keluarga-islam  

[keluarga-islam] Umat Katolik Protes Tempo

Arland
Thu, 07 Feb 2008 15:40:01 -0800

FYI...Semoga ummat islam juga harus lebih jeli dalam menghadapi 
kebebasan informasi...

Umat Katolik Protes Tempo 

Kasus 'pelecehan' ini diminta tak terulang, termasuk kepada agama 
lain. 


JAKARTA -- Majalah Tempo kembali tersandung masalah. Kali ini sampul 
depan (cover) majalah mingguan berita edisi terbaru Nomor 
50/XXXVI/04, 10 Februari 2008 -- tentang mantan presiden Soeharto 
(almarhum) bersama anak-anaknya di meja makan -- itu dinilai telah 
melecehkan simbol kudus umat kristiani, khususnya Katolik di 
Indonesia. 

Gambar sampul majalah berjudul Setelah Dia Pergi tersebut, mirip 
format lukisan perjamuan terakhir Yesus pada murid-muridnya. Yaitu, 
The Last Supper, karya Leonardo Da Vinci. 

Selasa (5/2) siang, sejumlah perwakilan organisasi Katolik tingkat 
nasional, mendatangi kantor Tempo di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. 
Mereka menilai lukisan sakral itu telah dianalogikan Tempo dengan 
keluarga mantan penguasa Orde Baru -- yang di mata masyarakat 
berlumuran kasus KKN. 

Para pengunjuk rasa berasal dari Persatuan Mahasiswa Katolik Republik 
Indonesia (PMKRI), Forum Komunikasi Alumni PMKRI (Forkoma), Pemuda 
Katolik, Tim Pembela Kebebasan Beragama, Solidaritas Demokrasi 
Katolik Indonesia (SDKI), Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), 
Wanita Katolik RI (WKRI), dan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA).

''Cover itu sangat menyinggung hati nurani dan keimanan umat Katolik. 
Karena foto jamuan makan terakhir itu merupakan perlengkapan ibadah 
kami. Mereka (redaksi Tempo) mengaku keliru dalam mengambil analogi. 
Sesuatu yang menurut kami justru bertolak belakang dan menimbulkan 
keresahan,'' kata Ketua Forkoma, Hermawi Taslim.

Umat Katolik meminta klarifikasi dan pernyataan maaf dari penanggung 
jawab Tempo. Mereka juga ingin memastikan kejadian seperti ini tak 
akan terulang, bukan hanya untuk umat Katolik, tapi bagi umat 
beragama lainnya di Indonesia. Dimintanya pula agar edisi majalah itu 
ditarik dari peredaran. 

Persoalan ini akan kami anggap selesai bila Tempo memenuhi 
komitmennya meminta maaf secara terbuka dan lugas dengan bahasa yang 
dimengerti oleh masyarakat di pelosok,'' tegas Herwawi, yang juga 
fungsionaris Partai Kebangkitan Bangsa.

Meminta maaf
Selama hampir dua jam, perwakilan umat Katolik itu berdialog dengan 
pimpinan Tempo. Mereka diterima oleh Pemimpin Redaksi Toriq Hadad, 
Redaktur Eksekutif Wahyu Muryadi, Redaktur Senior Fikri Jufri, dan 
awak redaksi lainnya.

''Kami hanya mengambil inspirasi dari sebuah gambar yang dilukis 
Leonardo Da Vinci... Perbedaan tafsir ini kami hormati dan saya 
sebagai pemimpin Majalah Tempo mohon maaf apabila gambar ini dianggap 
menistakan umat Kristiani,'' ujar Toriq.

Sesuai tuntutan perwakilan umat Katolik, pernyataan maaf Tempo itu 
akan dikemas dalam berita yang dimuat Koran Tempo hari ini (6/2). 
Berita serupa sudah dimuat pula dalam Tempo Interaktif. Pekan depan, 
dalam edisi Majalah Tempo berikutnya, pernyataan maaf itu akan dibuat 
lagi. 

''Dirubrik surat dari redaksi, kami akan mengulangi pernyataan minta 
maaf dan penjelasan tentang cover itu,'' jelas Toriq. Tak ada 
tuntutan ganti rugi. Hanya saja, Toriq mengaku sulit bila harus 
menarik kembali edisi khusus majalah itu yang sudah terlanjur beredar 
di masyarakat. 

Redaksi hanya bisa mengganti sampul depan Majalah Tempo edisi bahasa 
Inggris yang belum diedarkan. ''Secara teknis tidak mudah untuk 
melakukan penarikan,'' kilah Toriq. 




'Hati-hati terhadap Masalah Sensitif' 

JAKARTA -- Partai Damai Sejahtera (PDS) meminta semua pihak, berhati-
hati dalam menampilkan masalah sensitif terutama menyangkut nilai 
sakral agama. PDS pun menuntut klarifikasi gambar keluarga mantan 
presiden Soeharto pada sampul majalah empo terbaru, yang mirip 
perjamuan kudus Yesus, The Last Supper, karya Leonardo Da Vinci. 

Wakil Ketua Umum PDS, Denny Tewu, mengatakan, jajaran DPP PDS, Senin 
(4/2) malam, malah menggelar rapat khusus membahas cover Tempo 
tersebut. `'Kami putuskan meminta penjelasan pihak Tempo, apa motif 
pemuatan gambar itu? Adakah ingin melecehkan umat kristiani?'' 
katanya, kepada Republika, kemarin.

Diakui Denny Tewu, gambar tersebut memang tidak sama dengan gambar 
perjamuan kudus, namun ada kemiripan. Sebagai orang timur, ia meminta 
seharusnya semua pihak menyadari akan adanya beberapa wilayah 
sensitif, yang bisa memunculkan ketersinggungan. 

''Kebebasan berekspresi semestinya tetap menjaga wilayah-wilayah yang 
bisa memunculkan ketersinggungan kelompok tertentu. Harusnya kita 
sadar kita itu orang Timur,'' ujar Denny.

Anggota Komisi VIII DPR, Ahmad Farhan Hamid, menambahkan, persoalan 
ketersinggungan seperti itu tidak hanya dialami umat Kristen. Ajaran 
dan simbol kesucian umat Islam juga sering dilecehkan dengan dalih 
kebebasan pers dan berekspresi. 

`'Seharusnya semua pihak berhati-hati bila berkait dengan persoalan 
sensitif seperti itu. Media massa harus bisa menimbang antara yang 
baik dan buruk,'' tandas politisi PAN itu. 

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Masdar Farid 
Mas'udi, juga mengatakan, persoalan tersebut berkait dengan wilayah 
tepo seliro (toleransi). ''Harusnya ada kesadaran masyarakat untuk 
menjaga hal-hal yang bisa memunculkan ketersinggungan umat 
beragama,'' katanya. dwo

(djo )