jamaah  

[Ar-Royyan-5922] Umar Bin Abdul Aziz: Kebijakan Politiknya Rahmat bagi Semesta Alam (1)

jaerony
Thu, 01 Mar 2007 00:28:41 -0800


Umar Bin Abdul Aziz: Kebijakan Politiknya Rahmat bagi Semesta Alam (1) 
21 March 2005 - 02:24 
Oleh: Syamsu Hilal

"Saya tidak pernah melakukan shalat di belakang seorang imam pun yang hampir 
sama shalatnya dengan shalat Rasulullah Saw. daripada anak muda ini, yaitu Umar 
bin Abdul Aziz." Zaid menambahkan, "Dia sempurna dalam melakukan ruku' dan 
sujud, serta meringankan saat berdiri dan duduk" (Zaid bin Aslam dari Anas).

Umar bin Abdul Aziz bin Marwan dikenal dengan panggilan Abu Hafsh lahir di 
Hulwan, sebuah desa di Mesir pada tahun 61 H. Ibunya, Ummu 'Ashim adalah putri 
'Ashim bin Umar bin Khaththab dilahirkan tidak lebih dari 50 tahun setelah 
wafatnya Rasulullah Saw. dimana saat itu para sahabat dan tabi'in masih 
memiliki ikatan batin dan kehidupan yang amat akrab dengan Rasul. Jadi, Umar 
bin Abdul Aziz adalah cucu Umar bin Khaththab dari garis keturunna (nasab) 
ibunya. Ayahandanya, Abdul Aziz bin Marwan, pernah menjadi gubernur di daerah 
itu. 

Dengan demikian, Umar bin Abdul Aziz dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan 
istana dan tumbuh dalam buaian kemewahan. Ia dan keluarganya memiliki kekayaan 
melimpah - sebagaimana umunya keluarga raja-raja Dinasti Umayyah - yang 
diperoleh sebagai tunjangan raja kepada keluarga dekatnya. Disebutkan, dari 
perkebunannya saja, Umar memiliki penghasilan 50.000 asyrafi (dinar) per tahun. 
Tentu saja, saat itu ia hidup secara mewah sebagaimana lazimnya kaum bangsawan, 
dengan pakaian, rumah, kendaraan, dan perlengkapan yang hanya mungkin dimiliki 
oleh para pangeran. Maka wajar, bila pada masa remajanya dia suka berfoya-foya. 

Meski demikian, orangtuanya tak pernah melupakan akan pentingnya pendidikan 
agama. Maka sejak kecil Umar sudah biasa menghafal Al-Qur`an. Kemudian 
ayahandanya mengirimnya ke Madinah untuk belajar berbagai ilmu agama. Umar 
banyak berguru kepada Ubaidillah bin Abdullah. Dengan bekal ilmu itulah Umar 
semakin bijak menyikapi berbagai persoalan di masyarakat, terutama yang 
berkenaan dengan prinsip dasar peradaban Islam di masa Rasulullah Saw. dan 
Khulafaur Rasyidin. Umar pun memiliki pandangan lain tentang sistem 
kekhalifahan yang diwariskan secara turun temurun. 

Umar bin Abdul Aziz kini dikenal sebagai orang yang sangat saleh. Gaya hidup 
suka berfoya-foya langsung ditinggalkannya dan menggantinya dengan akhlak 
Islami. Ketika ayahandanya meninggal, Abdul Malik bin Marwan, yang pada saat 
itu menjabat sebagai Khalifah, memintanya untuk datang ke Damaskus untuk 
dinikahkan dengan anaknya yang bernama Fathimah.

Isyarat bahwa Umar bin Abdul Aziz akan menjadi "orang besar" sudah ada ketika 
ayahandanya melihat bekas luka di bagian wajah Umar akibat tendangan seekor 
binatang. Peristiwa itu terjadi ketika beliau masih kanak-kanak. Ketika ayahnya 
menghapus darah yang mengalir di wajahnya, ayahnya berkata, "Jika kamu adalah 
orang yang terluka dibagian wajah dari kalangan Umayyah, maka engkau akan 
menjadi orang yang bahagia" (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir).

Pernyataan ayahanda Umar ini merujuk kepada pernyataan Umar bin Khaththab, 
"Akan ada dari keturunanku seorang anak yang di wajahnya ada bekas luka. Dia 
akan memenuhi dunia dengan keadilan" (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam 
Tarikhnya). Prediksi Umar bin Khaththab diperkuat oleh pernyataan Ibnu Umar, 
"Kami pernah berbicara bahwa dunia ini tidak akan runtuh sebelum ada seorang 
laki-laki yang memimpin dari kalangan keluarga Umar bin Khaththab yang berbuat 
sebagaimana Umar berbuat." Pada awalnya orang-orang mengira bahwa yang dimaksud 
oleh Ibnu Umar itu adalah Bilal bin Abdullah bin Umar, karena dia memiliki tahi 
lalat di wajahnya. Hingga akhirnya Allah Swt. mendatangkan Umar bin Abdul Aziz.

Al-Walid bin Muslim juga menceritakan perihal isyarat itu. Menurutnya, 
seseorang yang berasal dari daerah Khurasan berkata, "Dalam mimpi saya melihat 
seseorang datang kepada saya dan berkata, 'Jika orang yang di wajahnya ada luka 
dari kalangan Bani Marwan telah berkuasa, maka pergilan kamu dan baiatlah dia, 
karena sesungguhnya dia adalah seorang pemimpin yang adil."

Ketika Al-Walid bin Abdul Malik menjadi Khalifah menggantikan Abdul Malik 
(ayahnya), Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur Madinah dari tahun 86 
H - 93 H. Namun, pada tahun 93 H dia diberhentikan oleh Al-Walid lantaran 
kebijakan Umar tidak sejalan dengan kebijakan Al-Walid yang menjurus kepada 
penyimpangan. Umar pun lalu kembali ke Damaskus. 

Al-Walid juga berusaha keras mencopot kedudukan saudaranya, Sulaiman bin Abdul 
Malik, dari posisinya sebagai Putra Mahkota yang kelak akan menggantikannya. Ia 
menginginkan agar yang menjadi Putra Mahkota adalah anaknya sendiri. Para 
pembesar dan pejabat negara yang ada pada waktu itu menyetujui langkah 
Al-Walid, baik secara suka rela maupun terpaksa. Namun, Umar bin Abdul Aziz 
menolak mentah-mentah keinginan Al-Walid itu dengan berkata, "Di leher kami ada 
bai'at." Pernyataan Umar itu diulang-ulang di berbagai forum dan kesempatan 
hingga akhirnya Al-Walid memenjarakannya dalam sebuah ruang yang sempit dengan 
jendela tertutup, dengan harapan Umar akan mati karena kelaparan dan sesak 
nafas. 

Setelah tiga hari dikurung, akhirnya Al-Walid membebaskannya. Kondisi Umar 
ketika dibebaskan sangat memprihatikan. Lehernya agak miring. Mengetahui 
kondisi itu, Sulaiman bin Abdul Malik berkata, "Dia (Umar) adalah pengganti 
setelah saya."

Kesalehan Umar bin Abdul Aziz
Kesalehan Umar sudah dikenal ketika beliau menjadi gubernur Madinah. Zaid bin 
Aslam meriwayatkan dari Anas, "Saya tidak pernah melakukan shalat di belakang 
seorang imam pun yang hampir sama shalatnya dengan shalat Rasulullah Saw. 
daripada anak muda ini, yaitu Umar bin Abdul Aziz." Zaid menambahkan, "Dia 
sempurna dalam melakukan ruku' dan sujud, serta meringankan saat berdiri dan 
duduk." 

Kesalehan Umar makin bertambah ketika beliau menjadi Khalifah. Bahkan Umar 
bukan hanya dikenal sebagai seorang ahli ibadah, tetapi dia memiliki pemahaman 
yang mendalam dan rinci (al-fahmu ad-daqiq) dalam masalah-masalah keagamaan. 
Sehingga beliau dijadikan rujukan dalam berbagai masalah oleh banyak orang. 
Sampai-sampai Maimun bin Mahran berkata, "Para ulama di hadapan Umar bin Abdul 
Aziz adalah murid-muridnya."

Proses taqarrub ilallah yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz, membuat beliau 
diberikan berbagai keistimewaan (karamah) oleh Allah Swt. Abu Nu'aim 
meriwayatkan dari Rayyah bin Ubaidah, dia berkata, "Umar bin Abdul Aziz keluar 
dari rumahnya untuk menunaikan shalat. Saya melihat ada seseorang yang sangat 
tua bersandar ke tangan Umar. Saya berkata dalam hati, sesungguhnya orangtua 
itu berhati gersang. Usai shalat, saya bertanya kepada Umar, "Wahai Amirul 
Mukminin, semoga Allah memberkati anda. Siapa gerangan kakek tua yang bersandar 
di tangan anda?"

Umar balik bertanya, "Apakah anda (Rayyah) melihatnya?"

Rayyah bin Ubaidah menjawab, "Benar, saya melihatnya."

Umar berkata, "Tidak salah dugaanku, engkau seorang laki-laki saleh. 
Ketahuilah, kakek tua itu adalah Nabi Khidir, saudaraku. Dia datang untuk 
memberitahu bahwa saya akan memimpin umat ini dan akan berlaku adil terhadap 
mereka."

Maimun bin Mahran juga meriwayatkan dari Abu Hasyim bahwa seorang laki-laki 
menemui Umar bin Abdul Aziz dan berkata, "Saya bermimpi melihat Rasulullah Saw. 
dalam tidurku. Dalam mimpi itu, aku melihat Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. ada 
disamping kanan Rasulullah, sedangkan Umar bin Khaththab Ra. disamping kirinya. 
Tiba-tiba kedua orang itu berselisih pendapat, sedangkan engkau (Umar bin Abdul 
Aziz) duduk di depan Rasulullah. Rasulullah Saw. berkata kepadamu, 'Wahai Umar, 
jika nanti kamu menjadi penguasa, maka berbuatlah sebagaimana kedua orang ini 
(Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab) berbuat."

Untuk meyakinkan kebenaran mimpi itu, Umar meminta orang itu untuk bersumpah 
dengan nama Allah. Orang itu kemudian bersumpah atas nama Allah. Maka Umar pun 
menangis.

Sebagaimana sifat para nabi dan salafush shalih, Umar bin Abdul Aziz amat benci 
pada perbuatan dusta, karena dusta selalu akan mendatangkan bencana bagi 
pelakunya dan umat manusia. Ibrahim as-Sakuni menceritakan bahwa Umar pernah 
berkata, "Aku tak pernah berdusta sejak aku tahu bahwa dusta itu akan 
mendatangkan bencana bagi pelakunya."

Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang sangat takut kepada Allah Swt. Istrinya 
bercerita, bahwa jika Umar masuk rumah, maka dia aka berbaring di tempat shalat 
sunnahnya. Dia terus menangis hingga akhirnya tertidur. Al-Walid bin Abi 
as-Saib berkata, "Saya tidak pernah melihat orang yang lebih takut kepda Allah 
daripada Umar bin Abdul Aziz."

Menjadi Khalifah
Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah berdasarkan surat wasiat Khalifah 
Sulaiman bin Abdul Malik pada tahun 99 H. Waktu itu Umar bin Abdul Aziz baru 
berumur 37 tahun. Dia menjabat Khalifah selama dua tahun lima bulan sebagaimana 
masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. Di masa pemerintahannya, Umar telah 
memenuhi dunia dengan keadilan, mengembalikan semua harta yang diambil secara 
tidak halal pada masa kekhalifahan sebelumnya. Beliau menghapus tradisi 
jahiliyah dan membangun tradisi Islam.

Umar bin Abdul Aziz tidak mau menduduki kursi kekuasaan sebelum menanggalkan 
sikap kesewenang-wenangan si kuat terhadap si lemah dan membatalkan tradisi 
jahiliyah yang selama ini dianut oleh keluarganya yang diwarisi oleh para 
pemimpin sebelumnya yang berlaku zalim kepada rakyatnya. Ia telah mengubah 
tradisi buruk itu dan menggantinya dengan perilaku mulia yang seharusnya 
ditempuh oleh seorang Amirul Mukminin.

Ketika dirinya dinyatakan sebagai pengganti Sulaiman bin Abdul Malik, Umar 
terkulai lemas dan berkata, "Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon 
perkara ini kepada Allah satu kali pun."

Hal itu dinyatakannya di hadapan rakyatnya sesaat setelah ia dibaiat, 
"Saudara-saudara sekalian, saat ini saya batalkan pembaiatan yang 
saudara-saudara berikan kepada saya, dan pilihlah sendiri Khalifah yang kalian 
inginkan selain saya." Hal itu dilakukan lantaran Umar tidak mau memangku 
jabatan sebelum ada kerelaan dari umat atas penunjukan dirinya sebagai 
Khalifah. Namun, rakyat tetap pada keputusannya, yaitu membaiat Umar bin Abdul 
Aziz.

Dikisahkan oleh Umar bin Muhajir, sesaat setelah Umar bin Abdul Aziz dibaiat 
menjadi Khalifah, ia berdiri di hadapan khayalak, lalu memuji Allah dan 
berkata, "Wahai hadirin sekalian, sesungguhnya tidak ada satu kitab suci pun 
setelah Al-Qur`an, dan tidak akan ada nabi setelah Muhammad Saw. Ketahuilah 
bahwa saya bukan pembuat undang-undang. Saya hanyalah seorang pelaksana. Saya 
juga bukan orang yang membuat ajaran-ajaran baru (bid'ah), saya hanyalah 
sebagai pengikut. Saya bukanlah orang terbaik di antara kalian. Justru saya 
adalah orang yang memilkul beban berat. Sesungguhnya orang yang melarikan diri 
dari seorang pemimpin yang zalim, dia bukan orang zalim. Ketahuilah bahwa tidak 
ada ketaatan kepada makhluk apabila dia berada dalam kemaksiatan." Wallahu 
a'lam bishshawab. 

(Bersambung). 

www.pks-malang.or.id
  • [Ar-Royyan-5922] Umar Bin Abdul Aziz: Kebijakan Politiknya Rahmat bagi Semesta Alam (1) jaerony