keluarga-islam  

[keluarga-islam] JIL, CIA, Asia Foundation dan Imperialisme Barat

Ahmadi Agung
Mon, 26 Mar 2007 22:37:39 -0800

 


JIL, CIA, Asia Foundation dan Imperialisme Barat
 <http://swaramuslim.net/weblog.php?id=C0_31_1> Kritik & Investigasi Oleh :  
<http://swaramuslim.net/> Redaksi 17 Nov 2004 - 12:30 am

 image <http://swaramuslim.net/images/uploads/foto/JIL_CIA.jpg> 

Dari segi ide besarnya, JIL lebih mirip kepanjangan imperalisme Barat atas 
dunia Islam yang dicarikan bentuk pembenarannya dari khazanah Islam. Dasi segi 
politis, ada benang merah dengan CIA. Benarkah?

Setelah sekian taun JIL (Jaringan Islam Liberal) mendeklarasikan keberadaanya 
--didirikan sekitar Maret 2001-kini, mulai nampak tanda-tanda keberhasilannya. 
Setidaknya, fenomena-fenomena baru yang sangat gamblang --yang semula nampak 
dengan 'malu-malu'-kini sudah banyak dirasakan. Salah satu impact penting yang 
timbul dari lahirnya gudang pemikiran itu adalah lahirnya atmosfir 'konyol' 
yang oleh kebanyakan pengikutnya disebut dengan istilah "kekritisan berfikir". 

Atmosfir baru sebagian kaum terpelajar muslim, kini, seakan-akan ada perubahan 
mendadak. Terutama cara mereka berfikir, berargumen. 

Tiba-tiba mereka terlihat begitu semangat 'mengkritisi' Al-Qur'an, menolak 
beberapa nash hadits-hadish shahih, serta menuduh para ulama' sebagai kelompok 
konserfatif. Anak-anak muslim 'terpelajar' itu juga terlihat sangat antusias 
berbicara, berdiskusi, mengadakan seminar, workshop, lokakarya untuk membahas 
tema-tema demokrasi, kebebasan berekspresi, skularisasi, pluralisme, dan 
kesetaraan gender. Mereka bahkan teramat sibuk bergelut dengan 
referensi-referensi liberal. Bacaan-bacaan wajib mereka, kini Tahrirul Mar'ah 
milik Qasim Amin, The Spirit of Islam-nya Amir Ali, serta Al Islam wa Ushul Al 
Hukmi yang sesungguhnya hanya jiplakan dari tulisan orientalis Inggris Thomas 
W. Arnold. Nama-nama semisal, Sayid Ahmad Khand, Arkeun, Ali Abdul Razik, 
Charles Kuzman, Fatimah Marnissi, Nasir Hamid Abu Zaid dan Fadzlurrahman 
seolah-olah "kitab suci" baru yang kini melekat di otak mereka. Di saat yang 
sama, mereka mulai tampak malas menelaah Al-Qur'an, bahkan boleh jadi mules 
(muak, red) jika mendengar dalil-dalil dari hadits. Yang jelas, mereka begitu 
percaya diri dengan identitas itu, dan begitu bangga disebut liberal. 

Sebuah pertanyaan penting yang kerap ada dalam kepala orang adalah; "Apakah 
program-program JIL perpanjangan imperialisme barat? Apakah identitas Islam 
hanya kedok untuk meloloskan ideologi kapitalis?. Sudah barangtentu akan banyak 
dalih yang mereka kemukakan. 



Perpanjangan Imperialis


 image <http://swaramuslim.net/images/uploads/tokoh/JIL_Trio.jpg> Kalau boleh 
jujur, sebenarnya, ide-ide besar JIL dapat dipahami dalam kerangka kepanjangan 
imperalisme Barat atas Dunia Islam, yang pada gilirannya, dicari-cari bemtuk 
pembenarannya dari khazanah Islam. 

Kalau kita mengamati dengan seksama tentang agenda-agenda JIL, maka kita akan 
menemukan korelasi antara imperialisme barat dan agenda JIL. Luthfi 
Asy-Syaukanie, salah satu motor JIL pernah menyebut dengan jujur empat agenda 
utama lahirnya Islam Liberal. Pertama, agenda politik, Kedua, agenda toleransi 
agama, Ketiga, agenda emansipasi wanita, dan Keempat, agenda kebebasan 
berekpresi. 

Dalam agenda politik, misalnya, kaum muslimin "diarahkan" oleh JIL untuk 
mempercayai sekularisme, dan menolak sistem pemerintahan Islam (Khilafah). 
Dalam agenda plurarisme, kelompok ini menyeru bahwa semua agama adalah benar, 
tidak boleh ada truth claim. Agenda emansipasi wanita, seperti menyamaratakan 
secara absolut peran atau hak pria dan wanita tanpa kecuali, dan agenda 
kebebasan berekspresi, seperti hak untuk tidak beragama, tak jauh bedanya 
dengan agenda politik di atas. Semua ide-ide ini pada ujung-ujungnya, pada 
muaranya, kembali kepada ideologi dan kepentingan imperialis. 

 image <http://swaramuslim.net/images/uploads/tokoh/Masdar_F_Masudi.jpg> Karena 
itu, sulit sekali-untuk untuk tidak mengatakan --minimal mustahil-- mencari 
akar pemikiran-pemikiran tersebut dari Islam itu sendiri secara murni, kecuali 
setelah melalui pemerkosaan teks-teks Al-Qur'an dan As-Sunnah. Misalnya teologi 
pluralisme yang menganggap semua agama benar, sebenarnya berasal dari hasil 
Konsili Vatikan II 1963-1965) yang merevisi prinsip extra ecclesium nulla salus 
(di luar Katolik tak ada keselamatan) menjadi teologi inklusif-pluralis, yang 
menyatakan keselamatan dimungkinkan ada di luar Katolik. (Islam Liberal: 
"Sejarah, Konsepsi dan Penyimpangannya", Adian Husaini dan Nuim Hidayat).

Selain itu, dari kerangka ideologi, ide-ide JIL sendiri, dapatlah kiranya 
dinyatakan sebagai ide-ide kapitalisme. Luthfi Asy-Syaukanie dalam bukunya 
Wajah Liberal Islam di Indonesia (2002) telah berhasil menyajikan deskripsi dan 
peta ide-ide JIL. Jika dikritisi, kesimpulannya adalah di sana ada banyak 
contekan sempurna terhadap ideologi kapitalisme. Tentu ada kreativitas dan 
modifikasi. Khususnya pencarian ayat atau hadits atau preseden sejarah yang 
kemudian ditafsirkan secara paksa agar cocok dengan kapitalisme. Ide-ide besar 
kapitalisme itu antara lain; (1) sekularisme, (2) demokrasi, dan (3) kebebasan. 
Dukungan kepada sekularisme --pengalaman partikular Barat-- nampak begitu 
getolnya mereka melakukan penolakan terhadap bentuk sistem pemerintahan Islam 
(khilafah), dan penolakan yang begitu bersemangat terhadap syariat Islam. 
Tetapi mereka menerima begitu saja semua gagasan demokrasi tanpa ada nalar 
kritis. Istilahnya, mereka cepat-cepat 'melek' (terbelalak) jika mengkritisi 
Islam, tapi buru-buru buta (pura-pura tak melihat) jika sumber-sumber itu 
datangnya dari Barat. 

Kentalnya ide-ide pokok kapitalisme dan berbagai derivatnya ini, masih ditambah 
dengan suatu metode berpikir yang kapitalistik pula, yaitu menjadikan ideologi 
kapitalisme sebagai standar pemikiran. Meminjam bahasa Al Jawi, ide-ide 
kapitalisme diterima lebih dulu secara taken for granted dan dianggap benar 
secara absolut, tanpa pemberian peluang untuk didebat (ghair qabli li 
an-niqasy) dan tanpa ada kesempatan untuk diubah (ghair qabli li at-taghyir). 
Lalu ide-ide kapitalisme itu dijadikan cara pandang (dan hakim!) untuk menilai 
dan mengadili Islam. 



JIL Asia Foundation dan CIA


 image <http://swaramuslim.net/images/uploads/murtadin/asiafound-depag.jpg> The 
Asia Foundation adalah LSM raksasa yang markas besarnya di San Fransisco. LSM 
ini memiliki 17 kantor cabang di seluruh Asia, termasuk Washington, D.C. Tahun 
2003 kemarin, The Asia Foundation mengucurkan bantuan sebesar 44 juta USD dan 
mendistribusikan 750 ribu buku dan materi pendidikan yang nilainya berkisar 
mencapai 28 juta USD di seluruh wilayah Asia. 

Sebagaimana dikutip situs resmi pemerintah AS, http://usinfo.state.gov, 
<http://usinfo.state.gov,/>  Oktober lalu -beberapa hari menjelang Pemilu di 
Afghan-- lalu, The Asia Foundation, membikin program The Mobile Theater 
Project, sebuah bioskop keliling. Dengan alasan pendidikan demokrasi --atau 
lebih tepat kampanye pemaksaan demokrasi- mereka berkeliling kampung untuk 
memutar film dengan ditonton sekitar 430.000 pemirsa. 

Di Indonesia, dalam Pemilu 2004 kemarin, seperti diakuinya di situs 
http://www.asiafoundation.org/, lembaga ini ikut mendanai JPPR (JPPR atau 
Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat) dengan mempekerjakan 141.000 relawan 
dan melakukan training kurang lebih 70 ribu orang. Mereka bisa memanfaatkan 
radio dengan asumsi 25 juta pendengar, memanfaatkan TV yang ditonton 74 juta 
pemirsa, juga menguasai media cetak dengan perkiraan dibaca 3 juta orang. 

Di Indonesia, keberadaanya sudah ada sejak tahun 1970. Mereka berdiri di balik 
program-program bernama; training keagamaan, studi gender, HAM dalam Islam, 
civic education di lembaga-lembaga Islam, pusat pembelaan perempuan untuk Islam 
(Muslim Women Advocacy), dan isu-isu pluralisme, paralalel dengan 
program-program JIL. 

Jika dilihat berbagai agenda dan kegiatannya selama ini, ada korelasi antara 
agenda-agenda JIL dengan LSM Raksasa bernama The Asia Foundation. 

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehidupan kelompok ini amat tergantung pada 
kucuran dana dari The Asia Foundation. Dan karena donor yang amat besar dari 
LSM ini, maka JIL dalam waktu yang relatif singkat sudah bisa mendirikan Radio 
satelit pertama di Indonesia, Radio 68H, yang siarannya direlai puluhan 
pemancar radio di Indonesia, mampu membeli satu halaman penuh koran Jawa Pos, 
bahkan mampu menayangkan iklan-iklan di televisi dengan durasi yang panjang, 
semisal iklan "Islam Warna-Warni" yang akhirnya berhenti tayang karena somasi 
MMI, bahkkan bisa menghidupi kegiata-kegiatan mereka yang membutuhkan biaya 
besar. Jika ditilik dari sponsor utama (sebut The Asia Foundation) yang selama 
ini menjadi 'penyangga' utama pendanaan JIL, bisa ditarik kesimpulan bahwa The 
Asia Foundation adalah jaringan 'induk'nya. Dengan bahasa lain, JIL adalah 
'karyawan' The Asia Foundation yang bertugas di lapangan, untuk menjalankan 
proyek-proyek besarnya. 

The Asia Foundation, yayasan ini ditengarai banyak mendanai kegiatan-kegiatan 
dalam rangka penyebaran paham kapitalisme dan sejenisnya. Yang paling nampak 
mencolok keterlibatan The Asia Foundation bagaimana dia mem-back up Tim 
Pengarasutaman Gender (PUG) bentukan Departemen Agama, yang kemudian berhasil 
menyusun draf Kompilasi Hukum Islam yang isinya kemudian menimbulkan 
kontroversial. 

Merujuk sebuah makalah yang berjudul CIA's Hidden History in the Philippines, 
Roland G. Simbulan, yang disampaikan pada ceramahnya di University of The 
Philipinnes (18 Agustus, 2000), mengutip dari tulisan seorang sosiolog Amerika, 
James Petras, yang dimuat dalam Journal of Contemporary Asia, menggambarkan, 
bagaimana LSM yang besar bisa dikendalikan --jika tidak didukung oleh 
pemerintah Amerika-- atau perusahaan raksasa yang dikendalikan agen-agen 
rahasia atau CIA yang ingin memanfaatkannya sebagai sarana penyamaran. Yang 
dimaksud Petras, hal itu untuk mengelabuhi dan menghindari konflik yang 
diakibatkan benturan langsung terhadap struktur resmi pemerintahan. Serta 
menghindari class analysis adanya penjajahan dan eksploitasi kapitalis. 

Roland G. Simbulan juga menjelaskan bahwa yang memainkan peran CIA yang paling 
menonjol di Manila adalah The Asia Foundation. Pernyataan ini dinilai cukup 
valid, karena didasari oleh pernyataan seorang anggota Departemen Birokrasi 
Amerika, William Blum. Dalam sebuah resensi buku yang berjudul Asia Foundation 
is the principal CIA front, dalam salah satu buku seorang jurnalis investigasi 
majalah Times, Raymond Bonner, yang berjudul: Waltzing with a Dictator: The 
Marcoses and the Making of American Policy, menyatakan bahwa "Asia Foundation 
adalah bentukan dan kedok CIA!". Ini semakin diperkuat oleh interview Roland G. 
Simbulan dengan seorang mantan mata-mata CIA yang beroperasi di Philipina pada 
tahun 1996, dimana ia aktif menggunakan yayasan ini (The Asia Foundation) 
sebagai agen. Bahkan secara terang-terangan pula diungkapkan dalam laporan 
tahunan The Asia Foundation, tahun1985, yang menyebutkan di dalamnya pernyataan 
Victor Marchetti, salah satu dari pimpinan deputy CIA, bahwa "Asia Foundation 
didirikan oleh CIA dan sampai 1967 mendapat subsidi darinya." (Asia Foundation 
Annual Report, 1985). Jelas, bahwa LSM The Asia Foundation memang bentukan CIA, 
didirikan sebagai alat, dan sarana untuk memperluas dan mempermudah proses 
imperialisme Amerika Serikat terhadap Negara-negara lain di kawasan Asia 
Pasifik dengan cara non konfrontatif.

Dari sini pulahlah, boleh jadi, JIL --setelah dilihat dari substansi ide yang 
diusung, serta pertnershipnya-- bahwa sesungguhnya aktifitasnya tidak ada 
hubungannya dengan Islam, tidak pula ada sangkut-pautnya dengan perbedaan 
metode penafsiran nash, pembaharuan, pencerahan, atau sifat kritis. Aktifitas 
JIL, sekali lagi --boleh jadi-- tak lain, merupakan kemungkinan aktivitas 
intelejen asing yang hendak menancapkan kuku-kuku imperialismenya di bumi umat 
Islam, umumnya dan Indonesia, pada khususnya. Benarkah demikian? Wallahu a'lam. 
(Hidayatullah.com)

Oleh: Thoriq* 
*) Penulis adalah mahasiswa Syari'ah Islamiyah Universitas Al Azhar Cairo Mesir 







 
<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12ibin3lm/M=493064.9803215.10510209.8674578/D=groups/S=1705038064:NC/Y=YAHOO/EXP=1174856922/A=3848581/R=0/SIG=11umg3fun/*http://us.rd.yahoo.com/evt=42403/*http://messenger.yahoo.com>
  
.


-- 
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.

  • [keluarga-islam] JIL, CIA, Asia Foundation dan Imperialisme Barat Ahmadi Agung