keluarga-islam  

[keluarga-islam] Pendapat Para Imam dan Muhaddits

Safira
Sun, 25 Mar 2007 22:04:17 -0800

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa 
Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa 
hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka 
berkata : "hari ini hari ditenggelamkannya Fir'aun dan Allah 
menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada 
Allah swt, maka bersabda Rasul saw : "Kita lebih berhak atas Musa as 
dari kalian", maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas 
anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, 
dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, 
seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur'an, maka nikmat 
apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah 
swt "SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG-ORANG 
MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA" (QS Al Imran 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul 
saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi 
(Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam 
Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300, dan telah diriwayatkan bahwa telah 
ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 
tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah 
bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda 
syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau 
saw sebagai Rahmatan lil'aalamiin dan membawa Syariah untuk 
ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan 
tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman-teman 
dan saudara-saudara, menjamu dengan makanan-makanan dan yang serupa 
itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. Bahkan Imam 
Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid 
dengan nama : "Husnulmaqshad fii 'amalilmaulid".

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam 
Nawawi) :
Merupakan Bid'ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah 
perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw 
dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, 
seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan 
rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan 
kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra' Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah 
dalam kitabnya 'Urif bitta'rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya 
apa keadaanmu?, ia menjawab : "di neraka, tapi aku mendapat 
keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan 
budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan 
karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)" (shahih Bukhari hadits no.4813). 
maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur'an turun mengatakannya di 
neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi 
saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas 
kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan 
Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga 
kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy 
dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dengan ucapan Imamul Qurra' Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, 
yaitu menukil hadits Abu Lahab.

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
berkata "tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, 
tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam 
di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan 
berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan 
berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar".

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah 
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : "ketahuilah salah satu 
bid'ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw"

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah 
dengan karangan maulidnya yang terkenal "al aruus" juga beliau 
berkata tentang pembacaan maulid, "Sesungguhnya membawa keselamatan 
tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan 
keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya".

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah 
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al 
maktab al islami berkata: "Maka Allah akan menurukan rahmat Nya 
kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari 
besar".

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad 
yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi dengan karangan maulidnya yg 
bernama "Attanwir fi maulid basyir an nadzir".

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah 
Aljuzri dengan maulidnya "urfu at ta'rif bi maulid assyarif"

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yang karangan kitab maulidnya dikenal 
dengan nama : "maulid ibn katsir"

13. Imam Al Hafidh Al 'Iraqy dengan maulidnya "maurid al hana fi 
maulid assana"

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa 
maulid : Jaami' al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad 
arra'iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an 
nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dengan 
maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As 
syaibaniy yang terkenal dengan ibn diba' dengan maulidnya addiba'i 

18. Imam ibn hajar al haitsami dengan maulidnya itmam anni'mah alal 
alam bi maulid sayid waladu adam 

19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar 
dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari' dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid 
nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Ja'far bin Hasan Al barzanji dengan 
maulidnya yang terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dengan maulid 
Al yaman wal is'ad bi maulid khair al ibad

Namun memang setiap kebaikan dan kebangkitan semangat muslimin 
mestilah ada yg menentangnya, dan hal yg lebih menyakitkan adalah 
justru penentangan itu bukan dari kalangan kuffar, tapi dari 
kalangan muslimin sendiri, mereka tak suka Nabi saw dicintai dan 
dimuliakan, padahal para sahabat radhiyallahu'anhum sangat 
memuliakan Nabi saw, Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti 
Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, 
bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu 
air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).

Seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia 
akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah 
dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan 
bertanya : "dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?". Demikian 
para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw 
hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130).

Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan 
sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya 
dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai 
tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar 
ra), "Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim 
salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan 
disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra", maka ketika 
Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : "Tidak 
ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan 
itu" (dimakamkan disamping makam Rasul saw" (Shahih Bukhari hadits 
no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai 
arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan 
Nabi saw, bahkan ia berkata : "Tidak ada yang lebih kupentingkan 
daripada mendapat tempat di pembaringan itu".

Dan masih banyak riwayat shahih lainnya tentang takdhim dan 
pengagungan sahabat pada Rasulullah saw, namun justru hal itu 
ditentang oleh kelompok baru di akhir zaman ini, mereka menganggap 
hal hal semacam itu adalah kultus, ini hanya sebab kedangkalan 
pemahaman syariah mereka, dan kebutaan atas ilmu kemurnian tauhid. 
Maka marilah kita sambut kedatangan Bulan Kebangkitan Cinta Muslimin 
pada Nabi saw ini dengan semangat juang untuk turut berperan serta 
dalam Panji Dakwah, jadikan medan ini benar benar sebagai ajang 
perjuangan kita untuk menerangi wilayah kita, masyarakat kita, 
masjid kita, musholla kita, rumah rumah kita, dengan cahaya 
Kebangkitan Sunnah, Cahaya Semangat Hijrah, kemuliaan kelahiran Nabi 
saw yg mengawali seluruh kemuliaan islam, dan wafatnya Nabi saw yg 
mengawali semangat pertama setelah wafatnya beliau saw.

Saudara saudarku, kelompok anti maulid semakin gencar berusaha 
menghalangi tegaknya panji dakwah, maka kalian jangan mundur dan 
berdiam diri, bela Nabimu saw, bela idolamu saw, tunjukkan akidah 
sucimu dan semangat juangmu, bukan hanya mereka yg memiliki semangat 
juang dan mengotori masji masjid ahlussunnah dengan pencacian dg 
memfitnah kita adalah kaum musyrik karena mengkultuskan Nabi Saw. 

Saudaraku bangkitlah, karena bila kau berdiam diri maka kau turut 
bertanggung jawab pula atas kesesatan mereka, padahal mereka saudara 
saudara kita, mereka teman kita, mereka keluarga kita, maka 
bangkitlah untuk memperbaiki keadaan mereka, bukan dengan pedang dan 
pertikaian, sungguh kekerasan hanya akan membuka fitnah lebih besar, 
namun dg semangat dan gigih untuk menegakkan kebenaran, mengobati 
fitnah yg merasuki muslimin muslimat..

Nah saudara saudaraku, para pembela Rasulullah saw.. jadikan 12 
Rabiul awwal adalah sumpah setiamu pada Nabimu Muhammad saw, Sumpah 
Cintamu pada Rasulullah saw, dan Sumpah Pembelaanmu pada Habibullah 
Muhammad saw.

Sumber www.majelisrasulullah.org