Nashir Ahmad M.
Mon, 26 Mar 2007 23:18:16 -0800
WAHABI :
Allah itu adanya di LANGIT dan di ATAS ARSY.
Itulah keterangan yang benar sesuai dengan informasi yang
Allah SWT tetapkan sendiri dalam Al-Quran Al-Kariem.
QS. Al-Araf : 54, QS. Yunus : 3, QS. Ar-Ra'd : 2, QS. Thaha : 5 DLL.
======-----------
JAWABAN WAHABI :
Limpahan Rahmat Nya swt semoga selalu tercurah pada anda dan keluarga,
Saudaraku yg kumuliakan,
Mengenai ayat mutasyabih yg sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu
berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh
sebagian kelompok muslimin sesat masa kini, mereka selalu mencoba menusuk
kepada jantung tauhid yg sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam
jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai
tangan, wajah dll yg hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid ilahi pada
benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke
permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat ayat dan hadits tersebut.
Sebagaimana makna Istiwa, yg sebagian kaum muslimin sesat sangat gemar
membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan
menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM, entah darimana pula
mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam, padahal tak mungkin kita
katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan
ayat ayat dan Nash hadits lain, bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka
dimana Allah sebelum Arsy itu ada?, dan berarti Allah membutuhkan ruang,
berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits qudsiy disebutkan
Allah swt turun kelangit yg terendah saat sepertiga malam terakhir, sebagaimana
diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no.758, sedangkan kita memahami bahwa
waktu di permukaan bumi terus bergilir,
maka bila disuatu tempat adalah tengah malam, maka waktu tengah malam itu tidak
sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat,
tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yg
terendah, maka semakin ranculah pemahaman ini, dan menunjukkan rapuhnya
pemahaman mereka, jelaslah bahwa hujjah yg mengatakan Allah ada di Arsy telah
bertentangan dg hadits qudsiy diatas, yg berarti Allah itu tetap di langit yg
terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa
Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yg terendah.
Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang
seseorang yg bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik
menjawab : ”Majhul, Ma’qul (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh
mengatakannya mustahil), percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah
Bid’ah Munkarah, dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”, (Tafsir
imam Qurtubi Juz 1 hal 254, Fathul Bari ALmasyhur Juz 13 hal 407) demikian
ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau
ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Guru
Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi
dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yg tidak baik yg mempermasalahkan
masalah ini.
Lalu bagaimana dengan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka
telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10),
dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari
langit yg turut berbai’at pada sahabat.
Juga sebagaimana hadits qudsiy yg mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi
waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku
dengan hal hal yg fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal
yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku
menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan matanya yg ia gunakan
untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya
yg ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi
permintaannya....” (shahih Bukhari hadits no.6137)
Maka hadits Qudsiy diatas tentunya jelas jelas menunjukkan bahwa pendengaran,
penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yg taat pada Allah akan
dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan
Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata,
tangan dan kakinya.
Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua
pendapat dalam menafsirkannya.
1.Pendapat Tafwidh ma’a tanzih
2.Pendapat Ta’wil
1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan
maknanya kpd Allah swt, dg i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala
penyerupaan)
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata
”Nu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dg hal
itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab
inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.
dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh
tapi menyerupakan Allah dg mahluk, bukan seperti para imam yg memegang madzhab
tafwidh.
2. Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg keesaan dan
keagungan Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena
terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada
muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh
Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh
para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.
seperti ayat :
”Nasuullaha fanasiahum” (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan
mereka) (QS Attaubah:67),
dan ayat : ”Innaa nasiinaakum”. (sungguh kami telah lupa pada kalian QS
Assajdah 14).
Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun
tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat
lupa, tapi berbeda dg sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman :
”dan tiadalah tuhanmu itu lupa” (QS Maryam 64)
Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai
Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan
Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul
’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau
tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui
Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)
apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya
kita?
Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah
Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yg dimaksud sakit pada Allah adalah hamba
Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, ”wa ma’na wajadtaniy
indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” (dan makna ucapan : akan
kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku
dengan menjenguknya)
Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yg
berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam
Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll
(lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).
Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah
swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki
Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para
Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).
Demikian saaudaraku yg kumuliakan,
Wallahu a’lam
<munzir - majelis rasulullah>
=====####=====
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!