jamaah  

[Ar-Royyan-2726] Berpikir Sederhana

IHB Jakarta - Jaeroni Setyadhi
Thu, 27 Oct 2005 19:20:45 -0700

Berpikir Sederhana (2)
Oleh: Rhenald Kasali

Sudah lama para ahli mengingatkan bahwa tantangan manusia terbesar di awal
abad ini adalah bagaimana menyederhanakan pikiran-pikiran yang kompleks.
Dalam soal ini tampaknya tak banyak orang yang mampu melakukannya. Ketika
dunia berubah menjadi sangat kompleks, orang-orang politiklah yang tampak
paling terpengaruh. Kalau mereka ikut-ikutan berpikiran kompleks dan ingin
memperjuangkan semua kehendaknya sekaligus, runyamlah hidup rakyat. Hari ini
mereka bilang A. Belum tuntas pers mengulasnya, mereka sudah bilang B. Lalu,
A yang ditetapkan tidak jadi dijalankan karena banyak urusan lain yang
mendesak. Harga bensin, demo mahasiswa dan buruh, penjarahan, masalah
keamanan, disintegrasi bangsa, otonomi daerah, pengangguran, kesehatan,
gagal panen, tekanan IMF, kurs rupiah, tekanan LSM atas masalah-masalah
lingkungan, semuanya datang bersamaan. Dan semuanya ingin diselesaikan
sekaligus. Kompleks.

 Praktisi bisnis dan profesional manajemen tentu saja tidak boleh
ikut-ikutan terperangkap berpikir kompleks. Mereka harus bisa memilah-milah
mana yang menjadi prioritas utama, dan memecahkan kompleksitas itu secara
bertahap. Kata John Collard, psikolog dari Universitas Yale, ada tujuh jenis
ketakutan yang biasa dihadapi manusia: takut gagal, takut seks, takut self
defense, takut mempercayai orang lain, takut bicara, takut ditinggalkan
sendirian (of being alone), dan takut berpikir.

 Dari ketujuh jenis ketakutan ini, kata pemikir pemasaran Jack Trout dan
Steve Rivkin, ketakutan yang perlu dicermati adalah yang terakhir: takut
berpikir. Ketika dunia menjadi sangat kompleks, manusia memang sangat
mungkin menjadi penakut dalam berpikir. Lalu, dengan keji seseorang
membiarkan otaknya mati, atau menjadi malas, lalu menggantinya dengan otak
orang lain. Tapi, otak orang lain tak akan terpakai semuanya. Dalam dunia
yang kompleks, hanya otak yang mampu mengurai kekusutan ke dalam frame yang
simpel dan jelas serta bisa dipahami orang lainlah yang akan diterima.
Celakanya, sistem pendidikan kita belum mampu menyuplai pemikir yang
demikian.

Yang mampu berbisnis di antara serigala

 Kita masih mempunyai kepercayaan bahwa yang ruwetlah yang cerdas. Banyak
orang muda yang berpikir, bila mereka menggunakan pilihan kata yang sulit
akan dianggap hebat. Kalau membuat tulisan yang panjang-panjang dengan
jargon-jargon yang kompleks, mereka akan dianggap cerdas. Mereka membuat
model yang rumit dengan jumlah variabel yang banyak untuk menampung berbagai
fenomena dalam masyarakat.

 Harapannya, model itu mampu menjelaskan kompleksitas itu. Modelnya mungkin
baik, tapi mereka menjadi bingung bagaimana menjelaskannya. Yang kita lihat
adalah pikiran-pikiran yang kusut, yang tercermin dari penguraian yang buntu
di sana-sini. Lebih buruk lagi ternyata mereka telah menyebarkan paham bahwa
tulisan-tulisan dan ucapan-ucapan yang simpel dan dimengerti masyarakat
bukanlah pemikiran yang cerdas. Mereka mengibaratkan tulisan yang demikian
sama dengan komik, cerita fiktif yang ringan dan banyak gambarnya.

 Ketika dunia berubah menjadi sangat kompleks, praktis kita membutuhkan
seseorang yang mula-mula bisa menguraikannya ke dalam sebuah alur yang
jernih. Orang-orang bisnis tahan banting yang dibesarkan dari bawah biasanya
tahu betul apa artinya kompleksitas. Mereka bisa menyelipkan bisnisnya di
antara serigala-serigala hitam yang besar justru karena mampu berpikir
sederhana. Ketika Amerika dilanda krisis hampir sepuluh tahun yang lalu,
muncul seorang pebisnis yang merasa mampu menguraikan benang merah itu.
Sayangnya, ia tak punya basis partai yang kuat sehingga suaranya hilang
begitu saja di udara. Orang itu bernama Ross Perot. Pada kampanye pemilihan
Presiden Amerika Serikat 1992 Perot sangat terkenal dengan ucapannya, "It's
just that simple." Ucapan itu dicetak di banyak kaos dan dipakai anak-anak
muda yang menghendaki perubahan.

 Tentu saja Anda boleh mengatakan "It's not just that simple" karena hidup
kita sudah sangat kompleks. Namun, dalam menjalankan roda usaha atau
memimpin suatu bagian, kita dituntut berpikir bagaimana melakukan
terobosan-terobosan sederhana dari kebuntuan yang sudah terjadi.
Terobosan-terobosan yang sederhana asalkan dibingkai dalam suatu frame kerja
yang jelas arahnya dan konsisten diterapkan, niscaya akan menjadi sebuah
mahakarya yang nantinya akan diakui juga. Yang penting, pemikiran-pemikiran
itu harus jelas, mudah dipahami orang lain, bisa dituangkan dalam suatu
proses yang berhubungan satu sama lain, bertahap penyelesaiannya, dan
mengajak orang lain mengerjakannya bersama Anda (marketable). Sastrawan
besar Walt Whitman pernah menulis, "The art of the art, the glory of
expression and the sunshine of the light letters, is simplicity."

 Di tengah badai kesulitan, mulai banyak ahli yang melihat bahwa berpikir
sederhana adalah sebuah kekuatan. Itu pulalah yang dituangkan Jack Trout dan
Steve Rivkin dalam buku The Power of Simplicity

 Best Rgds

 Diandra7879
http://www.BukanRahasia.com


--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


  • [Ar-Royyan-2726] Berpikir Sederhana IHB Jakarta - Jaeroni Setyadhi