Pengorbanan kita terhadap anak-anak tidak perlu dihitung-hitung, apalagi 
mengharap balas budi. Memang ada juga beberapa orangtua yang menghitung-hitung 
pengeluaran. Ada juga orangtua yang menyekolahkan anak sampai jenjang 
tertinggi, bahkan dipilihkan sekolah terbaik, agar suatu saat nanti anaknya 
bisa mencukupi dan memenuhi kebutuhan orangtuanya.

Ingat baik-baik, makin banyak kita berharap, makin banyak kekecewaan yang akan 
kita dapatkan. Seharusnya tujuan kita diluruskan. Anak adalah amanah dari Allah 
yang harus kita didik dengan baik. Perkara balas budi dan keuntungan kita 
serahkan sepenuhnya kepada Allah, karena itu adalah janji Allah. Kita tidak 
perlu menagihnya kepada anak kita.

Bila hati kita ikhlas, tak pernah kita mengharap balas. Tak mau hidup memelas, 
kemuliaan tampak jelas. Tapi, bila hati riya', batin kita akan sengsara, rindu 
puji dan puja, akhirnya hina dan nista. Anak-anak kita bisa menjadi aset 
keselamatan dan kebahagiaan dunia-akhirat. Akhlak baik anak-anak kita akan 
menjadi perekat bagi harmonisasi hubungan sebuah keluarga. Kita harus membekali 
anak-anak kita tidak cukup dengan ilmu. Rezeki yang kita terima juga harus 
halal agar anak-anak kita tetap ada dalam koridor akhlak yang baik.

Semoga apa pun yang kita lakukan dengan waktu, tenaga, dan pikiran kita yang 
sadar didasari niat yang lurus, dengan kesungguhan kita untuk selalu ada di 
jalan Allah. Mudah-mudahan semua yang kita lakukan dapat menjadi bekal bagi 
kemuliaan dunia dan kepulangan kita di akhirat nanti. Wallahualam.

[KH Abdullah Gymnastiar, Pimpinan Pesantren Virtual Daarut Tauhiid, Bandung]
[Kolom, GATRA, Nomor 51 Beredar Senin 4 November 2002]
Copyright © 2002-04 Gatra.com


_______________________________________________
Itb mailing list
Itb@itb.ac.id
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/itb