Agus Rasyidi
Sun, 15 Nov 2009 17:08:05 -0800
Ini sebuah kisah yg di tulis oleh Asma Nadia sampai munculnya Film EMAK INGIN NAIK HAJI. Saya, alm. Kang Gito Rollies, dan Emak Ingin Naik Haji -------------------------------------------------------------------------- Beberapa hari yang lalu saya menangis saat bercerita di studio Mas Adam Permana. Saya berbicara dengan Mbak Ria, istri Mas Adam, penata musik film Emak Ingin Naik Haji (EINH). Ini malam ketiga. Malam pertama di studio, saya mendengar musik lagu Mengetuk Langit Mekkah, yang saya tulis di sela2 hari pertama syuting film EINH. Mas Aditya menelepon saya, usai acara launching buku Muhasabah Cinta Seorang Istri. Saat itu saya sedang bersama Rahmadiyanti, Sita dan suami, serta keluarga, makan malam, intinya beliau memaksa saya untuk bersedia duet dengan Mbak Ria Adam membawakan lagu itu, yang rencananya insya allah akan ada dalam album sound theme EINH, jika jadi dirilis:) Meski tidak yakin, akhirnya paksaan itu saya terima. Karena Mbak Ria yang bersuara merdu juga tidak ingin tampil sendiri. Jadilah besoknya kami rekaman hingga pukul dua pagi. Hari ketiga ini... Genta, pemeran Siti ikut membantu mengisi lagu tersebut hingga lebih indah. Dan di hari ketiga itulah, entah mengapa saya tiba2 teringat Kang Gito Rollies. Persahabatan kami dan kepercayaan beliau terhadap saya yang dulu bagi saya terasa mewah. Sebab ketika itu tidak ada yang sedemikian percaya kepada saya, seperti almarhum. Pertemuan pertama dengan Kang Gito Rollies dijembatani Mas Dian, jika saya tidak salah ingat. Dari Venusa. Waktu itu Kang Gito mencari penulis cerita untuk membuat konsep bagi sinetron serial yang diproduksinya. Dibantu seorang kawan, konsep cerita pun dibuat. Treatment untuk skenario pertama pun sudah selesai. Sepertinya Kang Gito senang dengan konsep dan penokohan yang kami tulis. Beliau tidak sabar mengajak kami ke Bandung untuk melihat lokasi yang menjadi alternatif setting bagi sinetron serial itu. Saya tidak mengenal Kang Gito sebelumnya. Tapi keakraban begitu saja terjalin. Apalagi ketika beliau tahu bahwa saya anak Amin Ivo's, teman lama. Pulang dari Bandung, Kang Gito sendiri yang menyetir. Teman saya duduk di depan, dan saya sebagai satu2nya perempuan, duduk di belakang. Sebelum ke Jakarta, dalam obrolan ketika beliau tahu saya penggemar yamin, beliau pun mengajak kami mampir makan yamin di tempat favorit beliau, sebelum mobil menuju Jakarta. Konsep sinetron keluarga berseri yang sudah dibuat memang kemudian tidak terwujud. Ada kendala di pihak investor. Kang Gito memohon maaf untuk itu. Tidak masalah buat saya, belum rezeki. Setelah itu persahabatan kami berlanjut. Saling mendoakan, saling bertausiyah, dan saling memberikan kabar baik dan mensupport. Saya sangat terkesan dengan keramahan dan kerendahhatian almarhum. Tidak banyak selebritis yang saya kenal ramah di pertemuan pertama, tetap menyapa dengan keramahan yang tidak berkurang sedikitpun, di pertemuan2 berikutnya. Barangkali karena memang nggak banyak juga selebritis yang saya kenal:) Kang Gito sempat mengundang saya ketika pentas bersama Cornelia Agatha di Gedung Kesenian Jakarta. Ketika saya tiba, langsung diajak ke belakang panggung dan diperkenalkan Antara lain kepada Dwiki yang waktu itu menjadi penata musik... juga pemain2 lain. "Kenalin ini Asma Nadia, penulis ngetop. Bagus2 tulisannya.. ." Kata kang Gito semangat. Biasanya saya hanya menahan senyum, sebab umumnya mereka belum mengenal saya. Dan di kesempatan2 yang lain ketika Kang Gito bertemu dengan selebritis lain yang memiliki PH, atau akses ke tivi, Kang Gito mengirimkan sms kepada saya, "Asma, tadi saya bertemu Pak ini... juga ibu itu. Saya bilang ke mereka kalau cari penulis untuk sinetron atau film, ada penulis bagus namanya Asma Nadia..." Dan sms2 serupa berkali2 saya terima. Juga ketika Kang Gito mulai sakit dan banyak pihak menjenguk beliau. Saya terharu, sebab Kang Gito malah mempromosikan penulis si asma nadia itu:) Sebelum Emak Ingin Naik Haji, ada beberapa novel yang sempat dilirik produser, PH atau sutradara. Seorang artis yang juga sutradara sempat menyebut di satu tabloid, bahwa beliau akan memfilmkan novel saya yang berjudul Derai Sunyi, yang bercerita tentang penganiayaan pembantu rumah tangga yang berujung kematian. Saya sempat kaget ketika ditanya wartawan yang membaca pernyataan si artis, pasalnya saya sendiri belum dihubungi. Baru kemudian kami duduk satu meja, dan artis tersebut berbicara dengan semangat... pertemuan pertama, lalu kedua, lalu... selesai. Tidak ada kelanjutannya lagi. Satu cerita lain sempat dibayar, entah untuk FTV entah untuk sinetron, oleh sebuah PH sebelum kemudian tidak ada kelanjutannya. Sebelum itu seorang artis yang juga sutradara perempuan meminta saya membuat sinopsis, yang kemudian disetujui, dan dilanjutkan dengan diskusi2 berikut hingga pembuatan treatment. Cerita cinta yang penuh perjuangan dan romantis buat saya, lagi2 nggak ada kelanjutannya. Terakhir beberapa bulan lalu, seorang produser melirik naskah Istana Kedua. Investor kabarnya sudah ada. Sudah mulai bicara tentang harga, bahkan draft perjanjian sudah saya terima. Pertemuan dengan penulis skenario pun sudah dilakukan. Mengingat plot Istana Kedua yang cukup rumit, perlu disiasati agar tetap menarik ketika divisualkan. Saya sempat berharap lebih, sebab memiliki kesamaan visi dengan produsernya yang sama2 perempuan, telah membaca Istana Kedua dan tersentuh, serta suka dengan pesan yang tidak verbal dalam novel itu. Tapi lagi2... mendadak investor mundur. Dan proyek pun menggantung. panjang jalan terasa bagi seorang penulis, sebelum karyanya naik ke layar lebar. setidaknya itu yang saya rasakan. Sementara pembaca dengan santainya bertanya, "Mbak, kok Aisyah Putri nggak difilmkan, sih?" "Mbak, Cinta di Ujung Sajadah dilayarlebarkan dong... " Atau, "Mbak, novel istana kedua bagus banget deh, kenapa sih nggak mau difilmkan?" :) Saya tidak lagi memikirkan tentang itu. Apa yang saya lalui membuat saya bersikap santai ketika ada pihak2 yang menyatakan tertarik dengan cerita yang saya tulis. Saya anggap mereka bercanda. Seperti komen dari satu PH yang sukses dengan film layar lebar mereka yang dibuat dengan anggaran lumayan. "Nanti naskah mbak asma kita filmkan juga. tapi yang anggarannya murah2 saja...yang settingnya di rumah saja." ujar beliau sambil tertawa, yang saya balas dengan senyum. Pada mereka saya tidak menemukan kepercayaan, seperti yang sungguh2 saya dapatkan dari Kang Gito. Bukan salah mereka. Sebab biasanya orang memerlukan bukti, track record atau apalah... dan menurut mereka saya mungkin belum memiliki itu. Kepercayaan bahwa saya bisa. Asma bisa, dari almarhum. Hanya beliau. Tidak hanya untuk cerita, tapi juga untuk membuatkan lagu bagi beliau setelah album religinya beredar di pasaran. "Takut nggak bisa, kang... " saya takut lagu yang saya buat nanti jelek. Nggak seperti yang diinginkan beliau. Tapi jawab beliau waktu itu, "Kamu kenal siapa akang, asma pasti bisa." Dan saya pun berjanji, meski tak sempat menepati, sebab Kang Gito keburu pergi, dan menyisakan kehilangan yang sangat di hati keluarga, dan seluruh penggemar. Juga di hati saya. Seorang sahabat yang mempercayaimu, telah pergi Asma... Lalu suatu malam di bulan Oktober atau November, saya lupa persisnya, saya mendapatkan sms, kemudian telepon dari Aditya Gumay yang mengaku tertarik akan satu cerita pendek yang saya tulis dan sempat dimuat di majalah Noor. Tentu saja saya tidak asing dengan nama Aditya Gumay. Tapi sikap saya biasa saja. Tidak ge er, atau melonjak2. Tidak juga ketika keesokan harinya saat bertemu Mas Aditya langsung menyerahkan draft perjanjian untuk ditandatangani agar beliau bisa mendapatkan izin menggarap Emak Ingin Naik Haji. Beliau juga menyiapkan sejumlah uang, tidak besar... tapi bagi saya menunjukkan kesungguhan yang aneh. Tapi tetap saja saya tidak berani berharap banyak. Takut jika saya kecewa. Takut jika kecewa membuat saya tidak bersyukur. "Sudah ada investor, Mas?" Aditya Gumay menjawab, belum. Tapi saya menangkap semangatnya. Dan semangat di mata Mas Aditya, tidak berubah. Bahkan semakin bertambah setelah skenario selesai. "Sudah ada investor, Mas?" Belum. Jawaban yang sama. Tapi sesuatu membuat sutradara muda itu terus bergerak, dengan atau tanpa investor. Belakangan kami mendapatkan investor. Lalu proses casting dimulai. Beliau melibatkan saya, seperti permintaan saya sebelumnya. Baik ketika skenario selesai. Beliau dengan rendah hati pun menampung usulan koreksi saya terhadap beberapa adegan di dalam skenario. Juga hal2 lain... Lalu seperti mimpi, proses syuting dimulai. Diawali dengan syukuran sederhana di apartemen beliau. Proses casting mencari pemeran Zein yang paling sulit, akhirnya terpecahkan dengan hadirnya Reza Rahadian, sementara pemeran Emak dari awal hanya Aty Cancer yang ada di benak kami. Saya menghadiri mungkin 80% dari syuting yang dilakukan. Juga saat syuting di Pelabuhan Ratu. Ikut menginap dan sekamar dengan Emak. Yang berkesan bagi saya adalah, Mas Aditya selalu menyediakan ruang bagi saya. Padahal saya bukan siapa2, tapi saya yang nggak kenal pemain dan kru selalu diterima dengan baik. Mas Adit sering mengajak saya mengintip dari monitor. "Nih, kalau mbak asma mau lihat..." Ramah, sabar, penuh persaudaraan dan... optimis. Juga ketika investor pertama mundur. Dan syuting sempat terhenti. Tetapi tidak ada keraguan yang terbaca ketika bertemu dengan beliau "Sekalipun dengan dana sendiri, film ini akan saya selesaikan insya allah, mbak. Bismillah." Semangat. Saya tidak berani memposting apapun tentang film ini. Sekali pun Mas Adit sudah mengizinkan. Saya masih khawatir. Takut ada kendala lain, takut proyek ini nggak jadi lagi. "Insya allah, mbak Asma, Bismillah." Itu selalu jawaban beliau. Menguatkan. Mengembalikan kepercayaan. Alhamdulillah Mizan kemudian menguatkan. Hingga film akhirnya selesai, promosi mulai dilakukan. Saya, hanya memegang peran kecil dalam film ini. Tetapi ruang yang disediakan Mas Adit bagi saya, subhanallah. Dengan caranya beliau membuat saya merasa peran kecil itu berarti, "Ketika sutradara ... membuat film dari novel ini, Mbak. Dia hanya mengambil satu garis saja dalam novel itu. Dan tidak memakai yang lainnya. Dalam cerpen mbak Asma, hanya ending yang diubah, tapi plot lain semuanya terpakai, tidak ada yang bisa saya buang." Dan menjelang gala premier... di studio Mas Adam itu tiba2 air mata saya tumpah. Teringat Kang Gito dan kepercayaan begitu besar yang diberikannya kepada saya. Ketika belum seorang pun memercayai saya. Kepercayaan yang kemudian dimiliki Aditya Gumay, kepada saya. Sampai sekarang, saya belum pernah sanggup menuliskan kehilangan saya akan kepergian Kang Gito. Air mata saya yang masih sering tumpah saat mendengar alunan suara beliau, atau saat shalat malam. Kepergian beliau membuat saya rajin mengirimkan alfatihah. Membuat saya ingat bahwa seharusnya saya lebih sering mengirim alfatihah juga bagi keluarga yang telah pergi... sebab alfatihah, hanya itu yang sekarang menjembatani saya dan orang2 yang saya sayangi yang sekarang sudah tidak ada. Menjembatani saya, dan Kang Gito. Kehilangan yang dalam dan sulit digambarkan. Mungkin karena bersama kepergian beliau, pergi juga orang yang selalu menyemangati saya, seorang sahabat yang memercayai saya lebih dari siapa pun. Sampai kapan pun saya tidak akan lupa saat Michelle memeluk saya yang tak bisa menahan air mata, saat bertakziyah dan melepas almarhum untuk terakhir kali. Kata2 yang Michelle bisikkan di telinga saya, "Asma, dia sayang sekali sama Asma. Dia bangga sekali sama Asma..." Mohon doa dari rekan2. Untuk Kang Gito Rollies almarhum dan keluarga yang ditinggalkannya. Untuk Emak Ingin Naik Haji... dan untuk Mas Aditya Gumay, yang padanya saya menemukan satu sosok sahabat lagi untuk berjuang, menggantikan yang telah pergi... **** From: Asma Nadia <asma_nadia2000@ yahoo.com> ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)