al.fatih
Tue, 27 Mar 2007 18:59:27 -0800
Mari kita simak...dengan kepala dingin. al-ustadz menulis perkataan Imam Malik rahimahullah demikian:
Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : âArrahmaanu âalal Arsyistawaâ, Imam Malik menjawab : âMajhul, Maâqul (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil), percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bidâah Munkarah, dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!â, (Tafsir imam Qurtubi Juz 1 hal 254, Fathul Bari ALmasyhur Juz 13 hal 407) Lalu al-ustadz membuat pernyataan seperti pernyataannya: bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada?, dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk, Pertanyaan: Mengapa al-ustadz sendiri bertanya tentang hal itu? apakah kaum yang mereka tuduh dengan 'wahhabi' pernah bertanya seperti itu? Tunjukan wahai saudaraku. wahai saudaraku, tidak sangka lagi bahwa kebanyakan mereka salah sangka terhadap kaum yang mereka gemar menyebutnya dengan 'wahhabi' dan mereka pun lupa akan kesalahan-kesalahan atas bantahannya yang tidak mereka sadari. sesungguhnya kaum yang selalu mereka serang dengan sebutan yang tidak layak ini (sebutan bathil yaitu wahhabi) -TIDAK PERNAH MENGATAKAN BGM BERISTIWANYA ALLAH, -TIDAK PERNAH BERTANYA DIMANA ALLAH SELAGI ARSY BELUM DICIPTAKAN -TIDAK PERNAH MENANYAKAN ALLAH MEMBUTUHKAN RUANG -TIDAK PERNAH MENGATAKAN ALLAH BERWUJUD SEBAGAI MAHLUK seperti perkataan Imam Malik rahimahullah ta'ala tadi. Kalau mereka masih menghargai ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Ibnu Katsir bukalah kitab-kitab beliau khususnya Aqidah Al Washitiyah-Ibnu Taimiyah. Kenapa mereka yang gemar menyudutkan kaum 'wahhabi' tidak pernah mengeluarkan kitab yang meluruskan atau membantah kitabnya Ibnu Taimiyah rahimahullah tadi. Malah lebih gemar menyebar berita-berita bohong tentang Syaikh Al-Alamah Muhammad bin Abdul Wahhab Lalu tolong jelaskan postingan ana berikut ini: Pernah suatu kali Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan kepunyaan Mu'awiyah bin Hakam As Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya. Beliau bertanya kepada budak perempuan itu, "Dimanakah Allah? Jawab budak perempuan, "Di atas langit". 'Siapakah aku ?' Jawab budak perempuan, "Engkau adalah Rasulullah". Beliau bersabda, 'Merdekakan dia !'karena sesungguhnya dia seorang mukminah' (HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasa'i, Ahmad, Ad Darimi, Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dan lainnya ada 13 Imam Ahli Hadits yang meriwayatkan hadits ini) Allah mengabarkan tentang istiwa-Nya di atas Arsy dalam 7 (tujuh) ayat al-Qur'an, diantaranya: 1.Surat Al A'raaf ayat 54. 2.Surat Yunus ayat 3. 3.Surat Ar Ra'du ayat 2. 4.Surat Al Furqan ayat 59. 5.Surat As Sajdah ayat 4. 6.Surat Al Hadid ayat 4 7.Surat Thaha ayat 5 Dalam surat Al-Araaf ayat 54 Allah berfirman: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah- Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam Perlu diketahui bahwa ahlu sunnah menetapkan sifat-sifat Allah TANPA tahrif, ta'thil, takyif dan tamsil. Mengenai bagaimana bersemayamnya Allah di atas arsy dalam ayat di atas, maka ini termasuk kedalam istilah takyif (cara/kaifiyahnya) Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/keadaan tertentu untuknya (INI YANG DILARANG). Meniadakan bentuk/keadaan bukanlah berarti tidak perlu tahu terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullah Ta'ala ketika ditanya tentang bentuk/keadaan istiwa'(bersemayam). Beliau Rahimahullah menjawab : al istiwa u ma'lum, wal kayfu majhul wal imanu bihi waajib, wa sualu bid'ah. "Istiwa' itu telah diketahui (maknanya), bentuk/keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid'ah." Demikian pula Al-Hafidz Ibnu Katsir memilih untuk mengambil pendapat jumhurul imam, di antaranya selain Imam Malik, Imam as-Syafi'i, Auza'i, al-Laits, Tsauri, Imam Ahmad bin Hanbal. Ketika menafsirkan surat Al-A'raaf ayat 54 di atas. Dengan membiarkan makna dzahir tanpa menta'wilkannya dan membuang jauh sifat-sifat mahluk yang terlintas dari sifat-sifat Allah. Demikian akh.. --- In keluarga-islam@yahoogroups.com, "Nashir Ahmad M." <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > WAHABI : > Allah itu adanya di LANGIT dan di ATAS ARSY. > Itulah keterangan yang benar sesuai dengan informasi yang > Allah SWT tetapkan sendiri dalam Al-Quran Al-Kariem. > QS. Al-Araf : 54, QS. Yunus : 3, QS. Ar-Ra'd : 2, QS. Thaha : 5 DLL. > > ======----------- > > > JAWABAN WAHABI : > > Limpahan Rahmat Nya swt semoga selalu tercurah pada anda dan keluarga, > > Saudaraku yg kumuliakan, > Mengenai ayat mutasyabih yg sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin sesat masa kini, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yg sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan, wajah dll yg hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid ilahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat ayat dan hadits tersebut. > > Sebagaimana makna Istiwa, yg sebagian kaum muslimin sesat sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat âISTIWAâ dengan makna âBERSEMAYAM, entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat ayat dan Nash hadits lain, bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada?, dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits qudsiy disebutkan Allah swt turun kelangit yg terendah saat sepertiga malam terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no.758, sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir, > maka bila disuatu tempat adalah tengah malam, maka waktu tengah malam itu tidak sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yg terendah, maka semakin ranculah pemahaman ini, dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka, jelaslah bahwa hujjah yg mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dg hadits qudsiy diatas, yg berarti Allah itu tetap di langit yg terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yg terendah. > > Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : âArrahmaanu âalal Arsyistawaâ, Imam Malik menjawab : âMajhul, Maâqul (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil), percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bidâah Munkarah, dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!â, (Tafsir imam Qurtubi Juz 1 hal 254, Fathul Bari ALmasyhur Juz 13 hal 407) demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : âkulihat engkau ini orang jahatâ, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yg tidak baik yg mempermasalahkan masalah ini. > > Lalu bagaimana dengan firman Nya : âMereka yg berbaiâat padamu sungguh mereka telah berbaiâat pada Allah, Tangan Allah diatas tangan merekaâ (QS Al Fath 10), dan disaat Baiâat itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbaiâat pada sahabat. > > Juga sebagaimana hadits qudsiy yg mana Allah berfirman : âBarangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yg fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya....â (shahih Bukhari hadits no.6137) > Maka hadits Qudsiy diatas tentunya jelas jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yg taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya. > > Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya. > 1.Pendapat Tafwidh maâa tanzih > 2.Pendapat Taâwil > > 1. Madzhab tafwidh maâa tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd Allah swt, dg iâtiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan) > Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata âNu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala maknaâ, (Kita percaya dg hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu hanifah. > > dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dg mahluk, bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh. > > 2. Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg keesaan dan keagungan Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri) > Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qurâan dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah. > > seperti ayat : > âNasuullaha fanasiahumâ (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka) (QS Attaubah:67), > dan ayat : âInnaa nasiinaakumâ. (sungguh kami telah lupa pada kalian QS Assajdah 14). > > Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqurâan, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dg sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : âdan tiadalah tuhanmu itu lupaâ (QS Maryam 64) > > Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : âWahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul âAlamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?â (Shahih Muslim hadits no.2569) > > apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? > > Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yg dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, âwa maâna wajadtaniy indahu yaâniy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahuâ (dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya) > > Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yg berpegang pada pendapat Taâwil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asyâariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Dafâussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy). > > Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : âMaha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alamâ . (QS Asshaffat 180-182). > > Demikian saaudaraku yg kumuliakan, > > Wallahu aâlam > > <munzir - majelis rasulullah> > > =====####===== > > > > > > > --------------------------------- > Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! >