Denny Teguh Sutandio
Thu, 18 Dec 2008 17:57:38 -0800
PELAYANAN YANG MEMULIAKAN TUHAN oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. Nats: Yohanes 13:31-35 Yohanes 13:31-16:33 seringkali diungkapkan di mimbar sebagai the Exclusive Teaching of Christ dan ditutup dengan the Exclusive Prayer of Christ (Yoh. 17). Khotbah kali ini akan membahas bagian awal pengajaran tersebut. Yohanes 13:31 dimulai dengan “Sesudah Yudas pergi” sebagai turning point (titik balik). Titik putar semacam itu seharusnya diperhatikan karena terdapat perubahan essensial, khususnya dalam pembahasan Yohanes dan Paulus yang sangat menekankan aspek Theologis. Peristiwa dalam Yohanes 13:21-35 sangat unik karena tak terbahas oleh Matius, Markus dan Lukas. Padahal peristiwa tersebut bukan sekedar kronologis sejarah tetapi mengandung aspek Theologis yang sangat mendalam. Ketika sedang mengadakan perjamuan, Tuhan Yesus dengan sangat ‘terharu’ menyatakan fakta yang segera terjadi (Yoh. 13:21). Sebenarnya, istilah ‘terharu’ akan lebih tepat jika diganti dengan ‘disturbed’ (terganggu dalam roh). Artinya, ada sesuatu yang membebani hingga membuat-Nya sangat susah dan tak tenang. Maka Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh. 13:21). Tuhan memiliki 12 murid terdekat (the closest ring) yang selalu bersamaNya dan mendengarkan ajaranNya yang mungkin belum dimengerti oleh jemaat pada umumnya. Tapi, justru satu di antaranya, yaitu Yudas Iskariot, bukan murid sejati melainkan pengkhianat karena tega menjual Gurunya pada orang Farisi seharga 30 keping perak. Padahal ia adalah orang kepercayaanNya hingga kas diserahkan padanya. Namun ia malah mempermainkan, memanipulasi dan menyalahgunakannya. Lalu Yohanes 13:24 mencatat, “Kepada murid itu (Yoh.) Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: “Tanyalah siapa yang dimaksudkanNya!” Yohanes adalah murid yang sangat dikasihi oleh Tuhan Yesus. Maka ia bertanya, “Tuhan, siapakah itu?” (Yoh. 13:25). Kemudian Yohanes 13:26-27 mencatat, “Jawab Yesus: “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Dengan demikian, Yudas adalah pengkhianat sejati dengan kesombongan hati dan ego yang membuatnya tak mau bertobat, tunduk dan mengaku dosa di hadapan Tuhan. Maka ia tidak berhak mendengarkan pengajaran Kristus tertinggi dalam Yohanes 13:31 dan seterusnya yang sulit diterima oleh akal manusia berdosa, kecuali ia bersedia kembali kepadaNya, berubah total dan mulai memandang segala sesuatu dalam sudut pandang Allah. Yudas berbeda dengan Petrus. Yohanes 13:36-38 menceritakan bagaimana Petrus berusaha untuk setia kepada Tuhan, “Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku.” Kata Petrus kepadaNya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Itulah peringatan-Nya pada Petrus. Dan ketika menjadi kenyataan, Petrus sungguh menyesal dan langsung bertobat. Kali ini akan dibahas pengajaran Kristus di mana essensi keberadaan Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus diungkapkan. Selain itu, juga termasuk ajaran tentang prinsip hidup Kristen, keselamatan kekal dan panggilan pelayanan. Yohanes 13:31 dan seterusnya berbicara tentang bagaimana Tuhan mengarahkan Diri pada keselamatan kekal. Kemudian da­lam Yohanes 14 Ia mulai membicarakan tentang Sorga dan ayat yang paling sering dibahas adalah Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Selain itu, juga dibahas bagaimana Roh Kudus datang dan berkarya dalam kehidupan manusia. Selanjutnya, Yohanes 15 membahas Union with Christ (dipersatukan dengan Kristus) dan hubungan antara Allah, Kristus dan manusia. Selain itu, juga tentang bagaimana Ia memanggil umat-Nya untuk melayani serta menjadi sahabat dan kawan sekerja-Nya. Dan bagian terakhir membicarakan tentang bagaimana anak Tuhan menghadapi kesulitan, penderitaan serta tantangan sehingga kelak berhasil mencapai titik kemenangan. Lalu Yohanes 16 menjelaskan tugas dan peranan Roh Kudus. Setelah itu, Tuhan Yesus memberikan ajaran yang sangat solid pada perjamuan malam terakhir. Kemudian Ia berdoa bagi para murid-Nya sebelum disalibkan. Tuhan Yesus tidak memperkenankan Yudas ikut dalam ring orang yang layak untuk mendengarkan ajaranNya dan didoakan. Dalam Yohanes 17 terdapat 2 statement yang menyatakan bahwa Ia tidak berdoa syafaat bagi semua orang melainkan hanya para murid dan umat pilihanNya yaitu orang percaya atau Kristen sejati. Inilah eksklusif. Sesudah Yudas pergi, dalam 2 kalimat pertama Tuhan Yesus terdapat 1 kata yang berulangkali dicantumkan yaitu ‘dipermuliakan’ dan ‘mempermuliakan’ (glorify). Maka Yohanes 13:31-32 menjadi centre point (inti) iman Kristen, “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.” Mendengar pernyataan ini, para murid langsung berpikir bahwa segera tiba saatnya bagi Tuhan Yesus untuk menjadi raja di Yerusalem dengan kekuasaan besar. Tapi, pemikiran seperti ini dipatahkan oleh Kristus, “Hai, anak-anakKu, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu” (Yoh. 13:33). Akibatnya, terjadilah confusion (kebingungan) dalam pemikiran para murid yang berbeda total dengan pandangan Kristus. Sebenarnya, Yohanes 13:31-32 berpusat hanya pada salib. Dengan kata lain, Kristus dipermuliakan dengan cara yang terhina. Inilah konsep the Paradox of the Cross. Padahal menurut dunia, salib adalah penghukuman yang paling kejam dan menakutkan. Sedangkan orang yang disalibkan akan memiliki citra terendah. Justru, penyaliban Kristus merupakan cara yang paling terbuka dan jelas untuk mempermuliakan Allah. Dengan membuat banyak mukjizat, Ia malah tak dipermuliakan. Itu disebabkan oleh sikap manusia berdosa yang tak pernah puas serta selalu menuntut dan memanipulasi Kristus demi kepentingan sendiri. Mereka tak pernah memandang mukjizat sebagai keagungan Kristus, Anak Allah yang berinkarnasi. Sebaliknya malah berpikir bahwa Tuhan Yesus sedang mengumpulkan pengikut. Padahal Ia tak pernah bermaksud seperti itu. Yohanes 13:31-32 mengingatkan pada Yohanes 3 mengenai percakapan Kristus dengan Nikodemus, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14). Ketika disalibkan, kalimat pertama yang diucapkan oleh Tuhan Yesus terkesan sangat agung, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mere ka perbuat” (Luk. 23:34). Ungkapan tersebut ditujukan bagi mereka yang telah meludahi, menyalibkan dan membunuh-Nya. Ini menunjukkan betapa pentingnya menggumulkan keselamatan orang lain serta betapa serius dan relanya Tuhan mengampuni mereka yang telah menyengsarakanNya. Perkataan manusia akan lebih agung ketika ia berada dalam situasi sulit. Kalau kalimat tersebut diucapkan dalam situasi biasa maka kuasanya tidaklah besar. Padahal Lukas 23:35 mencatat, “Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri.” Ungkapan tersebut terlalu merendahkan dan menggambarkan betapa egoisnya manusia. Let Christ be glorified. Biarlah Kristus dipermuliakan. Semua orang ketika membaca Injil terutama penyaliban Kristus, harus mengakui bahwa Yesus memang terlalu agung dan mulia. Tak ada satu kalimat pun mampu mematahkan tindakan Kristus tersebut karena telah melampaui cara berpikir manusia. Kristus dipermuliakan ketika disalibkan di mana Ia menyelesaikan seluruh tugas penebusan yang dibebankan Allah kepadaNya dan itulah saat bagiNya untuk kembali ke Kerajaan Bapa. Itulah titik final seluruh penggenapan pekerjaan Bapa. Pdt. Stephen Tong pernah mengungkapkan bahwa jikalau Kristus pernah melakukan secuil dosa pun di sepanjang hidup-Nya maka tertutuplah kesempatan-Nya untuk kembali ke Sorga. Seluruh nilai penyaliban tak lagi berarti dan hidup-Nya akan berakhir dengan kematian karena upah dosa adalah maut. Ketika Ia mampu menyelesaikan semua tugas-Nya hingga titik terakhir, itulah puncak glorification. Sebenarnya, Tuhan mencanangkan peristiwa ini untuk Adam pertama namun ia telah gagal dalam ujiannya. Maka diperlukan Adam kedua yaitu Kristus yang akhirnya berhasil dalam segala macam ujian yang diperuntukkan bagi-Nya dan mengakhirinya dengan mengatakan, “Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Kalimat pendek tersebut merupakan penggenapan totalitas seluruh karyaNya dalam kemurnian pelayanan-Nya. Ketika Kristus telah mencapai kemuliaan, itulah titik balik kenosis yang disebutkan dalam Filipi 2. Kenosis adalah pengosongan diri. Kristus yang adalah Allah semesta alam harus mengosongkan diri lalu turun ke dunia membawa beban besar yaitu menggenapkan pekerjaan Bapa. Pencipta dan Pemilik alam semesta harus menjadi bayi yang tak mampu melakukan apa pun karena terbatas ruang dan waktu. Selain itu, Ia juga harus menjadi hamba yang diperlakukan dengan sangat hina hingga kematianNya. Namun Filipi 2:9-11 mengatakan, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah Bapa!” Kesimpulannya, salib adalah the final point to glorification (titik akhir untuk menuju kemuliaan terbesar). Dengan kata lain, jalan kemuliaan harus melalui penderitaan, kesulitan, dan kesusahan. Glorification by the suffering servant. Amin. (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah) Sumber: Ringkasan khotbah Pdt. Sutjipto Subeno di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 25 November 2001. Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(1Sam. 16:7b)
---------------------------------
Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!